INICIAR SESIÓNMatahari sore di akhir pekan memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyapu halaman belakang mansion keluarga Marck di Menteng. Angin musim kemarau berembus pelan, membawa serta aroma khas tanah basah dan rerumputan yang baru saja disiram air.
Jauh dari hiruk-pikuk ruang rapat dewan direksi dan ketegangan angka triliunan rupiah, sepasang suami istri sedang berjongkok di petak taman kecil yang baru saja digali.Nia mengenakan overall denim yang kedodoran—milik Liam yang ia bajak paTiga bulan setelah kepulangan klan Marck dan Sterling ke Jakarta, peta kekuatan bisnis ibu kota terguncang hebat. Eksekusi bisnis yang dingin dan tanpa ampun dari Ronald dan Eva berhasil merebut tiga proyek megaproyek pemerintah yang selama dua dekade terakhir selalu dimonopoli oleh Megantara Corp.Pertemuan malam itu tak bisa dihindari. Di sebuah ruang rapat VVIP di lantai 70 gedung tertinggi di SCBD, sebuah meja bundar dari marmer hitam pekat menjadi arena pertempuran tanpa senjata.Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu gantung kristal minimalis dan cahaya temaram dari jendela raksasa yang menampilkan skyline Jakarta. Tidak ada secangkir kopi atau teh di atas meja. Hanya ada ketegangan yang begitu tebal hingga rasanya bisa diiris dengan pisau.Pintu ganda dari kayu ek berderit terbuka.Ronald Marck masuk lebih dulu. Setelan jas navy khusus tanpa dasi membingkai bahu lebarnya. Ia berjalan dengan keangkuhan seorang pangeran yang tahu persis nilai kerajaannya. Di
Dua puluh lima tahun kemudian.Angin tropis yang lembap dan hangat langsung menyapu wajah begitu pintu kabin jet pribadi Gulfstream G650ER itu terbuka di landasan pacu VVIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak dua bersaudari itu meninggalkan kota ini dengan hati yang penuh luka dan trauma. Kini, mereka kembali bukan lagi sebagai budak korporat yang harus menunduk pada arogansi para bos mafia, melainkan sebagai permaisuri dari dua kekaisaran bisnis terbesar di Eropa.Nia melangkah menuruni tangga pesawat. Di usianya yang tak lagi muda, kecantikannya justru semakin matang dan mengintimidasi. Ia mengenakan setelan blazer sutra putih gading yang jatuh sempurna di tubuhnya, dengan kacamata hitam Prada bertengger di hidungnya. Tangannya, yang kini dihiasi tak hanya oleh berlian flawless 15 karat, tetapi juga cincin kawin bertahtakan emerald, bertaut erat dengan tangan pria di sampingnya.Liam Marck. Pria itu menua dengan sangat
Kawasan Mayfair, London, menyambut pagi musim gugur dengan pelukan udara dingin yang menyegarkan. Daun-daun maple berwarna tembaga dan keemasan berjatuhan pelan di sepanjang trotoar, menciptakan karpet alam yang indah.Jauh dari kebisingan dan polusi Jakarta, dua bersaudari yang pernah terjebak dalam sangkar kelam Bratva kini tengah menikmati kebebasan absolut mereka.Nia dan Mia, didampingi oleh pangeran mereka masing-masing, Liam Marck dan Marcus Sterling, berjalan beriringan menyusuri jalanan berbatu menuju sebuah kafe bernuansa vintage yang elegan.Nia mengenakan mantel trench berwarna beige keluaran Burberry, senada dengan syal kasmir yang melilit lehernya. Tangannya bertaut mesra dengan tangan Liam, yang mengenakan sweater leher kura-kura abu-abu tebal dan overcoat hitam yang membuatnya terlihat semakin maskulin dan berkelas.Di belakang mereka, Mia tampak mencolok dengan mantel merah maroon-nya yang elegan. Ia menggandeng lengan Marcus dengan erat, kepalan
Di sudut lain ibu kota, di bawah langit yang sama namun terasa seperti neraka yang sama sekali berbeda, gemuruh kesedihan tengah mengoyak kewarasan dua pria penguasa dunia bawah tanah itu.Jika mansion di Menteng dipenuhi oleh tawa, sinar matahari, dan aroma musim semi yang bermekaran, maka penthouse presidensial di hotel The Ritz-Carlton hari ini dipenuhi oleh aroma kematian. Aroma ribuan tangkai lili putih yang menyengat—bunga yang sengaja dipilih oleh Nyonya Mila untuk dekorasi lorong—justru tercium seperti karangan bunga duka cita yang mencekik paru-paru Knox.Hari ini adalah hari pernikahannya.Knox berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas. Setelan tuxedo hitam bespoke rancangan Tom Ford melekat sempurna di tubuh raksasanya, menegaskan bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang. Secara fisik, ia tampak seperti dewa perang yang tak tertandingi, sang pewaris tahta kekaisaran bisnis yang sempurna. Namun, jika seseorang berani menatap lurus ke dalam sep
Matahari sore di akhir pekan memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyapu halaman belakang mansion keluarga Marck di Menteng. Angin musim kemarau berembus pelan, membawa serta aroma khas tanah basah dan rerumputan yang baru saja disiram air.Jauh dari hiruk-pikuk ruang rapat dewan direksi dan ketegangan angka triliunan rupiah, sepasang suami istri sedang berjongkok di petak taman kecil yang baru saja digali.Nia mengenakan overall denim yang kedodoran—milik Liam yang ia bajak pagi ini—dengan kaus putih tipis di dalamnya dan topi jerami lebar yang membingkai wajahnya. Kedua tangannya yang dulu hanya terbiasa menyentuh keyboard dan dokumen valuasi bernilai miliaran, kini terbungkus sarung tangan kebun yang berlumuran tanah cokelat.Di sebelahnya, Liam Marck, sang miliarder yang biasanya tampil dengan setelan jas Bespoke tanpa cela, kini hanya mengenakan kaus oblong abu-abu yang lengannya digulung hingga bahu, memamerkan otot lengannya yang berkeringat. Rambut priany
Jika Knox mengurung Mia dalam sangkar emas berbalut dominasi dan ketakutan, maka Marcus Sterling melakukan hal yang sebaliknya. Pria Inggris itu membuka pintu sangkar lebar-lebar, menggandeng tangan Mia, dan membawanya terbang melihat luasnya dunia.Selama dua minggu berturut-turut sejak malam perkenalan mereka di mansion Liam, Marcus membuktikan bahwa dirinya bukanlah CEO kaku yang hanya tahu cara membaca grafik saham. Pria itu menolak membawa Mia ke restoran fine dining yang membosankan dan kaku. Alih-alih, ia merancang serangkaian kencan yang secara perlahan meruntuhkan dinding es di hati sang antagonis.Kencan pertama mereka dimulai di sebuah taman hiburan terbesar di ibu kota.Mia awalnya menatap ngeri pada struktur besi raksasa rollercoaster yang menjulang menantang langit sore. Ia mengenakan celana jeans berpotongan high-waist dan sweter kasmir putih, jauh dari gaun sutra ketat yang biasa ia pakai untuk memuaskan ego Knox.Di sebelahnya, Marcus terlihat lu







