Compartilhar

Bab 4

Autor: Hea
Bahkan sebelum Karen sempat bereaksi, Evan sudah melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Dia terjun ke danau dan menyelamatkan Julia.

"Julia! Apa yang terjadi?" Sambil memeluk Julia yang menggigil hebat dan terus terbatuk-batuk, Evan bertanya dengan cemas.

Julia bersandar dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca, sementara tangannya menunjuk ke arah Karen. Dengan napas lemah, dia berkata, "Evan, jangan salahkan Dik Karen .... Mungkin dia cuma nggak tahan melihatku ... sehingga mendorongku ...."

Evan seketika murka. Tatapannya melesat ke arah Karen setajam pedang. "Karen! Julia sudah berbaik hati membelamu, bahkan membantumu berganti pakaian dan mengobati lukamu. Tapi, kamu justru membalas kebaikannya dengan kejahatan dan mendorongnya ke dalam air! Sejak kapan hatimu menjadi begitu keji?"

Karen merasa seolah-olah disambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat.

Dia menatap Julia yang berpura-pura lemah dan tak berdaya, lalu mengalihkan pandangan kepada Evan. Mata pria itu dipenuhi ketidakpercayaan dan kebencian. Hatinya terasa seperti terkoyak dengan paksa.

"Aku nggak melakukannya!" bantahnya dengan tergesa-gesa. Suaranya meninggi karena terkejut dan merasa diperlakukan tidak adil. "Dia sendiri yang ...."

"Diam!" Evan memotong ucapannya dengan bentakan keras. Tatapannya sedingin es. "Semua orang melihatnya sendiri! Kamu masih berani berdalih?"

"Selama ini, aku mengira kamu cuma nggak tahu malu dan bertingkah terlalu liar. Tapi, sekarang aku baru tahu kalau hatimu ternyata juga begitu keji! Di hadapan begitu banyak orang saja kamu berani mencelakai Julia seperti ini. Kalau nanti dia menikah dan masuk ke kediaman, bagaimana mungkin dia bisa hidup tenang? Kalau kamu nggak dihukum berat hari ini, bagaimana aku bisa meredakan kemarahan semua orang? Bagaimana aku bisa menebus penderitaan yang dialami Julia?"

Evan segera memanggil para pelayan. Suaranya terdengar dingin dan mengancam. "Bawa Nona Karen kembali ke kediaman adipati! Kurung dia di aula leluhur dan suruh dia berlutut selama sehari semalam penuh! Jangan beri dia makanan ataupun air! Tanpa perintahku, siapa pun dilarang membebaskannya!"

Setelah mengatakan itu, dia menggendong Julia dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Karen berlutut semalaman di aula leluhur.

Hawa dingin menyusup lewat celah-celah lantai batu, menusuk tajam hingga ke tulang sumsum.

Luka di pelipisnya yang sempat mengering kembali basah oleh darah yang merembes keluar. Darah itu melekat pada helaian rambutnya yang berantakan.

Tubuhnya kedinginan dan kelaparan. Kepalanya berulang kali terasa pening, tetapi di telinganya terus terngiang ucapan Evan yang dingin.

"Hati yang keji .... Harus dihukum berat ...."

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun yang lalu, pada suatu hari di musim semi, dia datang ke kediaman adipati untuk menghadiri jamuan dengan mengenakan pakaian sederhana. Saat itu, anak-anak dari cabang keluarga lain merundungnya dan merampas satu-satunya tusuk konde giok peninggalan neneknya.

Evanlah yang berdiri menghalangi anak-anak itu, merebut kembali tusuk konde tersebut, lalu meletakkannya dengan lembut ke tangan Karen.

"Jangan takut," ujar Evan saat itu. Suaranya memang datar, tetapi perkataan itu memberi Karen secercah kehangatan untuk digenggam di tengah kesepian yang tak berujung.

Hanya karena secercah kehangatan itulah, Karen diam-diam mengaguminya selama sepuluh tahun.

Karena itulah, saat bibinya mengajukan permintaan yang memalukan itu, di balik rasa malunya, diam-diam masih tersimpan secercah keinginan gila yang bisa membawanya pada kehancuran.

Mungkinkah, jika mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari, pria itu akhirnya akan melihat dirinya?

Selama setahun penuh, Karen mengesampingkan seluruh harga dirinya dan mengerahkan segala cara yang terpikir olehnya. Namun, yang didapatkannya hanyalah sikap Evan yang makin dingin dan penilaian pria itu bahwa dirinya "murahan".

Hingga Julia muncul.

Barulah Karen menyadari bahwa pria itu bukan terlahir tanpa perasaan. Hanya saja, kelembutan dan kasih sayangnya tidak pernah layak diberikan kepada Karen, bahkan di matanya sekali pun.

Ketika akhirnya dibebaskan, Karen sudah terserang demam tinggi. Seluruh tubuhnya terasa panas membara.

Dengan susah payah, dia berusaha meminta seorang pelayan memanggil tabib istana. Namun, pelayan itu justru meludah dan mencibir. "Cih! Semua tabib istana sudah dipanggil putra pewaris buat mengobati Nona Julia! Kalau bukan karenamu, mana mungkin Nona Julia sampai jatuh ke dalam air? Kalau kamu bisa bertahan, itu nasibmu. Kalau nggak, lebih baik mati saja sekalian!"

Karen memejamkan mata. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir.

Benar. Nyawanya memang tidak pernah berharga.

Dengan susah payah, dia bangkit dan mencari-cari sisa ampas obat dari saat dia terluka sebelumnya.

Tungku dapur masih dingin. Meski sedang sakit, dia memaksakan diri menyalakan api dan merebus cairan obat yang pahit itu, lalu menelannya sedikit demi sedikit.

Tenggorokannya terasa seperti digosok dengan amplas. Setiap tegukan meninggalkan rasa anyir bercampur manis darah di mulutnya. Namun, Karen tahu bahwa dirinya tidak boleh mati. Adiknya masih menunggunya.

Setelah bertahan selama beberapa hari, demamnya akhirnya turun. Meski tubuhnya masih lemah, setidaknya dia sudah bisa bangun dari tempat tidur dan berjalan.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menjenguk adiknya.

Adiknya ditempatkan di sudut paling terpencil di kediaman itu, di sebuah kamar kecil yang sepanjang tahun nyaris tidak pernah tersentuh sinar matahari.

Bibinya takut penyakit adiknya menular kepada orang lain, sehingga hampir tidak pernah mengizinkan siapa pun menjenguknya.

Ketika Karen mendorong pintu kayu yang berderit, aroma obat yang menyengat bercampur bau apak langsung menyeruak menyambutnya.

Aurel Kusuma, adik perempuannya, telah kurus hingga nyaris tinggal tulang. Tubuh mungilnya tenggelam di balik selimut tebal. Wajahnya begitu pucat hingga tampak transparan. Begitu melihat Karen masuk, Aurel berusaha tersenyum. Namun, usaha itu justru memicu serangan batuk hebat.

"Kakak ...." Aurel berbicara dengan napas yang begitu lemah. "Semua ini salahku .... Aku cuma menjadi beban buatmu .... Kalau saja aku mati ... dengan kecantikan Kakak, Kakak pasti bisa menikah dengan pria yang baik ... dan akhirnya ... terbebas ...."

Air mata Karen seketika mengalir deras. Dia bergegas menghampiri adiknya dan menggenggam erat tangan Aurel yang dingin. "Aurel, jangan bicara sembarangan! Kakak nggak bakal membiarkan sesuatu terjadi padamu! Kakak cuma punya kamu seorang. Kalau kamu sampai ... Kakak juga nggak bakal sanggup hidup lagi."

Karen tidak berani memberi tahu adiknya bahwa dia akan segera menikah demi membawa keberuntungan bagi seorang pria yang sedang sakit parah. Dia hanya memaksakan senyum dan menghiburnya. "Tenanglah. Kakak sudah menemukan jalan keluar. Setelah ini, obatmu nggak bakal terputus lagi. Kehidupan kita ... bakal menjadi lebih baik."

Setelah meninggalkan kamar adiknya, Karen merasa seolah-olah sebuah batu besar menindih dadanya. Saat melewati Halaman Gurya, tempat tinggal Evan, dia mendengar beberapa pelayan pria sedang berbincang di bawah koridor.

"Sudah dengar belum? Demi menyelamatkan Nona Julia, putra pewaris sampai terinjak kuda yang ketakutan! Tulang dadanya bahkan patah! Putra pewaris dibawa pulang dengan tubuh berlumuran darah dan sekarang masih belum sadarkan diri!"

"Ya Tuhan! Putra pewaris benar-benar luar biasa dalam memperlakukan Nona Julia!"

"Eh? Lihat, bukannya itu Nona Karen? Aneh sekali. Biasanya, putra pewaris baru batuk sekali saja, dia sudah panik bukan main. Tapi hari ini, kenapa dia ...."

"Huh, mungkin dia lagi memainkan siasat baru untuk membuat putra pewaris mengejarnya dengan berpura-pura nggak peduli."

Langkah Karen tidak berhenti sedikit pun. Dia bertingkah seolah tidak mendengar apa-apa.

Ketika hendak memutari halaman untuk kembali ke tempat tinggalnya, seorang tabib istana yang sedang terburu-buru tiba-tiba menghentikannya.

Tabib istana itu mengira Karen adalah pelayan yang bertugas di halaman tersebut. Dia langsung menyodorkan semangkuk obat yang baru selesai direbus ke tangan Karen. "Cepat! Antarkan obat ini ke putra pewaris! Kalau sudah dingin, khasiatnya bakal berkurang! Aku masih harus segera merebus resep berikutnya!"

Setelah mengatakan itu, tabib istana itu bergegas pergi.

Karen menatap mangkuk obat hangat di tangannya. Setelah ragu sejenak, dia akhirnya membawanya masuk.

Evan terbaring di ranjang dengan wajah pucat. Ketika melihat Karen masuk, dia membuka mata dengan lemah. Alisnya secara naluriah berkerut, sementara suaranya terdengar serak dan berjarak.

"Mengapa kamu datang ke sini?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status