Home / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 08: Urusan Dengan BK

Share

08: Urusan Dengan BK

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-09-08 12:52:44

Bimbingan Konseling adalah hal yang sangat aku benci jika harus berurusan dengan pihaknya. Bukan karena aku tidak suka gurunya atau pelajarannya, hanya saja aku tidak suka memiliki masalah hingga mendapat poin. Cukup bolos saja yang mewarnai poinku, masalah jangan. Tapi itu hanya harapanku, nyatanya saat ini aku harus duduk di sofa ruang BK bersama pria menyebalkan. Pria itu hanya diam dan menunduk seolah malu akan apa yang dia lakukan.

“Apa yang kalian lakukan hari ini di kelas, di depan teman-teman kalian?” tanya Pak Munif selaku guru BK yang menangani kami.

“Tidak melakukan apapun, Pak, dia yang menarik saya dan mencoba melecehkan saya,” jawabku singkat dan jujur membuatnya menolehkan kepalanya padaku seolah marah atas kejujuranku. 

“Benar itu Vedo?” tanya Pak Munif yang tidak mendapat respons dari Vedo. Aku tersenyum sinis sebentar melihat nyali pria ini yang menciut seketika.

“Kalau dia enggak mau bicara, kenapa Bapak enggak buka lagi aja rekamannya sebagai bukti,” saranku membuat tangan pria di sampingku gemetar hebat yang langsung disembunyikan. Pak Munif masuk dan mengambil laptopnya. Layar laptop itu segera dibalik ke arah kami dan di perlihatkan pada kami. Aku melihat dengan saksama dan jelas terlihat bagaimana dia menarikku dan mendekatkan tubuhnya padaku.

“Kamu sebagai korban, Farin. Kamu mau Vedo dihukum seperti apa?” tanya Pak Munif. Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan guruku itu. Tidak mungkin aku minta dia dikeluarkan dari sekolah hanya karena dendam pribadi. 

“Sesuai aturan sekolah Pak. Kalau memang jalan terbaik dia keluar dari sekolah, saya enggak bisa bilang enggak. Saya hanya siswa biasa, berbeda dengan dia. Saya hanya akan menuruti aturan sekolah,” pungkasku. Pak Munif mengangguk dan mengerti. Aku berlalu dari ruang BK begitu di persilakan untuk meninggalkan ruang BK. 

Setelah beberapa jam aku merasa bebas dari gangguan Vedo dan teman-temannya. Malah Vedo datang ke rumah dengan orangtuanya. Aku hanya duduk dan mendengarkan kedua orangtuanya yang datang meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan anaknya. Bunda terkejut mendengar apa yang terjadi padaku.

“Kak, beneran kakak digituin?” tanya Bunda dengan wajah terkejutnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Nak Farin, mau maafin Vedo ‘kan?” tanya ayah Vedo yang juga guruku. Belum aku menjawab pertanyaannya, suara adikku yang panik sudah menggema meneriakkan namaku.

“KAK FARIN ADA TELFON, PENTING BURUAN!” teriaknya membuat aku memilih pamit terlebih dahulu. Aku berlari kembali dan menenteng jaket serta kunci motorku.

“Kek, Bun, Farin enggak pulang malam ini. Farin ke rumah sakit, Audrey cari Farin. Audrey habis kecelakaan,” pamitku pada Kakek dan Bunda.

“Tapi masalah ini?” tanya Bunda membuatku berhenti dan menelepon seseorang di ujung sana.

“Aku terlambat, ada yang harus aku urus. Kamu ke rumah sakit dulu. Nanti aku nyusul secepatnya.”

“Iya, gak akan ngebut aku.”

Sambungan ku tutup dan aku berdiri menatap Vedo yang hanya bisa menunduk. Aku menghela napas kasar melihat kelakuan pria menyebalkan ini.

“Pak maaf, bukannya enggak mau maafin anak bapak, tapi anak bapak sudah keterlaluan sekali. Ini bukan pertama kalinya anak bapak mengganggu saya. Selama ini ucapan anak bapak selalu menyakiti saya. Yang paling parah adalah anak bapak mengatakan bahwa saya adalah wanita murahan. Itikad baik bapak, saya terima, tapi maaf kata maaf sendiri tidak keluar dari mulut anak bapak membuat saya jengah. Bukan saya sombong, tapi saya buru-buru pak,” jelasku yang langsung disambut telepon dari HP-ku.

“Aku jalan sekarang. Jangan nangis. Jaga Yura.”

“Hem,” dehemanku menjadi akhir telepon itu. Vedo menatapku dan berjalan ke arahku, aku seketika mundur melihatnya berjalan mendekatiku.

“Maaf, Rin.” Kata itu meluncur dari mulutnya membuatku tidak berkedip dia menunduk di depanku. Dia menggapai tanganku dan terlihat tulus meminta maaf. Aku hanya tersenyum sinis melihat wajah menyesalnya. 

“Aku tahu, Rin, aku kelewatan. Maaf.” 

“Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu bilang!” sinisku sambil menarik tanganku dari genggamannya.

“Kamu boleh pukul atau tampar aku, Rin seperti kemarin saat aku mengatakan hal yang sama. Aku yang salah, Rin.”

“Aku udah maafin kamu, sekarang jauh-jauh dari aku. Aku yang akan bilang buat ringanin hukumanmu,” kataku cepat sambil menjauhkan diriku darinya. Aku muak melihatnya. Aku pun langsung pamit dan pergi.

Aku melongokan kembali kepalaku untuk berbicara pada Kakek.

“Besok Farin pulang subuh, Farin bisa telepon waktu mau pulang,” kataku dan langsung meninggalkan rumah untuk tidak melihat pria menyebalkan itu lagi. Tak tahu apa lagi yang akan dibicarakannya dan Bunda setelah aku pergi. Aku tidak peduli.

***

Bunda mengantarku ke sekolah setelah beberapa jam lalu aku baru pulang dan terlihat jelas mataku yang sangat terlihat kurang tidur. Bunda mengingatkan untuk berbicara pada guru BK agar hukuman Vedo diringankan. Hari ini Vedo masih masuk karena belum mengetahui hukumannya. Aku menenggelamkan wajahku di tanganku. Kupejamkan mataku sejenak hingga sebuah tepukan pelan di bahuku membuatku ingin mendongakkan kepala, namun suara Laila menggelegar di telingaku.

“Mau apa lagi kamu? Mau ngatain Farin lagi? Belum cukup kemarin masuk BK? Hukuman belum turun, jangan banyak tingkah!” cerocos Laila membuatku membuka mata dan menatap Vedo yang ada di sampingku. Aku menarik tangan Laila untuk duduk kembali di bangkunya. Aku kembali melihat Vedo dengan wajah datar.

“Nanti aku omongin ke Pak Munif,” singkatku yang akan melakukan kembali apa yang tertunda tadi.

“Aku mau tanya,” katanya membuat aku mengurungkan niat untuk memejamkan mata.

“Apa?” tanyaku dengan nada yang seolah tidak peduli dengan apa yang dilakukannya.

“Gimana keadaan temanmu? Udah baikan? Kamu udah tidur?” tanyanya membuat aku memejamkan mata menata emosiku.

“Urusanku sama temanku itu termasuk urusan pribadi. Mau dia baikan atau belum sadar, bukan urusanmu. Kamu juga enggak kenal dia. Aku tidur? Mau aku tidur atau enggak, bukan urusanmu juga. Kalaupun kamu udah tahu aku belum tidur, kenapa ganggu aku? Urusan kita cuma sekadar ngomong ke Pak Munif ‘kan tentang hukuman kamu?” jelasku penuh penekanan. Menunduk, aku muak melihatnya selalu menunduk merasa bersalah tapi selalu mengulangi apa yang sudah terjadi, bahkan terkadang lebih parah. 

***

Sesuai janjiku, aku melangkahkan kaki menuju ruang BK saat jam istirahat. Vedo mencekalku saat aku akan memasuki ruangan BK. Aku menatapnya datar mencoba mencari tahu alasan yang membuat dia mencegahku.

“Aku salah, kamu enggak perlu lakuin ini karena aku sadar aku keterlaluan, Rin,” katanya.

“Lalu, kamu mau buat aku enggak menepati janjiku?” tanyaku sambil melepaskan tangannya. Dia tidak lagi menunduk, dia menatapku dengan wajah bersalahnya. 

“Kamu beneran maafin aku setelah apa yang aku perbuat sama kamu?” tanyanya. Aku menghela napas perlahan, aku pun tahu aku juga salah karena sempat memukulnya di depan teman-temannya. Aku melukai harga dirinya. 

“Kalaupun iya, kenapa? Bukannya Ayahmu sudah meyakinkan keluargaku kalau kamu nggak akan mengulanginya lagi?” tanyaku penuh penekanan.

“Aku mau maaf kamu tulus, Rin. Bukan karena Ayah aku atau Ibu aku, Rin”

“Ya udah aku maafin kamu” pungkasku yang akan melanjutkan langkah memasuki ruang BK. Lagi-lagi dia mencekal tanganku. Aku mendengus kesal.

“Kamu beneran maafin aku tulus?” tanyanya lagi.

“Kalau aku ngomong tulus, emang itu masih terhitung tulus, ya? Udah kek, aku mau kelar urusan sama BK, sama kamu juga. Aku capek!” gerutuku sambil kembali menarik tanganku dari tangannya dan masuk ruang BK untuk menemui Pak Munif. Aku mengutarakan maksud dan tujuanku menemui beliau. Beliau terlihat terkejut dengan keputusanku yang berubah tiba-tiba. Aku mencari alasan yang tepat untuk tidak menyangkut orangtuaku dan orangtua Vedo tentunya. Akhirnya hukuman Vedo diumumkan. Pria menyebalkan itu mendapat hukuman berupa skors selama satu minggu. Pria menyebalkan itu datang lagi dan mengucapkan terima kasih padaku. Tidak kuhiraukan semua ocehannya lagi.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   20: Awal Baru

    Menurut beberapa orang, hidup akan lebih bahagia jika kita dapat berdamai dengan masa lalu. Sepertinya, itu memang benar, kini aku mulai bisa menerima keberadaan Ayah yang selalu meneleponku setelah pertemuan kami. Aku baru selesai berganti baju dan meraih HPku yang ada di nakas di kamarku. Aku harus menuju bandara untuk menjemput Febi yang hari ini datang ke Korea dan akan tinggal bersamaku, karena dia juga memiliki pekerjaan di sini.Cukup lama aku menunggu hingga sosok yang kutunggu datang dan memelukku. Aku membalas pelukannya dan membantunya menggeret kopernya yang cukup besar. Kami berjalan berdua keluar dari lobi bandara. Kami segera menuju apartemenku. Hanya percakapan ringan yang terjadi di dalam taksi. Kami turun dan masuk ke gedung apartemenku. Aku mempersilakannya masuk ke unit apartemenku.“Gimana Feb?

  • Setelah Semua Luka Pulang   19: Memaafkan

    Hal paling susah untukku adalah berdamai dengan masa lalu yang pelik. Sampai hari ini pun, aku masih enggan untuk berdamai. Hatiku sangat membenci situasi di mana aku harus menangis dan merindu tanpa tahu keadaan sosok yang kurindukan. Saat dia datang seperti ini rasa marahku lebih mendominasi membuatku makin enggan berdamai dengan masa lalu, apalagi setelah dia menceritakan kronologinya. Aku cukup muak melihat dan mendengarkan suaranya.“Kak, maafin aja Ayahmu. Toh, kalo gak ada dia kamu juga gak ada, Kak,” bujuk Bunda. Aku mendesah pelan mendengar perkataan Bunda. Kenapa juga Bunda harus membujuk anaknya ini, padahal tahu sendiri anaknya aja susah buat maafin Bunda dulu.“Kakak dulu juga marah sama Bunda kan? Wajar, Kak, gak ada anak yang mau jadi korban dari rusaknya hubungan orang tuanya. Ayahmu juga sudah

  • Setelah Semua Luka Pulang   18: Ketidak Pedulianku

    Tiga teman anehku itu memilih pulang dan mengajakku hangout besok. Aku pun menyetujuinya, toh tujuanku pulang untuk liburan dan bertemu mereka. Keluarga Ayah masih setia menungguku untuk mengobrol.“Farin, lima juta itu besar loh? Kenapa gak diterima aja itu uangnya dari temanmu?” tanya nenekku yang mulai mengajakku bicara. Aku mendengkus kesal mendengar orang berkomentar tentang apa yang sudah lewat. Toh, itu memang rasa terima kasihku karena mereka masih mau berteman denganku hingga saat ini dengan semua tingkah ‘ajaib’ku.“Terus kenapa? Uang Farin juga kan? Gak ada yang nafkahin Farin juga. Uang hasil kerja keras Farin. Terserah mau Farin buat apa, selama Farin enggak ganggu orang lain. Apa ada yang terganggu

  • Setelah Semua Luka Pulang   17: Kedatangan Ayah

    Selama cuti, aku rajin membuka Instagram karena Chae Ra akan mengamuk jika aku tidak melihat foto yang dia upload. Wanita itu terkadang manja sama seperti Hana. Aku duduk di ruang tamu sambil memainkan hp.“Assalamualaikum, Mbak Farin!” salam seseorang membuatku mendongakkan kepalaku dan melihat tetangga depan ada di depan pintu. Aku berjalan mendekatinya dan tersenyum tipis.“Ada apa, Bu?” tanyaku saat sudah di hadapannya.“Ini Mbak, ada yang cari,” katanya sambil menunjuk pria yang mulai terlihat tua seumuran dengan Bunda yang berdiri tak jauh dari kami.

  • Setelah Semua Luka Pulang   16: Hasil Kerja Keras

    Setelah 2 tahun tinggal bersama Chae Ra di apartemennya. Kini aku bisa deposit sendiri dan memperbarui visaku. Aku dibantu Chae Ra melakukan pindahanku. Dia membantuku mencari apartemen dan sampai pindahan ini. Apartemen yang cukup besar untuk kutinggali sendiri ini terlihat mewah. Aku masuk dan langsung menata barangku.“Farin, kapan kamu ke Indonesia? Boleh aku pergi bersama. Aku ingin ke Bali,” katanya setelah menyelesaikan pekerjaannya membantuku.“Boleh, tapi aku tidak bisa ke Bali. Apakah kamu tidak keberatan?” tanyaku, karena memang aku tidak akan ke Bali jika sudah berada di Indonesia. Bukan karena tidak suka, tapi aku terlalu banyak tempat yang ingin kukunjungi terlebih dahulu sebelum Bali. Karena menurutku, aku akan berlibur bersama dengan penghuni Bali sendiri yaitu Febi, temanku.

  • Setelah Semua Luka Pulang   15: Aku Bisa Sendiri

    Empat tahun aku melewati masa kuliahku dan dapat gelar sarjana terapan itu membuatku cukup bangga. Aku menikmati diriku setelah melalui masa wisuda beberapa hari yang lalu. Aku ingin melanjutkan sekolahku setelah mendapat pekerjaan yang mendukung. Di usiaku yang 22 tahun ini, aku masih sangat ingin menginjakkan kakiku ke Korea Selatan dan memiliki pekerjaan di sana. Aku dan Febi memang berjanji akan berusaha bekerja bersama di sana, meski pun berbeda tempat. Untuk saat ini aku masih bekerja di Indonesia sambil mencari peluang untuk mewujudkan mimpiku.“Kak, Kakak beneran mau ke Korea Selatan buat lanjut?” tanya Bunda padaku yang sedang memasak bersamanya.“Iya Bun, kakak kerja di sana dan lanjut kuliah. Nanti bunda buka usaha aja gak usah kerja ya Bun. Doain kakak segera dapat uang banyak. Target kakak 2 tahun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status