Share

106. Wulan Menggelandang

Author: Blue Rose
last update publish date: 2026-08-19 22:49:24
Dion melangkah mendekati Wulan, menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penghinaan.

"Ibu Lilis sudah tidak menganggap Anda sebagai keluarga sejak Anda berselingkuh dengan suaminya dan ikut menyiksa batinnya," bisik Dion tajam. "Dan Bapak Brandon sudah berpesan khusus... tidak ada toleransi untuk seorang tidak tahu diri seperti Anda."

Dion tau semua cerita tentang Wulan, makanya ia terlihat emosi sekali saat mengatakan hal itu padanya.

Dion memberi isyarat tangan kepada para
Blue Rose

Semoga syuka😘🤏

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   142. Tak Dihargai

    Arya mulai menceritakan apa yang selama ini menjadi beban di balik layar rumah tangganya yang hancur. Nada suara pria itu terdengar lelah, namun ada ketegasan dari seseorang yang sudah muak hidup di bawah tekanan kepalsuan."Lu tahu enggak, Ra? Mantan bini gue itu sempat bikin utas panjang di Threads tentang rumah tangga kami," cerita Arya sambil menatap kosong ke arah jalanan kota di luar kafe. "Dia nulis seolah-olah gue adalah suami paling jahat, tukang selingkuh, dan enggak bertanggung jawab. Dan lucunya... netizen di sana pada percaya begitu saja tanpa tahu cerita dari sisi gue."Yura mengerutkan keningnya, rasa kesalnya langsung naik ke ubun-ubun meskipun ia hanya mendengarkan. "Hah? Nyeleneh banget! Lu dituduh selingkuh? Padahal muka lu aja lempeng begitu, mana sempat mikir selingkuh kalau kerjaan lu di IT mondar-mandir ngecek server mulu!""Makanya itu," lanjut Arya dengan dengusan geli bercampur jengkel. "Tapi di titik itu, gue mikir buat apa capek

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   141. Hilang Kendali

    Pipi Yura terasa meledak seketika. Pujian langsung yang meluncur begitu jujur dan tanpa beban dari bibir Arya membuat sekujur tubuhnya merinding.Selama ini ia mengira dirinya hanya dianggap sebagai teman sepantaran yang asyik diajak nongkrong, tapi mendengar bahwa Arya memperhatikan dan mengagumi sisi tulus dari dirinya membuat pertahanan Yura benar-benar jebol.Refleks spontan khas preman terminalnya langsung kambuh saat ia merasa benar-benar salah tingkah. Tanpa perhitungan matang, tangan Yura mendarat dengan cukup mantap, agak keras ia menabok lengan atas Arya."Aw!" pekik Arya."Anjir lu, ah! Sialan, bikin gue melting aja pagi-pagi gini!" seru Yura blak-blakan, tanpa filter, wajahnya sudah semerah tomat rebus sementara matanya melotot salah tingkah.Arya yang mendapat tabokan cukup bertenaga itu justru tidak marah. Pria tersebut malah tergelak keras, terbiasa dengan tabiat Yura yang kalau sudah mati gaya pasti melampiaskannya lewat keker

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   140. Dukungan Moral

    Yura buru-buru menggeleng ribut, menolak uluran tangan Arya dengan gestur panik. "Eh, enggak usah, Ar! Serius, enggak usah! Ini cuma kena air mineral biasa, bukan air comberan. Sebentar lagi juga kering sendiri kena angin sore.""Yura, jangan keras kepala," tukas Arya lembut namun tegas, khas gaya orang yang terbiasa memimpin dan tidak suka ditolak. Tanpa menunggu persetujuan, Arya meletakkan jasnya begitu saja di pangkuan Yura. "Pakai aja. Kalau lu sakit, nanti ponakan lu siapa yang jaga? Mau dipulangkan ke emaknya dengan status 'tante dalam kondisi darurat medis'?"Yura terdiam kaku. Sentuhan tangan Arya yang sempat bersentuhan dengan kulitnya saat meletakkan jas tadi menyisakan sensasi hangat yang menggelitik perutnya. Aroma parfum maskulin yang menguar dari jas tersebut seketika mengurung indra penciumannya, membuat pertahanan mental yang sudah ia bangun susah payah mendadak runtuh berkeping-keping.Dari balik dinding kaca di dalam ruangan ber-AC, Lilis yang masih duduk bersama kli

