Share

Sebuah Kesadaran

Author: Auphi
last update publish date: 2026-01-10 14:21:06

"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan."

Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar.

"Seret wanita rendahan ini ke belakang."

Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam.

Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat.

Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman.

Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty.

"Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan kakakku? Aku bukan lagi Caroline Percy kalau tidak memberimu pelajaran yang bagus."

Caroline masih lima belas tahun tetapi tangannya tidak sungkan melayangkan cambuk dengan kejam. Catherine hanya bisa melindungi wajah dan kepala sebisanya.

"Hah, rupanya kau kuat juga. Aku mau lihat apa yang lebih kuat. Kepalamu atau tongkat ini."

Melihat Caroline bergerak ke sudut gudang untuk mengambil sebilah balok, Catherine tak tahan untuk mencibir.

"Kenapa lady Caroline tidak mengambil pistol dan membunuhku saja? Kalau pada akhirnya Anda memang berniat menghabisiku, kenapa buang-buang waktu dengan balok kayu?"

Langkah Caroline sontak berhenti. Countess Inggrid juga menahan lengan putrinya. Para wanita yang marah ini baru sadar betapa bahaya jadinya kalau sampai Catherine meregang nyawa di manor.

"Biarkan saja dia mampus! Biarkan!"

Diluar perkiraan, Meredith bergerak cepat menghampiri Catherine yang terkapar dan seperti orang kesurupan mulai menjambak dan mencakar.

"Jalang sepertimu harus mati! Harus mati!"

Butuh beberapa saat bagi pelayan untuk menariknya ke belakang.

Countess Inggrid meringis melihat penampilan putri sulungnya yang lebih mirip berandalan kasar daripada putri bangsawan. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghela Meredith ke samping.

Apapun yang dibisikkan pasangan ibu dan anak, Catherine tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Tetapi yang jelas, Meredith sudah kembali ke setelan awal. Gadis bangsawan yang tenang dan anggun. Tanda-tanda kegilaannya tadi tak terlihat sama sekali.

"Aku tak akan mengotori tangan dengan jalang sepertimu. Lagi pula... Rupert Stuart tak mungkin terpikat oleh gadis jelek."

Jelek katanya? Kalau bukan karena baju kusam dan tubuh tak terawat, dia akan jadi gadis bangsawan paling cantik di Bath. Setelah pikirannya tercerahkan, Catherine jadi merasa bahwa bibi Inggrid sengaja membuatnya jelek agar tidak mengancam masa depan kedua sepupunya.

Saat ini, dia seharusnya diam saja. Celaaan yang diucapkan Meredith bukanlah barang baru. Tetapi rasa jengkel karena dirinya terus-menerus disalahkan atas tindakan Rupert, membuat Catherine tak tahan lagi.

"Apakah Lady Meredith sungguh berpikir bahwa saya yang menggoda tuan Stuart? Tidakkah anda punya sedikit hati nurani?"

Senyum sinis di wajah Meredith sontak membeku.

Dia bukan orang bodoh yang tak bisa melihat kejadian sebenarnya. Jelas-jelas tangan Rupert yang melingkari pinggang ramping Catherine. Dia bahkan sempat melihat gadis yatim itu meronta.

"Apakah membohongi diri sendiri lebih mudah dari pada menerima kenyataan?"

Kalimat terakhir Catherine berhasil memunculkan naluri iblis dalam jiwa Meredith. Dia kembali menerjang dan berusaha mencakar wajah sepupunya.

Belum sempat tangannya menyentuh Catherine, para pelayan sudah meringkus dan menghelanya keluar. Hanya teriakannya saja yang masih menggema hingga ke dalam gudang penyimpanan.

"Kau benar-benar kutukan!" Countess Inggrid mengumpat. Suaranya yang dingin dan kejam memberi perintah pada Betty. "Jangan kasih jalang ini makanan atau pakaian hangat. Biar dia merasakan penderitaan yang sesungguhnya."

"Memelihara hewan jauh lebih baik dari pada mengasih makan manusia tak tahu diri." Caroline mencelanya sebelum menyusul langkah sang ibu keluar.

Ruangan kembali hening, begitu pun perasaan Catherine. Nyeri yang hebat membuat tubuhnya menggigil.

Ketika malam tiba, penderitaannya makin tak tertahankan. Lapar, dingin, dan sakit bercampur jadi satu. Kesadarannya yang tinggal setengah membawa Catherine menjelajah menuju masa kecilnya yang bahagia.

Ibu akan mendongeng di depan perapian sambil merajut baju hangat untuknya. Di atas meja ada susu hangat yang mengepul serta seloyang roti yang baru diangkat dari perapian. Ayah akan membawanya berkuda mengelilingi lahan pertanian luas di sekeliling manor. Wajah-wajah tersenyum pekerja ladang serta rakyat jelata saat melambai ke arah mereka, semuanya tumpang tindih dengan muka garang keluarga pamannya.

Entah berapa lama dia terbaring dalam keadaan setengah sadar, tetapi Catherine terjaga ketika merasakan tendangan keras ke perutnya.

Pandangannya yang berkunang-kunang bisa melihat wajah garang Betty yang memaki sambil meletakkan satu baki berisi makanan.

"Dasar sialan! Kau enak-enakan tidur sementara kami harus bekerja keras seharian. Kalau memang tak sanggup lagi, kenapa tak mati saja?"

Tak punya tenaga melawan, Catherine diam saja hingga Betty pergi.

Tangannya yang lemah meraih ke dalam baki dan mendapati dua potong roti keras berisi daging yang hampir basi. Mengabaikan rasa jijik, Catherine melahapnya dengan cepat. Di dalam perut, makanan juga akan membusuk.

Setelah dua roti dan air minum dalam wadah kecil berpindah ke perut, alih-alih kenyang, perutnya mulai melilit kesakitan. Mungkin akibat dari lapar terlalu lama.

Dalam kesendirian, Catherine hanya bisa menahan semuanya sampai pintu gudang kembali terbuka. Lagi-lagi matanya bersirobok dengan Betty.

"Kau lihat apa? Awas kucungkil matamu," sergah Betty seperti preman pasar. Wanita itu menoleh ke belakang. "Tunggu apa lagi? Seret dia keluar."

Mendengar kata seret, Catherine sudah siap menerima nasib. Adalah keberuntungan yang baik bila sang bibi setuju untuk melenyapkan nyawanya. Tak perlu lagi menerima siksaan yang tak berujung.

"Kalian mau membawaku kemana?" tanyanya curiga ketika para pelayan menghelanya ke dalam manor.

Salah satu dari mereka balas membentak. "Jalan saja! Jangan banyak tanya!"

Perlu diketahui, bahwa kamar tempatnya tinggal terletak di bagian luar manor, dekat ke dapur dan istal kuda. Dia diizinkan masuk hanya jika bibi dan sepupunya butuh seseorang untuk melayani mereka.

Tentu saja manor tidak kekurangan pelayan. Mereka hanya butuh alasan untuk mempermalukannya. Sungguh lucu bila mengingat dia sempat berpikir bahwa bibinya berbuat demikian untuk kebaikannya.

Akhirnya mereka sampai ke sebagai ruangan di lantai dua, yang diketahui Catherine sebagai kamar tamu. Dia tidak sempat bertanya karena orang-orang ini bergerak cepat membuka pakaian, dan membersihkan sekujur tubuhnya.

Setelah itu mereka memakaikan sebuah gaun cantik kepunyaan Meredith. Wajahnya dirias sedikit hingga Catherine hampir tak kenal dirinya sendiri.

"Duduk yang tenang di sini. Jangan kemana-mana dan mempermalukan countess." Salah satu pelayan memperingatkan dengan ketus sebelum menutup pintu di belakang.

Hingga beberapa saat kemudian, Catherine hanya termangu sampai sebuah kesadaran menghantam benaknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Akhir Perjalanan

    "Sepertinya keluarga Stuart memperlakukan keponakanku dengan sangat baik," ujarnya penuh penekanan. "Aku sampai kehabisan kata-kata."Muka countess dan menantunya berubah kaku. Istri baru Rupert membantah perkataannya. "Apa maksud anda, My lady? Bukankah gadis kecil itu baik-baik saja? Anda datang-datang langsung memojokkan orang lain.""Tutup mulutmu!" bentak countess Stuart. "Beraninya bersikap kasar pada duchess."Setelah itu dia menoleh ke arah Catherine. "My lady, anda salah paham. Bocah ini memang suka ngompol. Juga tak berani lihat orang. Kami selalu memperlakukannya dengan baik."Apakah Catherine orang yang sabar menghadapi omong kosong? Tentu saja tidak!Dia memotong perkataan countess. "Baik atau tidak, hanya kalian yang tahu. Tetapi mulai sekarang saya akan menempatkan seorang pelayan untuk mengurus anak Meredith. Saya juga akan mengirim uang untuk membayar kebutuhan hidupnya. Kalau masih keberatan, kalian bisa mengir

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Sepupu Minta Tolong

    "My lady, ada tamu yang cari anda."Gerakan tangan Catherine yang tengah menepuk-nepuk pundak Andrew terhenti. Dia menatap wajah tampan putranya yang tengah pulas sebelum melirik ke arah Geralda. "Siapa yang datang?"Gadis itu terlihat ragu. "Nona Meredith dan Caroline."Sejak kehilangan gelar bangsawan, sepupunya tidak berhak lagi dipanggil lady. Mereka tak ubahnya rakyat jelata. "Suruh pulang saja. Aku tak punya apapun untuk dibicarakan."Pengalaman sudah mengajar Catherine dengan baik. Berurusan dengan keluarga Percy tak pernah memberi keuntungan. Buat apa cari masalah untuk diri sendiri. "Kenapa masih berdiri di sana? Kata-kataku kurang jelas?" ujarnya ketika melihat tak ada tanda-tanda Geralda akan pergi. "Tetapi my lady... mereka benar-benar ingin ketemu anda. Wajah lady Meredith sangat menyedihkan. Dia bahkan memohon-mohon pada saya."Adalah pengetahuan umum bahwa hidup kedua nona Percy sanga

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Konflik Mertua

    Setahun kemudian... Kastil Hardy yang biasa sepi, kini ramai oleh tangisan bayi. Catherine melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya bukan majikan yang mudah dilayani. Suara tangisan langsung bergema jika sedikit saja lapar, haus, atau pakaian lembab. Akibatnya Catherine tidak lagi keberatan dengan keberadaan suster di dekatnya. Tanpa bantuan orang-orang ini dia pasti jadi mayat hidup karena tak bisa istirahat dengan tenang. "Astaga! Tak habis pikir bagaimana tangisan mereka begitu kencang ketika yang dimakan cuma susu." Catherine memijit pelipisnya. Hidungnya mengernyit mencium aroma susu basi dari daster yang dipakainya. Melawan kebiasaan nyonya kalangan atas, dia menyusui bayi sendiri. Sebab itu tubuhnya selalu beraroma susu. Syukurnya sekarang musim panas jadi bisa sering-sering mandi.Tiba-tiba terdengar suara lady Emma menaiki tangga. Catherine langsung gelagapan. Mertuanya suka usil

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Kehamilan sang duchess

    Dunia memang dipenuhi hal aneh namun perilaku baroness adalah yang paling jauh. Seorang suami jadi cacat tetapi istri malah kasih hadiah. Kalau bukan gila, apa lagi sebutannya? "Anda yakin soal ini?" Catherine tak menutupi rasa heran. "Bukankah seharusnya anda marah?"Baroness tertawa ringan. "Sudah kubilang tidak ada alasan untuk marah. Malah duke sudah seperti pahlawan untuk keluarga kami."Wanita itu membuka kotak hadiahnya. "Lagi pula ini bukan barang mahal. Cuma cake buatan sendiri. Semua orang bilang rasanya enak. Semoga cocok untuk lidah anda."Hadiahnya mungkin tak mahal tetapi memasak sendiri membuktikan ketulusan. Apa lagi nyonya kalangan atas hampir tak pernah menyentuh dapur. "Terima kasih. Anda baik sekali."Begitu kotak penutup cake dibuka, Catherine bisa membayangkan betapa lezat rasanya. Apa lagi dengan irisan strawberry yang melimpah. Aroma menteganya sangat kuat. Dia benar-benar mau muntah

