Mag-log in"Karena kekuatan fisik murnimu setara dengan Hunter elit, aku akan langsung memasukkan namamu ke dalam daftar registrasi dengan peringkat D sebagai permulaan," ucap Kaelen sembari menarik kembali tangannya.
"Tunggu! Tidak! Jangan!" Hanan langsung menyela dengan keras, melambaikan kedua tangannya di udara dengan panik, menolak usulan itu mentah-mentah. "Saya menolak mendapatkan peringkat D! Saya tidak ingin menerima keuntungan yang merugikan dan memicu kecurigaan Hunter lain seperti itu, Tuan Kaelen!" Kaelen mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan penolakan keras yang jarang dia terima. "Lalu apa maumu?" "Saya merasa... saya harus memulai semuanya benar-benar dari bawah. Peringkat F!" Ujar Hanan dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah dia adalah pemuda idealis yang penuh integritas dan ingin merangkak dari nol. Namun, di balik topeng idealis dan ketegasan bicaranya yang meyakinkan itu, alasan sebenarnya kenapa Hanan memaksa untuk ditempatkan di peringkat paling rendah adalah karena satu hal: 'dia sangat penakut.' Ya, meskipun mewarisi kekuatan fisik raksasa yang sanggup menghempaskan monster gorila, Hanan pada hakikatnya adalah seorang pengecut sejati yang sangat takut pada monster, baik itu monster tingkat tinggi maupun monster rendahan. Jangankan makhluk Dungeon, dia bahkan jauh lebih takut pada seekor kecoa terbang yang mendadak hinggap di kamarnya ketimbang menghadapi ancaman lainnya. Oleh sebab itu, dia memilih untuk memulai dari peringkat F, peringkat yang notabenenya sangat mudah, aman, minim risiko kematian, dan biasanya hanya ditugaskan menjalankan misi-misi sederhana seperti membersihkan tanaman merambat atau memburu tikus Dungeon kecil. Kaelen menatap Hanan selama beberapa detik dengan pandangan penuh selidik, mencoba mencari tahu motif tersembunyi di balik kegigihan pemuda itu. Namun, karena tidak menemukan tanda-tanda aneh apapun, sang ketua akhirnya menghela napas pendek dan menyetujuinya. "Menarik. Jarang ada orang yang menolak jalan pintas. Baiklah, jika itu pilihanmu, bersiaplah." ———— Beberapa hari setelah proses pemulihan dan penandatanganan berkas resmi selesai, Hanan akhirnya berdiri di depan sebuah kompleks bangunan megah yang menjadi pusat operasi dari seluruh pergerakan Hunter elit di kota besar. Gedung Agensi Saint menjulang tinggi membelah awan tembaga, eksteriornya dilapisi baja taktis hitam dan kaca kristal berkilau yang memancarkan kemewahan teknologi modern. Hanan membetulkan posisi jaket barunya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemetar di lututnya yang mulai kambuh saat melihat puluhan Hunter peringkat tinggi berlalu-lalang di sekitarnya dengan senjata Magitech yang mendengung. Rasa takut di dalam dirinya kembali berbisik, memintanya melarikan diri dari takdir baru ini. Namun, saat mengingat bahwa orangtuanya kini sudah tinggal di tempat yang layak berkat uang muka dari agensi, Hanan memantapkan pandangannya ke depan. "Baiklah, mari kita mulai!" Ujarnya pada diri sendiri dengan tekad yang dipaksakan, mengabaikan rasa gugupnya sebelum melangkah lebar memasuki pintu kaca otomatis gedung Agensi Saint, memulai langkah pertamanya sebagai Hunter peringkat F dengan kekuatan yang biasa saja. Langkah kaki Hanan bergema pelan di atas lantai marmer hitam yang mengilap murni. Saat dia melangkah lebih dalam melewati pintu kaca otomatis gedung Agensi Saint, tentu tidak ada seorang pun yang menyambut kehadirannya. Jangankan karpet merah atau sapaan hormat dari para penjaga taktis berzirah Magitech, suasana di sekitar aula utama mendadak mendingin begitu presensinya tertangkap oleh pasang mata yang ada di sana. Penyebabnya sangat sederhana, dan itu tersemat jelas di dada sebelah kiri jaket barunya. Sebuah pin logam berbentuk pedang kecil berwarna perunggu. Warna perunggu adalah identitas mutlak di dunia baru ini; sebuah penanda bahwa pembawanya berada di hierarki paling dasar, seorang Hunter Peringkat F. Di era modern yang keras ini, semua orang jelas memandang rendah Hunter peringkat F. Mereka dianggap sebagai kegagalan sistem, individu yang memaksakan diri masuk ke dunia supranatural tanpa modal bakat sihir maupun kapasitas bertarung yang mumpuni. Bahkan, manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sama sekali tampaknya diperlakukan jauh lebih ramah dan terhormat di tempat umum ketimbang seorang Hunter peringkat F yang dipandang sebelah mata. Saat Hanan berjalan masuk menembus aula, semua Hunter peringkat tinggi yang sedang berkumpul atau memeriksa senjata mereka langsung menghentikan aktivitas sejenak. Mereka menunjukkan tatapan sinis, dengan sepasang mata yang menyipit tajam, seolah-olah merasa jijik dan terhina ketika melihat ada makhluk kasta terendah berada di dalam ruangan yang sama dengan mereka. Bisik-bisik miring mulai berdengung di antara pilar-pilar gedung yang megah. Beberapa Hunter bahkan secara terang-terangan bergumam penuh keheranan, mempertanyakan kenapa ada Hunter rank F yang berkeliaran di Agensi mereka. Ya, Agensi Saint benar-benar terkenal di negara itu sebagai kalangan Elit yang tidak tersentuh. Standar rekrutmen mereka sangat ketat; hampir tidak ada Hunter peringkat E, apalagi peringkat F, yang tercatat terdaftar di dalam database organisasi pimpinan Kaelen Vance tersebut. Seluruh anggota resmi mereka minimal berada di peringkat D ke atas. Kenyataan itu menempatkan Hanan sebagai anomali terbesar, mungkin dia adalah satu-satunya Hunter peringkat F di seluruh Agensi itu. Melihat atmosfer yang mencekik ini, Hanan sekarang baru menyadari alasan kenapa Kaelen sebelumnya ingin langsung memberinya peringkat D sebagai awal. Pria berambut perak itu pasti sudah memprediksi bahwa perlakuan diskriminatif dan tatapan merendahkan seperti inilah yang pasti akan diterima Hanan jika dia bersikeras memulai jalurnya dari yang paling bawah. Namun, mau bagaimana lagi? Hanan membetulkan posisi jaketnya, mengabaikan bisikan orang-orang. Dia memang seorang pengecut sejati. Dia sama sekali tidak ingin menerima misi sulit atau masuk ke Dungeon berbahaya yang tidak sesuai dengan kapasitasnya sendiri hanya demi gengsi. Baginya, dicemooh jauh lebih baik daripada mati tercabik-cabik oleh monster. Hanan mempercepat langkahnya, memutus tatapan-tatapan sinis itu dengan berhenti tepat di depan meja resepsionis utama yang panjang. Dia berdeham pelan untuk mengusir kegugupannya, kemudian bertanya dengan suara rendah yang sopan, "Permisi... apakah ada misi yang bisa dikerjakan oleh saya hari ini?" Nona resepsionis yang berjaga di balik meja holografis itu mendongak. Pandangannya langsung tertuju pada pin namanya yang berwarna perunggu di dada Hanan. Namun, alih-alih menunjukkan ekspresi dingin atau mengusirnya seperti yang dilakukan orang-orang di aula, wanita itu justru melempar senyuman manis yang tampak tulus. "Tentu saja ada, Tuan Hanan," ujarnya dengan nada suara yang sangat ramah dan lembut. Jemari lentik resepsionis itu bergerak cepat di atas papan ketik virtual, memilah data dengan efisien sebelum memperlihatkan sebuah layar proyeksi digital berisi daftar misi yang sesuai dengan peringkat Hanan. Resepsionis itu benar-benar memperlakukannya dengan penuh rasa hormat dan keramahan kelas satu, seolah Hanan adalah seorang Hunter peringkat atas yang sedang bertugas. Hebatnya, kontras perilaku itu langsung terlihat beberapa saat kemudian. Setelah Hanan memilih salah satu misi yang dirasanya paling aman, mencetak kertas penugasan, dan berbalik pergi untuk melakukan misinya, seorang Hunter berzirah berat dengan pin hijau di dadanya menghampiri meja resepsionis yang sama. Begitu Hunter peringkat tinggi itu berdiri di sana, perilaku nona resepsionis langsung berubah 180 derajat; senyum manisnya lenyap seketika, digantikan oleh wajah datar yang dingin dan ketus, formalitas mekanis yang tanpa kehangatan sedikit pun. Semua Hunter di sekitar aula yang tidak sengaja melihat adegan itu benar-benar terpana di tempat. Mereka saling pandang dengan dahi berkerut, sama sekali tidak mengerti dengan fenomena aneh apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Awalnya, mereka pikir bocah rank F lusuh itu hanya beruntung karena nona resepsionis sedang dalam suasana hati yang sangat baik hari ini. Namun, melihat perubahan drastis barusan, tampaknya asumsi itu salah besar. Mereka tidak tahu saja bahwa nama Hanan sudah diberi tanda khusus di sistem pusat atas perintah langsung dari Kaelen Vance. Sementara itu, Hanan yang sudah berada di luar gedung Agensi Saint berjalan menyusuri trotoar kota yang dingin. Sembari berjalan, dia membaca ulang lembaran kertas digital berisi detail misinya. Di sana tertulis dengan jelas bahwa tugas pertamanya adalah membantu sebuah kelompok penaklukan Dungeon, namun bukan sebagai petarung baris depan, melainkan hanya sebagai pengangkut barang atau 'porter'. Lembar instruksi itu juga mencantumkan bahwa target operasi mereka adalah sebuah Dungeon peringkat E. 'Peringkat E... tingkat risikonya sangat rendah. Monster di dalamnya juga pasti lemah,' batin Hanan, membuang napas lega. Sifat penakutnya langsung merasa tenang. Dengan semangat yang mendadak bangkit, Hanan segera melangkah menuju lokasi penugasan yang berada di pinggir kota besar tersebut.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
"Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema
Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman







