Share

Sinar Rembulan yang Lembut
Sinar Rembulan yang Lembut
Penulis: Hea

Bab 1

Penulis: Hea
Selama setahun berikutnya, Karen mengerahkan segala cara yang bisa dilakukannya.

Saat kakak sepupunya membaca kitab suci, dia sengaja membiarkan bahunya yang mulus tersingkap. Saat kakak sepupunya mandi, dia berpura-pura salah masuk ke kolam pemandian. Saat kakak sepupunya bermeditasi, dia menempelkan dadanya yang lembut ke punggung pria itu sambil mengembuskan napas harum di dekatnya.

Namun, pria itu selalu bersikap tenang dan dingin, seolah benar-benar seorang biksu yang telah mencapai ketenangan batin. Dia sama sekali tidak tergoda.

Hingga malam sebelum pria itu resmi memutuskan untuk menjadi biksu.

Dilanda rasa malu dan keputusasaan yang memuncak, Karen akhirnya menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyelinap ke balik selimut dingin pria itu.

Ketika pria itu kembali dan membuka selimut, dia melihat Karen terbaring telanjang di sana. Namun, tidak ada kekaguman ataupun hasrat di mata pria itu. Yang ada hanyalah kekecewaan dan sedikit rasa jijik.

Pria itu berkata, "Karen, apa kamu nggak merasa hina melakukan hal seperti ini?"

Kalimat itu bagaikan pisau berlapis es yang menembus harga diri Karen dan menghancurkan cinta yang telah dipendamnya selama sepuluh tahun.

Dengan tubuh terbungkus pakaian seadanya, Karen melarikan diri kembali ke kamarnya dan menangis sepanjang malam.

Namun, keesokan harinya, pria itu justru tidak jadi menjadi biksu.

Sebab, dia bertemu dengan putri sah Perdana Menteri Brata, seorang wanita bangsawan yang anggun, lembut, dan bertutur kata seindah bunga.

Pria itu hanya meliriknya sekali, lalu berkata, "Ternyata, dunia fana juga memiliki kebahagiaannya sendiri."

Bibinya begitu marah hingga membanting cangkir, lalu menunjuk Karen sambil memakinya, "Dasar nggak berguna! Sudah setahun, kamu bahkan nggak mampu menaklukkan seorang pria meski sudah menanggalkan pakaianmu! Sementara itu, Nona Julia cuma perlu sekali pandang! Jangan harap kamu bakal mendapatkan obat buat adikmu! Persetan dengan nasibnya!"

Dengan mata memerah karena menangis, Karen merasa tidak punya jalan keluar. Namun, pada saat itulah seseorang memberinya secercah harapan untuk bertahan hidup.

Menikah dengan Jenderal Malvin, sang Raja Neraka berwajah dingin, demi membawa keberuntungan bagi pria itu.

Jenderal tersebut memiliki segudang jasa di medan perang. Namun, akibat luka parah, dia telah terbaring tak sadarkan diri selama berbulan-bulan. Para tabib istana bahkan menyatakan bahwa dia mungkin tidak akan pernah bangun lagi.

Keluarga Hartono berkata jika Karen bersedia menikah, mereka akan memberinya mahar yang sangat besar. Uang itu cukup untuk membeli segala obat langka di dunia dan menjamin kelangsungan hidup adiknya seumur hidup.

Di hadapannya terbayang wajah pucat dan napas lemah adiknya, sementara di belakangnya ada tatapan dingin sang bibi dan kebencian kakak sepupunya.

Karen mengangkat kepala, menahan isak tangis yang tercekat di tenggorokannya, lalu menjawab pelan, "Baik, aku bersedia menikah."

...

Setelah tanggal pernikahannya ditetapkan, Karen keluar dari kediaman jenderal. Saat melewati sebuah toko kue terkenal, dia teringat bahwa adiknya paling menyukai kue almond dari toko itu. Dia pun berniat masuk untuk membelikan beberapa.

Namun, siapa sangka, begitu melangkah masuk ke toko, dia justru bertemu dengan Evan Danendra yang sedang makan bersama Julia Pradana.

Saat melihatnya, Evan sedikit mengernyit, nyaris tak terlihat.

Pelayan Julia segera angkat bicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya, "Nona, dia Nona Karen dari kediaman adipati yang suka menggoda putra pewaris itu, 'kan? Walau dia wanita tercantik di ibu kota, tapi perilakunya sungguh liar. Setiap hari dia terus menempel pada putra pewaris. Sekarang, dia bahkan mengejar putra pewaris sampai ke sini! Padahal, dia tahu betul kalau putra pewaris jatuh cinta ke Nona pada pandangan pertama dan kedua keluarga pun hampir membahas pernikahan kalian. Sungguh ... nggak tahu malu."

Julia menegur pelayannya dengan lembut, "Jaga ucapanmu."

Kemudian, dia beralih menatap Karen dengan senyum yang sopan. "Nona Karen, jangan masukkan ucapannya ke hati. Kalau ada yang mau kamu bicarakan dengan Evan, aku bisa menyingkir sebentar."

Karen memandangi pasangan serasi di hadapannya. Hatinya terasa perih, tetapi dia berusaha mempertahankan ketenangan di wajahnya. "Nona Julia salah paham. Aku nggak mengejar kakak sepupuku ke sini. Aku datang cuma buat membeli kue kesukaan adikku. Kalian nggak perlu khawatir. Mulai sekarang, aku nggak bakal mengganggu kakak sepupuku lagi."

Mendengar perkataannya, Evan menatapnya dengan mata yang dalam. Dia sedikit mengernyit, seolah tidak mengerti mengapa Karen tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda hari ini.

Namun, pelayan itu tidak mau berhenti. "Omong kosong! Kalau kamu nggak menyukai putra pewaris, kenapa liontin giok milik putra pewaris masih tergantung di pinggangmu? Wanita baik-baik mana di ibu kota ini yang berani bertindak seliar dirimu? Perilakumu nggak pantas. Kamu bahkan memamerkan barang pribadi milik seorang pria di depan umum!"

Karen menunduk dan mendapati bahwa karena terburu-buru, dia malah mengenakan liontin giok putih yang ditinggalkan Evan tahun lalu, lalu diam-diam dia simpan.

Dia tersenyum getir, lalu melepaskan liontin itu dan menyerahkannya kembali kepada Evan. Suaranya terdengar dingin. "Sebelumnya, akulah yang bersalah. Liontin ini kukembalikan kepada pemiliknya. Setelah ini, aku nggak bakal mengulanginya lagi."

Evan menerima liontin yang masih menyimpan kehangatan tubuh Karen. Dia menatap wanita itu lama sekali sebelum akhirnya berkata datar, "Bagus kalau kamu sudah mengerti. Seorang wanita harus menjaga kehormatan dan bersikap pantas. Jangan pernah lagi bertingkah seperti dulu. Mulai sekarang, kita cuma sepupu."

Karen mengangguk, lalu berbalik hendak pergi.

Namun, Julia melangkah maju dan menahan tangannya. Dengan nada akrab, dia berkata, "Dik Karen, jam segini pasti kamu belum makan, 'kan? Bagaimana kalau kamu tinggal dan makan bersama kami? Setelah itu, kamu bisa sekalian membawa pulang kue-kue itu."

Karen tidak ingin duduk semeja dengan mereka. Dia baru saja hendak menolak ketika Evan angkat bicara dengan nada yang sedikit sulit dibantah, "Duduklah. Jangan merusak suasana hati Julia."

Karen mengepalkan ujung lengan bajunya. Pada akhirnya, dia tetap duduk dalam diam.

Selama makan, untuk pertama kalinya dia menyaksikan sendiri bagaimana sikap Evan terhadap Julia.

Selama ini, Evan selalu dingin dan jarang bicara. Namun, saat bersama Julia, dia justru bisa bercanda dan tertawa lepas, dengan senyum lembut yang belum pernah Karen lihat sebelumnya.

Evan sangat menjaga kebersihan dan tidak pernah menyentuh cangkir ataupun hidangan yang telah disentuh orang lain. Namun, ketika Julia menyodorkan sepotong kue yang baru saja dicicipinya dan merasa terlalu manis, pria itu justru sedikit menundukkan kepala dan memakannya langsung dari tangan wanita itu.

Hati Karen terasa sakit, seolah ditusuk jarum-jarum halus.

Ternyata, begini rupanya dia saat meninggalkan kesan bak dewa dan mulai menjalani kehidupan layaknya manusia biasa.

Hanya saja, wanita yang bersamanya bukanlah dirinya.

Saat itu, Julia melirik pemandangan di luar jendela, lalu berkata dengan lembut, "Pemandangan danau serta pegunungan di sini begitu indah. Bakal lebih sempurna kalau diiringi alunan kecapi."

Pelayan Julia segera menyambung, "Katanya, kemampuan bermain kecapi putra pewaris sangat luar biasa. Satu lagunya saja bernilai seribu keping emas! Alangkah baiknya kalau putra pewaris bersedia memainkan sebuah lagu buat Nona!"

Julia melirik pelayannya dengan nada menegur. "Jangan bicara sembarangan! Mana mungkin Evan mau memainkan kecapi begitu saja di tempat seperti ini?"

Namun, pada detik berikutnya, Evan justru langsung memerintahkan pelayannya, "Bawakan kecapiku."

Julia tampak terkejut. Dia buru-buru berkata, "Evan, kalau kamu nggak mau melakukannya, jangan memaksakan diri."

Evan menatapnya dengan pandangan lembut. "Memainkan kecapi buatmu bukanlah sesuatu yang memberatkanku."

Alunan kecapi mengalir merdu, bagai air sungai yang mengalir tanpa henti. Orang-orang di lantai bawah yang mendengar suara kecapi itu segera berbisik-bisik.

"Bukannya itu suara kecapi dari Putra Pewaris Adipati Danendra? Dulu, bahkan Kaisar pun sulit memintanya memainkan satu lagu!"

"Cepat lihat! Nona Julia juga ada di sana! Pasti dia memainkan lagu itu demi membuat pujaan hatinya tersenyum!"

"Ck, ck, ck. Dulu, Karen sudah berusaha merayunya dengan segala cara, tapi tetap nggak berhasil. Rupanya, takdir cuma berpihak pada orang yang berjodoh ...."

Gunjingan itu terasa seperti bilah-bilah pisau yang mengiris telinga Karen.

Ketika hatinya sedang dilanda kepedihan, tiba-tiba sekelompok pembunuh bertopeng menerobos masuk sambil membawa pedang. Sasaran mereka jelas Evan!

Evan segera melindungi Julia di belakang tubuhnya, lalu bertarung melawan para pembunuh.

Tak seorang pun memedulikan Karen. Dia hanya bisa bersembunyi dengan panik di sudut ruangan.

Di tengah kekacauan, salah seorang pembunuh ditendang Evan hingga terpental. Tubuhnya melesat lurus ke arah Karen.

Dorongan kuat itu membuat Karen ikut terlempar, menghancurkan jendela, lalu terhempas dari lantai dua.

"Aaah!"

Rasa sakit yang hebat seketika menjalar ke seluruh tubuh, sementara pandangannya berubah menjadi merah darah.

Di tengah penglihatannya yang kabur, dia melihat Evan menggendong Julia dan berjalan turun dengan tenang. Julia bersandar dalam pelukannya sambil membisikkan sesuatu.

"Evan ... Dik Karen juga terjatuh. Aku cuma mengalami sedikit luka gores. Cepat periksa keadaannya ...."

Karen berusaha mengangkat tangannya, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Kemudian, dia mendengar suara dingin Evan yang terdengar jelas dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Dia kuat. Dia nggak bakal mati. Julia, kamu pasti ketakutan. Aku bawa kamu pulang."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status