Beranda / Romansa / Skandal Di Balik Meja Pengacara / Punya sesuatu dengan Pengacaramu?

Share

Punya sesuatu dengan Pengacaramu?

Penulis: AD07
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 08:54:56

Blitz kamera meletup-letup tanpa henti, seperti badai petir yang terperangkap di dalam ruangan. Dari balik tirai beludru yang tebal, Soraya bisa melihat siluet para wartawan, gerombolan serigala lapar yang menunggu daging segar dilemparkan. Mereka meneriakkan namanya, nama suaminya, dengan nada menuntut yang membuat perutnya mual.

Telapak tangannya dingin, basah oleh keringat dingin.

Ia menarik nafas gemetar, berusaha menggali ingatannya, mencari jangkar pada kata-kata yang Damien tanamkan semalam. Namun, kepalanya terlalu bising. Suara komentator berita yang berbisa, tatapan iba palsu dari para istri diplomat lain, dan suara suaminya yang bergema hampa, "Damien Vargan akan membereskan ini. Percaya saja padanya."

Pintu akses belakang terbuka. Udara di ruangan itu seketika berubah.

Damien melangkah masuk. Tidak ada keraguan dalam gerakannya. Jas hitamnya membalut tubuhnya laksana baju zirah, dasi sutra gelap terikat sempurna di lehernya yang kokoh.

Saat Soraya mendongak, dunia yang berputar lambat. Tatapan pria itu tajam, dingin, tak berperasaan, anehnya justru menjadi satu-satunya hal yang masuk akal di tengah kekacauan ini.

“Kau siap?” Suaranya rendah, sebuah getaran bariton yang langsung meredam kebisingan di luar.

Soraya menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dilapisi ampelas. “Aku… aku tidak tahu.”

Damien berhenti tepat di hadapan Soraya, menginvasi ruang pribadinya. Aroma aftershave-nya yang tajam dan maskulin menyengat indra Soraya, mengusir bau kepanikan yang sempat menguasainya.

“Kau tidak perlu tahu,” katanya, nadanya final. “Kau hanya perlu percaya. Lakukan perannya. Jadilah boneka yang cantik untuk mereka.”

Soraya memejamkan mata sesaat, berusaha menegakkan bahu yang terasa rapuh. “Bagaimana kalau aku gemetar? Mereka akan melihatnya. Mereka akan mencium ketakutanku.”

Damien mencondongkan tubuh, jarinya dengan berani menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Soraya, sebuah gestur yang terlihat sayang dari jauh, namun terasa posesif dari dekat.

“Maka biarkan mereka melihatnya. Biarkan mereka melihat istri diplomat yang rapuh namun berusaha tegar demi kehormatannya. Itu akan memancing simpati.” Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Soraya, suaranya turun menjadi bisikan berbahaya. “Tapi jangan menangis. Kamera mencintai air mata, tapi mereka juga akan meminumnya seperti darah.”

“Baik,” bisik Soraya, lebih kepada dirinya sendiri.

“Tatap aku jika kau mulai tenggelam di luar sana.”

Mereka saling menatap. Lama. Hati Soraya berkecamuk, mengingat pembicaraan semalam serta apa yang Damien inginkan darinya. Sangat mengerikan, dan menakutkan.

“Waktunya, Tuan Vargan,” seorang staf memberi instruksi dengan gugup.

Damien mengangguk singkat, lalu memberi gestur pada Soraya.

“Kau masuk lebih dulu.”

Soraya melangkah keluar dari balik tirai, dan dunia meledak dalam cahaya putih yang menyilaukan. Ratusan lensa kamera berbunyi serempak, seperti tembakan senapan mesin. Soraya nyaris tersentak mundur, namun ia merasakan hawa panas tubuh Damien di belakangnya, sebuah dinding solid yang menahannya tetap berdiri.

Damien mengambil alih podium. Otoritasnya langsung menyihir ruangan menjadi senyap. “Terima kasih telah hadir.” Suaranya bergema, tenang namun mengintimidasi. “Saya Damien Vargan, kuasa hukum Madame Soraya Estenne. Kami berdiri di sini untuk satu hal, menegaskan bahwa klien saya tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam tuduhan keji yang beredar.”

Soraya menatap punggung lebar Damien. Pria itu seperti seorang maestro yang sedang memimpin orkestra neraka, setiap gerakan tangannya, setiap jeda dalam kalimatnya, membuat para wartawan itu tunduk.

Lalu, Damien menoleh padanya. Sebuah anggukan kecil yang tak terlihat. Giliranmu.

Soraya maju. Mikrofon di depannya terasa seperti moncong senjata.

“Saya…” Suaranya nyaris pecah di suku kata pertama.

Ia melirik Damien. Pria itu tidak berekspresi, hanya mengangkat sedikit alisnya. ‘Ingat siapa pemilikmu saat ini’, tatapan itu seolah berkata.

Soraya menarik napas tajam, menegakkan punggungnya. “Saya tidak bersalah,” ucapnya, kali ini lebih kuat, meski getaran halus masih terdengar. “Saya percaya pada proses hukum. Saya dan keluarga saya akan kooperatif untuk mengungkap kebenaran.”

Ruangan kembali meledak. Pertanyaan diteriakkan tumpang tindih.

“Apakah dana itu masuk ke rekening pribadi Anda, Nyonya Estenne?”

“Apa suami Anda mengetahui aliran dana ini?”

“Bagaimana dengan rumor kedekatan Anda dengan salah satu donatur utama?”

Pertanyaan terakhir itu menghantamnya seperti tamparan fisik. Napas Soraya tercekat.

Sebelum ia sempat panik, Damien sudah bergerak. Ia memotong jarak, berdiri tepat di samping Soraya, bahu mereka bersentuhan. Sebuah proklamasi perlindungan, atau kepemilikan yang terang-terangan.

“Pertanyaan itu tidak relevan dan spekulatif,” potong Damien, suaranya membelah keributan. “Fokus kami adalah fakta hukum, bukan gosip murahan. Konferensi pers selesai.”

Ia tidak menunggu bantahan. Dengan satu tangan di punggung bawah Soraya, sedikit terlalu rendah untuk dianggap sopan, ia membimbing wanita itu turun dari panggung, menjauh dari silau lampu yang memburu mereka.

Begitu mereka kembali ke keamanan di balik panggung, kaki Soraya menyerah. Ia bersandar pada dinding dingin, napasnya memburu.

Damien berdiri di hadapannya, mengurungnya lagi. Matanya memindai wajah Soraya dengan intensitas yang meresahkan. “Kau nyaris hancur di pertanyaan terakhir tadi.”

Soraya mendongak, sisa adrenalin membuatnya berani. “Mereka memojokkan ku.”

“Itu pekerjaan mereka, Sayang. Pekerjaanmu adalah tetap cantik dan terlihat tak tersentuh.”

Soraya mendengus, campuran antara marah dan lelah. “Mudah bagimu bicara. Kau tidak berdiri di sana sebagai pesakitan. Dan jangan memanggilku seperti itu.”

Damien menyeringai tipis. Ia mencondongkan tubuh, satu tangan bertumpu di dinding, tepat di samping kepala Soraya. “Benar. Aku berdiri di sana sebagai pemilik ring sirkus ini. Dan bagaimana aku memanggilmu, jangan kau atur.”

Tatapannya turun ke leher Soraya yang masih berdenyut cepat. “Tapi kau tampil cukup baik. Kulitmu pucat sekali di bawah lampu sorot tadi… membuatku bertanya-tanya, apakah rasanya sehalus kelihatannya jika kucicipi.”

Napas Soraya tertahan. Kalimat itu begitu vulgar, namun diucapkan dengan nada berbincang yang santai, seolah Damien hanya mengomentari cuaca. Ia ingin menamparnya, namun tubuhnya justru bereaksi sebaliknya, sebuah denyutan panas yang memalukan muncul di perut bawahnya.

Seorang asisten berlari mendekat, wajahnya pucat. “Tuan Vargan. Maaf mengganggu. Tapi ini… sedang trending.”

Damien mengambil tablet yang disodorkan, melihatnya sekilas, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang berbahaya. Ia memutar layar ke arah Soraya.

Sebuah foto resolusi tinggi. Mereka berdua di podium tadi. Soraya menatap Damien dengan mata lebar yang rapuh, sementara Damien menatap balik dengan intensitas yang bisa membakar kertas.

JUDUL: SANG PENGACARA IBLIS & ISTRI DIPLOMAT… ADAKAH SKANDAL DI BALIK SKANDAL?

Darah Soraya surut dari wajahnya. “Ya Tuhan. Ini… ini bencana.”

“Tidak,” gumam Damien, matanya kembali menelanjangi ekspresi panik wanita itu. “Ini sempurna.”

“Sempurna? Mereka pikir kita… mereka pikir aku berselingkuh denganmu!”

Damien lebih dekat hingga Soraya bisa merasakan gesekan kain jas mahal pria itu pada lengannya. “Biarkan mereka berpikir begitu. Jika mereka sibuk berfantasi tentang apa yang kita lakukan di ruang tertutup, mereka akan lupa bertanya tentang uang yang hilang itu.”

Soraya menatapnya horor. “Kau… kau sengaja?”

“Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menang.” Damien menegakkan tubuh, menarik diri. Dingin kembali menyergap Soraya. “Kita latihan lagi nanti malam. Di penthouse-ku. Jangan terlambat, dan jangan pakai sesuatu yang menyulitkan.”

Mansion diplomat itu sunyi saat Soraya tiba, kontras yang menyakitkan dengan kegilaan hari ini.

*

Suaminya sudah menunggu di foyer. Berdiri di bawah chandelier kristal dengan senyum hangat yang sama, senyum yang selalu membuat Soraya merasa aman. Dulu.

“Soraya,” sapanya lembut. “Kau baik-baik saja, Sayang?” Soraya ingin berlari ke pelukannya, menangis, menceritakan betapa mengerikannya hari ini, betapa kurang ajarnya Damien Vargan.

Namun terasa berat.

“Ya… hari ini berat sekali.”

Suaminya memeluknya. Pelukan itu sempurna, seperti adegan film. Namun Soraya merasa kosong. Tidak ada detak jantung yang memburu karena khawatir. Hanya ketenangan yang ganjil.

“Aku menontonnya. Kau luar biasa di depan kamera.”

Soraya melepaskan diri sedikit, menatap mata pria yang dinikahinya. “Kau menonton?”

“Tentu saja.” Suaminya tersenyum, lalu berjalan santai menuju ruang duduk. “Aku juga melihat foto yang beredar. Kau dan Vargan. Sangat… fotogenik.”

Jantung Soraya serasa berhenti. “Kau melihatnya? Tapi tidak… marah?”

Suaminya menuang scotch ke dalam gelas kristal, tidak menoleh.

“Kenapa aku harus marah? Itu pengalihan isu yang brilian. Vargan tahu persis apa yang dia lakukan.”

Soraya merasa mual. Lantai di bawah kakinya terasa bergoyang.

“Pengalihan isu? Mereka berpikir istrimu tidur dengan pengacaranya, dan kau menyebutnya brilian?”

Suaminya berbalik, menyesap minumannya dengan tenang. Tatapannya pada Soraya bukan tatapan seorang suami yang cemburu, melainkan tatapan seorang manajer kampanye yang sedang mengevaluasi aset.

“Soraya, dalam politik, tidak ada yang peduli pada kebenaran. Mereka hanya peduli pada narasi mana yang lebih menarik.” Ia berjalan mendekat, mengusap pipi Soraya dengan punggung tangannya yang dingin. “Jika cerita tentang skandal seks kecil ini bisa menyelamatkan karierku, karier kita, dari tuduhan korupsi, maka biarkan saja.”

Air mata panas mendesak di sudut mata Soraya. Ia mundur selangkah, menjauh dari sentuhan itu. “Kau terdengar seolah… seolah kau tidak keberatan jika itu benar terjadi.”

Senyum suaminya menipis, matanya mengeras. “Aku ingin kita selamat dari badai ini. Jika Damien Vargan adalah sekoci kita, maka gunakan dia. Gunakan apa pun yang diperlukan untuk membuatnya tetap di pihak kita.”

Hening yang mencekik turun di antara mereka. Implikasi dari kalimat itu menggantung di udara, berat dan kotor.

“Sekarang bersihkan dirimu,” kata suaminya, kembali memasang topeng keramahan yang sempurna. “Kita harus terlihat bahagia saat makan malam nanti.”

Soraya berjalan menuju tangga, merasa lebih kotor daripada saat ia meninggalkan gedung konferensi pers. Ia terjebak. Di satu sisi ada serigala yang terang-terangan ingin memangsanya, dan di sisi lain ada ular yang bersedia mengumpankannya demi keselamatan diri sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Aku ingin Kau Hamil

    Lampu gantung kristal di langit-langit kamar utama seolah menjadi mata Tuhan yang menatap dingin ke arah ranjang tempat Soraya terbaring tak berdaya. Napas George terdengar berat dan kasar, memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan steril itu.Tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi basa-basi diplomatik yang biasa menjadi tameng suaminya. Malam ini, George telah menanggalkan topengnya, menyisakan seorang pria yang dikuasai oleh insting purba untuk mengklaim kembali apa yang ia rasa mulai lepas dari genggamannya.Tanpa menunggu George melucuti pakaian Soraya, pria itu berdiri tegak di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang menggelap oleh kabut nafsu dan kemarahan. Soraya masih mengenakan dress yang ia pakai seharian, kainnya kini kusut dan tersingkap hingga ke paha, menampilkan kulit putih yang gemetar ketakutan.George tidak berusaha membuka dress itu dengan sabar. Baginya, pakaian itu hanyalah pembungkus yang menghalangi aksesnya.Dia berkata, suaranya rendah dan penu

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Tidak akan Dikunci, Sora

    Lampu kristal di foyer yang menyilaukan itu seolah menjadi lampu interogasi bagi Soraya. Berdiri di hadapan George yang baru saja pulang dari London, lebih cepat dari jadwal, dengan tatapan mata yang tajam dan setelan trench coat yang membuatnya terlihat seperti detektif di film noir, Soraya tahu dia hanya punya waktu sepersekian detik untuk mengubah narasi.Aroma Damien masih samar-samar menempel di kulitnya, sebuah bom waktu aroma yang bisa meledak kapan saja jika George mendekat terlalu agresif. Kepanikan yang sempat menyergapnya harus segera dikubur dalam-dalam, digantikan oleh akting terbaik yang pernah dia pelajari dari sang pengacara iblis.Soraya memasang wajah tenang, sebuah topeng dingin yang menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda liar. Dia tidak mundur. Dia tidak menunduk. Dia membalas tatapan suaminya dengan sorot mata lelah yang mengandung sedikit kemarahan, seolah kedatangan George dan pertanyaannya adalah gangguan yang tidak perlu."Ya, aku memang ter

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Pulang Jam Segini…

    Rutinitas itu terbentuk dengan cepat, menjadi candu yang lebih mematikan daripada narkotika jenis apa pun. Pertemuan Soraya dan Damien makin intens, melampaui batas kewajaran hubungan antara klien dan kuasa hukum.Setiap hari, dengan dalih "konsultasi mendalam" atau "persiapan berkas pra-peradilan", Soraya melangkahkan kakinya ke kantor firma hukum Vargan & Associates yang terletak di puncak gedung pencakar langit itu.Gedung itu bukan lagi tempat mencari keadilan baginya, itu adalah kuil pemujaan di mana Soraya dengan sukarela mengorbankan harga dirinya di altar nafsu Damien.Polanya selalu sama, mereka akan membahas kasus selama sepuluh menit, formalitas belaka di mana Damien menjelaskan strategi hukum dengan nada profesional yang dingin, dan sisa jam-jam berikutnya berakhir dengan percintaan liar dan kurang ajar. Meja kerja mahoni yang kokoh itu telah menjadi saksi bisu bagaimana tubuh Soraya dilipat, dibentangkan, dan dinikmati dalam berbagai posisi yang tidak pernah ia bayangkan

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Vargan… ada yang Aneh!

