Share

Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun
Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun
Author: Ungu

Bab 1

Author: Ungu
“Kakak ipar, kamu kenapa? Nggak enak badan?”

Suamiku lagi dinas keluar kota dan aku merasa kesepian, jadi berniat meredakannya dengan alat bantu.

Namun, di saat yang sama, tetangga brondongku malah datang mengantarkan paket.

Waktu persilakan dia masuk ke rumah, kakiku rasanya sampai melemas.

“Kakak ipar, karena kakak lagi nggak ada, sini biar kubantu.”

Melihat wajahku yang memerah, dia seolah paham apa yang terjadi dan memperlihatkan senyuman antusias.

….

“Sayang, kapan pulang?”

“Sayang… aku masih ada urusan di sini, mungkin baru pulang beberapa hari lagi. Kamu jaga diri baik-baik di rumah, ya.”

Usia 30 tahun adalah masa-masa gairah lagi tinggi-tingginya, tapi suamiku yang jarang di rumah membuatku tersiksa oleh rasa sepi dan hampa.

Malam harinya, karena sudah tak sanggup menahan rasa haus akan kasih sayang, aku terpaksa membuka lemari tempat menyembunyikan suami plastikku untuk menahan gejolak yang semakin menjadi-jadi.

Namaku Rara, seorang ibu rumah tangga biasa. Dulu waktu awal menikah, suamiku memperlakukanku bagaikan permata di atas ranjang. Berbagai gaya dan tempat tak pernah dia lewatkan.

Namun, beberapa tahun ini, seiring lunturnya gairah dan bertambahnya usia, stamina suamiku tak lagi seperti dulu. Dia sering memilih dinas keluar kota untuk menghindar, sementara aku yang sudah terbiasa dengan hal seperti itu malah semakin sulit menahannya.

“Permisi, ada orang di rumah?”

Tepat saat tubuhku bergoyang menikmati sensasinya, tiba-tiba suara bel pintu berbunyi, disusul suara pria yang terdengar begitu berat dan memikat.

“Si… siapa?”

“Kak Rara, ini aku, Michael. Paketmu sudah sampai, jadi sekalian kuambilkan.”

Ternyata Michael, tetangga dari lantai bawah. Aku baru ingat microwave yang kubeli memang sampai hari ini. Tadi pagi aku sempat minta tolong padanya, tak menyangka dia bakal sepeduli ini.

“Tunggu sebentar….”

Aku tak membiarkannya menunggu lama. Dalam kepanikan, aku mencoba melepas mainan itu, tapi alat itu malah semakin sulit dikeluarkan. Sensasi geli yang menjalar membuat seluruh tubuhku lemas tak bertenaga.

“Hm~”

Desahan reflek keluar dari mulutku. Karena pasrah tak bisa melepaskannya, aku pun berpikir ini hanya bakal memakan waktu beberapa menit. Aku pun buru-buru memakai baju tidur dan berlari membukakan pintu.

Di depan pintu berdiri seorang pemuda tampan. Tubuhnya tinggi tegap, hidungnya mancung dan kontur wajahnya sangat tegas.

Dia sedang memeluk sebuah dus karton sambil melemparkan senyuman polos padaku.

“Maaf sudah merepotkanmu, ayo masuk saja.”

Aku bergegas mempersilakan Michael masuk. Dia membukakan kemasan paket dengan sangat perhatian dan memindahkan microwave itu ke dapur.

Melihat keningnya sampai berkeringat sangking lelahnya, aku pun membawakan segelas teh untuknya.

“Capek, ya? Istirahat dulu sambil minum tehnya.”

Michael duduk di sofa. Wajah tampannya memperlihatkan sedikit senyuman canggung.

Meski sudah bertetangga empat tahun, ini pertama kalinya dia masuk ke rumahku.

Aku teringat saat pertama kali bertemu, Michael masih seorang mahasiswa. Empat tahun berlalu, pemuda ceria itu kini mulai memancarkan aura pria dewasa.

Tepat saat aku hendak menyodorkan teh, alat kecil yang tak bisa diam itu mendadak berubah menjadi mode paling kencang.

Getaran hebat itu membuatku tak bisa mengendalikan diri dan menjerit pelan, “Ah….”

Kakiku langsung lemas, sampai satu tanganku harus buru-buru berpegangan pada meja.

Teh pun tumpah cukup banyak dan membasahi celana Michael.

Tanpa memedulikan celananya yang basah, Michael reflek memegangiku dan bertanya cemas, “Kak Rara, kamu kenapa?”

“Nggak, nggak apa-apa… hanya digigit nyamuk barusan.”

Getaran yang terus berlangsung semakin menyiksa sarafku yang tegang. Tubuhku gemetaran, tanganku meremas erat pergelangan tangan Michael dan tubuhku bersandar sepenuhnya padanya. Sensasi kelembutan di dadaku menempel ketat pada dada bidangnya. Aura maskulin prianya yang menyebar membuat pikiranku semakin kacau tak karuan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 11

    Aku menatapnya dengan dingin, seolah-olah sedang melihat seorang badut yang tak ada harganya, lalu berkata, “Coba maki sekali lagi kalau berani?”Seketika, Mario terbungkam seperti ayam yang mencekik lehernya sendiri. Amarah dan kesombongannya lenyap tak berbekas dalam sekejap.Dia terduduk lemas di atas sofa, tampak pasrah bagaikan ayam jago yang kalah telak.Setelah terdiam cukup lama, barulah dia berbicara dengan nada yang memohon, “Rara, kita… kita bisa duduk dan bicarakan baik-baik. Bagaimanapun kita pernah jadi suami istri, nggak perlu sampai sebegitunya. Aku rela membagi rata harta kita, bagaimana menurutmu?”“Haha.” Aku terkekeh, “Mario, kamu nggak bilang seperti itu tadi. Bukannya kamu mau aku cerai tanpa mendapat sepeser pun? Boleh saja kalau mau cerai, tapi rumah dan mobil jadi milikku, sedangkan kamu… nggak mendapat sepeser pun.”“Mimpi!” teriak Mario dengan emosi yang meledak-ledak.“Baiklah.” Aku mengeluarkan ponsel dan berpura-pura hendak menekan nomor, lalu melanjutkan,

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 10

    Hatiku langsung menegang dan wajahku memucat.Kok… kok dia bisa tahu?Melihat raut wajahku yang berubah drastis, Mario semakin percaya diri.Dia melangkah mendekat, menggoyang-goyangkan ponsel di tangannya, sambil tersenyum sinis dan berkata, “Dasar jalang! Dari dulu aku sudah curiga kamu berselingkuh di belakangku! Ternyata tebakanku benar! Sebelum pergi dinas terakhir kali, aku sengaja memasang kamera CCTV tersembunyi di kamar! Benar-benar nggak disangka, kamu bisa begitu nggak tahu malu, tidur dengan bocah yang sepuluh tahun lebih muda darimu! Lihat saja tingkahmu yang liar itu!”Makian Mario semakin kasar. Sambil berbicara, dia membuka sebuah video di ponselnya dan mengarahkannya tepat ke depan wajahku.Di layar itu, terpampang sangat jelas adegan panasku dan Michael di kamar tadi malam!Meskipun diambil dari sudut yang agak tersembunyi, wajah dan tubuh kami terlihat sangat jelas!Pikiranku menjadi kosong, tubuhku gemetaran hebat tanpa bisa dikendalikan.Aku sudah memperhitungkan s

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 9

    Ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini untuk seorang pria, gerakanku sangat kaku dan canggung.Namun, reaksi Michael malah sangat luar biasa. Jarinya menyusup di antara helai rambutku, terkadang mengelus dengan lembut, terkadang meremas tegang.Hembusan napasnya semakin lama semakin berat, dadanya bergerak naik turun dengan kencang.Tak lama kemudian, dia tak sanggup menahannya lagi. Dia menarik tubuhku berdiri dan bertanya dengan suara gemetaran karena tertawa emosi, “Kak Rara, aku… aku mau… berikan padaku, ya?”Kobaran gairah membara di matanya, dipenuhi rasa haus, permohonan, sekaligus sedikit dominasi yang tak bisa ditolak.Menatap wajahnya yang muda dan tampan, serta merasakan hawa panas yang memancar dari tubuhnya, keraguan terakhir di dalam hatiku pun sirna.Aku mengangguk pelan, menyahut dengan gumaman yang hampir tak terdengar, “Hm.”Setelah mendapat persetujuanku, binar kebahagiaan langsung memancar dari mata Michael.Tanpa ragu lagi, dia membalikkan tubuhnya, meni

