Mag-log in
“Zeline sudah kembali. Sebentar lagi aku akan menemaninya melihat lokasi yang dia inginkan untuk membangun sebuah butik.”
Ucapan suaminya, Oliver Osbourne sebagai seorang Duke, menghentikan segala pergerakan Aubrey. Bahkan napasnya pun terhenti sejenak.
“Zeline?” ulang Aubrey seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Begitu mudah Oliver menyebut nama itu di depannya.
Zelina adalah putri dari kepala pelayan di rumah keluarga Osbourne, yang tumbuh besar bersama dan menjadi teman dekat Oliver.
Satu tahun lalu, Oliver nyaris tertimpa batang pohon besar tapi Zeline menyelamatkan Oliver dengan mendorong Oliver sehingga kaki Zeline menderita cedera parah dan membuatnya tak bisa berjalan.
Sebagai ucapan rasa terima kasih, orang tua Oliver membiayai pengobatan Zeline serta menikahkan Zeline dengan seorang pria yang baik dan mapan dan itu berarti Zeline pergi ke wilayah negara lain untuk memulai kehidupan barunya.
Semua itu terjadi satu tahun lalu, beberapa minggu sebelum orang tua Oliver mendatangi kediaman Aubrey dan melamarnya untuk menikah dengan Oliver.
Aubrey menerimanya karena dia memang sudah lama menyukai Oliver. Karena siapa yang tidak? Nama Oliver terkenal di kalangan nona bangsawan.
Ini membuat Aubrey menerima pernikahannya meskipun selama satu tahun ini, cintanya belum terbalas sedikit pun.
Namun ... apa tadi kata Oliver?
“Membangun sebuah butik?” tanya Aubrey lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam nan dingin.
Wow! Luar biasa!
Seorang gadis jelata yang telah bersuami, meminta suaminya yang seorang Duke, untuk bertemu dan menemaninya melihat lokasi butik?
Dan paling luar biasanya lagi, sudah dia tidak diajak, dia malah mendapat pelototan marah dari Oliver!
“Dia sudah sembuh,” ujar Oliver lagi seakan menjawab pertanyaan yang berterbangan di benak Aubrey, meski belum terucap.
Aubrey terperangah.
“Sudah bisa berjalan?” tanya Aubrey masih mencerna apa sebenarnya maksud Oliver.
Bagaimana mungkin Zeline yang satu tahun lalu terluka dan lumpuh, kini sudah sembuh?
Tatapan dingin kembali menusuknya sebelum Oliver menjawabnya lagi, kali ini dengan desisan yang penuh penekanan. “Dia berobat dan menjalani terapi. Sudah pasti sembuh. Apa kau mengharapkannya tidak pernah sembuh? Dan oh ya ... dia juga sudah bercerai.”
Aubrey seperti disengat lebah.
Zeline, yang secara halus disingkirkan orang tua Oliver agar tidak terus membuat hati Oliver terpaku padanya, kini kembali dengan tubuh yang sudah normal kembali dan status yang kembali single!
Lucunya ... tidak, ini tidak lucu tapi miris. Mirisnya, di hati Oliver kepergian Zeline satu tahun lalu membuahkan penyesalan mendalam baginya karena tak mampu memperjuangkan Zeline.
Sekarang Zeline kembali, Oliver melihatnya sebagai kesempatan baginya untuk sungguh-sungguh memperjuangkannya kali ini.
Segala tenaga Aubrey seakan menguap menyisakan tubuhnya yang terasa tak berdaya. Tapi dia masih menyahuti Oliver, “Tapi kau masih terikat pernikahan denganku!”
Sudah bisa ditebak Aubrey, Oliver marah. Dia bangkit dan memukul meja.
Brak!
“Apa maksudmu? Kau menuduhku selingkuh dengannya? Jangan berpikiran picik!”
“Aku tidak menuduh! Aku hanya mengingatkan statusmu. Dia sudah single, tapi kau tidak single, Oliver!”
Oliver semakin tersinggung. “Kau pikir aku akan serendah dirimu, hanya melihat teman lama kembali dalam keadaan single lalu langsung selingkuh? Aku tidak serendah pikiranmu!"
