Accueil / Romansa / Sisa Cinta Mantan Suamiku / Bab 2. Jangan Cari Aku Lagi

Share

Bab 2. Jangan Cari Aku Lagi

Auteur: Agniya14
last update Dernière mise à jour: 2026-01-26 15:15:00

Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar.

​Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap.

​"Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."

​Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"

​Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."

​Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya. Ia tidak akan menunjukkannya. Tidak untuk suaminya.

​"Kamu benar, Vindra. Aku memang terlalu sibuk mengejar mimpiku." Suara Raisa mendadak tenang, membuat Kavindra sedikit tertegun. "Dan sepertinya, keluarga Syahreza memang terlalu berharap banyak pada wanita sepertiku. Jadi, mari kita selesaikan saja."

​Kavindra menghentikan gerakannya yang sedang melepas jam tangan. "Maksud kamu apa?"

​"Ceraikan aku. Seperti yang ibumu mau."

​Hening sejenak. Kavindra menatap Raisa, mencari kebohongan di sana, tapi ia hanya menemukan ketegasan. "Beliau ingin aku menikah dengan Nadira Almira. Kamu tahu dia, kan? Anak rekan bisnis Papa. Dia juga sudah lama menyukaiku."

​Hati Raisa berdenyut nyeri. Ternyata sudah ada nama pengganti. "Cepet banget ya? Baguslah. Tapi aku nggak akan pergi dengan tangan kosong."

​Kavindra menyipitkan mata. "Kamu minta harta gono-gini? Aset Syahreza tidak bisa disentuh."

​"Aku tidak butuh rumah ini atau rumah sakitmu," tukas Raisa tajam. "Aku minta uang tunai. Dua miliar rupiah."

​Kavindra tertawa sinis, sebuah tawa yang merendahkan. "Dua miliar? Untuk apa? Tiba-tiba kamu jadi matre setelah gagal jadi istri?"

​"Itu harga untuk tiga tahun penghinaan yang aku terima di rumah ini! Itu kompensasi untuk setiap air mata yang jatuh karena mulut ibumu! Dan itu biaya untuk aku menghilang dari hidupmu selamanya tanpa menuntut apa pun lagi di masa depan!" Raisa setengah berteriak.

​Kavindra berjalan mendekat, mengintimidasi Raisa dengan tinggi badannya. "Aku tidak akan memberimu uang sebanyak itu hanya untuk kamu foya-foyakan. Tapi, aku punya tawaran lain."

​Raisa menatapnya benci. "Apa?"

​"Aku tahu kamu ambisius dengan gelar spesialis itu. Aku akan membiayai seluruh sisa pendidikanmu, biaya ujian, hingga buku-bukumu sampai kamu lulus dan menyandang gelar Sp.A. Aku akan pastikan kamu jadi dokter sukses. Itu lebih berguna daripada uang tunai yang akan habis kamu pakai belanja."

​"Aku minta uang, Vindra! Bukan belas kasihan!"

​"Ini bukan belas kasihan, ini tanggung jawab terakhirku sebagai suamimu," potong Kavindra tegas. "Aku tidak mau mantan istriku luntang-lantung. Kamu akan tetap sekolah, dan aku akan membayar semuanya lewat yayasan. Tapi setelah itu, kita akan jadi orang asing. Kamu tidak boleh muncul lagi di hadapanku atau keluargaku."

​Raisa mengepalkan tangan. Biaya sekolah? Baik. Ia berpikir cepat. Dengan biaya sekolah yang ditanggung, uang tabungan pribadinya bisa ia simpan sepenuhnya untuk biaya persalinan dan membesarkan anak kembarnya nanti.

​"Satu tahun," desis Raisa. "Satu tahun sampai aku lulus. Setelah itu, aku akan pergi sejauh mungkin."

​"Baiklah," ujar Kavindra dingin. Ia berbalik menuju kamar mandi. "Besok pengacaraku akan datang membawa surat cerai. Nadira akan datang minggu depan untuk membicarakan konsep pernikahan kami. Sebaiknya kamu sudah pindah dari rumah ini sebelum kami menikah."

​Saat pintu kamar mandi tertutup, Raisa luruh kembali ke lantai. Ia mengelus perutnya yang masih sangat kecil.

​"Dengar itu, Sayang?" bisiknya lirih. "Papa kalian lebih memilih membayar biaya sekolah daripada mempertahankan Mama. Kita akan pergi dari rumah ini. Dan satu hal yang pasti, dia tidak akan pernah tahu kalau kalian ada dalam perut Mama."

Di hari pernikahan Kavindra, Raisa bersiap pindah. Ia memasukkan semua pakaian ke dalam koper.

​"Sudah selesai?"

​Raisa tersentak. Ia berbalik dan menemukan Kavindra berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak sangat tampan dalam balutan beskap pengantin putih yang gagah.

​"Sedikit lagi," jawab Raisa singkat tanpa menatap mata pria itu. Ia kembali sibuk melipat jas putih dokternya.

​Kavindra melangkah masuk, memperhatikan sekeliling kamar yang kini kosong melompong. "Kamu benar-benar memilih pindah ke kos-kosan sempit di dekat RS? Aku sudah tawarkan apartemen yang lebih layak."

​"Kos-kosan itu cukup untuk satu orang, Vindra," sahut Raisa tajam. "Lagi pula, aku tidak mau ada jejak Syahreza lagi di tempat tinggalku."

​Kavindra mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku beskapnya dan meletakkannya di atas meja rias yang sudah kosong. "Ini kartu kredit dan buku tabungan atas namamu. Biaya kuliah semester akhir dan operasional residenmu sudah aku bayar lunas sampai lulus. Gunakan ini kalau kamu butuh sesuatu."

​Raisa menatap amplop itu dengan muak. "Simpan saja uangmu untuk istrimu yang baru. Aku bisa bertahan hidup."

​"Jangan keras kepala, Raisa!" suara Kavindra meninggi. "Kamu itu dokter, tapi tubuhmu kurus begitu. Bagaimana mau menangani pasien kalau dirimu sendiri tidak terurus? Anggap saja ini biaya tutup mulut agar kamu tidak menjelekkan namaku di luar sana."

​Raisa tertawa getir. "Tutup mulut? Tenang saja, Vindra. Aku tidak pernah bangga menjadi bagian dari keluarga yang membuangku karena dianggap mandul."

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kasar. Sofia masuk dengan gaun kebaya yang sangat mewah, wajahnya langsung berubah masam melihat Raisa.

​"Vindra! Sedang apa kamu di sini? Akad nikah akan dimulai sepuluh menit lagi! Nadira sudah menunggu!" bentak Sofia. Matanya beralih ke koper Raisa. "Oh, syukurlah kamu sudah mau pergi. Masih punya malu rupanya."

​"Ibu, aku sedang bicara dengan Raisa," tegur Kavindra.

​"Bicara apa lagi? Dia itu masa lalu yang cacat, Vindra! Hari ini adalah masa depanmu. Nadira itu sempurna, dia cantik, subur, dan yang terpenting dia tidak menyusahkan seperti wanita ini." Sofia menunjuk Raisa dengan kipas sutranya.

​Raisa menarik napas dalam, menahan mual yang tiba-tiba menyerang karena muak. "Saya akan pergi sekarang, Bu Sofia. Selamat atas pernikahan putra Ibu. Semoga 'pilihan' Ibu kali ini tidak mengecewakan."

​"Tentu saja tidak! Nadira akan memberikan cucu laki-laki secepatnya, tidak seperti kamu yang hanya bisa menghabiskan uang putraku untuk sekolah!" Sofia mencibir.

​Raisa menyeret kopernya melewati mereka berdua. Saat tepat berada di samping Kavindra, ia berhenti sejenak. Bau melati dari ronce yang dipakai Kavindra membuatnya ingin muntah, tapi ia bertahan.

​"Vindra," bisik Raisa pelan agar tidak terdengar Sofia. "Mulai detik ini, jangan pernah cari aku lagi. Bahkan jika suatu saat kamu merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu jangan pernah datang padaku."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 6. RS Syahreza

    "Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.​Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?"​Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya."​"Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku.​"Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit."​Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalka

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 5. Siapa Mereka?

    Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap.​"Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.​Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"​Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."​dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?"​"Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. ​dr. Gunawan menyandarkan punggungny

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 4. Satu Minggu

    Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut.​"Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga.​"Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.​Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?"​"Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.​Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudika

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 3. Arkan dah Aira

    Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"​Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.​Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. ​"Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.​Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."​Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."​Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swa

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 2. Jangan Cari Aku Lagi

    Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. ​Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap.​"Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."​Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"​Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."​Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 1. Wanita Mandul

    "Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."​Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—"​"Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?"​"Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. ​"Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status