FAZER LOGINSabtu adalah hari tenang menurut beberapa orang, tapi tidak untukku. Sekolah yang menerapkan sistem fullday pasti memiliki dua hari libur. Namun, Sabtu tidak termasuk menurutku. Karena, aku memang tidak akan sibuk di sekolah atau tugas yang terkadang membuatku merasa mati berdiri, tapi tugas beberes membuatku terkadang ingin mengeluh. Aku tahu Bunda melakukannya untuk kubelajar, tapi aku lelah.
“Kak, nanti masak yang ini. Bumbunya sudah bunda siapin. Kamu tinggal masak. bunda mau menanak nasi dulu. Masak buruan, jangan lama-lama. Jangan lelet!” kata Bunda saat aku baru keluar dari kamar mandi dan berada di ambang pintu dapur. Aku melangkah ke dapur dan memasak yang sudah disiapkan Bunda. Aku tidak pandai memasak, aku hanya mengikuti intruksi Bunda. Semua sudah beres setelah beberapa lama bergulat dengan masakanku. Aku menata masakanku ke meja makan. Kakekku yang sedang meminum susunya menatapku dengan bangga. “Kakak yang masak?” tanyanya membuatku tersenyum. Aku kembali ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan mukaku yang kena asap. Aku kembali ke meja makan dan melihat keluargaku sudah berada di meja makan. Aku duduk di samping adikku. Farhana Azzalea, biasa dipanggil Hana. Gadis kecil yang terkadang kurang ajar padaku dan membuatku selalu menerima kemarahan Kakek dan Bunda. Kami memakan sarapan masing-masing. Aku teringat beberapa hari lalu teman SMPku menghubungiku dan meminta untuk datang. “Bun, kakak nanti mau ke rumah Audrey. Boleh?” tanyaku pada Bunda. “Sama siapa?” tanya Bunda dengan cepat. “Febi sama Shania,” jawabku singkat. “Kakak bawa motor?” tanya Bunda lagi. “Kalau Bunda enggak bolehin bawa motor, Febi mau jemput kakak,” kataku meyakinkan Bunda. “Ya sudah Kakak sama Febi aja. Enggak usah bawa motor, bunda pake motornya. Motor bunda habis bensinnya!” pungkas Bunda. “Kenapa kamu gak isi aja bensinnya? Kasihan anakmu itu loh pingin main,” kata Kakek. “Kek, aku sama Febi aja. Febi sudah lama gak pernah ke sini katanya, jadi pingin ke sini.” Alibiku. Kakek hanya menganggukkan kepalanya. Hana sudah berlalu dan meninggalkan piring kosongnya di meja makan. “Kak, jangan lupa cuci piringnya. bunda kerja dulu,” kata Bunda yang pamit pada Kakek dan berlalu. Kakekku tersenyum padaku, entah apa arti senyum itu. Aku hanya membalas dengan senyuman juga. Senyuman yang hanya aku keluarkan pada keluarga dan orang terdekatku. Aku membawa semua piring kotor ke belakang dan mencucinya. *** “Halo?” sapaku dari telepon yang tersambung dan baru kuangkat. “Oh, kamu sudah di depan? Tunggu sebentar ya. Aku ambil tas sama dompet,” kataku sebelum mematikan teleponnya. Aku mengambil tas selempangku dan memasukkan hp serta dompetku ke dalamnya lalu keluar kamar. Terlihat Kakekku sedang menonton tv di ruang keluarga. ‘Pantes gak ada yang tahu ada Febi, orangnya nonton di sini,’ batinku sambil menutup pintu kamar. “Kek, kakak berangkat ya. Febi sudah ada di depan,” pamitku. Kakekku mengalihkan pandangannya ke arahku. “Loh, ada Febi? Kakek enggak denger loh.” Kakek berdiri dan melihat ke arah halaman rumah. “Enggak papa, Febi sudah di depan pagar, Kek. Kakak berangkat ya, Kek.” Aku pamit pada Kakek. “Iya, hati-hati, Kak!” pesan Kakekku. Aku meyalami tangannya dan keluar dari rumah menghampiri Febi yang duduk di motor maticnya. Febi Pamela, gadis chubby dengan rambut panjangnya dan senyum cerianya yang selalu menyapaku sejak kelas 1 SMP. Cukup lama memang pertemanan kami. Kami memiliki nasib yang sama, bedanya dia masih ceria menghadapinya dan selalu menceritakan semua yang dirasakan. Berbeda denganku, di mana aku lebih memilih menahannya sendiri. Shania Asyah, gadis keturunan China-Jawa yang cantik dan memiliki tubuh yang terlihat ideal walaupun dia terkenal banyak makan di antara kami berempat. Gadis yang selalu memiliki humor yang receh banget tapi dia mampu membuatku tertawa saat bersama mereka. Aku yang selama ini dilihat dingin, cuek dan semena-mena luruh hanya dengan bertemu tiga manusia absurd ini. Audrey Hasanah, gadis yang memiliki kekurangan fisik, namun tetap baik hati dan selalu ada untukku. Kami lahir di hari, tanggal, tahun yang sama dan ajaibnya lagi, di jam yang sama. Hanya saja kami lahir dari rahim yang berbeda. Aku tidak pernah melihat dia membedakan memperlakukan kami. “Rin, enggak ada yang mau dibagi?” tanya Audrey padaku. Aku tersenyum tipis dan menggelengkan kepalaku. “Jujur aja, Rin. Kami tahu kamu, 4 tahun cukup buat kami kenal kamu,” kata Shania. Empat tahun? Yah, ternyata sudah selama itu persahabatan kami. Meski berpisah sekali pun kami selalu menyempatkan untuk bertemu. Tempat favorit kami adalah kamar Audrey. Tidak heran jika kami sering mengunjungi Audrey di rumahnya. “Cerita aja, Rin. Enggak ada yang menghakimi kamu. Kami selalu menceritakan semua sama kamu. Itu enggak adil buat kamu yang enggak bisa mengeluarkan semuanya,” kata Febi membuatku menghela napas berat. Yah, dia benar. Aku terkadang ingin mengeluarkan apa yang ada di hatiku bersama mereka, tapi entah kenapa rasanya ragu sekali. “Aku cerita dan semoga kalian masih mau berteman sama aku,” kataku yang menatap mereka satu per satu. Mereka terlihat antusias mendengarkan apa yang akan aku ceritakan. Aku mulai menceritakan apa yang terjadi padaku. Karena, aku tahu mereka cukup baik mengingat masa laluku saat pertama kenal mereka. “Ada ya, manusia kaya dia? Ih, untung itu kamu loh. Kalau itu aku sudah pasti rame. Kamu terlalu sabar menghadapi mereka. Coba sesekali tegasin, jangan mau lagi diperlakukan tidak adil, Rin. Semua sama di mata Tuhan. Yang membedakan hanya keimanannya. Udah ya, jangan berpikir kamu sendiri. Kita ada buat kamu kok, kamu harus menceritakan apapun yang ada di hati kamu biar semua terasa lebih ringan, Rin,” kata Febi mengomentari ceritaku. Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya. “Aku jahat tahu, enggak ada baik-baiknya. Kayanya cuma sama kalian deh bisa kaya gini,” sahutku yang menyadari situasiku. Aku sadar aku bisa sangat bahagia hanya bertemu dengan mereka dan mendengar cerita mereka. Aku merasa diriku penting dan sangat dihargai saat bersama mereka. “Eh, rame ternyata.” Suara dari ambang pintu membuat kami mengalihkan perhatian kami. “Ih papa, ngagetin aja,” kata Febi dan Audrey pada Papa Audrey yang berada di ambang pintu. “Farin, gimana kabarnya? Lama banget enggak ketemu. Febi kadang masih ketemu enggak sengaja. Kalo sama Shania setiap hari juga ketemu. Kan satu sekolah sama Audrey,” kata papa Audrey. Aku hanya tersenyum mendengarnya sebelum menjawab. “Farin baik, Pa, Papa gimana? Habis ngedate ya, Pa sama Mama?” tanyaku ramah. “Baik, Rin. Iya nih, Rin. Ngedate ikut anak muda gitu. Tapi itu si Yura ikut mulu, Rin,” jawab Papa Audrey sembari mengadu tentang anak bungsunya. “Ih Papa, anaknya ikut malah begitu. Entar enggak ada yang ikut, ngambek. Gimana sih, Pa?” keluh Audrey. Aku iri, percakapan ayah dan anak ini begitu menggelitik hatiku hingga rasa iri membuncah sekali di dalam hatiku. *** “Rin, makan dulu yuk!” ajak Febi saat kami perjalanan pulang. Aku hanya mengiyakan ajakannya dan kami menuju sebuah kafe yang berada di dekat rumah Audrey. Kami segera memesan dan menunggu. Aku membuka W******p sejenak melihat chat dari beberapa orang. [Laila] [Sibuk, Rin?] Aku menghela napas kasar melihat chat dari Laila yang banyak dan isinya sama. Febi melihatku dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menunjukan HPku padanya. “Kamu bisa percaya dia, Rin. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu beda memperlakukan kami sama temen baru kamu. Laila mungkin memang pure ingin berteman, Rin. Jangan pukul rata semuanya, nanti kamu yang sakit. Ceritakan aja apa yang terjadi. Lihat, dia menjauh apa enggak. Siapa tahu, dia sama kaya kami, Rin,” kata Febi panjang. Aku tahu, aku tidak pernah memberi kesempatan Laila untuk mengetahui kehidupanku. Bahkan datang ke rumah saja aku menolaknya. “Aku coba saran kamu. Nanti!,” **Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k
Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda
Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,
Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,
Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.
Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh







