Compartir

Ancaman

Autor: Auphi
last update Fecha de publicación: 2026-01-10 18:26:52

"Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri.

Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang.

Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor.

"Aku harus cepat," gumamnya lagi.

Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil.

Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar.

"Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?"

Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang.

Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk dapat suami kaya dan berkuasa, ada di pundaknya.

Kemungkinan besar dia akan diserahkan ke tangan baron Cecil malam ini. Makanya bibi Inggrid mau repot-repot mendandaninya.

"Tolong... perutku sakit sekali. Mau buang air besar."

Agar situasinya lebih meyakinkan, Catherine pura-pura meringis sambil memegangi perut. "Kalau sampai gaun ini kotor, kau mau bertanggung jawab pada countess?"

Pelayan mengernyit jijik tapi tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya menemani Catherine ke belakang manor, tempat terpencil dimana ruang pengap untuk buang hajat disediakan.

Tidak ada yang memperhatikan mereka karena semua orang sangat sibuk.

"Cepat selesaikan urusanmu. Jangan membuatku dalam masalah."

Baru saja pelayan itu berbalik, Catherine langsung menjerat lehernya dengan pengikat gorden. Tak lupa menempelkan sebilah pisau kecil di perutnya.

"Coba-coba teriak, kau akan tahu akibatnya."

Suaranya yang lebih mirip desisan berhasil membangunkan rasa takut dalam diri pelayan. Sebab itu tak ada perlawanan sama sekali ketika Catherine menyeretnya ke tempat gelap dan terpencil.

Sesampainya di sana, dia lekas mencari seutas tali tambang dan mengikat pelayan itu ke sebatang pohon. Mulutnya lantas disumpal dengan sobekan ujung gaun.

Semuanya dilakukan sambil tetap menempelkan pisau ke perut lawan.

"Bagaimana rasanya jadi tawanan?" bisiknya penuh kebencian.

Pelayan itu menggeleng ketakutan tetapi belas kasih dalam diri Catherine sudah lama hilang. Orang-orang ini berlomba menyakiti dan menghinanya selama sepuluh tahun terakhir. Hanya tekad kuat yang membuatnya bertahan hidup sampai sekarang.

Dia melayangkan tamparan berkali-kali ke wajah pelayan tersebut.

"Ini untuk mengajarmu bahwa semut pun akan melawan kalau terus ditindas."

Usai berkata demikian, dia lekas pergi. Mengingat-ingat arah dalam benaknya untuk mencari jalan keluar. Sinar bulan yang pucat tidak banyak membantu.

Pada akhirnya, ketika Catherine berpikir dia akan segera menemukan jalan keluar, suara siulan kecil terdengar dari arah depan. Sepertinya, penjaga kuda baru pulang entah dari mana.

Dia berbelok ke arah kanan. Kalau sampai tertangkap, akan fatal akibatnya. Bibi Inggrid pasti akan menyiksanya lebih kejam. Dia bergerak pelan dan cepat. Gaun panjang menjuntai membuat pergerakannya makin sulit.

Sejurus kemudian, suara teriakan pelayan yang diikatnya tadi terdengar di kejauhan.

"Sialan!" gumam Catherine lirih.

Sama sekali tak menyangka jika pelayan tadi berhasil ditemukan secepat ini.

Dia berlari ke arah depan, tempat dimana deretan kereta para tamu diparkir. Tanpa pikir panjang, Catherine masuk dalam kereta paling besar dan mencolok.

Hatinya melonjak kegirangan ketika mendapati kereta tersebut kosong melompong. Dia segera menyelinap ke dalam peti besar, yang biasanya dipakai sebagai tempat duduk tambahan.

Ketika sudah aman di dalam, bisik-bisik kasar mulai terdengar di sekitar area parkir.

"Mungkin saja dia di sini."

"Mustahil. Kalau mau melarikan diri, seharusnya lewat jalan belakang."

"Kalau gitu, kita berpencar. Jangan sampai countess tahu. Kita akan dalam masalah."

Suara penjaga kuda dan pelayan manor bersahut-sahutan. Pencarian besar-besaran ssedang terjadi.

Catherine memeluk dirinya lebih erat sambil memasang telinga tajam-tajam. Terdengar bunyi pintu kereta yang dibuka tergesa-gesa. Orang-orang ini begitu putus asa sampai nekad memeriksa kereta kuda para tamu. Hal yang belum pernah terjadi di perjamuan mana pun.

Rasa takut membuat Catherine menahan nafas. Kereta kuda di sebelahnya sedang diperiksa. Sebentar lagi pasti gilirannya.

Ketika pelayan manor akhirnya membuka pintu kereta tempat dia bersembunyi, sebuah suara dingin menakutkan terdengar dari luar.

"Kalian berani memeriksa kereta pribadi orang lain?"

"Maaf tuan, tetapi kami harus menangkap seorang pencuri. Akan berbahaya kalau dia berkeliaran dan menggangu keselamatan anda."

Alasan ini tak membuat sosok bersuara tadi senang. "Apakah kau percaya bahwa aku bisa membuat majikanmu bangkrut dalam semalam?"

Entah karena suara atau auranya, yang jelas pelayan yang membuka pintu kereta sepertinya sangat ketakutan. Suaranya tergagap-gagap. "Am--ampun, Tuan. Tolong jangan marah. Kami akan pergi sekarang."

"Enyah!"

Untuk sesaat keheningan menyelimuti kereta hingga Catherine merasakan bobot tubuh seseorang diatas peti kayu tempatnya sembunyi.

Tak lama berselang, sosok lain juga diseret ke dalam kereta. Sehingga di dalam, ada empat orang termasuk dirinya.

"Am--ampun tuan Hardy, saya akan melunasi hutang saya segera. Mohon bersabar."

Pria bersuara dingin menyahut tak acuh. "Itulah kata-katamu sejak tahun lalu. Kau pikir aku orang bodoh?"

"Ta--tapi saya memang tak punya uang sekarang. Istri saya sakit dan... dan bisnis tidak berjalan lancar."

"Dasar penjudi busuk! Berani bertaruh tapi tak sanggup bayar. Orang seperti kalian bikin jijik. Mengotori bumi saja."

"Tu--tuan tolong kasihani saya. Beri waktu lagi."

"Hmph, kau sama busuknya dengan Percy muda. Entah berapa lama aku harus sabar dengan pecundang seperti kalian."

Waktu sepupunya disebut, Catherine makin merapatkan tubuhnya di dalam kotak. Dari nada bicara, sepertinya pria bersuara dingin sangat membenci Edgar. Kalau sampai tertangkap, dia akan menemui nasib buruk lebih cepat.

Catherine masih sibuk dengan pikirannya ketika suara terdengar tembakan beruntun dari luar. Orang yang ditembak pasti disumpal mulutnya makanya yang terdengar cuma erangan tertahan.

Saking takutnya, tubuh Catherine sampai bergetar. Dia sering mendengar betapa mudah seorang bangsawan melenyapkan nyawa orang tetapi tidak pernah menyaksikannya secara langsung.

"Kali ini hanya kakimu yang kutembak. Lain kali nyawamu pasti melayang."

Catherine tak bisa mendengar gumaman penjudi yang malang itu dengan jelas tetapi pria bersuara dingin kembali memberi perintah pada sosok lain yang merupakan pelayannya.

"Lemparkan dia ke jalanan. Mau dicelakai orang atau tertabrak kereta, biarkan nasibnya yang menentukan."

Suasana kembali tenang setelah kepergian dua sosok lain.

Baru saja Catherine mau menarik nafas lega, tutup peti tempat dia bersembunyi dibuka dengan kasar.

Sosok tinggi besar dengan wajah sedingin suaranya, menjulang di atas. Tangannya yang kokoh mengacungkan pistol tepat ke wajah Catherine.

"Kau sudah mendengar terlalu banyak. Saatnya untuk mati."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Akhir Perjalanan

    "Sepertinya keluarga Stuart memperlakukan keponakanku dengan sangat baik," ujarnya penuh penekanan. "Aku sampai kehabisan kata-kata."Muka countess dan menantunya berubah kaku. Istri baru Rupert membantah perkataannya. "Apa maksud anda, My lady? Bukankah gadis kecil itu baik-baik saja? Anda datang-datang langsung memojokkan orang lain.""Tutup mulutmu!" bentak countess Stuart. "Beraninya bersikap kasar pada duchess."Setelah itu dia menoleh ke arah Catherine. "My lady, anda salah paham. Bocah ini memang suka ngompol. Juga tak berani lihat orang. Kami selalu memperlakukannya dengan baik."Apakah Catherine orang yang sabar menghadapi omong kosong? Tentu saja tidak!Dia memotong perkataan countess. "Baik atau tidak, hanya kalian yang tahu. Tetapi mulai sekarang saya akan menempatkan seorang pelayan untuk mengurus anak Meredith. Saya juga akan mengirim uang untuk membayar kebutuhan hidupnya. Kalau masih keberatan, kalian bisa mengir

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Sepupu Minta Tolong

    "My lady, ada tamu yang cari anda."Gerakan tangan Catherine yang tengah menepuk-nepuk pundak Andrew terhenti. Dia menatap wajah tampan putranya yang tengah pulas sebelum melirik ke arah Geralda. "Siapa yang datang?"Gadis itu terlihat ragu. "Nona Meredith dan Caroline."Sejak kehilangan gelar bangsawan, sepupunya tidak berhak lagi dipanggil lady. Mereka tak ubahnya rakyat jelata. "Suruh pulang saja. Aku tak punya apapun untuk dibicarakan."Pengalaman sudah mengajar Catherine dengan baik. Berurusan dengan keluarga Percy tak pernah memberi keuntungan. Buat apa cari masalah untuk diri sendiri. "Kenapa masih berdiri di sana? Kata-kataku kurang jelas?" ujarnya ketika melihat tak ada tanda-tanda Geralda akan pergi. "Tetapi my lady... mereka benar-benar ingin ketemu anda. Wajah lady Meredith sangat menyedihkan. Dia bahkan memohon-mohon pada saya."Adalah pengetahuan umum bahwa hidup kedua nona Percy sanga

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Konflik Mertua

    Setahun kemudian... Kastil Hardy yang biasa sepi, kini ramai oleh tangisan bayi. Catherine melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya bukan majikan yang mudah dilayani. Suara tangisan langsung bergema jika sedikit saja lapar, haus, atau pakaian lembab. Akibatnya Catherine tidak lagi keberatan dengan keberadaan suster di dekatnya. Tanpa bantuan orang-orang ini dia pasti jadi mayat hidup karena tak bisa istirahat dengan tenang. "Astaga! Tak habis pikir bagaimana tangisan mereka begitu kencang ketika yang dimakan cuma susu." Catherine memijit pelipisnya. Hidungnya mengernyit mencium aroma susu basi dari daster yang dipakainya. Melawan kebiasaan nyonya kalangan atas, dia menyusui bayi sendiri. Sebab itu tubuhnya selalu beraroma susu. Syukurnya sekarang musim panas jadi bisa sering-sering mandi.Tiba-tiba terdengar suara lady Emma menaiki tangga. Catherine langsung gelagapan. Mertuanya suka usil

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Kehamilan sang duchess

    Dunia memang dipenuhi hal aneh namun perilaku baroness adalah yang paling jauh. Seorang suami jadi cacat tetapi istri malah kasih hadiah. Kalau bukan gila, apa lagi sebutannya? "Anda yakin soal ini?" Catherine tak menutupi rasa heran. "Bukankah seharusnya anda marah?"Baroness tertawa ringan. "Sudah kubilang tidak ada alasan untuk marah. Malah duke sudah seperti pahlawan untuk keluarga kami."Wanita itu membuka kotak hadiahnya. "Lagi pula ini bukan barang mahal. Cuma cake buatan sendiri. Semua orang bilang rasanya enak. Semoga cocok untuk lidah anda."Hadiahnya mungkin tak mahal tetapi memasak sendiri membuktikan ketulusan. Apa lagi nyonya kalangan atas hampir tak pernah menyentuh dapur. "Terima kasih. Anda baik sekali."Begitu kotak penutup cake dibuka, Catherine bisa membayangkan betapa lezat rasanya. Apa lagi dengan irisan strawberry yang melimpah. Aroma menteganya sangat kuat. Dia benar-benar mau muntah

