LOGIN"A-anda?" Hanan bertanya dengan suara serak dan gugup, mencoba menegakkan punggungnya namun langsung meringis saat rasa ngilu menjalar di sekujur otot keringnya.
Pria berambut perak itu, yang tadinya sedang fokus mengupas kulit sebuah apel dengan pisau kecil di tangannya, menghentikan gerakannya. Dengan ritme yang tenang dan elegan, dia meletakkan buah apel serta pisaunya di atas meja nakas kecil di antara ranjang mereka, lalu berdiri tegak. Postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional memancarkan aura dominasi yang kuat, membuat ruangan bernuansa medis itu mendadak terasa sempit. "Perkenalkan, namaku Kaelen Vance. Ketua dari Agensi Hunter Saint," ujarnya dengan nada datar yang dingin, namun sarat akan wibawa absolut seorang penguasa hierarki tertinggi. Hanan yang mendengarnya langsung terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, dan atmosfer di dalam kamar itu seolah membeku seketika. Otak pemuda delapan belas tahun itu mendadak malafungsi. Bagaimana mungkin seorang anak buruh angkut yang melarat dari pinggiran wilayah manusia, dalam sekejap mata, bisa langsung berhadapan satu lawan satu dengan orang yang sangat penting di negara ini? Terlebih lagi, pria di hadapannya adalah seorang ketua agensi Hunter! Dan bukan sembarang agensi, Agensi Saint! Siapa yang tidak mengenal kata 'Saint' di era modern penuh sihir ini? Agensi Hunter Saint adalah korporasi pemburu paling berkelas, memiliki fasilitas Magitech paling mutakhir, dan paling terkenal di seluruh penjuru dunia, terutama di wilayah domestik mereka. Mendirikan agensi sebesar itu di usia muda, ditambah fakta bahwa Kaelen adalah putra dari keluarga konglomerat Vance yang menjabat sebagai Menteri Negara, menjadikannya sosok yang berada di puncak rantai makanan sosial. Benar-benar sebuah kehormatan yang tidak masuk akal bagi Hanan untuk bisa berada di ruangan yang sama dengan sosok sesempurna itu. Berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berpacu karena rasa gugup, Hanan menelan ludah sebelum memberanikan diri membuka suara. "Sedang... sedang apa Anda di sini? Dan sebenarnya kita ada di mana sekarang, Tuan?" Kaelen menatap Hanan dengan mata dinginnya yang tajam, sebelum menjawab dengan santai, "Kita berada di Rumah Sakit Umum Yogyakarta." Ujarnya sambil memberikan sepotong apel yang sudah dikupas pada Hanan. Mendengar nama kota itu, Hanan langsung merasa lemas seolah seluruh energinya disedot habis. Tubuhnya bersandar pasrah pada bantal rumah sakit. Yogyakarta. Itu berarti dia telah dipindahkan sejauh belasan kilometer dari desa tempat tinggalnya yang berada di pinggiran teritori. Biaya transportasi medis dan perawatan di rumah sakit umum kota besar seperti ini pasti sangat mencekik, sesuatu yang mustahil bisa dibayar oleh sisa tabungan keluarganya. Namun, sebelum dia memikirkan masalah finansialnya, fokus Hanan langsung beralih pada nasib tempat tinggalnya. "Bagaimana dengan evakuasinya? Apakah... apakah warga desa dan orang tua saya selamat?" Tanya Hanan dengan raut wajah penuh kepasrahan dan rasa penasaran yang mendesak. Meski begitu, dia masih bisa melahap apel itu dengan lancar. Kaelen berjalan mendekati jendela kamar, memandang sekilas ke luar arah pemandangan kota sebelum berbalik kembali menatap Hanan. "Sayangnya, tidak semua orang selamat. Namun, kedua orangtuamu telah ditemukan bernapas dibawah puing-puing bangunan. Proses evakuasi sedang berjalan dengan lancar. Dan saat ini seluruh warga yang selamat sudah diberikan perawatan maksimal dari pemerintah." Kaelen mengambil jeda sejenak, merapikan lengan seragamnya. "Kemudian, sebagai bentuk kompensasi atas kelalaian Agensi Saint yang membiarkan monster 'Dungeon Break' lolos ke pemukiman warga, kami telah menetapkan beberapa Hunter profesional untuk menjaga desamu selama beberapa tahun ke depan secara cuma-cuma. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi dengan keselamatan keluargamu." "lalu, pemerintah juga turun dalam pembangunan ulang desa." Mendengar penjelasan panjang dari sang ketua peringkat S, Hanan mengembuskan napas panjang dan menghela napas lega. Bahunya yang tegang perlahan rileks; semua kekhawatiran dan ketakutan yang sempat menghantui pikirannya sejak tersadar seketika hilang begitu saja tanpa bekas. Keluarganya aman, desanya dijaga oleh Hunter kelas atas, dan itu semua dijamin langsung oleh nama besar Agensi Saint. Tapi, dia ingat kalau kedua orangtuanya mati di depan matanya sendiri. ia menyaksikannya, karena yang selamat dalam kejadian itu Hanya dia dan Rin saja. apa mungkin artefak Rin sempat melindungi orangtuanya? dia tidak tahu. Dia hanya bersyukur karena kedua orangtuanya selamat. "Ngomong-ngomong..." Hanan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari melempar senyuman canggung yang dipaksakan. "Kenapa orang sekelas Anda mau repot-repot membawa saya ke rumah sakit ini, Tuan Kaelen?" Saat bertanya, Hanan sudah menghabiskan Apel itu dan menaruh sisanya di atas meja. Kaelen tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang hampir tak kentara namun menambah pesona ketampanannya yang misterius. "Aku ingin merekrutmu ke dalam agensiku, Saint. Menjadikanmu salah satu Hunter resmi di bawah arahanku." DEG. Hanan yang mendengarnya langsung tersentak bukan main, matanya membelalak sempurna menatap pria berambut perak itu. Otaknya kembali berputar keras mencoba memproses informasi yang baru saja dia terima. Dia? Direkrut ke Agensi Saint? Dia bahkan belum bisa merasakan sirkulasi sihir atau memiliki mana sedikit pun di dalam tubuhnya. Bagaimana bisa seorang Hunter Peringkat S terkuat mengajak pemuda tanpa bakat magis untuk bergabung dengan agensi elit dunia? 