FAZER LOGIN“Hubungan kami memang awalnya didasari oleh simbiosis mutualisme. Saya membutuhkan uang, dan Pak Marvin membutuhkan partner hidup. Sebuah tawaran menggiurkan untuk saya. Saya hanya perlu menandatangani akta pernikahan dan hidup saya beserta hutang yang ditinggalkan oleh ayah saya akan dicover oleh Pak Marvin. Saya rasa, terlalu bodoh jika menolaknya.”Media diam, tatapan Felly menyapu sekitar. Ada banyak ekspresi yang menunjukkan reaksi meskipun mulut mereka tak bersuara sedikitpun.“Mungkin saat ini ada banyak pemikiran di kepala kalian. Wanita murahan, wanita simpanan, rela menjual diri demi uang, dan masih banyak lainnya. Ya, mungkin itu benar. Saya tidak akan menyangkalnya. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu, meskipun keluarga saya hancur, keinginan saya untuk hidup sangatlah tinggi.”Hening kembali menyapa, seolah ungkapan Felly adalah hal berat yang tak seharusnya mereka dengar pagi ini.“Namun, saat rumah peninggalan ayah saya kena sita bank dan hutang di rentenir begitu mem
Suasana di studio milik Devan tampak ramai dengan berbagai orang yang berlalu lalang. Kamera terpasang dari berbagai media. Hubungan Marvin dan Felly yang awalnya rahasia, kini menjadi fokus publik yang diminati oleh banyak orang.Ya, manusia cenderung menyukai hal-hal berbau gosip rumah tangga dan ikut campur di dalamnya.Marvin dan Felly menunggu di dalam kamar yang memang ada di studio itu. Felly tampak kalut dan mondar-mandir di depan ranjang sementara suaminya malah asik bermain game di ponselnya.“Mas tidak gugup?” tanya Felly yang kini merasa sebal karena Marvin tampak tak tertekan sama sekali.Marvin melirik Felly sekilas, lalu kembali fokus pada gamenya. “Sudah biasa, sayang.”Felly mendengus. Benar juga. Sebagai pimpinan yayasan besar yang menaungi universitas swasta yang cukup besar, sudah pasti polemik sering terjadi dan Marvin pasti yang turun tangan langsung untuk menyelesaikannya.Marvin yang menyadari atmosfer di kamar itu berubah, perlahan mengeluarkan ponselnya dari
Marvin menaikkan selimut yang menutupi tubuh polos Felly. Ia tersenyum bangga melihat bercak merah yang tersebar di leher dan dada Felly.“Cantik sekali,” gumamnya.Lalu Marvin beranjak menuju kamar mandi, mengambil wadah untuk menampung air hangat dan kembali membawanya ke atas nakas samping ranjang. Perlahan, ia membuka selimut yang tadi ia naikkan dan mulai menyeka tubuh Felly dengan washlap yang ia basahi dengan air hangat yang ia bawa tadi.Felly mengerang dalam tidurnya, Marvin mengelus kepala Felly dengan lembut. “Ssstt, Mas hanya membersihkan badan kamu, sayang. Lanjut saja tidurnya, maaf terganggu.”Felly pun menurut. Tak ambil pusing saat Marvin dengan telaten mulai mengelap basah tubuhnya agar terbebas dari lengketnya cairan cinta akibat pergumulan keduanya beberapa waktu lalu.Setelah dirasa semua sudah bersih, Marvin kembali ke dalam kamar mandi guna membuang air di dalam wadah dan mengguyur dirinya sendiri.Lalu ia keluar kembali bergabung dengan Devan dan Kevin yang sam
Marvin terkekeh sinis di kursinya. "Kalau itu yang kalian harapkan, maaf harus mengecewakan."Lalu, layar besar di ujung meja menyala. Berisi bukti-bukti penting kejahatan orang-orang yang menyerang Marvin."Pak Hadi, anda sungguh sangat mengecewakan. Penggelapan dana miliaran, padahal jabatan sudah setinggi itu. Masih kurang gaji yang anda dapatkan? Sayang sekali, meskipun anda adalah pengikut setia papa saya, tapi tidak ada maaf untuk koruptor di yayasan yang saya atur."Pak Hadi berdiri, menatap tak percaya pada Marvin."Kamu jangan sok, Marvin. Tanpa saya, kamu bisa apa?"Marvin ikut berdiri, menepuk tangannya tiga kali lalu pintu ruang rapat terbuka. Ada beberapa polisi dan orang dari KPK muncul."Bapak penasaran kan apa yang saya bisa tanpa anda? Ya, memenjarakan anda tentu saja." Marvin berkata dengan dingin."Bukti sudah ada di kantor. Pak Hadi, mohon ikuti kami dengan tenang. Anda berhak menunjuk orang untuk jadi pengacara anda.""MARVIN!" Pak Hadi menggeram marah, tapi ia te
“Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku. Nanti Olivia juga akan membantu kalau sudah selesai dengan kasusnya.”Marvin mengangguk, ia menoleh pada Felly yang masih menatapnya meminta penjelasan. Ia mendekat pada Felly dan menghela napas berat.“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,” ujarnya.Felly tak memberikan respon berarti, ia hanya mengangguk dan berdiri, lalu memeluk Marvin dengan erat. Memberikan kekuatan secara tak langsung pada pria itu.“Van, ajak Felly ke basecamp. Nanti aku menyusul setelah selesai rapat.”Devan mengangguk. Marvin pun pergi setelah menenangkan Felly yang terlihat gelisah.—“Sialan. Kita kecolongan!” Olivia menggebrak meja setelah melihat berita yang beredar. Dirinya sedang sibuk dengan kasus di
“Bu Intan bicara apa saja, sayang?” tanya Marvin setelah mendudukkan Felly di sofa.Felly tersenyum, menarik Marvin yang tampak khawatir untuk duduk di sampingnya.“Tidak bicara apa-apa. Hanya menanyakan apakah aku terpaksa menikah sama kamu, Mas.” Felly menjawab dengan jujur.Marvin terdiam, lamat ia menatap Felly yang juga mengarahkan netra padanya. Senyum kemudian terukir, “Lalu kamu menjawab apa?”“Tentu saja tidak. Ya, walaupun kisah kita diawali dengan sebuah keterpaksaan, tapi nyatanya kan kita menjalaninya dengan baik.”Marvin mengusap pipi Felly, menelan ludahnya dengan susah payah sebelum melayangkan sebuah pertanyaan, “Do you love me?”Nada itu diucapkan dengan rendah, namun sarat kegetiran dan ketakutan akan penolakan. Felly menyadari itu.Ia tersenyum manis pada Marvin dan balik mengusap pipi yang mulai ditumbuhi bulu halus. Sepertinya ia harus mencukur jenggot Marvin yang mulai tumbuh.“Hei, kok tidak dijawab?” Marvin menyentil pelan hidung Felly.Perempuan itu terkekeh.