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hadiah dari Istri yang Tersakiti

    Setelah pengkhianatan Lucy ketahuan, pengamanan di sekitar kastil diperketat. Selain memeriksa setiap tamu yang berkunjung, pelayan juga diawasi pergerakannya. Arthur mengatur semua orang dengan baik. Dia tak berani lengah sedikit pun. Meski demikian, Frederick masih meminta Finlay mengawasi sang butler. Dia tak bisa menoleransi sikap sepele terhadap sang duchess.Pagi ini setelah sarapan bersama suami, Catherine merajut di ruang duduk. Akhir-akhir ini dia lebih mudah capek dan mengantuk. Seorang pelayan memberi laporan. "My lady, ada kartu kunjungan dari lady Portia Cecil. Beliau mau datang setelah jam makan siang."Catherine menatap ke seberang. Suaminya sedang membaca buku filsafat. Kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan Frederick kalau punya waktu luang. "Kirim balasan. Aku bisa menerima kunjungan beliau.""Baik, My lady."Kesunyian yang damai kembali menggelayut ketika pelayan sudah pergi. Fr

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hilang Akal

    Selang tiga hari setelah pulang ke Bath, situasi kastil sudah normal lagi, begitu pun dengan sikap Frederick. Pria itu kembali sehangat dulu, saat tidak ada Melissa diantara mereka. Dampaknya, Catherine jadi lelah setiap malam. Suaminya seperti kuda jantan yang sukar dipuaskan. "My lady, anda selalu kelelahan akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan?"Periksa kesehatan? Bukankah semua yang terjadi karena nafsu sendiri?Catherine habis pikir menghadapi pelayannya yang terlalu polos. Biasanya gadis-gadis dari kalangan bawah lebih paham masalah duniawi. "Tidak apa. Aku baik-baik saja."Sebelum Geralda berkomentar lebih jauh, dia buru-buru melanjutkan. "Bagaimana dengan Lucy? Ada gelagat mencurigakan?""Dia terlihat gelisah, My lady. Kepala pelayan sudah menegurnya berkali-kali."Arthur sebagai kepala pelayan, sudah tunduk sepenuhnya pada Catherine. Setiap ada yang tidak becus beker

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Ujian

    Catherine berhenti mengiris dagingnya. Dia minum seteguk air agar makanan di mulut tertelan. "Saya melakukannya sendiri, My lady. Di waktu senggang saya memang suka menggambar desain."Dia bisa melihat kekaguman melintas di mata lady Emma yang cepat-cepat ditutupi dengan senyum

    last updateÚltima actualización : 2026-03-26
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Perjalan dengan Bruce

    Pria bercodet gelagapan. Aura pria di depannya begitu kuat, tidak tampak seperti orang sembarangan.Matanya yang tajam melirik kereta megah pria itu dan ternyata ada emblem keluarga di sana. Ular kobra yang melingkar dengan leher dalam posisi melebar. Dia tak mengenal emblem ini. Tak ada keluarga

    last updateÚltima actualización : 2026-03-26
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Di Penginapan

    Lagi-lagi Catherine harus merutuki keteledorannya. Kenapa repot-repot menyamar jadi rakyat jelata kalau identitas sebenarnya ketahuan juga? "Saya memang tak bisa menyembunyikan apa-apa dari anda," lirihnya malu. "Tak apa, Miss. Itu berarti saya teman bicara yang menyenangkan."Tak tahu harus berk

    last updateÚltima actualización : 2026-03-26
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Serangan yang Tertunda

    Perut Catherine mendadak mual. Senyum cabul pria itu sangat menjijikkan. Apa yang membuatnya lebih kesal adalah bandit lain juga sibuk bersiul dan mendukung upaya atasan mereka. "Bos memang pintar. Tahu saja memilih yang cantik.""Hore! Selain makan enak, kita juga punya wanita cantik.""Kelihata

    last updateÚltima actualización : 2026-03-26
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status