'Apakah ada yang salah dengan isi pikiran orang kaya ini?' Pikir Hanan dalam hati sembari menatap wajah Kaelen dengan pandangan yang sangat skeptis dan penuh kecurigaan. Jangankan kemampuannya, latar belakangnya sendiri belum cukup memadai untuk masuk ke agensi elit seperti itu. Agensi Saint juga terkenal selektif dalam memilih anggotanya, itulah sebabnya dia merasa sangat heran dengan situasi ini. "Rekrutmen ini bukan tanpa alasan yang jelas," ujar Kaelen seolah mampu membaca keraguan yang terpancar dari wajah pemuda di depannya. Dia kembali menegakkan tubuh, melipat kedua tangan di depan dada. "Sebenarnya, aku sudah menyaksikan pertarunganmu dengan monster berkepala banteng itu dari kejauhan sebelum aku melompat turun. Aku melihat bagaimana kamu menahan tinju raksasanya dan menebasnya hanya dengan sebilah besi tua. Dan jujur, aku merasa terpukau dengan kekuatan fisik murnimu yang bahkan jauh lebih besar dan padat daripada kebanyakan Hunter spesialis fisik peringkat C yang pernah aku temui." Mendengar pengakuan jujur dari Kaelen, bukannya merasa bangga, Hanan justru merasakan letupan kekesalan yang mendadak membakar dadanya. Alisnya menukik tajam. Jadi, pria sempurna ini sebenarnya sudah berada di lokasi sejak awal? Dia hanya berdiri di kejauhan, menonton dengan santai saat Hanan babak belur, mempertaruhkan nyawanya dan hampir berubah menjadi bubur daging demi melindungi Tuan Rin? Rasa kesal karena merasa dipermainkan sebagai kelinci percobaan membuat Hanan frustrasi. Seharusnya jika pria peringkat S itu sudah ada di sana, dia bisa langsung mengambil alih situasi dalam sekejap tanpa perlu membiarkan dirinya terluka. Benar-benar membuat frustrasi mau berapa kali pun dia memikirkannya di dalam kepala. Namun, Hanan tahu dia tidak memiliki kekuatan politik atau fisik untuk melayangkan protes pada seorang ketua agensi. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menekan amarahnya, mencoba berpikir rasional dan pragmatis demi kelangsungan hidup keluarganya. "Baiklah," kata Hanan, suaranya kini terdengar lebih berat dan serius. "Lalu, apa keuntungan dan kerugian yang akan saya dapatkan jika saya menerima tawaran ini?" Kaelen mengangguk, menghargai sikap lugas Hanan yang langsung mengarah pada inti kontrak. "Keuntungannya jelas. Kamu dan keluargamu akan dipindahkan ke distrik pusat kota, mendapatkan berbagai macam tunjangan hidup kelas atas, fasilitas kesehatan terbaik, dan kamu sendiri akan menerima gaji pokok masif beserta bonus yang disesuaikan berdasarkan performamu dalam menyelesaikan misi di dalam Dungeon." Kaelen menatap tajam mata Hanan, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya. "Sebagai gantinya, minim kebebasan. Kamu hanya akan mendapatkan jatah libur saat tidak ada panggilan misi dari Agensi. Dan ketidakadaan misi itu adalah sesuatu yang sangat tidak terprediksi, karena intensitas fenomena Dungeon Break belakangan ini di seluruh dunia sangat tinggi." Hanan terdiam, meresapi setiap poin yang dijabarkan. Sederhananya, skema kontrak ini adalah kesepakatan klasik di dunia Hunter: dia bisa mendapatkan uang melimpah dan menjamin tunjangan hidup keluarganya, namun dengan bayaran nyawa dan seluruh kebebasan pribadinya yang digadaikan pada Agensi Saint. Sebuah pertukaran yang adil sekaligus kejam di era distopia urban ini. "Sebelum saya menandatangani kontrak dan bergabung secara resmi... apakah saya bisa menemui orang tua saya terlebih dahulu?" Tanya Hanan, menatap Kaelen dengan pandangan penuh harap. Kaelen yang mendengar permintaan itu tidak menunjukkan keberatan. Dia mengangguk setuju, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan, mengajak Hanan untuk meresmikan kesepakatan verbal mereka. "Tentu. Pihak agensi akan mengantarmu menemui mereka setelah seluruh proses administrasi rumah sakitmu selesai hari ini." Hanan menatap telapak tangan Kaelen yang bersih, lalu mengulurkan tangannya yang kasar penuh kapalan untuk menyambut jabat tangan tersebut. Sentuhan kedua tangan mereka menandakan bahwa keputusan akhir yang akan mengubah garis takdir hidup Hanan telah ditentukan secara mutlak.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
"Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema
Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman