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 8

    Aku ingin melawan, tapi seluruh tubuhku lemas bagaikan genangan lumpur. Bahkan tenaga untuk mengangkat tangan saja tak ada.Di tengah kesadaran yang samar, aku merasakan rasa takut dan putus asa yang luar biasa Habislah riwayatku, baru saja lepas dari mulut harimau, sekarang malah masuk ke sarang serigala.“Lepaskan… lepaskan aku….” ujarku dengan lemah, yang malah terdengar seperti desahan tak berdaya.“Hehe, jangan takut, dek. Kami ini orang baik, hanya mau mengantarmu pulang.”Sambil tersenyum mesum, mereka berdua menghentikan sebuah taksi dan memaksaku masuk ke dalam mobil.“Sialan, beruntung sekali nasib malam ini, bisa-bisanya menemukan wanita sexy seperti ini!”“Bagaimana kalau kita ajak Hery sekalian? Kita main bertiga, pasti akan jauh lebih seru!”Ucapan-ucapan kotor mereka membuatku merinding ketakutan.Aku mengerahkan sisa tenaga terakhirku untuk berpegangan erat pada pintu mobil, menolak untuk masuk.“Sayang, ayo masuklah. Aku jamin kamu bakal terpuaskan sampai melayang….”

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 7

    Sambil berkata begitu, dia menaruh kopernya dan berniat memelukku, bahkan memanyunkan bibirnya hendak menciumku.Jika ini terjadi dulu, aku pasti bakal tenggelam dalam kehangatan ‘pasangan yang baru melepas rindu’ ini.Namun saat ini, aku hanya merasa mual luar biasa, jijik sampai ingin muntah.Aku reflek memalingkan wajah, menahan rasa jijik setengah mati sambil memaksakan senyuman tipis dan berkata, “Badanmu bau keringat, bau sekali, cepat mandi sana.”Mario tak curiga sama sekali. Dia hanya tertawa canggung, lalu menarik kopernya masuk ke kamar.Selama beberapa hari dia di rumah, aku berusaha keras menekan amarah dan rasa mual yang bergejolak di dalam hati. Aku bersusah payah berakting menjadi seorang istri yang lembut.Masak dan merawat rumah tetap kulakukan seperti biasa. Bahkan saat malam hari, aku berinisiatif memintanya berhubungan intim demi melihat reaksinya.Ternyata benar, setiap kali aku meminta, dia selalu memakai alasan ‘capek habis dinas’ untuk menolaknya.Beberapa hari

  • Si Brondong Yang Lebih Muda 10 Tahun   Bab 6

    Namun, begitu dipikir-pikir lagi, mungkinkah ini hanya kebohongan yang sengaja dikarang Michael demi mendapatkanku?Tujuannya agar aku melepas beban mental dan dengan sukarela menyerahkan diri padanya?Mengingat hal itu, pikiranku mulai agak lebih tenang.Aku menunjuk ke arah pintu, memasang wajah dingin dan berkata, “Michael, aku nggak mau mendengar omong kosongmu lagi. Cepat pergi atau aku bakal lapor polisi sekarang juga?! Melaporkanmu atas tuduhan pemerkosaan!”Mendengar ancaman melapor polisi, barulah terlihat rasa takut di wajah Michael.“Baik, aku pergi. Tapi, Kak Rara, semua yang kubilang itu benar. Nanti kalau sudah memastikannya sendiri, kamu bakal percaya padaku. Aku benar-benar menyukaimu dan bakal terus menunggumu.”Usai bicara, dia menatapku lekat-lekat, lalu akhirnya melangkah pergi dengan enggan.Begitu pintu tertutup, tubuhku pun melemas dan merosot terduduk di lantai.Tali gaun tidurku terputus akibat pemberontakan lagi, memperlihatkan sebagian besar kulit mulusku, ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status