    Udara malam New York yang menyusup masuk melalui pintu penthouse yang terbuka lebar bercampur dengan aroma feromon yang pekat di ruang tamu itu. Di atas karpet bulu yang tebal, Soraya kehilangan sisa-sisa identitasnya sebagai istri diplomat yang anggun.Posisi doggy style yang dipaksakan Damien bukan sekadar variasi posisi bercinta, itu adalah sebuah pernyataan. Dengan wajah terbenam di bantal sofa yang ia tarik ke lantai, dan pinggul yang diangkat tinggi ditopang oleh kaki jenjang yang dibalut heels, Soraya merasa seperti hewan persembahan yang sedang dinikmati oleh dewa yang lapar.Desahan Soraya semakin menggila saat Damien semakin mendominasi.Tidak ada ritme cinta yang lembut di sini. Damien bergerak dengan tempo yang brutal dan tidak kenal ampun. Setiap hujaman yang ia berikan terasa penuh, mengisi kekosongan Soraya hingga ke titik terdalam, meregangkan dinding-dinding kewanitaannya yang sudah sangat basah dan sensitif."Ahhh! Vargan! Ya!" jerit Soraya, suaranya parau dan pecah.

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Siapa yang Mau Pulang?

    Suara erangan dan desahan kembali menguasai penthouse Damien, memecah kesunyian malam di lantai teratas gedung pencakar langit itu. Tidak ada musik romantis, tidak ada lilin, hanya suara kulit yang beradu, napas yang memburu, dan teriakan-teriakan kenikmatan yang tak tertahan.Soraya dalam posisi doggy style, bertumpu pada lutut dan sikunya di atas karpet berbulu tebal di ruang tamu, sedang menikmati hujaman Damien yang datang bertubi-tubi dari belakang. Wajahnya terbenam di bantal sofa yang ia tarik jatuh ke lantai, mulutnya terbuka lebar menyuarakan ekstasi yang merobek kewarasannya.Selesai pesta tadi, skenario kehidupan Soraya berubah drastis dalam hitungan menit.Di lobi hotel, saat Soraya masih merasakan sisa adrenalin dari dansa mereka, ponsel George berdering. Panggilan prioritas tinggi dari London. Krisis diplomatik. Tanpa ragu, tanpa menimbang perasaan istrinya yang baru saja ia pamerkan, George berubah mode. Dia bukan lagi suami; dia adalah pejabat negara."Aku harus pergi

  • Skandal Di Balik Meja Pengacara   Siapa yang Memilikimu

    George memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan ketelitian seorang penyidik yang sedang mencari retakan mikroskopis pada kesaksian tersangka. Ia mencari kedutan di sudut mata, getaran di bibir, atau perubahan ritme nafas yang menandakan kebohongan. Namun, Soraya berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang menakutkan. Wanita itu tidak menarik diri, tidak menunduk, dan yang paling mengganggu George, tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun karena tertangkap basah berdiri terlalu dekat dengan pria lain.Soraya menatapnya tenang, matanya jernih memantulkan cahaya lampu gantung, lalu berkata dengan nada rasional yang menusuk, "Reaksimu akan membuat yang lain mengira ada sesuatu di antara kami, George. Pelankan suaramu dan kendalikan wajahmu. Orang-orang mulai menoleh."Peringatan itu telak. George sadar ia hampir tergelincir. Ia hampir membiarkan cemburunya merusak topeng sempurnanya di depan umum.George tersenyum hangat, senyum yang terlatih untuk kamera, tapi dalam hati tidak senang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status