MasukDua hari kemudian, pesan itu datang bukan melalui saluran resmi firma hukum, melainkan sebuah amplop hitam polos yang diselipkan di bawah pintu mobil Soraya saat ia keluar dari toko buku.
Di dalamnya hanya ada sebuah kartu akses magnetik tanpa logo dan secarik kertas bertuliskan alamat di kawasan elit Upper East Side, serta satu kata: Datang. Tidak ada jam. Tidak ada instruksi lebih lanjut. Hanya perintah mutlak. Soraya tahu siapa pengirimnya. Damien. Janji kemarin batal sepihak, dan pria itu menagihnya sekarang. Jantung Soraya berkecamuk. Dia merasa seperti sedang di perdaya. ** Malam itu, Soraya berdiri di depan lift pribadi sebuah gedung apartemen yang menjulang angkuh. Kartu akses itu membawanya langsung ke lantai teratas penthouse. Jantungnya berdegup menyakitkan di balik tulang rusuk. Ia mengenakan gaun malam hitam lengan panjang, berpotongan leher tinggi, dan panjangnya menyapu lantai. Itu adalah gaun pilihannya malam ini, tertutup, elegan, dan tidak menyisakan celah untuk tatapan lapar siapa pun. Pintu lift terbuka langsung ke ruang tamu yang luasnya keterlaluan. Dinding kaca setinggi langit-langit menampilkan panorama kota yang berkelap-kelip di bawah, seolah dunia ini kecil dan bisa diremukkan dalam genggaman pemilik tempat ini. “Kau terlambat, sudah dua kesalahan sejak pembatalan sepihak kemarin,” suara itu datang dari bayang-bayang di dekat perapian modern yang menyala redup. Soraya tersentak. Damien duduk di sofa kulit hitam yang besar, segelas wiski di tangan. Ia tidak mengenakan setelan jasnya yang biasa. Hanya celana bahan gelap dan kemeja hitam yang kancing teratasnya dibuka, memperlihatkan sekilas kulit dadanya. Ia terlihat lebih santai, namun aura bahayanya justru berlipat ganda. “Aku… aku tidak tahu jam berapa kau ingin aku datang. Dan untuk kemarin, maaf,” jawab Soraya defensif, mencengkeram tas tangannya. Damien berdiri perlahan, meletakkan gelasnya dengan bunyi klak yang tajam di atas meja kaca. Ia berjalan mendekat, matanya memindai Soraya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu berhenti lama pada gaunnya, dan ekspresinya mengeras. “Apa ini?” tanyanya, suaranya dingin. Soraya mengerutkan kening. “Apa?” “Bungkusan ini.” Damien menjentikkan jarinya ke arah gaun Soraya dengan jijik. “Kau pikir kau akan pergi ke pemakaman? Atau kau pikir kau sedang menghadiri jamuan teh dengan Ratu Inggris?” Wajah Soraya memanas. “Ini gaun rancangan desainer. Sopan dan pantas.” “Sopan?” Damien tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa humor. Ia melangkah lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Soraya hingga aroma musk dan wiski dari tubuhnya memabukkan indra Soraya. “Di sini, di wilayahku, kesopananmu adalah penghinaan bagiku.” Soraya mundur selangkah, punggungnya membentur dinding dingin di samping lift. “Aku tidak mengerti apa maumu, Damien.” “Oh, kau mengerti. Kau sangat mengerti.” Damien mencondongkan tubuh, satu tangan bertumpu di dinding di samping kepala Soraya, mengurungnya. “Kau sengaja memakai ini. Kau pikir dengan menutup setiap inci kulitmu yang berharga itu, kau bisa mencegahku menginginkannya? Kau pikir kain mahal ini bisa melindungimu dariku?” Napas Soraya tercekat. “Aku istri seorang diplomat. Aku harus menjaga martabat…” “Martabat?” Damien memotongnya dengan geraman rendah. “Martabatmu sudah kuseka dari lantai ruang konferensi pers kemarin lusa. Sekarang, yang tersisa hanya tubuhmu yang gemetar dan reputasimu yang ada di ujung tanduk.” Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Kau tahu apa yang kulihat saat menatap gaun sialan ini? Aku melihat seorang wanita munafik yang takut mengakui bahwa dia basah setiap kali aku menatapnya terlalu lama.” Mata Soraya melebar karena syok. “Tuduhan mu kasar sekali! Bagaimana kau bisa…” “Kasar?” Damien menyeringai, matanya berkilat buas. “Dunia di luar sana jauh lebih kasar, Sayang. Mereka menyebutmu pelacur koruptor di halaman depan koran pagi ini. Apa kau sudah membacanya?” Soraya menggeleng lemah, air mata mulai menggenang. “Belum? Bagus. Biar kubacakan untukmu.” Suara Damien turun menjadi bisikan yang parau, setiap kata sengaja dipilih untuk melukai dan membangkitkan gairah sekaligus. “Mereka bertanya-tanya, seberapa hebat servis yang kau berikan pada para donatur itu hingga mereka rela menggelapkan jutaan dolar untukmu. Mereka berspekulasi tentang mulutmu, tentang pahamu…” “Hentikan!” jerit Soraya, menutup telinganya. Damien menarik paksa tangan Soraya, mencengkram pergelangan tangannya dan menekannya ke dinding di atas kepalanya. “Jangan pernah berpaling dari kenyataan, Soraya!” bentaknya. “Itu yang mereka pikirkan tentangmu! Dan kau datang ke sini berbalut kain biarawati ini seolah kau suci? Jangan membuatku tertawa.” Tubuh Soraya bergetar hebat. Ia takut, sangat takut. Namun dibalik ketakutan itu, ada sengatan listrik aneh yang menjalar dari pergelangan tangannya yang dicengkeram Damien, turun ke perut bawahnya, membuatnya merasa… hidup. Terangsang. Dan realisasi itu membuatnya semakin ngeri pada dirinya sendiri. Damien menatap lurus ke dalam matanya, melihat konflik batin itu. Senyumnya melebar, penuh kemenangan yang kejam. “Lihat dirimu,” bisiknya, nadanya kini bercampur antara ejekan dan godaan gelap. “Nafasmu memburu. Pupil matamu melebar. Kau menyukainya, bukan? Kau suka saat aku mengulitimu dengan kata-kata kotor ini, karena ini satu-satunya saat kau merasa nyata. Suamimu yang sempurna itu… dia tidak pernah membuatmu merasa seperti ini, kan?” Soraya menggeleng panik, air mata akhirnya tumpah. “Tidak… tolong…” “Tolong apa?” Damien melepaskan satu tangannya untuk menelusuri garis rahang Soraya, lalu turun ke lehernya yang jenjang, merasakan denyut nadi yang liar di sana. “Tolong berhenti? Atau tolong lanjutkan?” Jarinya berhenti tepat di kerah tinggi gaun Soraya. “Malam ini kita tidak akan latihan pidato,” kata Damien, suaranya final. “Malam ini kita akan latihan kepatuhan. Dan pelajaran pertama, jangan pernah menyembunyikan apa yang menjadi milikku, dariku.” Ia mencengkram kerah gaun mahal itu. Soraya menahan napas, menunggu bunyi kain yang robek, menunggu momen dimana sisa martabatnya akhirnya dilucuti paksa oleh pria yang memaksa mengambil alih hidupnya. Cengkraman kasar di kerah gaunnya tiba-tiba melonggar. Tangan Damien bergerak ke belakang lehernya, bukan untuk mencekik, melainkan menyibakkan rambutnya yang digelung rapi dengan gerakan yang nyaris… lembut. Jari-jarinya yang panas menyentuh kulit tengkuk Soraya yang sensitif, mengirimkan kejutan statis ke sepanjang tulang punggungnya. “Kenapa kau lakukan ini? Apa salahku? Aku sama seperti klien mu yang lain.” Suara Soraya lirih. Sarat ketakutan. “Kau salah besar,” bisik Damien di telinganya. Napas hangatnya berbau bourbon dan bahaya. “Kau tidak sama dengan klienku yang lain. Mereka membayar ku dengan uang. Kau… kau membayarku dengan jiwamu.” Soraya merasakan sentuhan dingin logam di punggungnya. Zipper gaunnya. Damien menariknya turun. Perlahan. Sangat perlahan. Bunyi zzzzzt halus itu terdengar seperti raungan di telinga Soraya. Setiap inci kulit punggungnya yang terpapar udara dingin penthouse itu terasa terbakar. Gaun itu melonggar, kehilangan strukturnya, membuatnya merasa telanjang meski kainnya masih menempel di bagian depan tubuhnya.George tidak main-main dengan ancamannya. Pria itu membangun benteng tak kasat mata di sekeliling istrinya, sebuah sangkar emas yang dirancang dengan dalih "perlindungan dan cinta", namun beraroma kepemilikan yang sakit.Soraya merasa ruang geraknya terbatas, seolah oksigen di sekitarnya dijatah.Pagi itu, Soraya mencoba keluar dengan alasan ingin membeli bunga segar, hobi lamanya. Namun, baru saja kakinya melangkah ke teras, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam langsung menghalanginya. "Maaf, Nyonya," ucap salah satu dari mereka, nadanya sopan namun memblokir jalan sepenuhnya. "Tuan berpesan agar Nyonya tidak keluar tanpa pendampingan beliau. Jika Nyonya menginginkan bunga, kami akan memanggil florist terbaik untuk datang ke sini membawakan katalog.""Aku hanya ingin jalan-jalan, menghirup udara!" protes Soraya, tangannya mengepal."Udara di taman belakang sangat segar,. Dan jauh lebih aman dari polusi," jawab pengawal itu tanpa berkedip.Soraya mendengus kesal,
Uap panas mengepul dari permukaan air di dalam bathtub marmer yang luas itu, memenuhi kamar mandi dengan kabut tipis yang menyesakkan. Soraya membiarkan keran air terus menyala meski bak sudah hampir penuh, suara gemericik air yang jatuh menjadi satu-satunya white noise yang meredam kebisingan di kepalanya. Dia telah menanggalkan seluruh pakaiannya, menumpuknya sembarangan di lantai, kebiasaan baru yang dia pelajari dari ketidaksabaran Damien.Dia berdiri di depan cermin wastafel yang berembun, tangannya mencengkram pinggiran meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, namun pikirannya tertuju pada kemeja putih yang teronggok di sofa luar sana.Menyadari fakta kemungkinan George selingkuh, hati Soraya jelas saja sakit.Ada rasa perih yang menjalar di dadanya, bukan seperti tikaman pisau yang tajam, melainkan seperti pukulan benda tumpul yang menyisakan memar dalam. Rasa sakit itu membingungkan baginya. Bukankah dia sendiri baru saja pulang
Soraya hendak melangkah menuju kamar mandi, membawa serta tas-tas belanjaan yang menjadi alibi sempurnanya, ketika tiba-tiba tangan kuat George menahannya.Tanpa peringatan, George menarik pinggul Soraya sampai jatuh ke atas pangkuannya."Ahh! George!" pekik Soraya kaget, tubuhnya terhempas ke paha suaminya yang keras. Tas-tas belanjaan itu terlepas dari tangannya, jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang teredam.George tidak membiarkannya bangun. Lengan pria itu melingkar erat di perut Soraya, menahan wanita itu dalam posisi menyamping di pangkuannya. Wajah George yang lelah namun penuh kemenangan berada begitu dekat. Aroma kopi basi dan kertas tua menguar dari pakaiannya, sangat berbeda dengan aroma whiskey dan maskulinitas tajam yang baru saja Soraya nikmati bersama Damien.Ia mencumbu Soraya, bibirnya mencari leher istrinya dengan gerakan yang tidak sabar. George ingin menuntaskan hasrat. Mungkin keberhasilan menyelesaikan pidato PBB-nya, ditambah dengan kepulangan Soraya yang
Cahaya kota New York yang tak pernah tidur berpendar di bawah kaki mereka, sebuah lautan neon dan beton yang membentang sejauh mata memandang dari lantai 40. Namun, pemandangan spektakuler Manhattan itu seketika menjadi latar yang kabur dan menakutkan saat Damien melakukan manuver yang mendominasi.Tanpa peringatan, Damien menarik pinggang Soraya, menyeret tubuh wanita itu menjauh dari meja kerja, melintasi karpet tebal, dan langsung menyandarkannya di dinding kaca raksasa yang transparan."Damien! Ya Tuhan!" pekik Soraya tertahan.Soraya sempat panik. Matanya melebar saat menyadari tidak ada apa-apa di belakang punggungnya selain selembar kaca tebal dan jurang vertikal setinggi ratusan meter. Lampu-lampu mobil di 5th Avenue tampak seperti semut bercahaya yang merayap jauh di bawah sana. Vertigo menyerangnya sesaat, rasa takut akan ketinggian bercampur aduk dengan rasa takut akan keterbukaan, seolah seluruh kota bisa melihat ketelanjangannya."Lihat ke bawah," bisik Damien di teling
Lampu merah di kamera utama studio Global Crossfire masih menyala terang, merekam setiap kedutan mikro di wajah narasumbernya. Pertanyaan Sebastian Wolf menggantung di udara seperti guillotine yang siap jatuh, menuduh, menjebak, dan menuntut pengakuan tentang "bom waktu" yang mungkin disembunyikan sang pengacara.Jutaan pasang mata di seluruh Amerika, dan satu pasang mata indah yang sedang menahan napas di sebuah suite hotel mewah di Manhattan, menunggu jawaban itu.Damien tersenyum tipis.Itu bukan senyum gugup, bukan pula senyum arogansi yang berlebihan. Itu adalah senyum seorang pemain catur yang baru saja memindahkan kudanya ke posisi mematikan, namun lawannya belum menyadarinya.Lalu menjawab pertanyaan pembawa acara dengan lugas, suaranya lebih tenang dari danau tak tersentuh, kontras dengan agresivitas Sebastian."Bom waktu adalah istilah yang terlalu dramatis untuk sebuah strategi hukum," ucap Damien santai, menatap lurus ke kamera seolah menatap jiwa Soraya di seberang sana.
Palu hakim telah diketuk tiga hari yang lalu, menghasilkan gema yang seharusnya melegakan bagi siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Vonis bebas murni. Kata-kata itu dicetak tebal di setiap surat kabar nasional, diteriakkan oleh penyiar berita di televisi, dan dirayakan oleh tim hubungan masyarakat George sebagai kemenangan kebenaran melawan fitnah keji.Serangkaian perjalanan hukum dilewati Soraya dengan kecepatan yang tidak wajar, sebuah blitzkrieg hukum yang dirancang oleh Damien Vargan dan didanai oleh ambisi politik George.Akhirnya Soraya divonis tidak bersalah.Nama baiknya dikembalikan. Aset-aset yang sempat dibekukan kini cair kembali. Undangan-undangan pesta sosialita mulai membanjiri kotak suratnya lagi, seolah-olah masyarakat elit Amerika mengalami amnesia kolektif tentang skandal yang baru saja terjadi beberapa bulan terakhir.George berjalan dengan kepala tegak, merangkul Soraya di setiap kesempatan pers, memamerkan istrinya yang "suci" sebagai trofi kemenangannya ata







