Compartilhar

Bab 2

Autor: Hea
Dia kuat .... Tidak akan mati ....

Ternyata, di mata pria itu, nyawa dan kematiannya begitu tidak berharga.

Sebelum kesadaran Karen sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan, yang terakhir kali dilihatnya hanyalah punggung pria itu yang pergi tanpa ragu sambil menggendong Julia. Pria itu bahkan tidak berhenti sejenak untuknya.

Ketika terbangun kembali, dia sudah berada di halaman kecil kediamannya yang sunyi dan dingin.

Seorang pelayan wanita kediaman itu berdiri di sisi ranjang dengan wajah masam. Begitu melihat Karen terbangun, dia mendengus dingin. "Akhirnya, Nona Karen sadar juga? Putra pewaris masih berbaik hati. Putra pewaris sudah memanggil tabib istana untukmu dan menyuruhku menjagamu. Mengingat putra pewaris sudah cukup baik kepadamu, sebaiknya kamu tahu diri dan berhenti mengganggunya! Nona Julia-lah yang menjadi pujaan hati putra pewaris. Tingkahmu seperti ini bukan cuma mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga mencoreng kehormatan kaum wanita!"

Karen menumpang hidup di kediaman orang lain. Bahkan seorang pelayan pun berani merundungnya.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan diam, dia mengangkat mangkuk berisi ramuan obat berwarna hitam pekat yang terletak di sampingnya, lalu menenggaknya hingga habis. Rasa pahit menjalar dari ujung lidah hingga ke lubuk hatinya.

"Obatnya sudah kuhabiskan. Nggak perlu repot-repot menjagaku lagi. Silakan pergi," ucapnya dengan suara serak.

Pelayan itu justru merasa lega karena tidak perlu lagi mengurusnya. Dia mendengus dingin. "Setidaknya kamu tahu diri!"

Setelah mengatakan itu, dia mengambil mangkuk kosong itu dan pergi.

Selama beberapa hari berikutnya, Karen merawat dirinya sendiri.

Lukanya masih terasa nyeri, terutama saat cuaca mendung dan hujan. Bahkan tulangnya terasa ngilu dan pegal. Setiap hari, dia mengganti perban dan membersihkan lukanya sendiri dengan gerakan lambat dan susah payah. Makanan yang diantarkan pelayan sering kali sudah dingin, tetapi dia tak pernah mengeluh dan tetap menghabiskannya dalam diam.

Sesekali, dia mendengar para pelayan muda berkumpul dan berceloteh di luar halaman. Suara mereka tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas untuk sampai ke telinganya.

"Sudah dengar belum? Kemarin, putra pewaris pergi sendiri ke bagian selatan kota buat membeli kue lotus kesukaan Nona Julia. Putra pewaris bahkan mengantre lama sekali!"

"Benar! Kemarin, Nona Julia cuma batuk dua kali, tapi putra pewaris langsung memanggil tabib istana. Putra pewaris sampai cemas bukan main."

"Putra pewaris kita selalu begitu dingin. Kapan lagi putra pewaris pernah begitu memperhatikan seseorang? Rasanya, Nona Julia benar-benar dijaga seperti barang berharga yang takut jatuh atau meleleh kalau terlalu lama digenggam!"

Karen duduk di dekat jendela sambil memegang bingkai sulaman. Namun, ujung jarumnya tak kunjung menyentuh kain.

Kata-kata itu bagaikan duri-duri kecil yang menusuk hatinya. Tidak sampai merenggut nyawanya, tetapi menimbulkan rasa sakit yang terus-menerus.

Ternyata, pria itu bukan terlahir tanpa perasaan. Hanya saja, kelembutan dan perhatiannya tidak pernah sedikit pun diberikan kepadanya.

Tanah tandus di dalam hatinya seolah kembali diterpa angin dingin hingga membeku.

Pada sore itu, Evan tiba-tiba datang bersama Julia ke halaman kecilnya yang terpencil.

Evan hanya berdiri di ambang pintu dan bertanya dengan dingin, "Bagaimana keadaan lukamu?"

Sebaliknya, Julia dengan ramah menghampiri ranjang dan bertanya dengan penuh perhatian, "Dik Karen, apa lukamu masih sakit? Bagaimana pemulihannya? Seharusnya aku datang menjengukmu lebih awal, tapi beberapa hari lalu aku masih ketakutan akibat kejadian itu. Evan khawatir padaku dan terus menemaniku. Aku sungguh minta maaf."

Karen bisa menangkap maksud di balik perkataannya. Julia hanya ingin menegaskan bahwa demi dirinya, Evan bahkan sampai mengesampingkan keinginannya untuk menjenguk adik sepupunya yang terluka.

Hati Karen terasa getir, tetapi wajahnya tetap tenang. Dia hanya menjawab datar, "Terima kasih atas perhatian Nona Julia. Keadaanku sudah jauh lebih baik."

Julia tampaknya tidak memedulikan sikap dinginnya. Dengan ramah, dia kembali mengundangnya. "Beberapa hari lagi, kediaman putri pertama bakal mengadakan jamuan menikmati bunga plum. Sebagian besar putri bangsawan di ibu kota bakal hadir. Dik Karen, ikutlah bersama kami, ya? Berdiam diri di kamar sepanjang hari nggak baik buat pemulihanmu. Keluar sebentar buat mencari udara segar juga bakal membantumu merasa lebih baik."

Karen langsung menolak tanpa berpikir panjang, "Terima kasih atas kebaikan Nona Julia. Lukaku belum pulih sepenuhnya, jadi aku nggak bisa menghadiri jamuan. Aku nggak mau merusak suasana hati semua orang."

Dia benar-benar tidak ingin menghadiri acara semacam itu lagi, menyaksikan kemesraan mereka berdua, sekaligus menanggung tatapan orang-orang yang dipenuhi rasa iba ataupun ejekan.

Evan yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Dia menatap Karen dengan tajam, seolah sedang menginterogasinya. "Bukannya dulu kamu paling menyukai acara-acara ramai seperti ini? Sekarang, Julia sudah sengaja mengundangmu. Kenapa kamu harus menolak dan membuatnya kehilangan muka?"

Dia berhenti sejenak. Nada suaranya kemudian berubah lebih berat. "Atau, jangan-jangan, ucapanmu sebelumnya kalau kamu sudah merelakanku cumalah kebohongan? Kamu nggak senang melihatku bersama Julia, jadi kamu sengaja nggak mau datang?"

Perkataannya begitu tajam. Evan dengan mudah memutarbalikkan penolakan Karen, seolah-olah semua itu hanyalah kecemburuan dan caranya untuk terus mengganggu mereka.

Karen sontak mengangkat kepala dan menatap wajahnya yang dingin dan tegas. Hatinya seolah dicengkeram kuat oleh sesuatu hingga untuk bernapas pun terasa menyakitkan.

Dia membuka mulut, tetapi rasa lelah menyerbu seperti gelombang pasang. Pada akhirnya, yang keluar hanyalah pembelaan lemah. "Bukan itu maksudku ...."

"Kalau memang bukan, datanglah." Evan memotong ucapannya tanpa memberi ruang untuk membantah. Nada suaranya kembali sedingin biasanya, tetapi kali ini disertai tekanan yang tidak memungkinkan penolakan. "Jangan sampai kamu menyulitkan Julia."

Karen mengepalkan ujung lengan bajunya hingga ujung-ujung jarinya terasa dingin.

Dia tahu jika terus berdebat, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Di mata pria itu, keinginannya tidak pernah penting.

Karena itu, dia pun menundukkan kepala dan menjawab dengan suara lirih nyaris tak terdengar, "Baik."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status