LOGIN"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan."
Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar. "Seret wanita rendahan ini ke belakang." Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam. Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat. Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman. Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty. "Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan kakakku? Aku bukan lagi Caroline Percy kalau tidak memberimu pelajaran yang bagus." Caroline masih lima belas tahun tetapi tangannya tidak sungkan melayangkan cambuk dengan kejam. Catherine hanya bisa melindungi wajah dan kepala sebisanya. "Hah, rupanya kau kuat juga. Aku mau lihat apa yang lebih kuat. Kepalamu atau tongkat ini." Melihat Caroline bergerak ke sudut gudang untuk mengambil sebilah balok, Catherine tak tahan untuk mencibir. "Kenapa lady Caroline tidak mengambil pistol dan membunuhku saja? Kalau pada akhirnya Anda memang berniat menghabisiku, kenapa buang-buang waktu dengan balok kayu?" Langkah Caroline sontak berhenti. Countess Inggrid juga menahan lengan putrinya. Para wanita yang marah ini baru sadar betapa bahaya jadinya kalau sampai Catherine meregang nyawa di manor. "Biarkan saja dia mampus! Biarkan!" Diluar perkiraan, Meredith bergerak cepat menghampiri Catherine yang terkapar dan seperti orang kesurupan mulai menjambak dan mencakar. "Jalang sepertimu harus mati! Harus mati!" Butuh beberapa saat bagi pelayan untuk menariknya ke belakang. Countess Inggrid meringis melihat penampilan putri sulungnya yang lebih mirip berandalan kasar daripada putri bangsawan. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghela Meredith ke samping. Apapun yang dibisikkan pasangan ibu dan anak, Catherine tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Tetapi yang jelas, Meredith sudah kembali ke setelan awal. Gadis bangsawan yang tenang dan anggun. Tanda-tanda kegilaannya tadi tak terlihat sama sekali. "Aku tak akan mengotori tangan dengan jalang sepertimu. Lagi pula... Rupert Stuart tak mungkin terpikat oleh gadis jelek." Jelek katanya? Kalau bukan karena baju kusam dan tubuh tak terawat, dia akan jadi gadis bangsawan paling cantik di Bath. Setelah pikirannya tercerahkan, Catherine jadi merasa bahwa bibi Inggrid sengaja membuatnya jelek agar tidak mengancam masa depan kedua sepupunya. Saat ini, dia seharusnya diam saja. Celaaan yang diucapkan Meredith bukanlah barang baru. Tetapi rasa jengkel karena dirinya terus-menerus disalahkan atas tindakan Rupert, membuat Catherine tak tahan lagi. "Apakah Lady Meredith sungguh berpikir bahwa saya yang menggoda tuan Stuart? Tidakkah anda punya sedikit hati nurani?" Senyum sinis di wajah Meredith sontak membeku. Dia bukan orang bodoh yang tak bisa melihat kejadian sebenarnya. Jelas-jelas tangan Rupert yang melingkari pinggang ramping Catherine. Dia bahkan sempat melihat gadis yatim itu meronta. "Apakah membohongi diri sendiri lebih mudah dari pada menerima kenyataan?" Kalimat terakhir Catherine berhasil memunculkan naluri iblis dalam jiwa Meredith. Dia kembali menerjang dan berusaha mencakar wajah sepupunya. Belum sempat tangannya menyentuh Catherine, para pelayan sudah meringkus dan menghelanya keluar. Hanya teriakannya saja yang masih menggema hingga ke dalam gudang penyimpanan. "Kau benar-benar kutukan!" Countess Inggrid mengumpat. Suaranya yang dingin dan kejam memberi perintah pada Betty. "Jangan kasih jalang ini makanan atau pakaian hangat. Biar dia merasakan penderitaan yang sesungguhnya." "Memelihara hewan jauh lebih baik dari pada mengasih makan manusia tak tahu diri." Caroline mencelanya sebelum menyusul langkah sang ibu keluar. Ruangan kembali hening, begitu pun perasaan Catherine. Nyeri yang hebat membuat tubuhnya menggigil. Ketika malam tiba, penderitaannya makin tak tertahankan. Lapar, dingin, dan sakit bercampur jadi satu. Kesadarannya yang tinggal setengah membawa Catherine menjelajah menuju masa kecilnya yang bahagia. Ibu akan mendongeng di depan perapian sambil merajut baju hangat untuknya. Di atas meja ada susu hangat yang mengepul serta seloyang roti yang baru diangkat dari perapian. Ayah akan membawanya berkuda mengelilingi lahan pertanian luas di sekeliling manor. Wajah-wajah tersenyum pekerja ladang serta rakyat jelata saat melambai ke arah mereka, semuanya tumpang tindih dengan muka garang keluarga pamannya. Entah berapa lama dia terbaring dalam keadaan setengah sadar, tetapi Catherine terjaga ketika merasakan tendangan keras ke perutnya. Pandangannya yang berkunang-kunang bisa melihat wajah garang Betty yang memaki sambil meletakkan satu baki berisi makanan. "Dasar sialan! Kau enak-enakan tidur sementara kami harus bekerja keras seharian. Kalau memang tak sanggup lagi, kenapa tak mati saja?" Tak punya tenaga melawan, Catherine diam saja hingga Betty pergi. Tangannya yang lemah meraih ke dalam baki dan mendapati dua potong roti keras berisi daging yang hampir basi. Mengabaikan rasa jijik, Catherine melahapnya dengan cepat. Di dalam perut, makanan juga akan membusuk. Setelah dua roti dan air minum dalam wadah kecil berpindah ke perut, alih-alih kenyang, perutnya mulai melilit kesakitan. Mungkin akibat dari lapar terlalu lama. Dalam kesendirian, Catherine hanya bisa menahan semuanya sampai pintu gudang kembali terbuka. Lagi-lagi matanya bersirobok dengan Betty. "Kau lihat apa? Awas kucungkil matamu," sergah Betty seperti preman pasar. Wanita itu menoleh ke belakang. "Tunggu apa lagi? Seret dia keluar." Mendengar kata seret, Catherine sudah siap menerima nasib. Adalah keberuntungan yang baik bila sang bibi setuju untuk melenyapkan nyawanya. Tak perlu lagi menerima siksaan yang tak berujung. "Kalian mau membawaku kemana?" tanyanya curiga ketika para pelayan menghelanya ke dalam manor. Salah satu dari mereka balas membentak. "Jalan saja! Jangan banyak tanya!" Perlu diketahui, bahwa kamar tempatnya tinggal terletak di bagian luar manor, dekat ke dapur dan istal kuda. Dia diizinkan masuk hanya jika bibi dan sepupunya butuh seseorang untuk melayani mereka. Tentu saja manor tidak kekurangan pelayan. Mereka hanya butuh alasan untuk mempermalukannya. Sungguh lucu bila mengingat dia sempat berpikir bahwa bibinya berbuat demikian untuk kebaikannya. Akhirnya mereka sampai ke sebagai ruangan di lantai dua, yang diketahui Catherine sebagai kamar tamu. Dia tidak sempat bertanya karena orang-orang ini bergerak cepat membuka pakaian, dan membersihkan sekujur tubuhnya. Setelah itu mereka memakaikan sebuah gaun cantik kepunyaan Meredith. Wajahnya dirias sedikit hingga Catherine hampir tak kenal dirinya sendiri. "Duduk yang tenang di sini. Jangan kemana-mana dan mempermalukan countess." Salah satu pelayan memperingatkan dengan ketus sebelum menutup pintu di belakang. Hingga beberapa saat kemudian, Catherine hanya termangu sampai sebuah kesadaran menghantam benaknya.Rona kekalahan di muka Bruce cukup menghibur hati Catherine. Tapi ini tak berlangsung lama. Sebab di lantai dansa, dia harus meladeni kekonyolan Rick. "Jadi... kau mau kuajak dansa karena menghindari bocah Campbell?""Dia sudah dua puluh tahun, My lord." Catherine menegaskan fakta ini dalam nada dingin."Biar pun bukan pengagum Bruce, bukan berarti suka melihat sepupunya direndahkan. Rick tergelak kecil. "Kau sangat serius, Catherine. Aku memanggilnya begitu karena umurnya jauh lebih muda dariku."Pria yang berdiri di depannya sekarang berbeda dengan Rick yang dulu. Setahunya, Rick bukan pria menyebalkan. Walau terkadang bercanda tapi masih dalam batas wajar. Sementara yang berdiri sekarang berlagak paling tahu. "Apakah menjadi tua sesuatu yang menyenangkan bagi anda, tuan Kenwood?" balas Catherine tajam. "Hanya beberapa waktu tak ketemu tetapi anda jadi sangat berbeda.""Apa yang berbeda? Aku masih orang y
Catherine ingin sekali menampar kesombongan Bruce. Tetapi mengingat Annabelle juga manusia menyebalkan, dia merasa itu sepadan. Sekarang tak perlu lagi menebak apa penyebab kebencian yang begitu dalam di mata Annabelle."Kenapa menolaknya? Bukankah dia sangat cantik?" selidiknya kemudian. Perempuan memang begitu. Kalau dipuji, pura-pura tak peduli. Jika wanita lain yang dipuji, mereka penasaran setengah mati. Entah apa maunya. "Menurutmu dia cantik?" Senyuman Bruce sangat menggoda. Persis pria gombal yang suka pamer pesona. "Maaf saja. Tapi aku punya selera yang sangat tinggi.""Oh, ya?" Alis Catherine yang terukir rapi menukik tajam. "Memangnya seperti apa gadis idamanmu?""Gampang saja. Waktu bercermin perhatikan pantulan wajah siapa yang nampak. Itulah gadis idamanku."Muka Catherine memanas. Dia merutuki ketajaman lidah Bruce. Tetapi diatas segalanya, dia lebih benci dirinya yang suka main api. Ketika terbakar, entah mau kabur kemana. "Hmph, dasar kau." Dia menggumam seraya
Wajah Annabelle mengeras sementara suara-suara di aula jadi senyap. Adalah kurang sopan kalau meragukan niat tulus tuan rumah. Tetapi kalau tidak teliti bisa menjatuhkan diri sendiri dalam perangkap. Catherine memilih resiko pertama. "Kalau memang lady Catherine sangat meragukan niat baik kami, pakai saja piano saya."Annabelle memang lawan sepadan. Dengan kalimat selugas ini tak mungkin ada yang curiga akan kualitas piano. Kalau nanti pada saat main timbul masalah, orang-orang hanya bisa mengatainya kurang cakap. "Kalau begitu saya tak akan sungkan," sahut Catherine tenang. "Saya hanya seorang gadis yatim. Pendidikan tidak sebagus My lady. Anda tentu tak akan mempermasalahkan hal ini dengan saya, kan?"Ketika Catherine sudah membawa kekurangannya sendiri ke depan umum, siapa lagi yang bisa mengejek walau sikapnya seperti gadis berpikiran dangkal?Kalau Annabelle masih tak terima, orang-orang hanya akan menganggapnya perempuan berpikiran sempit. Dengan wajah masam, Annabelle ban
Suasana di aula dalam memang tidak terlalu hening tetapi bisik-bisik orang di belakang masih terdengar dengan jelas di telinga Catherine. Mau tak Mau, matanya melirik Annabelle Wesley. Rasa persaingan mendadak timbul di dalam hati. Gadis ini sangat cantik, punya talenta, juga dari keluarga baik-baik. Dengan kualitas ini masih belum berhasil mencuri perhatian Frederick. Bagaimana dengan dirinya? Tiba-tiba Annabelle Wesley mendongak. Mata mereka terkunci. Catherine merasakan aura dingin disana. "Kau kenapa?" senggol Wilona. "Kau juga menikmati kecantikan sang dewi?"Catherine tersenyum masam. Apa sejelas itu dia memperhatikan lawan. "Tak apa. Kurasa musiknya sangat bagus.""Dibanding kemampuanmu, itu tak seberapa."Entah karena suara Wilona yang terlalu keras atau nasib lagi apes, duchess Wesley mendengar jelas perkataan ini. Mana ada ibu yang suka kemampuan anaknya disepelekan.Rasa ingin tahu yang tinggi membuat beliau menoleh ke arah Elizabeth Campbell. "Lizzy, keponakanmu jag
Keluarga Percy terbelalak. Kenapa mereka jadi seteru terhadap dua keluarga hebat di London hanya karena seorang gadis yatim? Melawan Fiona saja sudah sulit apa lagi Elizabeth Campbell. Wanita bergelar duchess ini tak pernah kenal takut. Tetapi kalau mundur sekarang, bukankah sangat memalukan? Inggrid mau menangis rasanya. Maju tak berani, mundur juga tak sanggup. Akhirnya Edward Percy membuka kerumunan orang-orang. Wajah tuanya yang berkerut menunduk malu. "Para nyonya sekalian, saya minta maaf atas perbuatan anak dan istri. Harap jangan diambil hati. Nanti begitu sampai di rumah, saya akan menasihati mereka dengan baik." Usai berkata demikian, dia menyeret Caroline dan Inggrid kedalam sementara Meredith di bawah kendali mertuanya. Situasi kembali aman. Meski di permukaan Catherine menang, pada kenyataannya orang-orang masih membicarakannya di belakang. Catherine tak ambil pusing. Dia membungkuk ke arah Fiona dan Elizabeth Campbell. "Terima kasih buat kedua lady. Kalau bu
Tuduhan yang sangat keji tetapi semua orang mendengar dalam diam. Tak ada satu pun yang repot-repot membela Catherine. Pada saat ini, Fiona akhirnya maju. Tanpa sungkan menampar mulut Caroline bolak-balik. "Kalau countess Inggrid tak bisa mendidikmu, biar aku membantunya." Mata Caroline membelalak tak percaya. "Anda... menamparku?" "Kenapa tidak? Aku akan berdosa pada Frederick kalau tidak menampar mulutmu yang kurang ajar." "Kenapa aku kurang ajar? Semua yang kukatakan adalah fakta." "Apakah fakta yang kau maksud seterang mulutmu yang kurang ajar? Sepertinya kau senang sekali kalau kakakku mati di lautan. Dimana empatimu?" Kerumunan orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Fakta bahwa Duke Hardy adalah pahlawan yang dikagumi semua orang sudah diketahui sejak dulu. Ketika seorang gadis muda dengan sombongnya tertawa sambil membicarakan kecelakaan sosok penting ini, mana mungkin hati mereka tidak dingin. "Ya, marchioness Seymour benar. Caroline Percy memang terlalu lancang.







