Share

55

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-29 20:50:00

“Mas?” Felly terbangun saat malam kian larut.

Marvin tersenyum dan menutup berkas yang sedang ia pegang, kemudian berdiri dan mendekat pada Felly yang masih membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang cukup remang.

“Sudah bangun? Minum dulu, sayang.” Marvin menyodorkan segelas air putih pada Felly.

Perempuan itu menerimanya dengan senang hati dan menggumamkan terima kasih.

“Mas masih kerja?” tanya Felly saat Marvin kembali pada kursi kerjanya dan memandang pada layar laptopnya yang mulai redup
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Simpanan Dosen Tampan   178

    Matahari yang tadinya membingkai langit sore Fiumicino dengan rona oranye keemasan kini telah sempurna tenggelam, digantikan pekat malam yang turun merayap menyelimuti jalanan kota abadi.Laju SUV hitam yang dikemudikan Marvin membelah arus lalu lintas malam Roma, membawa mereka merapat ke sebuah hotel butik mewah berarsitektur klasik di kawasan jantung kota. Setelah proses check-in kilat di meja resepsionis privat yang terbebas dari keramaian, langkah kaki keduanya menuju pintu kamar suite eksklusif yang langsung terdorong terbuka lebar.Felly melangkah masuk lebih dulu, dan sedetik kemudian, sebuah helaan napas kagum tanpa sadar terlepas dari bibirnya. Dinding kaca berukuran besar dari lantai hingga langit-langit kamar menyuguhkan panorama lanskap malam kota Roma yang berpendar indah di bawah temaram ribuan lampu jalanan kuno dan bangunan bersejarah.Suasana di dalam ruangan seketika terasa begitu privat, kontras dengan hiruk-pikuk bandara beberapa jam lalu. Tas belanja dan koper te

  • Simpanan Dosen Tampan   177

    Deretan papan petunjuk berukuran besar akhirnya mengarahkan SUV hitam milik Marvin memasuki area Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma. Langit sore mulai berhias rona oranye keemasan, membiaskan cahaya hangat yang menembus kaca depan kendaraan. Perjalanan antar-kota yang melelahkan itu tuntas tepat waktu, menyisakan jarak beberapa jam sebelum jadwal penerbangan Bu Dyas kembali ke Jakarta.Marvin memutar kemudi dengan sigap, melipir perlahan menuju area drop-off terminal keberangkatan internasional yang riuh oleh hilir mudik calon penumpang. Begitu mesin mobil dimatikan, Bu Dyas di kursi belakang terbangun pelan dari tidur lelapnya. Beliau merapikan tatanan rambutnya yang tetap anggun, lalu kembali mengenakan kacamata hitamnya dengan gerakan yang elegan."Sudah sampai, Ma," ucap Marvin datar sembari melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke belakang sekilas."Cepat sekali," gumam Bu Dyas sembari menyimpulkan senyum tipis. Beliau melirik Felly yang berada di samping kemu

  • Simpanan Dosen Tampan   176

    Roda-roda SUV mewah milik Marvin bergulir perlahan meninggalkan kompleks kampus Florence. Mobil garang yang selalu siap di garasi rumah pribadinya yang kini ia taruh di garasi rumah Bu Dyas yang ditempati Felly di Italia itu melaju mulus, membawa mereka bertiga membelah jalanan kota sebelum akhirnya lepas menuju jalur antar-kota.Pemandangan di luar jendela secara bertahap berubah—bangunan berarsitektur renaisans tergantikan oleh hamparan perbukitan Tuscany yang membentang luas. Dedaunan hijau memudar hangat di bawah paparan sinar matahari Jumat siang, menciptakan garis siluet indah di sepanjang jalur menuju Roma.Di balik kemudi, Marvin duduk tegap. Jemari tangannya yang panjang terkepal santai di atas lingkar kemudi. Suasana hatinya jauh berbeda dibanding saat perjalanan menuju kampus pagi tadi—rahangnya yang tadinya mengeras kaku kini tampak jauh lebih rileks.Penampilannya hari ini sudah kembali ke standar seorang Marvin yang sempurna—kemeja kasual terlipat rapi hingga siku, rambu

  • Simpanan Dosen Tampan   175

    Pagi itu, suasana meja makan kembali diwarnai denting halus cangkir porselen dan aroma kopi yang menyeruak. Namun, berbeda dari dugaan Felly yang mengira ibu mertuanya akan terburu-buru mengejar penerbangan pagi, Bu Dyas justru duduk dengan santai sembari membolak-balik layar ponselnya."Perasaan kemarin Mama bilang penerbangannya jam sepuluh pagi?" celetuk Felly hati-hati, memecah keheningan di antara mereka.Bu Dyas mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menyunggingkan senyum anggun. "Mama sengaja memilih penerbangan sore yang berangkat dari Bandara Fiumicino. Kita bisa naik mobil dari sini, hitung-hitung road trip singkat."Mendengar itu, Felly langsung meneguk ludahnya sendiri. Otaknya bekerja cepat menyambungkan benang merahnya. Kalau jadwal terbang Bu Dyas sore nanti di Roma, artinya... mertuanya benar-benar serius dengan ucapannya semalam!"Jadi... Mama tetap mau ikut ke kampusku pagi ini?" tanya Felly lagi, memastikan dengan nada bergetar."Tentu saja," jawab Bu Dyas cepat

  • Simpanan Dosen Tampan   174

    Suasana meja makan pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Bi Ningrum tampak bolak-balik dari dapur dengan wajah berseri-seri, menyajikan sepiring besar frittata hangat, roti panggang, dan potongan buah segar. Aroma kopi espresso yang kuat beradu dengan wangi mentega, menciptakan atmosfer pagi yang begitu nyaman di ruang makan berlantai marmer tersebut.Namun, kenyamanan itu agak terganggu bagi Marvin. Sejak mereka duduk di kursi masing-masing, Bu Dyas tidak henti-hentinya melayangkan ledekan tajam yang dibungkus dengan senyuman elegan khas sosialita kelas atas."Marvin, coba itu jenggot tipismu dicukur dulu. Mama lihat-lihat, Bi Ningrum saja sangat jauh lebih rapi dari kamu pagi ini," cibir Bu Dyas sambil mengoles selai ke rotinya dengan anggun. "Datang-datang ke Italia bukannya terlihat segar, malah mirip pria paruh baya yang tertekan karena cicilan rumah."Felly yang sedang mengunyah buah langsung menunduk dalam, menahan tawa mati-matian sampai bahunya bergetar.Marvin sama

  • Simpanan Dosen Tampan   173

    Felly terbangun saat semburat cahaya pagiFlorence mulai menyelinap di sela-sela gorden kamar. Hal pertama yang ia rasakan adalah embusan napas teratur yang hangat di puncak kepalanya, disusul sepasang lengan kekar yang masih mengunci pinggangnya dengan posesif.Ia mendongak pelan, mendapati Marvin masih tertidur sangat pulas. Sisa-sisa guratan lelah di wajah suaminya perlahan memudar, digantikan raut damai yang jarang sekali terlihat. Felly tersenyum tipis, merasa lega karena sang suami akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah nekat terbang belasan jam.Dengan gerakan sehalus mungkin, Felly menyisip keluar dari dekapan Marvin agar tidak mengusik tidurnya. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil segelas air hangat.Langkah kaki telanjang Felly menapaki anak tangga marmer yang sepi. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai dapur, langkahnya

  • Simpanan Dosen Tampan   4

    “Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu. Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khus

  • Simpanan Dosen Tampan   3

    Di ruang kelas yang ramai.Felly sudah mengetap kursi di sampingnya, berada di pojok ruangan sementara Gista belum juga datang."Katanya dosennya killer, tapi masih saja terlambat." Gumam Felly sembari menatap nanar pada kursi di sampingnya.Dap dap dap.Bunyi pantofel mengetuk lorong kampus yang s

  • Simpanan Dosen Tampan   2

    Tangan besar laki-laki itu mulai melucuti kancing baju Felly perlahan, melemparkan pakaian gadis itu ke sembarang arah. Sentuhan yang entah sengaja atau tak sengaja dari jemari kasar itu membuat bulu kuduk Felly meremang hebat. Tanpa sadar, tubuh atas Felly sudah terekspos dengan jelasnya. Kemejan

  • Simpanan Dosen Tampan   1

    "Kalau mau mati, setidaknya jangan tinggalkan beban padaku, Ayah."Gadis itu bersuara lirih, penuh dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.Felly Armany, seorang gadis cantik yang malang. Sejak usia empat belas sudah ditinggal mati ibunya, kini di usianya yang menginjak dua puluh satu, ayah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status