LOGINSetelah dari pagi hingga malam hari Viony terus menangis dan merengek, bahkan sampai pukul sembilan malam bayi kecil itu masih menangis. Margaret kini menggendongnya dan ia sangat panik ketika merasakan suhu tubuh bayi kecilnya terasa panas. Semua pelayan, bahkan Logan pun ikut panik saat ini. "Nyonya harus segera ke rumah sakit agar Nona kecil segera mendapatkan perawatan dokter," ujar Bibi Letiti seraya memasangkan selimut hangat pada Viony yang digendong oleh Margaret. "Iya, Bi. Kalau aku butuh apa-apa, aku akan menghubungi Bibi nanti," ujar Margaret. Wanita setengah baya itu pun mengangguk setuju. Di dalam rumah itu, suara tangisan Viony terdengar tak seperti biasanya. Logan membawakan tas milik Margaret dan bersiap mengantarkannya. "Mari, Nyonya," ajaknya. "Iya. Ayo cepat..." Mereka berdua bergegas keluar dari dalam rumah sakit saat itu juga. Margaret memeluk erat bayi kecilnya yang menangis. Ia menatap bayi itu dengan penuh kesedihan yang menyesakkan dadanya. "Sabar y
Keesokan harinya, Maxim kembali pergi ke Fratz dan meninggalkan Margaret di rumah bersama dengan para pelayan. Sementara Logan masih dalam perjalanan menuju ke Laster pagi ini. Sejak Maxim pergi, si bayi kecil Viony terus menangis dan merengek-rengek. Entah apa yang terjadi, padahal Margaret sudah memberikannya ASI dan susu formula, tapi bayi itu tetap menangis. "Kenapa ya, Bi? Biasanya Viony tidak pernah rewel seperti ini," ujar Margaret cemas dan panik. "Tidak apa-apa, Nyonya. Kemungkinan Nona kecil mengantuk, atau ingin tidur sambil ditimang-timang," jawab Bibi Letiti menjelaskan. "Coba, Bibi pinjam gendongannya. Biar Bibi gendong dan ajak jalan-jalan di teras depan." "Iya, Bi." Segera Margaret meraih kain gendongan yang berada di tepi ranjangnya dan menyerahkan pada Bibi Letiti. Margaret belum biasa menenangkan Viony. Kini pun ia sadar, menjadi seorang ibu sangat melelahkan. Bahkan setiap malam ia harus terjaga, memberi ASI hingga jarang tertidur. "Sudah, biar Nona Kecil be
Margaret dan Maxim kembali ke Laster setelah beberapa hari di Fratz. Demi mengurangi rasa cemas di hati Margaret setelah ia mendapatkan telepon dari David kemarin yang berupa ancaman dan rencana yang gila. Setibanya di Laster, Margaret merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia berharap David tidak terus mengikutinya, meskipun itu mustahil bila ia pikir-pikir lagi. "Apa aku akan tetap kembali ke Fratz untuk urusan pekerjaan?" tanya Margaret pada suaminya yang tengah melepaskan jas yang dia pakai. "Mungkin," jawab Maxim pelan, lalu tersenyum. "Jangan khawatir, kalau aku pergi, aku akan meminta Kalix dan yang lainnya berjaga di sini. Toh, kawasan rumah kita terbilang aman dari orang luar." "Heem," jawab Margaret bergumam dan mengangguk ragu. Setelah itu, Margaret menatap bayi kecilnya yang tertidur nyenyak di atas ranjang. "Bagaimana kalau misalkan kau kembali ke Fratz setelah Viony berusia satu bulan? Aku rasa dengan begitu—""Bukankah itu terlalu lama, Sayang? Viony masih dua m
Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Maxim baru saja kembali, laki-laki itu bergegas masuk ke dalam rumah dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Bibi Letiti yang menggendong Viony. "Selamat pagi, Tuan," sapa Bibi Letiti pada laki-laki itu. "Di mana istriku?" tanya Maxim, seraya mengulurkan tangan mengusap pipi Viony yang tengah tertidur."Nyonya ada di kamarnya, Tuan," jawab Bibi Letiti. "Tadi, ada seseorang yang menelpon Nyonya dan membuat Nyonya marah-marah. Setelah itu, Nyonya menangis dan langsung pergi ke lantai dua." Mendengar apa yang disampaikan oleh Bibi Letiti, kening Maxim mengerut tajam. Tanpa berkata-kata, ia segera menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Langkahnya yang lebar segera membawa Maxim ke arah kamarnya. Begitu ia membuka pintu kamar, Maxim melihat Margaret duduk di tepi ranjang, termenung diam di sana. "Sayang, apa yang terjadi?" Maxim berjalan mendekatinya dan menekuk kedua lututnya di hadapan Margaret. Ia menatap sepasang mata Margar
Sampai pukul tujuh pagi Maxim belum kembali. Margaret menanti kepulangan Maxim dan ingin mendengar cerita dari suaminya itu tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa dia belum juga kembali?" gumam Margaret, ia menetap ke arah jarum jam di dinding. "Tidak mungkin hanya pergi ke rumah sakit saja dari pukul tiga dini hingga pukul tujuh pagi." Wajah Margaret mendadak lesu, wanita itu menatap putri kecilnya yang baru saja tidur setelah dimandikan. Bahkan botol susu formula juga masih ada di meja yang tak jauh dari Margaret berada saat ini. "Nyonya, mau Bibi gantikan menggendong Nona Viony?" tawar Bibi Letiti yang kini berjalan mendekati Margaret. "Tidak usah, Bi. Dia baru saja tidur, nanti malah terbangun," jawab Margaret, tersenyum menatap bayi kecilnya. "Baiklah kalau begi—"Ucapan Bibi Letiti terhenti saat tiba-tiba mendengar bunyi telepon berdering. Wanita itu menatap Margaret sejenak, sebelum ia bergegas mendekati telepon rumah di ruang keluarga. Margaret ikut berjalan ke ar
"Tuan Maxim, permisi..!" Suara Logan berulang kali memanggil Maxim di balik ketukan pintu kamar berkali-kali di pukul tiga dini hari. Margaret yang yang mendengar suara itu, ia segera beranjak dari tidurnya. Wanita itu melirik suaminya yang tidak terusik dengan suara Logan dan ketukan pintu. Pasti Maxim sangat lelah. "Ada apa Logan membangunkan Maxim jam segini?" gerutu Margaret. Ia segera menyahut cardigan miliknya dan berjalan ke arah pintu. Di luar, suara Logan masih tergesa. Margaret membuka pintu kamarnya. Ia melihat ekspresi Logan yang sangat panik. "Logan, ada apa?" tanya Margaret. "Kenapa jam segini kau mengetuk pintu kamar kami?" "Nyonya, maaf mengganggu istirahat Anda dan Tuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu, bisakah Anda membangunkan Tuan Maxim sebentar saja? Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Tuan," ujar Logan. "Ada apa lagi?" Suara Maxim terdengar menyahuti. Laki-laki itu bangun dan kini berjalan mendekati Margaret dan Logan di ambang pintu. Margar







