LOGINDrew, maaf ya yg tadi siang
Aku gk sengaja ikut ketawa, Drew
Read
Pesan Shaniar sudah lima menit kubiarkan. Aku masih asyik menikmati Pop Mie sambil menimbang-nimbang apakah akan memaafkannya atau tidak. Kalau iya, apakah gratis atau dengan traktiran bakso sebulan penuh? Hahahaha. Terlalu kejam nggak, ya? Kalau diingat-ingat lagi bagaimana pertemuan kami dulu, sepertinya memang sedikit kejam.
Aku dan Shaniar pertama kali bertemu di acara MOS. Kami terlambat pada hari pembukaan dan hanya berdua. Adam mengomeli dengan wajah galak. Sebagai hukuman, kami disuruh maju ke atas panggung untuk menirukan gerakan berbagai macam hewan sambil diiringi musik. Sebelum mulai, kami saling tersenyum, 'Let's get the party started!' Goyangan maut kami, diiringi musik dangdut yang sedang viral, Keong Racun, sukses mengundang sorak-sorai. Beberapa siswa naik ke atas panggung, ikut bergoyang bersama. Bahkan guru pembina MOS membawa beberapa lembar kertas dan berpura-pura menyawer. Gerakan kami pun lama-lama keluar jalur. Bergoyang acak ala penyanyi dangdut. Aku tersenyum-senyum sendiri setiap kali mengingatnya. Dari situlah terlihat persamaan kami yang sama-sama bodo amat. Bedanya, aku lebih tertutup dan Shaniar sangat welcome dengan orang lain. Dia tidak pernah memaksa bertanya ini itu dan aku pun menghargai dia apa adanya. Sungguh beruntung menemukan sahabat seperti Shaniar. Aku berharap dia juga sama.
Segera kubalas saja pesan sahabat tersayangku itu. Tidak seharusnya diri ini berlagak drama queen.
Ia, it's ok shan...
Aku jg minta maaf td trll drama queen hehe
Maaf jg td aku lgsg pulang ga nungguin
Send.
Thnaks udh dimaafin.
No problem.
Emg kak dani itu udh keterlaluan tau.
Read.
Yups setuja...
Send.
Ups...*Setuju*
Send.
Typo
Read .
Yup. Always.
Send.
1 menit.
2 menit.
5 menit.
10 menit.
Tidak ada balasan lagi.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.10. Yah, dia pasti sudah molor. Mana pernah dia tahan begadang lewat jam sepuluh kalau bukan karena gosip yang heboh.
Kuletakkan ponsel lalu berjalan ke dapur, meletakkan Pop Mie di meja makan, lalu berjalan tanpa suara ke kamar mandi, menggosok gigi, membasuh wajah, tangan, dan kaki. Kupandangi diri sejenak di kaca sebelum kembali ke kamar, mencari apakah ada sesuatu yang berbeda pada diri ini. Nihil. Hanya diri yang biasanya saja.
Di dalam dekapan selimut hangat, olok-olokan Dani dan wajah tertawa David berputar-putar di kepala. Sungguh memalukan. Syukurlah, jadwal latihan hanya pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Masih ada waktu tiga hari untuk memupuk rasa percaya diri sebelum kami bertemu lagi. Khusus untuk Dani, semoga saja nilai PKN-nya merah membara. Lancang sekali mengolok-olok orang lain di depan publik. Dia pintar, sih, tapi apa gunanya kalau suka mengejek orang tanpa memikirkan dampaknya? Walau sudah berusaha agar tak mencolok di sekolah, kenapa pula aku harus mengalami hal memalukan seperti itu? Tidak mungkin kan aku jajan ke Kantin Barat setelah nama baikku tercoreng di Kantin Timur? Albert Einstein pun pasti malu namanya dipakai oleh siswa SMA seperti dia. Banyak kata-kata kesal terucap di dalam kepala, tetapi entah bagaimana cara mengeluarkannya.
Kututup mata sebab percik gelisah menari-nari. Gumpal penasaran tak mau berhenti menebak-nebak apa yang akan terjadi besok, sama seperti malam sebelum olimpiade.
Jika dipikir-pikir lagi, hari sudah tak lagi berjalan seperti biasanya.
***
Goyangan maut kami, diiringi musik dangdut yang sedang viral, Keong Racun, sukses mengundang sorak-sorai
Di dalam kafe Halaman Pertama, sebuah kafe aesthethic di Jakarta Timur, Sri gelisah menunggu kedatangan Hanna. Di meja outdoor berlatar belakang bar minuman dan langit sore oranye, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kiri yang sama sekali tidak gatal. Kakinya di bawah meja bergerak-gerak cepat.Dua botol air mineral, 1 gelas Te'Alla Fragolla yang hampir habis, dan 1 gelas Bonbon Noir yang masih utuh berkumpul di atas meja, teronggok begitu saja. Dua slice pizza pepperoni masih tersisa di atas nampan berbentuk talenan kayu bulat dengan gagang yang tidak terlalu panjang.Gw udh di parkiranReadPesan Hanna masuk ke dalam ponselnya dan semakin bergetarlah kaki Sri di bawah meja."Mas," dia mengangkat tangan untuk memanggil waitress. "Saya mau pesan Churros dan Hot Matcha Latte satu, ya. Dan tolong ini diangkutin aja, tapi air mineralnya jangan," ucapnya segera setelah waitress menghampiri."Sri ... Sri Indah Wahyuni." Hanna dari kejauhan memanggil sembari melambaikan tangan.Mendengar
Mungkin ini nggak penting-penting amat, tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh ....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih berganti. Eh, silih berganti datang. Ih! Yang mana sih yang bener? Tau ah … jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan … rebahan … dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah, dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan vote. I'm just like ... woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... :* ***04 Oktober 2026Nggak nyangka di tahun 2026 saya datang lagi ke akun dan novel ini den
Menangis itu perlu. Sebab dalam linangan air mata dan usaha mengeluarkannya, ada takut, ragu, juga sesak hati ikut mengalir. Entah untuk perempuan atau laki-laki. Sebab luka bisa saja menghampiri semua orang, tiada terikat oleh gender, harkat dan martabat, termasuk rupa diri dan keadaan.Cinta harus diungkapkan. Valid bagi perempuan maupun laki-laki. Dari masih berjalan tertatih hingga sudah harus memakai tongkat, sebab cinta mengintervensi setiap individu tanpa filter kategorisasi. Mengungkapkan cinta bukan hanya untuk menunjukkan hati, tetapi juga untuk menyentuh hati yang membalas cinta.Sekalipun hati dipatahkan, setidaknya tiada luka yang terpendam. Bangkit lagi. Langkah selanjutnya lebih pasti tanpa ada yang mengendap dalam hati. Terlukalah dengan lega. Terlukalah dengan ringan. Terlukalah dengan pasti.Baiklah kiranya memahami posisi diri saat menunjukkan cinta. Sebab terkadang membebaskan rasa lewat kata sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanya menuntut aksara untuk dieja
"Andrewi ..." panggil Dani, setelah tangis mereda. Dilepaskan dekapan untuk menghapus air mata Andrewi dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya."Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus mengungkapkan sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini.""Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu."Dari dulu," ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu,
Nafasnya memburu. Kerah kemeja ia longgarkan. Dani tergesa-gesa keluar dari apartemen Andrewi, tak sabar untuk sampai ke kafe milik Issano. Di sana ada seseorang yang sangat ingin sekali ia minta konfirmasi.Git, Adam sudah di sana?SendKirimnya pada Agitha sebelum memasuki lift.Sudah kak. Semuanya sudah ada di sini.Dancer dan dekorasi belum siap.Drewi tahan sebentar ya di sana.ReadPesan balasan masuk setelah ia berada di dalam mobil. Begitu mesin menyala, tanpa membalas pesan, Dani menginjak kencang pedal gas. Suara decit memekakkan telinga terdengar bergema di basement apartemen. Darahnya sudah di ujung ubun-ubun. "Sialan!!! Sialan!" bentaknya pada setir, lalu memukul sekuat tenaga untuk menyalurkan emosi....Kafe milik Issano terlihat di ujung ruko setelah 30 menit melewati macet di beberapa jalan besar kota Bandung. Agitha dan Shaniar sedang berada di teras merapikan pita berwarna-warni. Dani memarkir mobil tanpa arah dan keluar dengan wajah memerah menahan gelegak murka."K
"Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke Puncak. Mau nginep di vila keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha."Mau ngapain ke sana?""Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan F******k Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak seperti bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll."Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah







