Compartilhar

07: Dipermalukan

Autor: Lavendulaaa
last update Data de publicação: 2026-09-08 12:51:52

Statement sekolah sudah seperti rumah kedua akan kutolak tegas. Karena aku tidak merasa seperti pulang ke rumah saat di sekolah. Seseorang yang menyambutku hanya Laila, Tia dan beberapa teman Tia yang mengenalku. Hari kamis adalah hari melelahkan untukku, karena kami akan sibuk dan hari ini ditambah kerja kelompok yang kami lakukan di sekolah. Aku berjongkok di depan laptopku yang ada di lantai. Aku berkelompok dengan Laila, Tia, dan Jihan. Mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Aku dan Jihan berjongkok agar berhadapan dengan Laila dan Tia. 

Tawa dari seberang tidak aku hiraukan, tapi Jihan menoleh dan melepaskan almamaternya. Jihan menyampirkannya ke pinggangku membuatku menoleh.

“Vedo buat rokmu basah, mereka menertawakanmu. Mereka menatapmu seperti wanita murahan,” jelas Jihan membuatku berdiri. Laila mendongakkan wajahnya melihatku. Aku diam dan melangkah mendekati gerombolan pria menyebalkan itu. 

“Rin, ngapain?” tanya Tia. Aku berhenti sejenak dan menatapnya memberi kode untuk diam. Aku melanjutkan langkahku ke cowok sialan yang bernama Vedo itu. Dia tersenyum mengejekku. Aku membalasnya dengan senyum sinis.

“Apa? Mau balas?” tantangnya padaku.

“Kamu kira, aku takut karena kamu anak guru?” balasku membuat senyumnya memudar. 

“Kamu enggak punya malu, ya. Nantangin aku di sekolah?” katanya. Senyum sinisku semakin melebar mendengarnya.

“Kamu yang bikin aku malu. Kamu habis ngapain barusan? Hem?” ujarku membuat dia terdiam. Diamnya membuat tanganku gatal ingin memukul wajahnya. 

“Kamu udah kaya wanita murahan. Kamu mau sok kelihatan pahlawan dan berani sama kita?” Telak! Aku makin kesal dengan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Bogemku melayang ke pipinya membuat wajahnya menoleh ke arah berlawanan. Tatapan tajamku seketika hadir dan mengintimidasinya. 

“Kamu jauh lebih murahan, karena enggak bisa menghargai wanita. Anak mama, tapi enggak bisa menghargai wanita. Yakin, sayang sama mamamu?” sinisku membuat dia melotot. Aku tidak takut. 

“Untung kamu cewek, coba cowok…”

“Kenapa kalau aku cowok? Mau pukul? Silakan. Kamu belajar dulu hargai wanita, pacar kamu wanita, ‘kan? Mama? Adik? Masih mau melecehkan wanita? Gak ada akhlak itu definisi otakmu!” potongku yang langsung berlalu dari hadapannya. Pria menyebalkan itu dan gerombolannya pergi dari tempatnya. Laila langsung meraih tanganku yang kugunakan untuk memukul Vedo. Dia memeriksa tanganku dan kualihkan mereka untuk segera menyelesaikan tugasnya lalu pulang.

Bunda barusan menelepon dan menyuruhku segera pulang. Aku meminta Laila untuk menyampaikan izin tidak hadir les. Laila mengiyakan dan aku pulang. Aku menghentikan motor dan masuk ke rumah setelah menutup pagar.

“Assalamualaikum!” salamku dijawab oleh Bunda yang memang berada di ruang tamu bersama dengan Kakek. Hawa dingin menyelimuti ruang tamu, entah apa yang terjadi aku belum mengerti. Aku melepas tas dan duduk di sofa.

“Kakak habis bolos?” tanya Bunda yang membuatku terdiam. Aku berpikir dari mana Bunda mendengarnya. Aku mendengkus pelan, setelah mengingat beberapa guruku juga mengajar di tempat Bunda. 

“Kenapa diam? Gak mau atau enggak berani jawab?” tanya Bunda. Aku harus mengakuinya, bagaimanapun itu kesalahanku.

“Iya, kakak bolos. Tepat setelah Bunda marahin,” jawabku. 

“Kakek enggak pernah ajari kamu buat bolos. Kenapa kakak bolos?” giliran Kakekku yang memberi pertanyaan.

“Kakak capek, kakak masih kepikiran. Percuma kalau kakak masuk makin gak tangkap aja pelajaran ke otak. Jadi mending gak masuk sekalian,” jawabku mencoba terlihat tenang.

“KAMU ITU ANAK SIAPA?! KAMU LIHAT ITU ANAK SEBELAH. DIA ADIK KELASMU DARI DULU SELALU PERINGKAT SATU. DIA BISA MASUK SMP KOTA, SEDANGKAN KAKAK? MASUK KE SMA PUN SUSAH KAK. KAKAK ITU HARUS INGAT BELAJAR!” marah bunda. Lagi, anak tetangga lagi yang selalu dibandingkan.

“Aku anak Bunda. Kalau gak mau ngakuin sebagai anak Bunda sama seperti Ayah, gak papa. Farin bisa hidup sendiri dan gak butuh sekolah!” kataku langsung mengambil tas dan keluar. Kakek meneriakkan namaku, namun tidak kuhiraukan. Aku lelah, Bunda selalu mengungkit semuanya dan menanyakan aku anak siapa. 

Beruntung aku membawa baju dan ATMku. Aku memilih untuk Check In hotel dan menenangkan diriku di kamar hotel. Aku menangis di sana. Hpku berdering, aku menebak itu Bunda memintaku pulang. Aku capek, hingga detik ini aku masih tidak menerima kenyataan sebagai korban perceraian. Aku iri melihat temanku selalu bercengkerama dengan Ayahnya. Papa Audrey menganggapku sebagai anaknya juga, tapi rasanya beda. Rindu itu besar dan menyiksa. Di hatiku masih terselip benci kepada keduanya yang memutuskan berpisah. Aku melihat layar hpku yang menunjukkan pukul 8 malam. Aku menelepon Laila.

“La, gimana? Udah pulang?” tanyaku. 

“Mau temenin aku?” 

“Aku di Hotel Saranya.”

“Jangan mikir enggak-enggak. Aku sendirian.” 

“Kamar nomor 504.”

Kumatikan sambungan. Aku tidak ingin pulang untuk hari ini. Aku pun tidak ingin menyusahkan temanku dengan menginap di rumah mereka. Cukup lama aku menunggu Laila hingga ketukan pintu membuatku segera membuka pintu. Laila terlihat panik dan masuk memeriksa keadaan kamar.

“Kamu ngapain, Rin?” tanyanya tidak kujawab.

“Bunda?” tanyanya hati-hati. Aku mengangguk. Laila menarikku duduk berdua.

“Kenapa? Cerita aja. Wajahmu udah sangat penat, Rin,” kata Laila meyakinkanku. Aku menceritakan apa yang terjadi dan pertama kalinya untukku menangis di depan Laila. Gadis itu langsung memelukku dan menenangkanku. Laila memelukku hingga tenang dan tertidur karena lelah.

***

Hari senin tiba setelah beberapa hari aku tidak pulang. Pagi-pagi sekali aku pulang dan terlihat Bunda sedang menyapu. Aku masih malas berbicara. Aku tahu, semakin aku berbicara, semakin aku menyakiti hati Bunda. Aku memnghentikan motor dan segera masuk ke kamarku. Aku memutuskan segera mandi. Aku memantapkan diri untuk kembali keluar kamar dan bertemu keluargaku. 

“Makan dulu, kak!” suruh Kakek yang melihatku keluar kamar. Aku tidak membangkang Kakek, tapi moodku  tidak mendukung untuk bertemu Bunda. Aku menghela napas berat dan menuju meja makan. Aku mengambil nasi sedikit agar segera kuhabiskan, pikirku.

“Udah enggak doyan masakan bunda?” tanya Bunda membuat hatiku bergemuruh kembali.

“Karin, biarin anak kamu makan. Kamu gak khawatir apa beberapa hari dia gak pulang, gak kasih kabar. Sekarang dia memilih pulang, kamu malah perlakukan dia sama seperti sebelum dia pergi. Kalo dia menyesal kembali, kamu mau cari dia ke mana lagi?” sahut Kakek dengan nada tinggi. Baru kali ini aku melihat Kakek membelaku depan Bunda. Aku berkutat dengan makananku seolah tak acuh dengan sekelilingku. 

“Kakak dari mana aja?” tanya Hana yang masih tak kuhiraukan. Aku menghabiskan makananku dan segera pamit ke sekolah setelah membolos kembali hari Jum’at kemarin. 

***

“Wiiih, yang habis check in. Gimana rasanya? Enak? Kalo sama kita mau?” ucap Vedo di depan kelas membuatku malu. Memang benar aku check in, tapi tidak melakukan apa yang di pikiran kotornya. 

Wash your dirty mind!” bisikku sinis sambil berjalan menabrak bahunya dengan kasar. Vedo mencekal dan membalikan badanku. Mataku menatapnya tajam dan tersenyum sinis. Dia mendekatkan tubuhnya padaku.

“CCTV itu berguna dan menyala,” bisikku saat dia semakin mendekat. Dia menghempas tanganku dan menjauhkan tubuhnya sembari mendesah kasar. Aku melanjutkan langkahku menuju mejaku yang sudah diduduki oleh Laila. Gadis itu terlihat panik melihat apa yang baru saja terjadi.

“Kamu apakan dia sampai kesal lagi gitu?” bisik Laila penasaran. Aku menunjuk menggunakan daguku CCTV yang ada di pojok ruangan dan memancarkan cahaya merah yang menandakan dia menyala. 

“Hahaha gak lama lagi dia bakalan dipanggil. Kamu siap kalo dipanggil?” tanya Laila.

“Siap. Kamu saksi, dia yang tarik aku dulu,” kataku meyakinkan.

“Gak cuma Laila, Rin. Kita juga lihat kok” sahut dua gadis yang duduk di depan bangkuku.

“Jihan, Tia, kalian lihat?” kagetku.

“Iya lah. Kamu keren kalo mau ngelawan,” kata Tia. Aku hanya tersenyum tipis. Cukup, kemarin dia mempermalukanku di depan teman-temannya dan mengataiku wanita murahan. Aku akan melawannya jika dia masih semena-mena padaku. Meskipun terkadang aku juga semena-mena setidaknya aku tidak separah dia. 

**

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Setelah Semua Luka Pulang   14: Keluarga Ayah

    Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k

  • Setelah Semua Luka Pulang   13: Kehilangan Kakek (2)

    Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda

  • Setelah Semua Luka Pulang   12: Kehilangan Kakek (1)

    Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,

  • Setelah Semua Luka Pulang   11: Happy Graduation, Pria Keras Kepala!!

    Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,

  • Setelah Semua Luka Pulang   10: Kak Dana dan Vedo

    Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.

  • Setelah Semua Luka Pulang   09: Bullying

    Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status