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   139. Gentleman Banget

    Yura refleks mengusap tengkuknya yang tidak gatal, sementara senyum canggung terukir kaku di bibirnya. Mau tidak mau, ia harus menghadapi kenyataan bahwa skenario karangan Lilis ini sukses membawanya masuk ke dalam perangkap yang paling ia takuti sekaligus harapkan."Ini ponakan gue, Ar. Anak dari... eh, sodara sepupu," dalih Yura setengah berbohong, berusaha mati-matian menata suaranya agar tidak terdengar seperti orang sakau. "Nyokapnya lagi repot, jadi sebagai Tante yang budiman dan berbakti, gue ditugaskan untuk jadi tukang jaga bayi hari ini."Arya mengangkat sebelah alisnya, senyum tipis di bibirnya melebar. "Tante yang budiman, ya? Wah, kemajuan besar buat ukuran lo yang dulu kalau denger tangisan bayi di kampus langsung lari ngibrit kayak dikejar zombi lo.""Eh, kampret, jangan buka kartu gue dong!" protes Yura spontan, lupa sejenak kalau dirinya sedang ingin menjaga imej di depan sang pujaan hati. Begitu sadar, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat sambil melotot. "Maksud g

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   138. Strategi Pertama

    Keesokan harinya, tepat pukul 13.45 siang, suasana kafe bergaya vintage di dekat taman kota tampak cukup lengang namun sangat nyaman untuk nongkrong. Sinar matahari siang menyusup lembut melalui celah-celah dedaunan pohon rindang di halaman luar, memantulkan bayangan estetik di atas meja-meja kayu jati tempat para pengunjung menghabiskan waktu santai mereka.Di salah satu meja sudut outdoor yang menghadap langsung ke arah air mancur buatan, Yura duduk dengan postur kaku bak patung pancoran di alun-alun kota. Ia mengenakan kaus polos berwarna sage green berpotongan longgar yang dipadukan dengan celana jeans boyfriend belel kesayangannya.Rambutnya tergerai rapi berkat sentuhan salon pagi tadi, namun ekspresi wajahnya benar-benar menyiratkan tingkat stres setara orang mau sidang skripsi.Di sebelah kanannya, Vivian duduk antusias di booster seat khusus bayi sambil sibuk mengetuk-ngetuk sendok plastik ke atas piring kosong, menghasilkan suara ketukan konstan yang sukses membuat kepala Yur

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   137. Rencana Licik Lilis

    "Enggak usah ngeles, muka lu udah merah kayak kepiting rebus gitu," ledek Lilis dengan nada gemas. "Lu lupa ya, dulu kita segenk, kita tau banget tempat-tempat favorit anak-anak kampus. Dan sebagai orang yang punya insting detektif lebih tajam dari suami gue yang pengacara itu, gue bisa nebak kalau gerak-gerik lu akhir-akhir ini pasti enggak jauh-jauh dari lingkaran pergaulan lama."Yura mendengus pelan, menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan bahu merosot lesu. "Iya... deh, iya. Lu emang paling enggak bisa dibohongi. Kenapa emangnya? Jangan bilang lu mau ikut campur urusan percintaan gue yang tragis ini?""Bukannya ikut campur, tapi bantuin," koreksi Lilis mantap. Matanya berbinar penuh semangat. "Lu pikir selama ini siapa yang ngebantu gue pas lagi hancur-hancurnya ngadepin mantan suami? Siapa yang nyeret Brandon buat ikut turun tangan pas gue nyerah? Giliran sekarang lu yang butuh dorongan, lu malah ciut."Yura terdiam. Bibirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status