Dengan kedua mata melotot lebar seakan ingin keluar untuk menerkamnya, Oliver berkata lagi, "Atau ... kau sebenarnya begitu ingin aku berselingkuh sehingga terus menuduhku agar aku pada akhirnya melakukan hal yang terus-terusan kau tuduhkan ini?”
Aubrey tak habis pikir mendengar argumen Oliver.
“Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Tidak ada seorang istri pun yang mengharapkan suaminya selingkuh!”
“Kalau tidak mengharapkan maka ...” Oliver tiba-tiba saja sudah di hadapan Aubrey lalu mencekal rahangnya.
Sakit ....!
Tapi Aubrey menahannya. Dia tak mau dirinya lagi-lagi kalah hanya karena disakiti secara fisik.
Aubrey menahan cengkeraman tangan Oliver sampai air matanya merembes di pelupuk mata.
Oliver berbisik dalam desisan mengerikan. “Kalau tidak mengharapkan maka jangan membahas itu terus menerus. Sekali lagi aku mendengarmu menuduhku seperti tadi, aku akan menganggap kau mengharapkan hal seperti itu menjadi kenyataan!”
Oilver menghentak wajah Aubrey dengan rautnya yang penuh kebencian.
Selama satu tahun menjadi istri Oliver, Aubrey sadar bagi Oliver dirinya hanyalah sebuah simbol status sepadan yang dipaksakan orang tua padanya.
Karena Zeline tak sepadan untuk Oliver.
Namun, Zeline lah yang mengisi hati Oliver.
Satu tahun Aubrey berusaha mencuri hati Oliver, tapi ini yang didapatnya.
Menahan rasa sakit di rahangnya Aubrey membalas tatapan marah Oliver.
Namun, dia hanya mendapati punggung Oliver yang kini menjauh dengan cepat dan menghilang di balik pintu .
Sesak terasa melilit di hati Aubrey.
Butik ...
Apakah Oliver yang memodali butiknya? Ini sungguh tidak adil!
Sedangkan dirinya selama satu tahun menjadi istri Oliver, jangankan diajak melihat lokasi bisnis untuknya, Aubrey bahkan tak pernah bepergian berdua saja dengan Oliver!
Setiap mendapatkan undangan pesta atau jamuan makan malam, Oliver tidak pernah mengajaknya. Dia bahkan tak merasa malu setiap orang-orang menanyakannya kenapa datang sendiri.
Oliver dengan santai akan menjawab bahwa Duchess Aubrey seorang wanita penyendiri yang sangat menikmati menghabiskan waktunya seorang diri, ketimbang berada di acara dengan banyak orang.
Setiap memikirkan ini, Aubrey merasa dadanya sesak dan begitu perih.
Air mata menggenang di pelupuk matanya karena sakit di rahangnya sudah merambat ke hati.
‘Aku juga bisa membuatmu marah, Oliver!’ gumam Aubrey yang entah mengapa tak bisa menahannya lagi kali ini.
Dia keluar dan menuju ke istal kuda. Dia melihat Velvet, kuda yang baru dibeli Oliver dengan harga sangat tinggi beberapa minggu lalu.
“Bawa keluar Velvet,” ujarnya pada penjaga istal.
“Nyonya mau menaikinya?” tanya penjaga istal dengan sedikit was-was.
“Iya.”
“Tapi Velvet kan masih dalam pelatihan. Dia belum sepenuhnya jinak, Nyonya.”
“Tidak apa. Aku bisa mengatasinya.”
Saat ini satu hal yang sangat tidak diinginkan Aubrey adalah mendengar penolakan atas permintaannya. Dia sengaja memakai Velvet karena Oliver sendiri belum menunggangi Velvet sama sekali.
Membayangkan betapa marahnya Oliver jika dia menunggangi Velvet untuk pertama kali, Aubrey merasa cukup puas.
Ketika penjaga istal mengeluarkan Velvet, Aubrey menaiki pungung kuda hitam legam itu.
Detik berikutnya, Velvet sudah melesat dan membawanya ke perbukitan hijau di belakang villa.
Terjangan Velvet melompati lahan demi lahan dengan begitu gesit. Awalnya itu semua membuat Aubrey merasakan pelampiasan.
Aubrey menikmati lonjakan Velvet yang membawa angin dingin menerpa wajahnya yang menahan perih dari hatinya.
