FAZER LOGINWaktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p
Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende
Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia
Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi
Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej
Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen







