Mag-log in"Tahan Rey. Aku sudah menyiapkan kamar VIP. Kondisi kakek masih belum stabil sepenuhnya, kau pantang angkat kaki dari area ini sebelum semuanya aman terkendali," cegah David menahan bahu Reyhan, memastikan temannya tak bisa kabur. Pria itu lekas menggiring Reyhan pindah menuju kamar tamu.Begitu semuanya terkondisikan, David menyuruh staf pribadinya menebus obat sesuai resep."Terima kasih banyak," bisik Sandra menyandarkan kepala menyentuh bahu Reyhan."Ini cuma urusan sepele. Berbekal reputasi kakekmu yang terselamatkan, aku ingin lihat siapa lagi anggota Keluarga Narendra yang bernyali menentang pernikahan kita," tukas Reyhan tertawa jemawa."Kalian berdua wajib banget ya pamer kemesraan di depan mataku?" tegur David mendadak muncul, merusak atmosfer hangat tersebut."Bang David, kalau iri, cari pasangan sendiri sana," ejek Reyhan. Ia mendaratkan kecupan kilat di pipi Sandra lantas melempar seringai meledek."Sialan. Tadinya niat awalku mau mengajakmu mencoba senapan tempur di mark
"Cairan eksudat apa itu?!" Reyhan menolak memberi penjabaran medis. Ia memberi isyarat menyuruh tim perawat mundur menjauh, lantas mengambil posisi jongkok. Cairan pekat di ubin sama sekali tidak membaur mengikuti hukum fisika zat cair, melainkan menggumpal mempertahankan wujud awalnya bak benda padat. Anomali yang teramat janggal. Reyhan meraup sejumput karbon sisa rokok menggunakan jempol dan telunjuknya, menaburkan serbuk tersebut tepat di atas gumpalan cairan aspal tadi. Reaksi instan terjadi. Gumpalan hitam itu mendidih senyap, terserap larut ke dalam matriks abu karbon. Begitu seluruh serbuk dihabiskan, Reyhan menarik napas lega. Persis saat itu, manifestasi mengerikan terungkap. Abu basah tersebut menggeliat pelan. Biarpun sekadar pergerakan mikroskopis, pemandangan ganjil itu sukses membuat seluruh staf medis memucat ngeri. "Makhluk apa itu?!" "Biotoksin parasitik. Para spesialis senior pasti familier mendengarnya, kan?" Reyhan bangkit menegakkan punggungnya, menyandarkan
Wajah Kakek Theo pucat pasi bak pualam, indikasi jelas dari kegagalan sistemik yang menggerogoti tubuhnya. Tanpa ritme elektrokardiogram (EKG) yang terus berdenging konstan pada monitor, Reyhan mungkin mengira pria sepuh itu sudah tak bernapas."Rey, ini rekam medis dan hasil laboratorium terakhir dari Dokter Kemal. Tolong periksa," ujar David menyodorkan sebuah tablet medis.Reyhan menggulir layar cekatan, memindai rentetan parameter klinis. Fokusnya terhenti saat matanya menangkap anomali pada profil hematologi sang kakek. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Ia mendaratkan tiga jarinya menekan arteri radialis Kakek Theo, menghitung frekuensi serta kekuatan denyut nadi pria tersebut."Apa-apaan ini?" Sekelompok dokter spesialis melangkah mendekat. Bisik-bisik keheranan mereka lekas berubah menjadi interogasi tajam menyasar Reyhan."Semuanya tenang, dia ini murid langsung Dokter Kemal. Dia sedang melakukan observasi klinis tambahan," David berusaha meredam keributan, memasang t
Keesokan paginya, Sandra membangunkan Reyhan. Ia memberitahu bahwa David sudah menunggu di lobi hotel cukup lama. Mendengar itu, Reyhan terpaksa menyeret tubuhnya dari ranjang. Tentu saja, proses berpakaian mereka diwarnai sedikit kekacauan canggung. "Simpan sedikit tenagamu, Anak Muda," sindir David dengan senyum penuh arti saat mereka akhirnya bertemu, membuat telinga Reyhan langsung memerah. Sandra yang berdiri di sebelahnya hanya menunduk dalam, tangannya diam-diam melayangkan cubitan maut ke pinggang Reyhan. Pesannya sangat jelas: Kalau kau tidak bertingkah macam-macam semalam, Kak David tidak akan punya bahan untuk menyindir kita. Wajah David seketika berubah serius. "Rey, waktunya pulang bersamaku. Ingat baik-baik kondisi kakekku. Pintu Keluarga Narendra hanya akan terbuka untukmu setelah beliau sadar. Kalau kau gagal, jangan harap bisa melangkahkan kaki ke kediaman kami, dan Sandra... dia mungkin akan dicoret dari silsilah keluarga," ancam David dingin, menegaskan taruhan
"Lalu kenapa dia tidak bergabung dengan lingkaran kalian?" tanya Reyhan semakin penasaran. "Pertama, karena ada Rebecca. Ecca itu menyukai Ashford, sementara Ashford mengejar Rania. Drama cinta segitiga semacam itu tidak sehat kalau dicampur dalam satu tongkrongan. Kedua, level Rania sudah jauh berbeda. Dia tidak punya waktu bergaul dengan anak-anak bawang macam kami," jelas Kai terang-terangan. "Benar. Kami sudah pernah mencicipi permainannya dulu, dan kami kalah telak. Nasihatku, sebaiknya kau jaga jarak darinya," tambah Rio yang sedari tadi diam. Jelas, Rania meninggalkan trauma tersendiri baginya. Setelah percakapan panjang itu, Reyhan yang tubuhnya masih memulihkan luka, mulai didera kantuk. Ia tertidur lelap dan baru benar-benar terbangun saat pesawat mendarat di Ibukota. Kali ini, Reyhan memilih untuk tidak ikut rombongan ke kediaman Keluarga Di Stefano. Ia memutuskan bermalam di hotel pusat kota, dengan rencana kembali ke kota asalnya besok untuk memeriksa kondisi kakek Sa
Reyhan sama sekali tidak menyadari bahwa Dokter Kemal tengah digerogoti penyakit mematikan yang tak kasatmata. Penyakit itu tak menunjukkan gejala fisik apa pun dan hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan medis khusus. Jelas sudah, Dokter Kemal telah menyembunyikan keadaannya. "Ethan, sudah berapa lama kau mengabdi bersamaku?" tanya Dokter Kemal dengan suara parau. Ia menarik napas dalam beberapa kali, berusaha menenangkan tubuhnya yang mulai gemetar samar. "Tujuh tahun mendampingi Dokter secara langsung, sebelum akhirnya saya dipindahtugaskan. Kalau dihitung secara keseluruhan, sudah lebih dari dua puluh tahun," jawab Ethan tenang. "Dua puluh tahun lebih..." gumam Dokter Kemal pilu. "Berapa kalikah seseorang bisa memiliki siklus dua puluh tahun dalam hidupnya? Kau telah memikul beban yang begitu berat. Pasti sangat tidak mudah." "Semua itu bukan beban bagi saya, Dok." "Semuanya akan segera terungkap. Aku sungguh tidak menyangka, di penghujung usiaku, aku masih berkesempatan men







