Share

Bab 3

Author: Aria Salvatore
Suasana di ruang makan masih belum sepenuhnya tenang setelah kekacauan tadi ketika aku memutuskan untuk melangkah lebih jauh.

Aku melihat hidangan yang tersaji di depanku, ada sup lobster, hati angsa panggang, sepiring sasyimi yang disusun menyerupai bunga krisan. Semuanya sesuai dengan selera Bianca. Sup lobster terlalu berat untuk perutku, dan ikan mentah itu membuat tenggorokanku tercekat oleh kenangan yang lebih baik kulupakan.

"Aku ingin sesuatu yang lain," kataku. "Cukup salad sederhana, atau tumis sayuran saja."

Rahang ibuku menegang. "Koki sudah pulang satu jam yang lalu. Kita tidak mungkin memanggilnya kembali hanya untuk sepiring salad. Makan saja apa yang ada di meja."

Bianca mengulurkan tangan dan meletakkan seiris tuna mentah yang transparan ke atas piringku. Ikan itu tampak berkilauan di bawah lampu gantung. "Ini, Kak. Ini ringan, kau pasti akan suka."

Dia tahu. Bulan lalu, saat makan malam keluarga yang aku diizinkan untuk hadir, aku hampir muntah ketika hidangan makanan laut disajikan. Bianca memperhatikanku saat meminta izin untuk meninggalkan meja makan dengan ekspresi yang tidak bisa kupahami saat itu. Sekarang aku sudah mengerti bahwa dia telah menyimpan informasi itu baik-baik.

Aku menyingkirkan tuna itu ke pinggir piring dan menunggu.

Tiga detik. Dua. Satu.

"Ketidakadilan terdeteksi. Penegakan dimulai."

Kursi ibuku langsung terjungkal ke belakang. Dia jatuh ke lantai dengan keras, ketenangannya hancur bersamaan dengan salah satu pelapis giginya. Serpihan porselen itu berhamburan di lantai kayu.

"Hera Solena menghabiskan empat jam mengawasi persiapan hidangan favorit Bianca. Namun, dia tidak pernah sekali pun menanyakan tentang kebutuhan atau pantangan makan Elisa. Sistem mencatat bahwa Elisa akan mengalami mual yang dipicu oleh protein mentah. Hukuman dikenakan pada level tiga."

Tangan ibuku gemetar saat menegakkan tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, dia berjalan ke arah dapur. Dua puluh menit kemudian, sepiring tumis sayuran mendarat di samping sikuku.

"Nah, ini tumis sayuranmu."

Bianca memperhatikan piring sasyiminya disingkirkan, ekspresinya berubah-ubah antara amarah dan ketidakpercayaan.

Aku makan perlahan, menikmati setiap suapan. Bukan karena makanannya istimewa, rasanya pun biasa saja, tetapi karena untuk pertama kalinya di rumah ini, aku meminta sesuatu dan mendapatkannya.

Setelah makan malam, Bianca kembali ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintunya tertutup dengan bunyi klik yang pas dan terkontrol, bukannya dengan bantingan. Namun aku tahu, itu lebih berbahaya karena Bianca tidak mengamuk, dia sedang merencanakan sesuatu.

Aku tetap di meja makan, membiarkan keheningan berlanjut.

"Aku mau kamar yang layak."

Gelas ayahku terhenti di tengah jalan menuju bibirnya. "Hah?"

"Aku sudah tidur di gudang selama tiga bulan. Udara segar tidak sampai ke sana, dan ada jamur di sudut ruangannya. Aku ingin kamar tidur yang setara dengan kamar Bianca."

Bianca muncul kembali di ujung tangga begitu cepat, bisa dipastikan kalau dia telah menguping dari balik pintu. "Kau gila? Kamarku dirancang oleh seorang arsitek terkenal yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Furniturnya juga dibuat khusus. Seprainya disulam tangan. Kau tidak bisa meminta yang sama begitu saja, lagipula, kau jelas tidak punya selera untuk menghargainya."

Aku tidak menatapnya. Aku terus menatap kedua orang tuaku. "Kalau dia bisa memilikinya, aku juga harus memilikinya. Itu prinsipnya, kan?"

Mario melangkah maju, memposisikan dirinya sebagai perisai Bianca. "Elisa, cukup."

Tetapi, orang tuaku tidak berbicara. Keheningan membentang, dan aku memperhatikan mereka sedang berhitung. Ingatan akan sengatan listrik dibandingkan dengan biaya renovasi, ketidaknyamanan dibandingkan dengan level rasa sakit.

Ibuku berbicara lebih dulu, "Bianca, biarkan Elisa menggunakan kamarmu malam ini. Besok Mama akan panggil kontraktor untuk merenovasi kamar tamu di sayap timur."

Ayahku mengangguk berat. "Aku akan menelepon besok pagi. Pasti ada cara untuk mengakali Sistem ini. Ada seorang pejabat di kantor gubernur pernah berutang budi padaku."

Dan, begitulah kenyataannya. Mereka sebenarnya tahu bagaimana cara mendistribusikan sumber daya secara merata. Mereka hanya tidak pernah mau melakukannya. Sistem itu tidak mengajarkan mereka tentang keadilan, melainkan mengajarkan mereka akan konsekuensi.

Bianca menuruni tangga perlahan, langkah kakinya bergerak mantap. Ketika melewati kursiku, dia mencondongkan tubuh cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya, sesuatu yang beraroma bunga dan mahal.

"Nikmati selagi masih bisa," gumamnya. "Kau pikir Sistem ini bisa melindungimu selamanya?"

Aku menatap matanya. "Selamat malam, Bianca."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 10

    Investigasi berjalan cepat. Sebagian karena buktinya memang sangat kuat, Sistem telah merekam semuanya, mulai dari data lokasi dan biometrik serta rekaman komunikasi yang menggambarkan situasi yang mengerikan. Sebagian lagi karena Patrick yang begitu ditawari kesepakatan, mulai berkicau seperti burung kenari di dalam sangkar yang penuh dengan kucing.Tuduhan menumpuk, antara lain penculikan, konspirasi untuk melakukan perdagangan manusia, dan penyerangan dengan senjata mematikan. Catatan bisnis ayahku disita, dan apa yang terungkap bahkan lebih buruk dari yang dibayangkan siapa pun. Bukti puluhan tahun praktik suap, pencucian uang, dan kesepakatan rahasia yang tidak ada hubungannya denganku.Riko dijatuhi hukuman mati.Hera menerima hukuman lima belas tahun penjara. Mario dihukum sepuluh tahun penjara. Sedangkan Bianca, sebagai anak di bawah umur yang diadili di pengadilan anak, dia akan berada di fasilitas penahanan sampai berusia dua puluh satu tahun, kemudian dipindahkan ke penjara

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 9

    Ayahku membuka pintu dengan gaya teatrikal layaknya seorang pria yang telah menunggu bertahun-tahun untuk berperan sebagai pahlawan penakluk."Tuan Patrick, Anda datang tepat waktu."Pria yang berdiri di ambang pintu itu bertubuh kekar dengan bahu lebar yang mulai mengendur, perut buncit yang menekan di balik jasnya, wajah yang penuh bekas bopeng seperti permukaan jalan yang rusak. Dia beraroma parfum mahal dan keringat. Matanya bergerak menyisir ruangan dengan penilaian lambat dan posesif, seperti seseorang yang terbiasa menilai barang dagangan."Tuan Riko." Dia tidak mengulurkan tangan. "Apa ini gadisnya?""Ini putriku, Elisa." Ayahku memberi isyarat ke arahku seperti seorang kepala pelayan yang sedang menyajikan daftar anggur. "Masih di bawah umur dan perawan. Kerahasiaan penuh sudah termasuk dalam kesepakatan ini."Patrick melangkah lebih dekat. Aku memaksakan diri untuk tidak mundur, ikatan kabel plastik itu telah melukai pergelangan tanganku, dan setiap gerakan mengirimkan rasa p

