LOGIN"Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri.
Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang. Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor. "Aku harus cepat," gumamnya lagi. Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil. Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar. "Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?" Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang. Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk dapat suami kaya dan berkuasa, ada di pundaknya. Kemungkinan besar dia akan diserahkan ke tangan baron Cecil malam ini. Makanya bibi Inggrid mau repot-repot mendandaninya. "Tolong... perutku sakit sekali. Mau buang air besar." Agar situasinya lebih meyakinkan, Catherine pura-pura meringis sambil memegangi perut. "Kalau sampai gaun ini kotor, kau mau bertanggung jawab pada countess?" Pelayan mengernyit jijik tapi tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya menemani Catherine ke belakang manor, tempat terpencil dimana ruang pengap untuk buang hajat disediakan. Tidak ada yang memperhatikan mereka karena semua orang sangat sibuk. "Cepat selesaikan urusanmu. Jangan membuatku dalam masalah." Baru saja pelayan itu berbalik, Catherine langsung menjerat lehernya dengan pengikat gorden. Tak lupa menempelkan sebilah pisau kecil di perutnya. "Coba-coba teriak, kau akan tahu akibatnya." Suaranya yang lebih mirip desisan berhasil membangunkan rasa takut dalam diri pelayan. Sebab itu tak ada perlawanan sama sekali ketika Catherine menyeretnya ke tempat gelap dan terpencil. Sesampainya di sana, dia lekas mencari seutas tali tambang dan mengikat pelayan itu ke sebatang pohon. Mulutnya lantas disumpal dengan sobekan ujung gaun. Semuanya dilakukan sambil tetap menempelkan pisau ke perut lawan. "Bagaimana rasanya jadi tawanan?" bisiknya penuh kebencian. Pelayan itu menggeleng ketakutan tetapi belas kasih dalam diri Catherine sudah lama hilang. Orang-orang ini berlomba menyakiti dan menghinanya selama sepuluh tahun terakhir. Hanya tekad kuat yang membuatnya bertahan hidup sampai sekarang. Dia melayangkan tamparan berkali-kali ke wajah pelayan tersebut. "Ini untuk mengajarmu bahwa semut pun akan melawan kalau terus ditindas." Usai berkata demikian, dia lekas pergi. Mengingat-ingat arah dalam benaknya untuk mencari jalan keluar. Sinar bulan yang pucat tidak banyak membantu. Pada akhirnya, ketika Catherine berpikir dia akan segera menemukan jalan keluar, suara siulan kecil terdengar dari arah depan. Sepertinya, penjaga kuda baru pulang entah dari mana. Dia berbelok ke arah kanan. Kalau sampai tertangkap, akan fatal akibatnya. Bibi Inggrid pasti akan menyiksanya lebih kejam. Dia bergerak pelan dan cepat. Gaun panjang menjuntai membuat pergerakannya makin sulit. Sejurus kemudian, suara teriakan pelayan yang diikatnya tadi terdengar di kejauhan. "Sialan!" gumam Catherine lirih. Sama sekali tak menyangka jika pelayan tadi berhasil ditemukan secepat ini. Dia berlari ke arah depan, tempat dimana deretan kereta para tamu diparkir. Tanpa pikir panjang, Catherine masuk dalam kereta paling besar dan mencolok. Hatinya melonjak kegirangan ketika mendapati kereta tersebut kosong melompong. Dia segera menyelinap ke dalam peti besar, yang biasanya dipakai sebagai tempat duduk tambahan. Ketika sudah aman di dalam, bisik-bisik kasar mulai terdengar di sekitar area parkir. "Mungkin saja dia di sini." "Mustahil. Kalau mau melarikan diri, seharusnya lewat jalan belakang." "Kalau gitu, kita berpencar. Jangan sampai countess tahu. Kita akan dalam masalah." Suara penjaga kuda dan pelayan manor bersahut-sahutan. Pencarian besar-besaran ssedang terjadi. Catherine memeluk dirinya lebih erat sambil memasang telinga tajam-tajam. Terdengar bunyi pintu kereta yang dibuka tergesa-gesa. Orang-orang ini begitu putus asa sampai nekad memeriksa kereta kuda para tamu. Hal yang belum pernah terjadi di perjamuan mana pun. Rasa takut membuat Catherine menahan nafas. Kereta kuda di sebelahnya sedang diperiksa. Sebentar lagi pasti gilirannya. Ketika pelayan manor akhirnya membuka pintu kereta tempat dia bersembunyi, sebuah suara dingin menakutkan terdengar dari luar. "Kalian berani memeriksa kereta pribadi orang lain?" "Maaf tuan, tetapi kami harus menangkap seorang pencuri. Akan berbahaya kalau dia berkeliaran dan menggangu keselamatan anda." Alasan ini tak membuat sosok bersuara tadi senang. "Apakah kau percaya bahwa aku bisa membuat majikanmu bangkrut dalam semalam?" Entah karena suara atau auranya, yang jelas pelayan yang membuka pintu kereta sepertinya sangat ketakutan. Suaranya tergagap-gagap. "Am--ampun, Tuan. Tolong jangan marah. Kami akan pergi sekarang." "Enyah!" Untuk sesaat keheningan menyelimuti kereta hingga Catherine merasakan bobot tubuh seseorang diatas peti kayu tempatnya sembunyi. Tak lama berselang, sosok lain juga diseret ke dalam kereta. Sehingga di dalam, ada empat orang termasuk dirinya. "Am--ampun tuan Hardy, saya akan melunasi hutang saya segera. Mohon bersabar." Pria bersuara dingin menyahut tak acuh. "Itulah kata-katamu sejak tahun lalu. Kau pikir aku orang bodoh?" "Ta--tapi saya memang tak punya uang sekarang. Istri saya sakit dan... dan bisnis tidak berjalan lancar." "Dasar penjudi busuk! Berani bertaruh tapi tak sanggup bayar. Orang seperti kalian bikin jijik. Mengotori bumi saja." "Tu--tuan tolong kasihani saya. Beri waktu lagi." "Hmph, kau sama busuknya dengan Percy muda. Entah berapa lama aku harus sabar dengan pecundang seperti kalian." Waktu sepupunya disebut, Catherine makin merapatkan tubuhnya di dalam kotak. Dari nada bicara, sepertinya pria bersuara dingin sangat membenci Edgar. Kalau sampai tertangkap, dia akan menemui nasib buruk lebih cepat. Catherine masih sibuk dengan pikirannya ketika suara terdengar tembakan beruntun dari luar. Orang yang ditembak pasti disumpal mulutnya makanya yang terdengar cuma erangan tertahan. Saking takutnya, tubuh Catherine sampai bergetar. Dia sering mendengar betapa mudah seorang bangsawan melenyapkan nyawa orang tetapi tidak pernah menyaksikannya secara langsung. "Kali ini hanya kakimu yang kutembak. Lain kali nyawamu pasti melayang." Catherine tak bisa mendengar gumaman penjudi yang malang itu dengan jelas tetapi pria bersuara dingin kembali memberi perintah pada sosok lain yang merupakan pelayannya. "Lemparkan dia ke jalanan. Mau dicelakai orang atau tertabrak kereta, biarkan nasibnya yang menentukan." Suasana kembali tenang setelah kepergian dua sosok lain. Baru saja Catherine mau menarik nafas lega, tutup peti tempat dia bersembunyi dibuka dengan kasar. Sosok tinggi besar dengan wajah sedingin suaranya, menjulang di atas. Tangannya yang kokoh mengacungkan pistol tepat ke wajah Catherine. "Kau sudah mendengar terlalu banyak. Saatnya untuk mati.""Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri. Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang. Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor. "Aku harus cepat," gumamnya lagi. Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil. Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar. "Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?" Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang. Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk
"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan." Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar. "Seret wanita rendahan ini ke belakang." Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam. Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat. Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman. Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty. "Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan k
"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama." Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty. Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi. Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. "Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang." Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan. Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu. "Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?" "Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka." "Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu." Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masi
Sorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah. Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?" Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil. "Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?" "Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya." "Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana." "Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady." Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama. Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif. Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan. "Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?" Kedua tangan Catherine mengep
Sekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi. Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungka