Share

03: Teman Lama

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-07-17 01:18:09

Sabtu adalah hari tenang menurut beberapa orang, tapi tidak untukku. Sekolah yang menerapkan sistem fullday pasti memiliki dua hari libur. Namun, Sabtu tidak termasuk menurutku. Karena, aku memang tidak akan sibuk di sekolah atau tugas yang terkadang membuatku merasa mati berdiri, tapi tugas beberes membuatku terkadang ingin mengeluh. Aku tahu Bunda melakukannya untuk kubelajar, tapi aku lelah.

“Kak, nanti masak yang ini. Bumbunya sudah bunda siapin. Kamu tinggal masak. bunda mau menanak nasi dulu. Masak buruan, jangan lama-lama. Jangan lelet!” kata Bunda saat aku baru keluar dari kamar mandi dan berada di ambang pintu dapur. Aku melangkah ke dapur dan memasak yang sudah disiapkan Bunda. Aku tidak pandai memasak, aku hanya mengikuti intruksi Bunda. 

Semua sudah beres setelah beberapa lama bergulat dengan masakanku. Aku menata masakanku ke meja makan. Kakekku yang sedang meminum susunya menatapku dengan bangga.

“Kakak yang masak?” tanyanya membuatku tersenyum. Aku kembali ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan mukaku yang kena asap. Aku kembali ke meja makan dan melihat keluargaku sudah berada di meja makan. 

Aku duduk di samping adikku. Farhana Azzalea, biasa dipanggil Hana. Gadis kecil yang terkadang kurang ajar padaku dan membuatku selalu menerima kemarahan Kakek dan Bunda. Kami memakan sarapan masing-masing. Aku teringat beberapa hari lalu teman SMPku menghubungiku dan meminta untuk datang.

“Bun, kakak nanti mau ke rumah Audrey. Boleh?” tanyaku pada Bunda.

“Sama siapa?” tanya Bunda dengan cepat.

“Febi sama Shania,” jawabku singkat.

“Kakak bawa motor?” tanya Bunda lagi.

“Kalau Bunda enggak bolehin bawa motor, Febi mau jemput kakak,” kataku meyakinkan Bunda.

“Ya sudah Kakak sama Febi aja. Enggak usah bawa motor, bunda pake motornya. Motor bunda habis bensinnya!” pungkas Bunda.

“Kenapa kamu gak isi aja bensinnya? Kasihan anakmu itu loh pingin main,” kata Kakek.

“Kek, aku sama Febi aja. Febi sudah lama gak pernah ke sini katanya, jadi pingin ke sini.” Alibiku. Kakek hanya menganggukkan kepalanya. Hana sudah berlalu dan meninggalkan piring kosongnya di meja makan. 

“Kak, jangan lupa cuci piringnya. bunda kerja dulu,” kata Bunda yang pamit pada Kakek dan berlalu. Kakekku tersenyum padaku, entah apa arti senyum itu. Aku hanya membalas dengan senyuman juga. Senyuman yang hanya aku keluarkan pada keluarga dan orang terdekatku. Aku membawa semua piring kotor ke belakang dan mencucinya.

***

“Halo?” sapaku dari telepon yang tersambung dan baru kuangkat.

“Oh, kamu sudah di depan? Tunggu sebentar ya. Aku ambil tas sama dompet,” kataku sebelum mematikan teleponnya. Aku mengambil tas selempangku dan memasukkan hp serta dompetku ke dalamnya lalu keluar kamar. Terlihat Kakekku sedang menonton tv di ruang keluarga.

‘Pantes gak ada yang tahu ada Febi, orangnya nonton di sini,’ batinku sambil menutup pintu kamar.

“Kek, kakak berangkat ya. Febi sudah ada di depan,” pamitku. Kakekku mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Loh, ada Febi? Kakek enggak denger loh.” Kakek berdiri dan melihat ke arah halaman rumah.

“Enggak papa, Febi sudah di depan pagar, Kek. Kakak berangkat ya, Kek.” Aku pamit pada Kakek.

“Iya, hati-hati, Kak!” pesan Kakekku. Aku meyalami tangannya dan keluar dari rumah menghampiri Febi yang duduk di motor maticnya.

Febi Pamela, gadis chubby dengan rambut panjangnya dan senyum cerianya yang selalu menyapaku sejak kelas 1 SMP. Cukup lama memang pertemanan kami. Kami memiliki nasib yang sama, bedanya dia masih ceria menghadapinya dan selalu menceritakan semua yang dirasakan. Berbeda denganku, di mana aku lebih memilih menahannya sendiri. 

Shania Asyah, gadis keturunan China-Jawa yang cantik dan memiliki tubuh yang terlihat ideal walaupun dia terkenal banyak makan di antara kami berempat. Gadis yang selalu memiliki humor yang receh banget tapi dia mampu membuatku tertawa saat bersama mereka. Aku yang selama ini dilihat dingin, cuek dan semena-mena luruh hanya dengan bertemu tiga manusia absurd ini.

Audrey Hasanah, gadis yang memiliki kekurangan fisik, namun tetap baik hati dan selalu ada untukku. Kami lahir di hari, tanggal, tahun yang sama dan ajaibnya lagi, di jam yang sama. Hanya saja kami lahir dari rahim yang berbeda. Aku tidak pernah melihat dia membedakan memperlakukan kami.

“Rin, enggak ada yang mau dibagi?” tanya Audrey padaku. Aku tersenyum tipis dan menggelengkan kepalaku.

“Jujur aja, Rin. Kami tahu kamu, 4 tahun cukup buat kami kenal kamu,” kata Shania. Empat tahun? Yah, ternyata sudah selama itu persahabatan kami. Meski berpisah sekali pun kami selalu menyempatkan untuk bertemu. Tempat favorit kami adalah kamar Audrey. Tidak heran jika kami sering mengunjungi Audrey di rumahnya.

“Cerita aja, Rin. Enggak ada yang menghakimi kamu. Kami selalu menceritakan semua sama kamu. Itu enggak adil buat kamu yang enggak bisa mengeluarkan semuanya,” kata Febi membuatku menghela napas berat. Yah, dia benar. Aku terkadang ingin mengeluarkan apa yang ada di hatiku bersama mereka, tapi entah kenapa rasanya ragu sekali.

“Aku cerita dan semoga kalian masih mau berteman sama aku,” kataku yang menatap mereka satu per satu. Mereka terlihat antusias mendengarkan apa yang akan aku ceritakan. Aku mulai menceritakan apa yang terjadi padaku. Karena, aku tahu mereka cukup baik mengingat masa laluku saat pertama kenal mereka. 

“Ada ya, manusia kaya dia? Ih, untung itu kamu loh. Kalau itu aku sudah pasti rame. Kamu terlalu sabar menghadapi mereka. Coba sesekali tegasin, jangan mau lagi diperlakukan tidak adil, Rin. Semua sama di mata Tuhan. Yang membedakan hanya keimanannya. Udah ya, jangan berpikir kamu sendiri. Kita ada buat kamu kok, kamu harus menceritakan apapun yang ada di hati kamu biar semua terasa lebih ringan, Rin,” kata Febi mengomentari ceritaku. Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya. 

“Aku jahat tahu, enggak ada baik-baiknya. Kayanya cuma sama kalian deh bisa kaya gini,” sahutku yang menyadari situasiku. Aku sadar aku bisa sangat bahagia hanya bertemu dengan mereka dan mendengar cerita mereka. Aku merasa diriku penting dan sangat dihargai saat bersama mereka.

“Eh, rame ternyata.” Suara dari ambang pintu membuat kami mengalihkan perhatian kami.

“Ih papa, ngagetin aja,” kata Febi dan Audrey pada Papa Audrey yang berada di ambang pintu.

“Farin, gimana kabarnya? Lama banget enggak ketemu. Febi kadang masih ketemu enggak sengaja. Kalo sama Shania setiap hari juga ketemu. Kan satu sekolah sama Audrey,” kata papa Audrey. Aku hanya tersenyum mendengarnya sebelum menjawab.

“Farin baik, Pa, Papa gimana? Habis ngedate ya, Pa sama Mama?” tanyaku ramah.

“Baik, Rin. Iya nih, Rin. Ngedate ikut anak muda gitu. Tapi itu si Yura ikut mulu, Rin,” jawab Papa Audrey sembari mengadu tentang anak bungsunya.

“Ih Papa, anaknya ikut malah begitu. Entar enggak ada yang ikut, ngambek. Gimana sih, Pa?” keluh Audrey. Aku iri, percakapan ayah dan anak ini begitu menggelitik hatiku hingga rasa iri membuncah sekali di dalam hatiku.

***

“Rin, makan dulu yuk!” ajak Febi saat kami perjalanan pulang. Aku hanya mengiyakan ajakannya dan kami menuju sebuah kafe yang berada di dekat rumah Audrey. Kami segera memesan dan menunggu. Aku membuka W******p sejenak melihat chat dari beberapa orang.

[Laila]

[Sibuk, Rin?]

Aku menghela napas kasar melihat chat dari Laila yang banyak dan isinya sama. Febi melihatku dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menunjukan HPku padanya.

“Kamu bisa percaya dia, Rin. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu beda memperlakukan kami sama temen baru kamu. Laila mungkin memang pure ingin berteman, Rin. Jangan pukul rata semuanya, nanti kamu yang sakit. Ceritakan aja apa yang terjadi. Lihat, dia menjauh apa enggak. Siapa tahu, dia sama kaya kami, Rin,” kata Febi panjang. Aku tahu, aku tidak pernah memberi kesempatan Laila untuk mengetahui kehidupanku. Bahkan datang ke rumah saja aku menolaknya.

“Aku coba saran kamu. Nanti!,”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   147: Raka Mau Main

    Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r

  • Setelah Semua Luka Pulang   146: Menyelesaikan Masalah

    Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan

  • Setelah Semua Luka Pulang   145: Ayah

    Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah

  • Setelah Semua Luka Pulang   144: Bunda Sehat-Sehat, Ya ....

    Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me

  • Setelah Semua Luka Pulang   143: Bunda Mau Ketemu Ayah

    Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal

  • Setelah Semua Luka Pulang   142: Secercah Harapan

    Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status