Namun tiba-tiba … tetes hujan turun mengenai mata Velvet dan membuat kuda itu terkejut.
Velvet yang sedang meloncat tinggi tiba-tiba merontak kuat dan Aubrey terpental dari punggung kuda itu.
Tubuhnya melayang di udara lalu jatuh beberapa meter dari tempat Velvet melengking tadi. Aubrey sudah bersiap merasakan sakitnya tanah yang keras.
Tapi ternyata dia malah mendarat di sesuatu yang kokoh tapi tidak terasa menyakitkan di tubuhnya.
Mata keperakannya mencaritahu namun tatapannya malah beradu dengan sepasang mata yang tajam namun menyorot pekat dan dalam sedang memandanginya.
Aubrey yang seakan tersedot akan tatapan pekat dan dalam itu tanpa sadar menjelajah tubuh pria itu dengan seksama.
Wajahnya sangat jantan dengan mata yang bercekung dalam dan sorot yang tajam, hidung yang juga mancung, serta sedikit rambut tipis di garis rahangnya membuatnya tampak maskulin yang tak terbantahkan.
Pandangan Aubrey lalu menuruni kulit kecoklatan sarat sinar matahari yang mencetak jelas otot kokoh di baliknya.
Leher pria itu terlihat kokoh, liat, dan kencang, semakin menambah kemaskulinannya.
Lalu tatapannya semakin turun dan barulah Aubrey sadari bahwa pria itu ... bertelanjang dada!
Telapak tangannya dengan santai menempel di dada kokoh pria itu!
“Aargh! Siapa kau?” seru Aubrey sambil bangkit dari tubuh pria itu, membersihkan sisa-sisa pelukan pria tanpa pakaian itu dari gaunnya, lalu memelototi pria itu seakan-akan pria itulah yang jatuh lalu menindih tubuhnya.
“Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan
“Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.
“Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.
Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan
Mendengar kedatangan tamu besar, Aubrey dan Margareth segera bersiap untuk menyambut.Tapi Alfred mendorong mereka.“Kalian tidak perlu ke depan! Cukup aku dan Jane!”Aubrey tak terima. “Apa? Mana bisa begitu! Kami ini keluargamu yang tercatat hukum!”“Diam! Ini masih rumahku! Masih bagus aku tidak mengusir kalian!”Baik Aubrey maupun Avery kehilangan kata-katanya. Margareth pun juga tak tahan untuk menghadapi Alfred. Dia hanya melotot dan Alfred merangkul Lady Jane untuk menuju ruang depan.“Siapa yang datang, Ave?” tanya Aubrey begitu ayah mereka sudah ke depan.Mereka duduk di teras belakang, berusaha menenangkan diri setelah tingkah laku tidak pantas Lady Jane.“Tidak tahu. Tapi ... iring-iringannya sangat banyak. Tidak pernah sebelumnya kita kedatangan tamu seperti ini.Lalu ... keretanya juga sangat bagus.”Di ruang depan, Alfred dan Lady Jane menyambut di pintu.Begitu kereta tiba tepat di halaman depan mansion, para pengawal turun duluan untuk membukakan pintu bagi tuan mereka
Di kediaman Caldwell ...Aubrey menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia terus-terusan lapar. Dan masa periode nya pun tak kunjung tiba.Masalahnya, lapar yang ia rasakan terasa menusuk-nusuk sekali. Ini jelas bukan sekadar lapar biasa. Apalagi ia selalu menuruti rasa laparnya dengan makan apapun yang dia inginkan.Tapi tetap saja, satu jam kemudian, ia sudah lapar menusuk-nusuk lagi di perutnya.Apakah ia telah berubah menjadi wanita yang rakus yang tak bisa mengontrol lagi nafsu makannya? Aubrey bergidik memikirkan itu. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.Dielusnya perut ratanya itu.Beberapa minggu terakhir ini juga dia kerap menginginkan gaun yang longgar untuk dipakai. Sekalipun gaun ketat masih muat di tubuhnya, Aubrey merasa gaun itu menyesakkan pernapasannya.Gaun longgar barulah melegakan.Tapi ada apa gerangan?Dengan kuas di tangan, ia menggambar pakaian jas pria. Tapi alih-alih merancang model baru, ia malah menggambar utuh beserta dengan pria-nya. Wajah yang nam







