MasukFarin baru mulai bekerja kembali setelah dua hari beristirahat. Farin di minta Karin untuk menggunakan taksi online karena kondisi Farin yang masih terlihat emosinya tidak stabil. Farin duduk di kursi meja makan di depan Hana. Layar HPnya masih dipandanginya, kini sudah tidak ada foto bahagia Jae dan Farin. HP wanita itu kembali ke setelan awal, gambar polos tanpa
Setelah acara makan malam keluarga yang kami lakukan tadi, aku berniat mencuci piring. Namun, Mama dan asisten rumah tangga melarangku. Akhirnya dengan segala usaha Mama membawaku keluar dari dapur. Aku melihat Arlan sedang bersama dengan Papa duduk di depan TV sambil mengobrol. Arlan menyuruhku duduk di sampingnya dengan tatapannya. “Ih sanaan dong Arlan, Mama mau duduk samping Papa!” suruh Mama yang menyenggol Arlan membuatnya semakin mendekat ke arahku.“Mama, masih banyak tempat, Astagfirullah. Itu kalau mau sama Papa ajak Papa aja pindah, ih!” kesal Arlan. Dia merangkul pinggangku membuatku auto menoleh ke arahnya. Dia hanya mengangkat alisnya.“Bilang aja, kamu juga mau mesra sama Farin. Tuh tangan bisa dilepas kalau mau mengelak,” sahut Mama.“Sewot banget sih, Ma,” gerutu Arlan. Dia menatapku dengan wajah yang biasa kulihat saat kami berada di tengah keluarga atau kerabat. “Sayang, mau kopi dong,” pintanya yang langsun
Hari jumat sudah menyapa. Aku masih harus bekerja dan sesuai rencana, kami akan ke rumah mertuaku. Aku sudah menyiapkan bajuku di mobil Arlan agar kami tidak repot kembali ke rumah. Aku sedang berada di kafe untuk melakukan meeting dengan client.Setelah cukup lama, akhirnya meeting selesai dan client meninggalkanku dan Reyna. Aku duduk dan memijat kepalaku. Aku menyuruh Reyna memesankan es americano. Reyna pergi meninggalkanku terlebih dahulu untuk membayar pesanan dan menambah pesananku. Aku menyusulnya keluar, mataku menatap pria yang duduk berdua dengan wanita, di mana wanita itu bergelayut manja.“Ciih, membuka hati untukku? Untuk yang lain mungkin? Mengenaskan!” sinisku mengenali pria itu. Aku membuang muka saat pria itu menangkap keberadaanku. Aku menyusul Reyna yang berada di kasir. “Sudah, Rey? Buruan. Aku capek,” kataku kesal. “Iya Mbak, ini pesanan Mbak,” kata Reyna yang langsung membuatku meraih segelas amerikano itu dan melangk
Aku memainkan game sambil menunggu Arlan hingga sebuah ketukan pintu membuatku terkejut. Aku sempat berpikir bahwa Reyna sudah pulang, tapi mengapa dia mengetuk pintu. Aku tetap memainkan game sambil menyuruh pembuat ketukan masuk hingga pria yang kutunggu masuk.“Arlan!” kataku melihatnya sebentar. Arlan masuk dan mendekatiku. Dia bersandar di mejaku.“Apa seperti ini menyambut pacarmu?” tanyanya membuatku terkekeh.“Sebentar, aku masih main. Nanti aku akan menyambut sesuai kemauanmu,” jawabku. “Apa Reyna masih di depan?” lanjutku.“Tidak. Sepertinya sudah pulang,” jawabnya. Aku mengangguk paham.“Oh no! Bukan di situ! Shit!” umpatku saat kalah. Aku menatapnya yang masih setia menatapku. “Apa tidak lelah berdiri dan menatapku seperti itu?” tanyaku sambil mengeluarkan aplikasi game itu. Pria itu terkekeh.“Mengapa harus mengumpat karena kalah?” tanyanya.“Kesal. Harusnya aku bisa menang
Pekerjaanku sudah berkurang dan aku mulai bosan tidak keluar dari ruanganku. Aku minum sambil memainkan HP sebentar. Aku menonton video yang kuedit sendiri. Tanpa rasa takut ada tamu, aku meninggalkannya ke kamar mandi dengan suara yang keras.Aku ikut bersenandung mengikuti lagu yang terdengar. Aku keluar setelah mencuci tanganku. Aku berjalan santai menuju mejaku dan sungguh terkejut melihat seseorang duduk di kursiku dan menonton videoku. Aku berjalan cepat dan meraih HPku. Namun, orang itu terlebih dahulu menjauhkan HPku.“Arlan?!” kagetku. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya melihat aku terkejut. Dia tetap menonton video itu.“Arlan matikan! Please,” pintaku. Dia tetap melihat hingga suaraku dan Jae terdengar bercanda. “Farin, Saranghae.” Suara berat Jae terdengar.“Jae…” panggilku di dalam video itu.“Farin, Saranghaeee!” teriak Jae di akhir dari video itu dan aku membalasnya.“
Aku tidak bisa tidur kembali. Aku menatap kantong infus yang terus menetes. Aku melihat HPku dan membuka galeriku. Aku ingat beberapa hari lalu mengedit video yang berisi video serta fotoku dan Jae dengan tulisan percakapan yang aku ingat, gombalan juga hal-hal yang dia sukai. Aku memilih duduk dan mononton hasil editanku yang menggunakan lagu Maudy Ayunda. “Walau masih bisa senyum, tapi tak selepas dulu. Kini aku, kesepian.” Bait itu mulai membuatku menangis. Lagu ini seolah pesan dariku untuknya. Wajahku di dalam video itu terlihat sangat bahagia, ada video yang diambil oleh Jae yang merekamku dari belakang saat kami berada di Lavender Park. Aku yang sedang berjongkok sambil mengamati bunga Lavender di depanku. Video dan foto yang tampil di HPku terus berganti. Wajah bahagia kami selalu terekam baik. Aku ingin mengulang semua itu bersama orang yang sama, sekali lagi saja. Video ini kubuat karena satu tahun lalu dia membu
Ruang rawat ini terlihat ramai. Aku dan Audrey hanya berdiri di samping pintu. Aku menunduk menahan tangis melihat Shania yang masih tidak menunjukkan perubahan. Orangtua Shania sudah menangis sejak melihat anaknya. Aku tidak kuat melihat usahanya mendapatkan respons dari anaknya. Aku memilih keluar saat HPku berdering. Panggilan dari Arlan masuk. Arlan menanyakan keberadaanku dan memintaku untuk menunggu dia menjemputku. Aku membuka fitur kamera dan memperhatikan leherku yang memerah. Aku memilih duduk di depan ruangan Shania. Gani keluar dan memelukku.“Maaf sudah buat kakak hampir mati di tangan Kak Reza,” ucapnya yang kubalas dengan anggukan sebelum melepaskan pelukannya. Dia menyentuh leherku membuatku terkejut.“Sakit, Kak?” tanyanya. Belum sempat kujawab, seseorang menarikku. Aku terkejut melihat wajah dingin Arlan menatap Gani.“Apanya yang sakit?” tanya Arlan.“Em … itu Mas, Kak Farin, tadi …” gugup Gani







