ログインAku sadar bahwa olokan adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Mengolok-olok Agitha adalah tindakan yang tidak terpuji meski kami melakukannya diam-diam. Maka saat giliranku yang diolok-olok, sungguh terasa efek negatifnya. Apalagi olokan itu dilontarkan tepat di depan seseorang yang entah kenapa tiba-tiba berada dalam pikiranku. Sangat memalukan.
Memang, ada sensasi tersendiri saat mengolok-olok seseorang. Entah itu merasa hebat atas kekurangan seseorang, merasa senang menjadi pusat perhatian, bahkan mungkin mendapatkan kepuasan tersendiri setelah melampiaskan kekesalan yang sudah lama terpendam. Aku menyadari bahwa menjadikan seseorang bahan olokan tidak otomatis membuat diri ini menjadi sempurna. Bahkan secara langsung menampakkan warna atau nilai diri sendiri yang sebenarnya ... negatif.
Aku pun tak pernah bisa mengatakannya tepat di hadapan orang yang mengolok-olokku saat itu. Aku hanya berharap bisa membalikkan keadaan agar olokan berubah menjadi pujian nantinya.
***
"Kamu tuh ketua apa sih sebenarnya? Sekarang aja sok-sok nyuruh ini itu. Kemarin-kemarin kenapa kami nggak di-warning kalau di situ ada Ibu Silaban?" protesku pada ketua kelas, Wirja Sitepu. Dia menyuruhku dan Shaniar mewakili kelas kami untuk bergabung dengan anggota panitia Natal yang akan dibentuk beberapa bulan lagi.
Wirja, yang gosipnya pernah menaruh harapan pada Shaniar sejak kelas satu, meringis malu. Dulu waktu masih kelas satu, ada nama Shaniar dengan gambar love di sampul belakang buku tulisnya. Teman sebangkunya menemukan tulisan itu lalu mengolok-olok mereka. Jadilah sekelas, kecuali aku, ikut mengolok-olok 'pasangan baru'. Shaniar sempat stres selama beberapa hari hingga mengurung diri di kelas. Aku menemani, menyemangati, serta sigap membelikan jajanannya di kantin.
"Maaf, Drew. Ibu Silaban sudah ngasih kode duluan. Maaf ya, Shan."
"Ck! Udah, ah. Kita keluar aja, Drew. Makin emosi yang ada kalau di sini terus," ucap Shaniar, menarik tanganku.
Untuk mendinginkan bara api, kami pergi ke kantin lalu memesan bakso. Makanan favorit yang selalu ada kala suka dan duka.
"Nggak seru si Wirja ini," ucap Shaniar kesal sembari menunggu pesanan datang.
"Tau, ih. Padahal kan gosipnya dia suka sama kamu, Shan. Kenapa dia tega, ya? "Aw!" teriakku, mengusap-usap lengan.
"Enak dicubit? Mau lagi?"
"Sakit, Shan."
Dia segera kabur saat tanganku siap membalas. David dan rombongannya tiba-tiba muncul dari pintu saat aku hendak mengejar. Mereka tertawa saling bertunjuk-tunjuk. Nyali seketika ciut sebab senyuman si Lesung Pipi masih terbayang jelas.
Teringat kembali saat Shaniar membahas Adam beberapa hari lalu. Ternyata David sudah berteman dengan Adam sejak kelas satu. Oh, oh, juga berteman dengan Bownie Aleassen, bule Inggris dan berandalan sekolah. Ada Dani Megantara, si Albert Einstein SMA Dharma Bangsa —juga yang membimbing Shaniar di kelas ekskul musik—. OMG! Issano Livnich, langganan sampul depan majalah bulanan sekolah (cuma foto-foto candid, sih). Demi spatulanya Spongebob, kembalikan waktu yang terbuang tanpa mengetahui ada sekelompok pangeran pencuci mata insan jomblowati seperti mereka.
"Apa karena mereka jarang menginjakkan kaki ke kantin Timur ini?" Pikirku dalam hati.
...
Kantin Timur, menurut pengamatan terbatasku dan Shaniar, adalah markas siswa biasa. Anak-anak populer jarang datang ke sini. Tidak pernah ada yang menjadi pusat perhatian.
Ada kantin di sebelah barat sana yang sering jadi tempat nongkrong anak-anak populer. Kantin Barat namanya. Aku pernah ke sana saat registrasi ulang siswa baru. Pak satpam yang mengarahkan ke kantin yang bentuknya seperti kafe itu. Sensasi sungkan muncul begitu pintu terbuka. Pengunjungnya modis-modis dan trendi. Aku sempat mematung lalu menunduk, berbalik, dan keluar. Dada ini sesak, tertekan oleh aura mereka yang kuat, padahal mereka saja tak peduli. Memang diri ini yang kurang cocok berada di sana. Shaniar juga merasakan hal yang sama. Bedanya, dia pernah duduk cukup lama saat COD komik dengan kakak kelas. Sejak saat itu, kami hanya datang ke sana kalau terpaksa. Sudah beberapa kali mencoba keluar dari rasa rendah diri ini, tapi memang tidak bisa dipungkiri, kantin Barat bukanlah untuk kami.
...
Tap!
Tanpa sadar, saat mengeja mereka satu per satu, pandanganku bertemu dengan David. Aku memalingkan wajah dan menarik napas dalam-dalam. Ruangan pun mendadak gerah hingga wajah terasa panas.
"Kenapa, Drew?" tanya Shaniar yang datang membawa nampan, lalu meletakkan pesanan kami.
Aku hanya bergumam dengan wajah bertanya.
"Kenapa kok tadi ngipas-ngipas gitu? Gerah?" ulangnya lagi.
"Nggak. Aduh!" Aku mengaduh saat menyuap bakso.
"Ya, ampun, Drewi. Itu baksonya masih panas. Ini minum dulu."
Kusambar es teh dari tangan Shaniar, meneguk sampai lega, lalu menempelkan bibir ke dinding gelas yang mengembun dingin. Tahu-tahu, sebuah saputangan biru tua muncul di depanku. Aku menoleh demi melihat siapa manusia keturunan malaikat itu. Dani!
"Lain kali hati-hati. Kalau baksonya masih panas, jangan langsung dimakan. Tunggu dulu sampai dingin. Kamu muridnya Limbad, ya?" ucapnya, mengambil gelas dan memasukkan saputangan ke dalam genggamanku. Sesaat hati ini terpana oleh kebaikannya, sebelum akhirnya tersadar bahwa ia sedang mengolok-olok. "Shan, temen kamu ini punya ilmu kebal?" tambahnya lagi sebelum pergi.
Mereka yang ada di kantin itu pun tertawa, termasuk Shaniar dan ... David.
Saputangan pun kutinggalkan di atas meja saat aku melangkah ke luar kantin dengan dongkol dan mengabaikan panggilan Shaniar. Di koridor yang ramai, langkah kian cepat sebab mata menghangat. Ini sudah keterlaluan. Efek olokan Ibu Silaban saja belum sirna, lalu tambahan apa lagi ini? Apa salahnya memberi saputangan saja tanpa mengejek? Aku tahu itu sarkasme, tapi kenapa harus di depan banyak orang, termasuk si Lesung Pipi? Dia pasti sengaja. Aku yakin itu.
...
"Puisi kontemporer adalah puisi yang sudah tidak terikat aturan baku puisi lama. Puisi ini sifatnya lebih modern ...."
"Drew, masih marah?" tanya Shaniar. Tak kupedulikan sebab Pak Ujung adalah guru favoritku. Beliau pernah memberi cokelat oleh-oleh dari Singapura, satu kotak penuh, karena aku berhasil menjawab kuis dadakannya. Tidak akan kukhianati cokelat yang sangat nikmat itu.
"Drewi ...." Coleknya lagi. "Maaf, ya ...."
"Hei, kalian berdua! Kalian mendengarkan penjelasan Bapak, tidak? Dari tadi main colak-colek aja."
Wajahku seketika pucat.
"Kalian berdua pilih, mau menjadi siswa yang baik di dalam kelas atau menjadi murid superior yang berbicara dan bergosip di teras kelas?"
Kami diam saja karena sudah jelas ingin menjadi siswa yang baik.
"Oh, sepertinya kalian lebih memilih menjadi siswa yang baik di kelas. Baiklah, pertahankan niat kalian itu."
Lega rasanya olok-olokan kali ini tak separah tadi. Kami pun mengunci mulut sampai akhir jam pelajaran. Begitu bel pulang berbunyi, aku bergegas keluar kelas tanpa menunggu Shaniar. Sampai naik ke dalam angkot pun tak ada tanda-tanda dia akan muncul. Ya, tidak apa-apalah. Sepertinya kami memang butuh waktu sendiri-sendiri dulu untuk merenung. Baguslah kalau dia mengerti.
"Baguslah, baguslah," pikirku dengan wajah kesal. Orang yang duduk di sampingku bergeser menjauh, sebab terganggu oleh wajahku yang kusut jengkel seperti pemeran antagonis di sinetron-sinetron televisi.
***
"Lain kali hati-hati. Kalau baksonya masih panas, jangan langsung dimakan. Tunggu dulu sampai dingin. Kamu muridnya Limbad, ya?
Di dalam kafe Halaman Pertama, sebuah kafe aesthethic di Jakarta Timur, Sri gelisah menunggu kedatangan Hanna. Di meja outdoor berlatar belakang bar minuman dan langit sore oranye, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kiri yang sama sekali tidak gatal. Kakinya di bawah meja bergerak-gerak cepat.Dua botol air mineral, 1 gelas Te'Alla Fragolla yang hampir habis, dan 1 gelas Bonbon Noir yang masih utuh berkumpul di atas meja, teronggok begitu saja. Dua slice pizza pepperoni masih tersisa di atas nampan berbentuk talenan kayu bulat dengan gagang yang tidak terlalu panjang.Gw udh di parkiranReadPesan Hanna masuk ke dalam ponselnya dan semakin bergetarlah kaki Sri di bawah meja."Mas," dia mengangkat tangan untuk memanggil waitress. "Saya mau pesan Churros dan Hot Matcha Latte satu, ya. Dan tolong ini diangkutin aja, tapi air mineralnya jangan," ucapnya segera setelah waitress menghampiri."Sri ... Sri Indah Wahyuni." Hanna dari kejauhan memanggil sembari melambaikan tangan.Mendengar
Mungkin ini nggak penting-penting amat, tapi mungkin juga nggak penting sama sekali (Hapaseehhh ....) Jadi, sebenarnya selama 2 bulan lebih ini saya sedang menenangkan badai-badai yang silih berganti. Eh, silih berganti datang. Ih! Yang mana sih yang bener? Tau ah … jadi begitulah. Badai-badai itu datang menenggelamkan jiwaku dan akhirnya menyeret ke palung gelap bernama "Aku Sedang Tidak Baik-baik Saja". Akhirnya hanya bisa rebahan … rebahan … dan rebahan dengan tatapan kosong, jiwa yang kosong juga. Pas buka Goodnovel lagi tadi, ada banyak yang jadi pelanggan. Angka yang membaca juga bertambah, dan yang bikin seneng lagi sudah ada yang ngasih kontribusi dan vote. I'm just like ... woooooow. Semangatnya bertambah lagi. Thank you untuk kalian semuanya.:* :* :* . Tuh...triple kiss buat kalian semua. Cukup kan? Cukup? Cukup? Ya cukuplah ye kaaan. Tungguin update-an selanjutnya yaaaa.... :* ***04 Oktober 2026Nggak nyangka di tahun 2026 saya datang lagi ke akun dan novel ini den
Menangis itu perlu. Sebab dalam linangan air mata dan usaha mengeluarkannya, ada takut, ragu, juga sesak hati ikut mengalir. Entah untuk perempuan atau laki-laki. Sebab luka bisa saja menghampiri semua orang, tiada terikat oleh gender, harkat dan martabat, termasuk rupa diri dan keadaan.Cinta harus diungkapkan. Valid bagi perempuan maupun laki-laki. Dari masih berjalan tertatih hingga sudah harus memakai tongkat, sebab cinta mengintervensi setiap individu tanpa filter kategorisasi. Mengungkapkan cinta bukan hanya untuk menunjukkan hati, tetapi juga untuk menyentuh hati yang membalas cinta.Sekalipun hati dipatahkan, setidaknya tiada luka yang terpendam. Bangkit lagi. Langkah selanjutnya lebih pasti tanpa ada yang mengendap dalam hati. Terlukalah dengan lega. Terlukalah dengan ringan. Terlukalah dengan pasti.Baiklah kiranya memahami posisi diri saat menunjukkan cinta. Sebab terkadang membebaskan rasa lewat kata sudah lebih dari cukup. Terkadang, cinta hanya menuntut aksara untuk dieja
"Andrewi ..." panggil Dani, setelah tangis mereda. Dilepaskan dekapan untuk menghapus air mata Andrewi dan menuntunnya berdiri. Lagi-lagi, sama seperti saat tragedi nasi goreng di Olimpiade dulu, ia sungguh tak sampai hati melihat gadis itu menangis. Issano dengan sigap membawa kursi untuk tempat Andrewi duduk, sementara Agitha dan Shaniar memapah Adam ke sisi lain untuk membersihkan luka-lukanya."Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, Drew, tapi aku harus mengungkapkan sekarang," lanjut Dani setelah suasana tenang. Ia kini berlutut dengan satu kaki sembari menggenggam tangan Andrewi. "Kafe ini tadinya kami hias spesial untukmu. Maaf, keadaannya jadi seperti ini.""Dani bolak-balik Jakarta-Bandung untuk semua ini, Drew. Bucin banget dia," celetuk Shaniar dengan sedikit logat Jerman. Andrewi, yang tadinya masih kebingungan, tersentak halus, kehilangan kata-kata. Dani pun tersenyum malu-malu."Dari dulu," ucap Dani lagi. "Dari pertama kali melihatmu di perpustakaan, aku sudah menyukaimu,
Nafasnya memburu. Kerah kemeja ia longgarkan. Dani tergesa-gesa keluar dari apartemen Andrewi, tak sabar untuk sampai ke kafe milik Issano. Di sana ada seseorang yang sangat ingin sekali ia minta konfirmasi.Git, Adam sudah di sana?SendKirimnya pada Agitha sebelum memasuki lift.Sudah kak. Semuanya sudah ada di sini.Dancer dan dekorasi belum siap.Drewi tahan sebentar ya di sana.ReadPesan balasan masuk setelah ia berada di dalam mobil. Begitu mesin menyala, tanpa membalas pesan, Dani menginjak kencang pedal gas. Suara decit memekakkan telinga terdengar bergema di basement apartemen. Darahnya sudah di ujung ubun-ubun. "Sialan!!! Sialan!" bentaknya pada setir, lalu memukul sekuat tenaga untuk menyalurkan emosi....Kafe milik Issano terlihat di ujung ruko setelah 30 menit melewati macet di beberapa jalan besar kota Bandung. Agitha dan Shaniar sedang berada di teras merapikan pita berwarna-warni. Dani memarkir mobil tanpa arah dan keluar dengan wajah memerah menahan gelegak murka."K
"Aku kira Kakak sudah ngomong sama mereka. Soalnya, tadi pagi, Kak Adam minta aku ngajakin Shaniar dan Andrewi ikut ke Puncak. Mau nginep di vila keluarganya yang ada di sana," ujar Agitha membela diri. Di jalan ke rumah Dani, sepulang dari Pensi, David memprotes keputusan sepihak Agitha."Mau ngapain ke sana?""Mau bikin acara perpisahan buat kita. Andrewi diajak sekalian supaya Kakak bisa nembak dia. Biar nanti di Bandung, Kakak bisa fokus sama perawatan aja, gitu. Ini pesannya," Agitha menunjukkan pesan F******k Adam yang berderet ke bawah. Isinya kegiatan yang akan mereka lakukan di puncak seperti bakar-bakaran, menyanyi, games, nembak Andrewi, dll."Ck! Bodoh-bodoh." David memukul-mukul kening. Pantas saja Adam marah besar tadi, pikirnya. Sahabatnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. "Nanti di Bandung aja aku jelaskan. Dia masih terlalu marah kalau aku jelaskan sekarang. Iya kan, Git? Aku benar, kan?"Agitha menggenggam erat tangannya dan berkata, "Iya, aku setuju. Nggak usah



![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



