مشاركة

Bab 3

مؤلف: Fist
Antara aku dan dia, nggak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Begitu melangkah masuk ke perusahaan, dari satpam di pintu, resepsionis di lobi, hingga para karyawan yang berlalu-lalang dengan tergesa, semuanya berhenti seketika saat lihat aku dan sapa aku dengan hormat.

Itu adalah permintaan khusus Jason. Bahkan ia tuliskan itu secara resmi dalam peraturan perusahaan.

Semua itu karena dulu aku pernah dipersulit ketika datang ke kantornya, hanya karena latar belakangku yang sederhana.

Waktu itu hubungan kami masih seumur jagung. Aku tenggelam dalam manisnya cinta, ingin berikan seluruh hatiku untuknya.

Ia sering terlalu sibuk sampai lupa makan, jadi aku belajar masak dan setiap siang antarkan bekal makanan untuknya.

Pada hari pertama aku datang, resepsionis-nya nggak kenal aku dan aku juga nggak punya janji temu. Lihat pakaianku yang sederhana, ia langsung mencibir.

“Datang lagi satu orang yang mau numpang naik kelas. Coba lihat tampangmu itu. Lirik kamu aja sudah buat mata direktur kami kotor!”

Semua itu terlihat jelas oleh Jason yang kebetulan turun dari lift.

Dalam sekejap ia murka. Lelaki yang biasanya lembut itu langsung menampar keras resepsionis yang hina aku itu.

“Berani banget kamu seenaknya hina istriku!”

Sejak kejadian itu, ia dicap sebagai bos temperamental. Harga saham perusahaan pun sempat merosot.

Namun Jason nggak peduli. Yang ada di pikirannya cuma aku. Ia pernah berkata, dalam hidupnya, segalanya nggak sebanding dengan perasaanku.

Sejak saat itu, ia perkenalkan aku kepada semua orang yang dikenalnya.

Layar besar di perusahaan setiap hari tampilkan fotoku pada jam tertentu. Bahkan ia perintahkan, siapa pun karyawan Grup Dharma yang lihat aku harus sapa aku lebih dulu.

Sekalipun aku jalan berdampingan dengannya, mereka tetap harus sapa aku lebih dulu.

Tapi lelaki yang cinta aku hingga ke tulang itu tetap saja selingkuh.

Setibanya di depan ruang rapat, aku ketuk pintunya pelan.

Melalui dinding kaca, Jason lihat kalau yang datang adalah aku. Ia angkat tangan kasih isyarat agar rapat dihentikan, lalu segera bangkit dan melangkah cepat hampiri aku.

Aku serahkan dokumen itu ke dia. Ia pun kecup keningku dengan lembut.

“Rosa, aku beruntung sekali punya kamu.”

Aku hanya jawab singkat, lalu berbalik hendak pergi.

Namun ia tahan tanganku, usap tanganku perlahan. Tiba-tiba wajahnya memucat.

“Rosa, kamu kok nggak pakai cincin yang aku pesankan khusus untuk kamu?”

Cincin itu sudah lama aku kunci di dalam laci. Setelah aku pakai sekali, aku nggak pernah sentuh itu lagi.

“Aku tinggal di rumah. Nanti aku pakai.”

Dengar itu, ia menghela napas panjang.

“Syukurlah. Aku kira kamu nggak suka.”

Seorang manajer yang cukup akrab dengannya mengetuk kusen pintu, lalu gerakkan bibirnya tanpa suara sambil tersenyum jahil.

“Ayo, budak istri. Semua orang sudah tungguin kamu.”

Lihat itu, aku nggak tunggu Jason jawab, dan langsung berbalik pergi.

Suara panggilannya terdengar ragu di belakangku, namun langkahku nggak berhenti.

Saat aku tinggalkan gedung, tatapan iri mengikuti punggungku.

“Pak Jason benar-benar manjakan Nyonya Rosa. Katanya mereka pacaran dari jaman pakai seragam sekolah sampai pakai gaun pengantin, perjalanannya pasti nggak gampang!”

“Iya, dulu Keluarga Dharma nggak setuju dengan pernikahan mereka. Pak Jason sempat ngancam mau bunuh diri, sampai beberapa kali masuk rumah sakit. Waktu itu heboh banget!”

“Beruntung sekali Rosa. Suaminya nggak cuma kaya, tapi juga sangat cinta dia.”

Beruntung?

Aku dengar bisik-bisik itu dalam diam, senyum pahit terlukis di bibirku.

Semua orang iri pada cinta Jason untukku. Iri pada keteguhannya memilihku. Iri pada keberaniannya korbankan segalanya demi aku.

Namun semua itu sudah jadi masa lalu.

Saat hendak masuk mobil, aku teringat kalau aku masih pakai jasnya.

Tadi, lihat aku berpakaian tipis, ia langsung lepas jasnya dan sampirkan itu ke bahuku.

Setelah kupikir-pikir lagi, aku berbalik kembali ke gedung.

Cuaca memang sedang dingin. Ia juga nggak simpan pakaian cadangan di kantor.

Namun sebelum benar-benar masuk, dari kejauhan aku lihat Kaila gandeng lengan Jason, mereka jalan berdua dengan begitu mesra.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 10

    Sejak hari itu, aku nggak pernah ketemu Jason lagi.Belakangan, justru Yesi yang kasih tahu aku, katanya saat ia lewati suatu tempat, ia lihat Jason meringkuk di samping tempat sampah, kedinginan.Dengar itu, hatiku terasa perih.Gimanapun juga, kami pernah jadi suami istri. Nggak mungkin aku benar-benar tutup mata dan biarkan dia begitu saja.Aku pun minta alamatnya ke Yesi.Beberapa hari nggak ketemu, tubuh Jason tampak semakin kurus. Punggungnya yang dulu tegap kini membungkuk karena dingin. Ia pakai pakaian tipis, sembunyi di balik tempat sampah di sudut yang sedikit terlindung angin, napasnya mengepul dalam udara dingin.Lihat dia seperti itu, aku hanya bisa menghela napas panjang dan serahkan sebuah jaket ke dia.Tubuhnya menegang. Ia terima jaket itu, namun tetap menunduk, nggak berani menatap wajahku.Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan dengan nada tertahan,“Penampilanku sekarang pasti sangat menyedihkan, yah? Maaf, di akhir pun aku nggak bisa tinggalkan kesan yang baik u

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 9

    Kami minum dengan lepas, tertawa tanpa beban, saling cerita kisah hidup masing-masing. Entah karena alkohol atau karena ditemani orang-orang yang hangat, suasana hatiku benar-benar terasa jauh lebih ringan.Nggak tahu sudah berapa lama berlalu, orang-orang di ruangan mulai berkurang satu per satu. Yesi sudah mabuk berat sampai nggak sadarkan diri.Lihat keadaannya, aku diam-diam hubungi Roni.“Ron, tolong jemput kita. Malam ini kita minum lumayan banyak.”Dari seberang sana, suara Roni terdengar datar, namun samar-samar aku masih bisa tangkap nada nahan kesal di baliknya.“Oke.”Masih ada waktu sebelum ia tiba. Aku keluar dari ruang privat untuk menghirup udara segar.Tiba-tiba aku tabrakan dengan seorang pria berkulit coklat. Ia mabuk berat, dan tatapan matanya yang cabul melekat di tubuhku tanpa malu.“Wah, dari mana datangnya gadis cantik ini? Aku belum pernah lihat sebelumnya. Ayo sini, biar aku cium sedikit. Kita lihat rasanya sama manisnya dengan gadis-gadis lain atau nggak.”Sam

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 8

    Bibirnya gemetar, suaranya lirih hampir nggak terdengar.“Rosa, maafkan aku, yah? Emang kamu tega buang begitu saja lima belas tahun hubungan kita? Kita sudah lewati begitu banyak kesulitan, sudah lewati begitu banyak rintangan, baru akhirnya bisa bersama. Apa sekarang kamu beneran tega ingin putuskan semuanya denganku?”“Kamu bilang kita bisa punya anak, bisa liburan sama-sama, bisa saling nyatakan cinta waktu hujan turun. Kita masih punya begitu banyak hal yang belum kita lakukan. Janji-janji kita belum terpenuhi. Apa kamu beneran akan tinggalkan aku begitu saja?!”Ia hampir teriak, tubuhnya gemetar tanpa henti.Selama sepuluh tahun lebih, aku belum pernah lihat Jason sehisteris ini.Dalam ingatanku, ia selalu lembut dan tenang, seorang pria berwibawa yang sopan ke siapa pun. Ia selalu bersikap sangat lembut ke aku, nggak pernah sekali pun kehilangan kendali.Ternyata, cinta memang bisa ubah seseorang.Jika dulu aku lihat dia seperti ini, mungkin hatiku akan luluh.Namun kini, perasa

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 7

    Lebih dari sepuluh tahun terakhir ini, seluruh hidupku nyaris hanya berputar di sekitar Jason.Aku nggak kerja, nggak belajar, seakan hidupku berhenti di satu titik dan nggak pernah bergerak maju.Setelah sekian lama terhenti, kini saatnya aku tekan tombol mulai kembali.Makan malam itu berlangsung begitu menyenangkan. Sepanjang waktu, Yesi terus-terusan ambilkan makanan untukku. Dengan kehadirannya, suasana nggak pernah terasa canggung atau dingin.Kami merasa cocok sejak pertemuan pertama.Setelah selesai makan, aku ikuti pasangan itu ke perusahaan dan resmi jadi pemegang saham di Perusahaan SY.Kantor yang Roni siapkan untukku begitu luas dan terang, dan tepat di sebelahnya adalah ruangannya Yesi.Di sela pekerjaan, kami sering turun ke restoran kecil di bawah gedung untuk makan siang, atau duduk santai di lounge kecil dekat sana sambil nikmati segelas minuman.Kadang jika obrolan terasa semakin seru, kami berniat pergi ke bar untuk sedikit bersenang-senang.Tapi sering kali belum s

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 6

    Setelah itu, aku cabut kartu SIM HP-ku, patahkan jadi dua, lalu buang ke tempat sampah.Begitu pesawat mendarat, Roni sudah tunggu di bandara.Lihat aku keluar, ia angkat setangkai bunga lili di tangannya.“Rosa, di sini!”Dengar suaranya, aku tersenyum dan menatap ke arahnya.Bertahun-tahun nggak ketemu, ia tampak jauh lebih matang.Aku angkat tangan sapa dia.Roni dengan sigap ambil koperku.“Sejak terakhir kali berpisah, sudah berapa tahun kita nggak ketemu, yah?”Dengar itu, kenangan lama perlahan muncul dalam benakku.Aku dan Roni adalah teman sekelas di SMA. Setelah ujian masuk universitas, kami sama-sama pilih jurusan desain baju.Di bangku SMA, kami adalah teman sebangku yang saling membantu. Di universitas, kami dikenal sebagai pasangan partner terbaik.Ia selalu dapat pahami setiap ide liarku dalam desain. Konsep estetikanya pun sejalan denganku.Kami benar-benar sehati dalam pemikiran dan selera.Dulu, karena kedekatanku dengannya, banyak teman yang penasaran dengan hubungan

  • Setelah Pergi, Cintamu Tak Lagi Kubutuhkan   Bab 5

    Nggak satu pun dari kami peduli pada air hujan yang turun.Aku masih menunggu.Dulu, aku dan Jason pernah janji, setiap kali kami berdiri sama-sama di bawah hujan, kami harus nyatakan cinta sekali lagi ke satu sama lain.Namun kini, lihat lelaki di hadapanku yang sedang asyik nikmati pemandangan hujan rintik seorang diri, aku kembali sadar kami nggak akan pernah bisa menua bersama.Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan, semakin lama semakin dekat.Entah mengapa, firasat buruk mendadak menyergapku. Aku refleks mendongak dan lihat sebongkah batu besar meluncur cepat tepat ke arahku.Otakku seakan berhenti kerja.Brak!Dalam sekejap, tubuhku terasa seperti dilindas truk.“Ah!”Aku pegangi dadaku, tarik napas tajam tahan nyeri. Keringat dingin merembes di dahiku.“Rosa!”Suara Jason berubah sumbang karena panik. Matanya memerah seketika, air mata panas mengalir di pipinya.“Rosa! Kamu gimana? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!”Aku menatap wajahnya yang penuh rasa ketakutan,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status