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hadiah dari Istri yang Tersakiti

    Setelah pengkhianatan Lucy ketahuan, pengamanan di sekitar kastil diperketat. Selain memeriksa setiap tamu yang berkunjung, pelayan juga diawasi pergerakannya. Arthur mengatur semua orang dengan baik. Dia tak berani lengah sedikit pun. Meski demikian, Frederick masih meminta Finlay mengawasi sang butler. Dia tak bisa menoleransi sikap sepele terhadap sang duchess.Pagi ini setelah sarapan bersama suami, Catherine merajut di ruang duduk. Akhir-akhir ini dia lebih mudah capek dan mengantuk. Seorang pelayan memberi laporan. "My lady, ada kartu kunjungan dari lady Portia Cecil. Beliau mau datang setelah jam makan siang."Catherine menatap ke seberang. Suaminya sedang membaca buku filsafat. Kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan Frederick kalau punya waktu luang. "Kirim balasan. Aku bisa menerima kunjungan beliau.""Baik, My lady."Kesunyian yang damai kembali menggelayut ketika pelayan sudah pergi. Fr

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hilang Akal

    Selang tiga hari setelah pulang ke Bath, situasi kastil sudah normal lagi, begitu pun dengan sikap Frederick. Pria itu kembali sehangat dulu, saat tidak ada Melissa diantara mereka. Dampaknya, Catherine jadi lelah setiap malam. Suaminya seperti kuda jantan yang sukar dipuaskan. "My lady, anda selalu kelelahan akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan?"Periksa kesehatan? Bukankah semua yang terjadi karena nafsu sendiri?Catherine habis pikir menghadapi pelayannya yang terlalu polos. Biasanya gadis-gadis dari kalangan bawah lebih paham masalah duniawi. "Tidak apa. Aku baik-baik saja."Sebelum Geralda berkomentar lebih jauh, dia buru-buru melanjutkan. "Bagaimana dengan Lucy? Ada gelagat mencurigakan?""Dia terlihat gelisah, My lady. Kepala pelayan sudah menegurnya berkali-kali."Arthur sebagai kepala pelayan, sudah tunduk sepenuhnya pada Catherine. Setiap ada yang tidak becus beker

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Lahan Pertanian

    Dari depan saja, lahan pertanian itu sudah tampak mengintimidasi. Gerbangnya tinggi dengan pilar-pilar besar. Sekelilingnya dipagari kawat duri. Beberapa penjaga mondar-mandir. Mata mereka waspada mengamati sekeliling. Begitu kereta yang dinaiki Catherine berhenti di depan gerbang, salah satu dari

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Kembalinya Manajer Lama

    Dua hari berikutnya dihabiskan dengan berkeliling pertanian. Catherine bertemu keluarga petani penggarap dan berbincang dengan mereka. Karena pembawaannya tenang dan sederhana, orang-orang ini makin sepele. "Miss, hal-hal begini biar diurus kaum pria saja. Kenapa anda harus membuat kekacauan?""Sa

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Siasat Mr Brooks

    Malam itu, Catherine kembali menginap di tempat yang asing. Lahan pertaniannya yang luas dikelilingi pedesaan sepi. Udara dingin berpasangan dengan malam yang begitu pekat. Meski lampu-lampu sudah menyala sejak tadi, tak satu pun pelayan memanggil mereka makan. Waktu terus berlalu tetapi Catherine

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Di bawah sinar bulan

    Aksen bahasa Inggris Bruce seperti orang Skotlandia. Selain itu, Northumberland berbatasan dengan daerah tersebut. Sebuah dugaan muncul dalam benak Catherine. "Apakah anda bangsawan Skotlandia?"Bruce memberinya tatapan aneh. "Apakah itu sangat penting bagimu?"Sontak Catherine menatap lawan bicar

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status