Share

Bab 5

Penulis: Hea
Karen menurunkan pandangannya. Suaranya terdengar tenang tanpa sedikit pun emosi. "Tabib istana menyuruhku mengantarkan obat."

Dia meletakkan mangkuk obat dengan lembut di meja kecil di samping ranjang, lalu berbalik hendak pergi.

Namun, sekilas dia melihat tangan Evan gemetar akibat luka parah yang dideritanya. Bahkan untuk mengangkat mangkuk obat pun, pria itu tidak memiliki cukup tenaga.

Alis Evan berkerut rapat, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Jelas sekali bahwa dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Langkah Karen terhenti.

Meskipun hatinya telah hancur dan mati rasa, dia tetap tidak sanggup berpura-pura tidak melihat penderitaan orang lain.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dan kembali menghampiri ranjang. Karen mengangkat mangkuk obat, menyendok isinya dengan hati-hati, kemudian menyodorkan sendok itu ke bibir Evan yang pucat.

Namun, Karen sendiri baru saja pulih dari sakit parah. Tangannya masih lemas dan tak bertenaga. Saat menyuapi Evan, pergelangan tangannya tiba-tiba bergetar hingga sebagian besar ramuan obat berwarna cokelat tua itu tumpah dan mengotori pakaian dalam putih Evan.

Evan sangat menjaga kebersihan. Melihat pakaiannya kotor, alisnya langsung berkerut makin dalam. Ketidaksenangan melintas di matanya.

Karen terkejut. Dia buru-buru meletakkan mangkuk obat dan mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan pakaian Evan. "Maaf, aku ...."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka dengan suara keras.

Julia berlari masuk sambil menangis. "Evan! Bagaimana keadaanmu? Kudengar lukamu sangat parah ...."

Namun, pemandangan yang menyambut matanya justru Karen yang tengah merunduk mendekati Evan, sementara tangannya tampak bertumpu di bagian depan pakaian pria itu.

Tangisan Julia seketika terhenti. Sesaat kemudian, dia justru menangis makin keras dengan suara yang sarat kepedihan dan kekecewaan. "Aku ... aku mengganggu kalian, ya! Kalau begitu, aku pergi saja!"

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan hendak berlari keluar.

"Julia!" Hati Evan mencelos. Hampir secara naluriah, dia mengayunkan tangan dan mendorong Karen yang berdiri tepat di hadapannya dengan keras.

Karen sama sekali tidak siap menerima dorongan itu. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga pinggangnya menghantam sudut meja yang dingin dengan keras. Sesaat kemudian, dia jatuh tersungkur ke lantai. Entah bagian mana dari kepalanya yang terbentur, tetapi rasa nyeri yang tajam seketika menjalar dari pelipisnya, disusul cairan hangat yang mengalir turun.

Rasa sakit membuat pandangannya menghitam. Dia berusaha bangkit dengan susah payah, tetapi justru melihat Evan memaksakan diri turun dari ranjang untuk mengejar Julia. Wajah pria itu dipenuhi kecemasan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

"Julia! Bukan seperti yang kamu pikirkan!" Suara Evan serak, jelas terdengar panik.

Sambil menekan dahinya yang berdarah, Karen hanya bisa menyaksikan Evan mengejar Julia hingga ke halaman, lalu menahan wanita itu yang menangis dan hendak pergi.

Julia meronta dan menolak mendengarkan penjelasannya.

Dalam kepanikan, Evan bahkan merampas pedang dari seorang pengawal di dekatnya, lalu mengarahkan ujung pedang itu tepat ke dadanya sendiri.

"Julia! Kalau kamu nggak percaya kepadaku, bakal kukeluarkan hatiku buat kamu lihat! Biar kamu tahu siapa sebenarnya yang ada di dalamnya!" Tatapannya begitu tegas dan penuh tekad. Evan sama sekali tidak tampak sedang bercanda.

Julia langsung pucat pasi karena ketakutan. Dia menjerit dan bergegas menerjang untuk menghentikannya. "Jangan! Evan, aku percaya padamu! Aku percaya!"

Barulah Evan melepaskan pedangnya. Dia segera menggenggam tangan Julia erat-erat. Suaranya menyiratkan kelelahan setelah melewati ketegangan yang nyaris merenggut nyawanya, sekaligus kasih sayang yang mendalam. "Akhirnya, kamu mau mendengarkan penjelasanku? Tadi Karen datang buat mengantarkan obat atas perintah tabib istana. Aku terlalu lemah buat menggerakkan tangan, jadi dia membantuku minum obat. Tapi, karena tangannya gemetar, obatnya tumpah. Dia cuma mau membersihkannya."

Julia langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukannya sambil menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, Evan. Aku terlalu gegabah .... Tapi kamu juga, bagaimana bisa kamu menyakiti dirimu sendiri seperti itu?"

Evan menundukkan kepala dan melingkarkan tangannya yang tidak terluka di tubuh Julia dengan lembut. Suaranya begitu mesra dan penuh kelembutan, sesuatu yang belum pernah didengar Karen darinya. "Kalau aku nggak bisa mendapatkan kepercayaanmu, apa gunanya aku tetap hidup?"

Julia akhirnya tersenyum di sela-sela air matanya. Dia bersandar dengan hati-hati di dada Evan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya dengan cemas, "Apa aku menyentuh lukamu? Sakit, nggak? Kalau begitu, aku nggak bakal memelukmu lagi ...."

Evan bahkan tertawa pelan, suaranya dipenuhi kasih sayang. "Nggak, peluklah aku. Pelukanmu lebih manjur daripada obat mujarab apa pun."

Karen berpegangan pada kusen pintu dan berusaha menegakkan tubuhnya yang lemah. Mendengar kata-kata mesra mereka dari halaman, dia merasa seolah-olah hatinya disayat pisau. Rasa sakit itu begitu hebat hingga dia nyaris tidak bisa bernapas.

Siapa sangka Evan yang biasanya dingin dan anggun bak dewa bisa mengucapkan kata-kata yang begitu merendahkan diri demi membujuk seseorang, sekaligus melontarkan ungkapan cinta yang begitu terus terang dan membara?

Dengan susah payah, Karen memaksakan diri untuk terus berjalan. Dia melewati mereka selangkah demi selangkah. Karen hanya ingin segera melarikan diri dari tempat itu.

Julia yang bermata tajam melihatnya. Tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, dia berkata lembut kepada Evan, "Evan, hanya saja ... ada satu hal yang masih nggak kumengerti. Kalau Dik Karen memang berniat baik menyuapimu obat, kenapa obatnya bisa tumpah sampai mengotori seluruh pakaianmu? Seharusnya nggak sulit buat menjaga semangkuk obat tetap stabil, bukan?"

Mendengar perkataannya, tatapan Evan seketika mendingin. Dia langsung memanggil Karen yang hampir keluar dari halaman. "Berhenti!"

Punggung Karen seketika menegang.

"Tadi, apa kamu sengaja melakukannya?" Suara Evan sedingin es, dipenuhi kecurigaan yang sama sekali tidak disembunyikannya.

Hati Karen terasa hancur. Dia baru saja hendak berbalik untuk menjelaskan bahwa tubuhnya masih lemah setelah sakit.

Namun, Evan lebih dulu angkat bicara. Nada suaranya sarat penghinaan. "Karen, sudah berulang kali kujelaskan dengan tegas kalau cuma Julia yang ada di hatiku! Kamu sudah mengerahkan segala cara, bahkan sampai menggunakan siasat serendah ini cuma buat menarik perhatianku. Semua itu cuma membuatku makin muak padamu! Aku, Evan, nggak bakal pernah jatuh cinta pada wanita nggak tahu malu sepertimu!"

Kata-katanya bagaikan cambuk paling tajam yang menghantam hati Karen, yang sejak lama telah dipenuhi luka.

Tatapan semua pelayan di halaman itu menusuk tubuhnya seperti jarum.

Penghinaan dan rasa diperlakukan tidak adil hampir menenggelamkannya. Karen menggigit bibir bawahnya erat-erat agar air matanya tidak jatuh.

Dia tahu bahwa penjelasan apa pun hanya akan dianggap sebagai dalih oleh Evan.

Pada akhirnya, dia hanya berdiri membelakanginya dan mengerahkan seluruh tenaga agar suaranya tidak terdengar gemetar. "Aku ... mengerti."

Setelah itu, dia menegakkan punggungnya dan berjalan pergi dengan langkah berat, meninggalkan tempat yang telah membuatnya kehilangan seluruh harga dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status