FAZER LOGINStarlee Alyssandra adalah wanita yang tahu cara menikmati hidup dengan baik. Ia suka berpesta dan berfoya-foya. Hingga akhirnya ia tewas karena sebuah kecelakaan sepulang dari berpesta dengan teman-temannya. Namun, sebuah keajaiban terjadi. Starlee hidup kembali dalam tubuh wanita yang memiliki nama yang sama dengannya. Dari memori lama sang pemilik tubuh, Starlee tahu penyebab kematian wanita itu. Sangat ironi, ketika wanita itu mengorbankan hidupnya dengan menjadi istri serta menantu dan ipar yang baik, ia malah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari mertua dan dua adik iparnya. Sedang sang suami? dialah otak dari kematian wanita itu. Bukan hanya itu, sang suami juga berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Starlee yang diberikan kesempatan hidup lagi, tidak akan membiarkan orang-orang yang menindas pemilik tuh sebelumnya hidup dengan tenang. Ia akan membuat mereka membayar segalanya. Dengan tubuh barunya, Starlee kembali bertemu dengan pria yang menjadi tunangannya, tapi tak sekalipun bisa ia miliki hatinya. Starlee bisa melepaskan segalanya tapi tidak dengan Arshaka. Pria itu miliknya dan akan terus menjadi miliknya. Tak peduli seberapa keras Arshaka menolaknya, ia akan terus mendekati Arshaka hingga akhirnya ia dan Arshaka terlibat dalam sebuah skandal yang akhirnya mengikat mereka. Dari skandal itu pula perlahan sebuah rahasia terungkap. Starlee akhirnya mengetahui kenapa Arshaka selalu bersikap dingin padanya baik ketika ia menjadi tunangannya atau simpanannya.
Ver maisChapter 1
LAKE
The stench of rotting vegetables and spoilt food was what filled my nostrils as I slowly woke up after being unconscious.
My cheek was pressed against the cold floor that was located in the restaurant's storage room, and every part of my body seemed too stiff and ached in protest as I tried to move.
I could still taste the blood that was on my tongue, from the new cut that I had gotten and I could feel my left eye swollen nearly shut.
How long had I been unconscious?
The memories came back in painful waves as I winced holding my head.
It had been the usual shitty day for me until it got to closing time. When three alphas who were regulars and had been drinking too much and thought they could ask the dishwasher for sex.
When I'd politely declined their offer—if you could call grabbing my ass and suggesting I "earn some real money on my back" an offer—they'd gotten angry. Very angry at me and changed in an instant.
"Think you're too good for us, freak?" The leader had said, his alcohol breath hot on my face as I wrinkled my nose in disgust.
"Unmated omega like you should be grateful for the attention."
I'd tried to explain that I needed to get to my brother's school, that I was already running late, but they'd only laughed at me and commended me for giving them excuses and promised to deal with me.
The first blow had caught me across my cheek which sent me falling behind the prep counter. The rest was a blur, as I felt a lot of fists and boots and laughter until everything went dark.
Now I was alone in the storage room, where I had been discarded like trash among the boxes of canned goods.
I felt panic coursing through my body as I fumbled for my phone with shaking hands.
The cracked screen showed 5:47 PM in green digits.
No. No, no, no.
Ollie's school let out at 3:30. I was supposed to pick him up by 4:00 at the latest.
He'd be waiting for me, probably scared and wondering where I was. The after-school program only ran until 6:00 PM, and after that...
I dragged myself to my feet, ignoring the sharp pain that I felt in my ribs and the way the room seemed to spin around me.
My reflection that I saw in the metal door of the walk-in freezer showed a face that would give even adults nightmare- split lip, black eye, and blood dried on my chin. But there was no time to clean up and heal properly before leaving.
I had to get to Ollie.
The main dining room was empty and dark, and all the chairs had been stacked upon the table and kept for the night cleaning crew to take care of. I stumbled, moving as I made my way toward the back exit. Mr. Donovan was nowhere to be seen, as I looked around. He had probably gone home hours ago, unaware that his customers had beaten his dishwasher unconscious in his storage room. Or maybe he just didn't care about me, as long as I didn't die.
The cold November air felt like a slap as I came out from the alley that was behind the restaurant. I pulled my thin jacket tighter around myself and started running toward Jefferson Elementary, every step sending pain through my battered body, but I couldn't stop.
The streets seemed to blur past me as I ran, my breath coming in ragged gasps that formed little visible clouds in the air.
Normal people were heading home from work, walking in groups, laughing and talking about their plans for the evening. None of them spared a glance for the limping omega racing past them with desperation written across his bruised face.
By the time I had gotten to the school, it was 6:03 PM. The parking lot was empty except for a security guard car and most of the windows were dark. I burst through the main entrance, my heart beating hard against my ribs.
"Ollie!" I called out, my voice echoing in the empty hallway as I felt fear run down my spine not seeing him. This couldn't be happening now. "Ollie, where are you?"
"Over here, son."
I turned around to the direction of the voice and saw the night security guard—Mr. Patterson, he was a kind beta in his sixties who'd always been patient with me when I'd been late before. He was standing outside the main office, and beside him...
"Lake!"
Ollie launched himself at me, his small arms wrapping around my waist in a fierce hug as he squeezed me tightly happy to see me. I bit back a groan as he pressed against my bruised ribs, but I hugged him back with everything I had. He was safe. He was here. I hadn't failed him completely.
"I'm sorry," I whispered into his dark hair, my voice cracking with tears as I took in a shaky breath and exhaled. "I'm so sorry I'm late, buddy. I got held up at work and—"
"I knew you'd come," Ollie said simply, pulling back to look at me with those trusting blue eyes. "I told Mr. Patterson you'd be here. You always come for me."
His faith in me made my chest tighten with guilt and I nodded my head not knowing what to say to his declaration. Even after all the times I'd been late, all the times I'd shown up battered and broken, he still believed in me. Still trusted that I would never abandon him.
"Son," Mr. Patterson said gently, his wrinkled face filled with concern as he took in my appearance. "
Are you all right? You look like you've been through a war."
"I'm fine," I lied, the same lie I'd been telling for years as I shrugged my shoulders and forced the words out of my mouth. "Just a... a kitchen accident. Hot oil."
Kaki Arshaka melangkah cepat memasuki kediamannya. Ia baru saja menerima kabar bahwa Starlee terjatuh dari tangga.Wajah Arshaka begitu cemas. Ia meninggalkan pertemuan penting bernilai jutaan dollar karena baginya Starlee jauh lebih penting."Sayang, apa yang terjadi padamu." Arshaka sudah berada di kamar mereka. Ia mendekati Starlee yang duduk di atas ranjang."Aku tidak hati-hati. Saat aku hendak menjemput Sha dan Shi, aku terjatuh dari tangga.""Di mana Kakek?" tanya Arshaka."Menjemput Sha dan Shi.""Ayo ke rumah sakit. Kau harus di periksa.""Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Obat pereda nyeri sudah cukup membantuku.""Bagaimana jika ada tulangmu yang patah? Tidak, Starlee, kita harus ke rumah sakit." Arshaka bersiap untuk menggendong Starlee."Sebentar." Starlee menahan Arshaka. Ia mengeluarkan sesuatu dan menunjukannya pada Arshaka.Arshaka tidak bisa berkata-kata. Ia h
Hari ini adalah hari ulang tahun ke-2 pernikahan Arshaka dan Starlee. Mereka berdua merayakannya dengan makan malam berdua di kapal pesiar yang Arshaka hadiahkan untuk Starlee.Kapal itu Arshaka beri nama Starlee, nama sang istri. Tidak hanya mereka saja yang ada di sana, tapi juga keluarga besar Arshaka ditambah Barbara yang ikut ke manapun Starlee pergi.Hanya saja saat ini keluarga besar Arshaka berada di lantai 3 kapal itu, sedang ia dan Starlee berada di lantai 4.Sebelum makan malam dimulai, Arshaka memainkan sebuah lagu untuk Starlee sembari bermain piano. Starlee yang duduk di depan meja bundar dengan berbagai hidangan lezat hanya memandangi suaminya dengan senyuman bahagia.Arshaka yang dahulu Starlee anggap dingin, ternyata begitu romantis dan hangat setelah menikah dengannya. Setiap hari Arshaka tidak absen dalam mengucapkan kata-kata cinta yang menyenangkan di telinga Starlee.Lagu yang Arshaka mainkan selesai. Starlee memberikan tepuk
Satu tahun kemudian...Starlee duduk di bangku santai sembari menikmati secangkir kopi. Di depannya ada Arusha dan Shashi yang tengah bermain dengan Barbara. Keberadaan Barbara benar-benar membantuk Starlee dalam merawat anak-anaknya. Ia bisa sedikit bersantai dan bisa melakukan olahraga untuk mengembalikan berat tubuhnya. Kini penampilannya sudah kembali ke sedia kala. Tidak akan ada yang menyangka bahwa ia telah melahirkan dua bayi dengan tubuhnya yang ideal itu."Hai, Starlee." Alejandro duduk di sebelah Starlee.Starlee meletakan cangkirnya. "Hai, Ale." Ia membalas sapaan Ale. "Merindukan putra-putriku atau wanita yang tengah menjaga mereka?" Starlee menggoda Ale."Menjauh dari istriku, Ale!" Suara bariton datang dari arah belakang Starlee dan Ale.Ale otomatis sedikit bergeser. Ia tahu benar sepupunya sangat protektif terhadap Starlee. Ale tidak menyalahkan Arshaka, ia juga mungkin akan seperti itu ketika Barbara menjadi miliknya.
Di dalam ruang bersalin, Arshaka terus menemani Starlee yang sudah mendekati waktu persalinan. Sudah dua jam mereka ada di ruangan itu, pembukaan Starlee hampir lengkap.Rasa sakit menyapa Starlee tiap menitnya. Wanita itu terkadang menangis karena terlalu sakit. Arshaka menjadi pucat ketika melihat istrinya seperti itu. Ia tidak tahan mendengar ringisan dan tangis Starlee.Sebelumnya Arshaka meminta Starlee untuk melahirkan secara caesar tapi Starlee tidak mau. Istrinya ingin melahirkan secara normal.Dokter masuk memeriksa pembukaan Starlee lagi. "Pembukaan sudah lengkap. " Dokter itu memberitahu setelah memeriksa Starlee.Arshaka masih setia menemani Starlee yang kini sedang mengikuti insturksi dari dokter kandungan. Ia mengejan ketika waktunya tiba, tapi percobaan pertamanya masih belum membuat anaknya lahir.Starlee mengambil napas lagi. Ia mengejan lagi, setelah itu suara tangis terdengar. Anak pertama Starlee dan Arshaka telah lahir, disusul


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais