MasukStatement sekolah sudah seperti rumah kedua akan kutolak tegas. Karena aku tidak merasa seperti pulang ke rumah saat di sekolah. Seseorang yang menyambutku hanya Laila, Tia dan beberapa teman Tia yang mengenalku. Hari kamis adalah hari melelahkan untukku, karena kami akan sibuk dan hari ini ditambah kerja kelompok yang kami lakukan di sekolah. Aku berjongkok di depan laptopku yang ada di lantai. Aku berkelompok dengan Laila, Tia, dan Jihan. Mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Aku dan Jihan berjongkok agar berhadapan dengan Laila dan Tia.
Tawa dari seberang tidak aku hiraukan, tapi Jihan menoleh dan melepaskan almamaternya. Jihan menyampirkannya ke pinggangku membuatku menoleh.
“Vedo buat rokmu basah, mereka menertawakanmu. Mereka menatapmu seperti wanita murahan,” jelas Jihan membuatku berdiri. Laila mendongakkan wajahnya melihatku. Aku diam dan melangkah mendekati gerombolan pria menyebalkan itu.
“Rin, ngapain?” tanya Tia. Aku berhenti sejenak dan menatapnya memberi kode untuk diam. Aku melanjutkan langkahku ke cowok sialan yang bernama Vedo itu. Dia tersenyum mengejekku. Aku membalasnya dengan senyum sinis.
“Apa? Mau balas?” tantangnya padaku.
“Kamu kira, aku takut karena kamu anak guru?” balasku membuat senyumnya memudar.
“Kamu enggak punya malu, ya. Nantangin aku di sekolah?” katanya. Senyum sinisku semakin melebar mendengarnya.
“Kamu yang bikin aku malu. Kamu habis ngapain barusan? Hem?” ujarku membuat dia terdiam. Diamnya membuat tanganku gatal ingin memukul wajahnya.
“Kamu udah kaya wanita murahan. Kamu mau sok kelihatan pahlawan dan berani sama kita?” Telak! Aku makin kesal dengan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Bogemku melayang ke pipinya membuat wajahnya menoleh ke arah berlawanan. Tatapan tajamku seketika hadir dan mengintimidasinya.
“Kamu jauh lebih murahan, karena enggak bisa menghargai wanita. Anak mama, tapi enggak bisa menghargai wanita. Yakin, sayang sama mamamu?” sinisku membuat dia melotot. Aku tidak takut.
“Untung kamu cewek, coba cowok…”
“Kenapa kalau aku cowok? Mau pukul? Silakan. Kamu belajar dulu hargai wanita, pacar kamu wanita, ‘kan? Mama? Adik? Masih mau melecehkan wanita? Gak ada akhlak itu definisi otakmu!” potongku yang langsung berlalu dari hadapannya. Pria menyebalkan itu dan gerombolannya pergi dari tempatnya. Laila langsung meraih tanganku yang kugunakan untuk memukul Vedo. Dia memeriksa tanganku dan kualihkan mereka untuk segera menyelesaikan tugasnya lalu pulang.
Bunda barusan menelepon dan menyuruhku segera pulang. Aku meminta Laila untuk menyampaikan izin tidak hadir les. Laila mengiyakan dan aku pulang. Aku menghentikan motor dan masuk ke rumah setelah menutup pagar.
“Assalamualaikum!” salamku dijawab oleh Bunda yang memang berada di ruang tamu bersama dengan Kakek. Hawa dingin menyelimuti ruang tamu, entah apa yang terjadi aku belum mengerti. Aku melepas tas dan duduk di sofa.
“Kakak habis bolos?” tanya Bunda yang membuatku terdiam. Aku berpikir dari mana Bunda mendengarnya. Aku mendengkus pelan, setelah mengingat beberapa guruku juga mengajar di tempat Bunda.
“Kenapa diam? Gak mau atau enggak berani jawab?” tanya Bunda. Aku harus mengakuinya, bagaimanapun itu kesalahanku.
“Iya, kakak bolos. Tepat setelah Bunda marahin,” jawabku.
“Kakek enggak pernah ajari kamu buat bolos. Kenapa kakak bolos?” giliran Kakekku yang memberi pertanyaan.
“Kakak capek, kakak masih kepikiran. Percuma kalau kakak masuk makin gak tangkap aja pelajaran ke otak. Jadi mending gak masuk sekalian,” jawabku mencoba terlihat tenang.
“KAMU ITU ANAK SIAPA?! KAMU LIHAT ITU ANAK SEBELAH. DIA ADIK KELASMU DARI DULU SELALU PERINGKAT SATU. DIA BISA MASUK SMP KOTA, SEDANGKAN KAKAK? MASUK KE SMA PUN SUSAH KAK. KAKAK ITU HARUS INGAT BELAJAR!” marah bunda. Lagi, anak tetangga lagi yang selalu dibandingkan.
“Aku anak Bunda. Kalau gak mau ngakuin sebagai anak Bunda sama seperti Ayah, gak papa. Farin bisa hidup sendiri dan gak butuh sekolah!” kataku langsung mengambil tas dan keluar. Kakek meneriakkan namaku, namun tidak kuhiraukan. Aku lelah, Bunda selalu mengungkit semuanya dan menanyakan aku anak siapa.
Beruntung aku membawa baju dan ATMku. Aku memilih untuk Check In hotel dan menenangkan diriku di kamar hotel. Aku menangis di sana. Hpku berdering, aku menebak itu Bunda memintaku pulang. Aku capek, hingga detik ini aku masih tidak menerima kenyataan sebagai korban perceraian. Aku iri melihat temanku selalu bercengkerama dengan Ayahnya. Papa Audrey menganggapku sebagai anaknya juga, tapi rasanya beda. Rindu itu besar dan menyiksa. Di hatiku masih terselip benci kepada keduanya yang memutuskan berpisah. Aku melihat layar hpku yang menunjukkan pukul 8 malam. Aku menelepon Laila.
“La, gimana? Udah pulang?” tanyaku.
“Mau temenin aku?”
“Aku di Hotel Saranya.”
“Jangan mikir enggak-enggak. Aku sendirian.”
“Kamar nomor 504.”
Kumatikan sambungan. Aku tidak ingin pulang untuk hari ini. Aku pun tidak ingin menyusahkan temanku dengan menginap di rumah mereka. Cukup lama aku menunggu Laila hingga ketukan pintu membuatku segera membuka pintu. Laila terlihat panik dan masuk memeriksa keadaan kamar.
“Kamu ngapain, Rin?” tanyanya tidak kujawab.
“Bunda?” tanyanya hati-hati. Aku mengangguk. Laila menarikku duduk berdua.
“Kenapa? Cerita aja. Wajahmu udah sangat penat, Rin,” kata Laila meyakinkanku. Aku menceritakan apa yang terjadi dan pertama kalinya untukku menangis di depan Laila. Gadis itu langsung memelukku dan menenangkanku. Laila memelukku hingga tenang dan tertidur karena lelah.
***
Hari senin tiba setelah beberapa hari aku tidak pulang. Pagi-pagi sekali aku pulang dan terlihat Bunda sedang menyapu. Aku masih malas berbicara. Aku tahu, semakin aku berbicara, semakin aku menyakiti hati Bunda. Aku memnghentikan motor dan segera masuk ke kamarku. Aku memutuskan segera mandi. Aku memantapkan diri untuk kembali keluar kamar dan bertemu keluargaku.
“Makan dulu, kak!” suruh Kakek yang melihatku keluar kamar. Aku tidak membangkang Kakek, tapi moodku tidak mendukung untuk bertemu Bunda. Aku menghela napas berat dan menuju meja makan. Aku mengambil nasi sedikit agar segera kuhabiskan, pikirku.
“Udah enggak doyan masakan bunda?” tanya Bunda membuat hatiku bergemuruh kembali.
“Karin, biarin anak kamu makan. Kamu gak khawatir apa beberapa hari dia gak pulang, gak kasih kabar. Sekarang dia memilih pulang, kamu malah perlakukan dia sama seperti sebelum dia pergi. Kalo dia menyesal kembali, kamu mau cari dia ke mana lagi?” sahut Kakek dengan nada tinggi. Baru kali ini aku melihat Kakek membelaku depan Bunda. Aku berkutat dengan makananku seolah tak acuh dengan sekelilingku.
“Kakak dari mana aja?” tanya Hana yang masih tak kuhiraukan. Aku menghabiskan makananku dan segera pamit ke sekolah setelah membolos kembali hari Jum’at kemarin.
***
“Wiiih, yang habis check in. Gimana rasanya? Enak? Kalo sama kita mau?” ucap Vedo di depan kelas membuatku malu. Memang benar aku check in, tapi tidak melakukan apa yang di pikiran kotornya.
“Wash your dirty mind!” bisikku sinis sambil berjalan menabrak bahunya dengan kasar. Vedo mencekal dan membalikan badanku. Mataku menatapnya tajam dan tersenyum sinis. Dia mendekatkan tubuhnya padaku.
“CCTV itu berguna dan menyala,” bisikku saat dia semakin mendekat. Dia menghempas tanganku dan menjauhkan tubuhnya sembari mendesah kasar. Aku melanjutkan langkahku menuju mejaku yang sudah diduduki oleh Laila. Gadis itu terlihat panik melihat apa yang baru saja terjadi.
“Kamu apakan dia sampai kesal lagi gitu?” bisik Laila penasaran. Aku menunjuk menggunakan daguku CCTV yang ada di pojok ruangan dan memancarkan cahaya merah yang menandakan dia menyala.
“Hahaha gak lama lagi dia bakalan dipanggil. Kamu siap kalo dipanggil?” tanya Laila.
“Siap. Kamu saksi, dia yang tarik aku dulu,” kataku meyakinkan.
“Gak cuma Laila, Rin. Kita juga lihat kok” sahut dua gadis yang duduk di depan bangkuku.
“Jihan, Tia, kalian lihat?” kagetku.
“Iya lah. Kamu keren kalo mau ngelawan,” kata Tia. Aku hanya tersenyum tipis. Cukup, kemarin dia mempermalukanku di depan teman-temannya dan mengataiku wanita murahan. Aku akan melawannya jika dia masih semena-mena padaku. Meskipun terkadang aku juga semena-mena setidaknya aku tidak separah dia.
**
Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah
Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me
Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal
Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud