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 8

    Seharusnya aku menyuruhnya pergi.Seharusnya aku menekan tombol itu dan langsung mengatakan tidak, lalu kembali ke aplikasi pendaftaran universitasku. Setiap insting yang telah kukembangkan selama setahun terakhir, setiap pelajaran yang diajarkan keluarga ini kepadaku, seakan menjerit agar aku tetap mengunci pintu.Tetapi sesuatu dalam suaranya membuatku ragu. Aku pernah mendengar ibuku berbicara dengan berbagai macam cara, meremehkan, penuh perhitungan, berpura-pura sayang padahal dingin. Tapi aku belum pernah mendengarnya terdengar putus asa.Aku pun membukakan pintu.Dia berdiri di ambang pintuku seperti orang asing yang salah masuk apartemen. Rambutnya yang biasanya ditata rapi, kini terkulai lemas di bahunya. Pakaiannya masih mahal, tapi bukan lagi buatan khusus, hanya produk massal. Perhiasannya hilang kecuali cincin pernikahannya, yang terlihat lebih longgar daripada yang kuingat."Elisa." Matanya berkaca-kaca. "Sayang, kau sendirian di luar sini. Mama sangat khawatir."Dia meng

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 7

    Aku pindah pada akhir pekan itu.Tidak ada drama, tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada konfrontasi yang penuh air mata. Aku mengemas dua koper dan sebuah tas ransel, memesan layanan mobil dengan uang yang telah kusimpan dari mengajar les kepada adik kelas, dan pergi saat seisi rumah masih tertidur pulas karena efek pesta wiski dari malam sebelumnya.Apartemen yang kusewa adalah apartemen satu kamar tidur tanpa lift di lingkungan yang tidak akan pernah dikunjungi ayahku. Lantainya miring, dan radiatornya berisik. Pemandangan dari jendelaku adalah tembok bata dan tiga merpati yang tampaknya sedang berebut wilayah.Aku langsung menyukainya.Tempat ini adalah milikku. Tidak ada seorang pun di sini yang akan mengatur di mana harus duduk, apa yang harus kumakan, atau apakah aku diizinkan berada di ruangan itu.Selama dua minggu, aku tidak melakukan apa pun selain belajar. Ujian akhir sudah semakin dekat, dan aku telah kehilangan waktu berbulan-bulan karena sabotase Bianca. Aku mengerjak

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 6

    Pintu depan terbuka lima belas menit kemudian.Dua petugas polisi melangkah masuk ke lobi, wajah mereka tampak netral, seolah-olah mereka lebih suka berada di tempat lain. Bianca bergegas menghampiri sebelum mereka sampai ke ruangan."Itu dia." Dia menunjuk ke arahku. "Elisa Virera. Dia sudah memanipulasi data sekolah untuk menaikkan nilainya dan menipu Sistem Perlakuan Adil millik pemerintah."Tangan ibuku langsung menyentuh dada. "Apa itu benar?""Aku melihatnya sendiri," kata Bianca. "Tiga ujian berturut-turut selalu berada di peringkat terbawah di kelas, semuanya. Tidak mungkin dia bisa mendapatkan peringkat teratas tanpa memanipulasi data." Dia lalu berbalik ke arah petugas. "Dia mungkin sudah menyuap seseorang di kantor registrasi. Atau mungkin meretas basis data. Aku ingin dia ditangkap."Petugas yang lebih tua dan memakai tanda pengenal bertuliskan Deri, mengangkat tangan. "Tenang dulu. Kami tidak akan menangkap orang hanya berdasarkan dugaan. Kami perlu memahami apa yang sedan

  • Sistem Yang Memberiku Keadilan   Bab 5

    Pengumuman pembagian saham muncul di situs resmi perusahaan pada pukul tujuh pagi.Aku sedang sarapan ketika notifikasi mulai masuk berdatangan. Ponsel ayahku berdering lebih dulu, lalu ponsel Mario, kemudian telepon rumah mulai berdering dengan nada desakan khas dari para pengacara dan anggota direksi yang belum dimintai pendapat sebelumnya.Bianca turun dari tangga sambil tersenyum lebar. Dia sengaja berdandan untuk acara itu, sebuah blazer yang pas badan, rambutnya ditata rapi dan terlihat elegan. Dia ingin tampil sempurna di depan kamera ketika kemenangannya resmi diumumkan."Cek portalnya, Elisa." Dia berkata sambil menuangkan kapucino untuk dirinya sendiri. "Kurasa kau akan menemukan angka-angka yang sangat menarik."Ayahku membuka komputer tabletnya, dan wajahnya menjadi pucat pasi."Apa-apaan ini?"Aku tidak perlu melihatnya. Aku sudah melihat notifikasi di ponselku sendiri yang bergetar pelan di pahaku saat sedang mengoleskan mentega pada roti panggangku.[VIRERA GROUP — RESTR

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status