LOGIN“Hei ... kau yang siapa, Nona?” tanya Edgar dengan suara beratnya yang terdengar sinis dan kesal.
Dia yang ditindih, tapi dia juga yang dibentak. Yang benar saja!
Padahal, punggungnya sendiri terasa lecet-lecet akibat menjadi bantalan empuk wanita ini mendarat.
Dari sudut matanya, dia sudah melihat nona ini mengibaskan gaunnya lalu berkacak pinggang menatap tajam padanya.
Ck, ck, wanita aneh. Menunggangi kuda memakai gaun!
Sedangkan suara Aubrey di depannya terdengar terkejut.
“Apa? Nona?”
Setiap pergerakan Aubrey terhenti mendengar dirinya dipanggil nona.
Ada sedikit rasa tak senang terpancar di sana. Tapi hanya sedetik, setelahnya langsung hilang, digantikan dengan keangkuhan yang pekat.
“Siapa aku, apa urusanmu?” sahutnya dengan dagu terangkat.
Edgar pun hanya mendeliknya tajam dengan hatinya yang mendengus kesal.
"Bukankah kau yang pertama kali menanyakan siapa aku? Lagipula kau yang tiba-tiba menindihku! Kalau aku mau melaporkanmu ke pengadilan, aku bisa!”
Aubrey mendengus tak percaya mendengarnya. Melaporkan ke pengadilan hanya karena dia terjatuh tak sengaja di dada pria ini?
Yang benar saja!
Lalu Edgar berkata lagi, “Kalau kau mau tahu, ada baiknya kau memperkenalkan dirimu dulu. Karena mau dilihat dari manapun, kau lah yang jatuh dan menindih tubuhku!"
Apa yang Edgar katakan sudah cukup rinci, tapi ternyata Aubrey masih juga tak senang.
Gadis itu malah memicing tajam padanya.
"Aku jatuh, tidak sengaja menindihmu karena kau ada di tempatku jatuh. Andai kau tidak berada tepat di tempat aku akan jatuh, maka aku tidak akan menindihmu!"
Edgar terperangah mendengar logika nona muda di depannya ini. Semakin dia berpikir, semakin tak habis pikir dia mencerna argumen gadis ini.
Dia pun menjawabnya kesal, "Bukan itu poinnya! Tapi ... jika aku tidak di sini, kau akan jatuh ke tanah dan bisa terluka! Kau seharusnya berterima kasih padaku!"
Aubrey semakin memelototinya karena pria itu secara tak langsung mengharapkan ucapan terima kasih darinya. Urgh!
Tiba-tiba hujan yang tadi hanya setetes dua tetes, tiba-tiba semakin menjadi.
Aubrey berteriak sambil mencari-cari tempat berteduh. “Hujan? Astaga, hujannya semakin deras. Aduuuuh, gaunku basah! Aku mau berteduh!”
Dia terlihat panik sedangkan Edgar yang mendengarkannya hanya diam di tempatnya.
Bukannya lekas mencarikan tempat berteduh, Edgar malah menonton tingkah laku Aubrey yang menurutnya sangat lucu.
Apakah nona muda ini porselen yang belum kering, yang jika terkena air dia akan meleleh? Takut sekali pada hujan ....
Edgar pun mendengus kecil.
Kemudian, setelah lumayan puas menonton tingkah lucu Aubrey, Edgar pun mengejarnya lalu menarik tangannya.
Aubrey mengikuti langkah Edgar menuju kaki bukit terdekat, hingga mereka berteduh di teras sebuah rumah sederhana. Di belakang rumah itu adalah hutan.
Aubrey mengebas gaunnya yang basah kuyup sambil bertanya-tanya dalam hatinya apakah rumah ini dimiliki seseorang. Sedangkan Edgar sudah masuk ke dalam.
Dengan langkah ragu-ragu Aubrey menyusul dan melihat Edgar sedang menyalakan perapian.
Angin menjadi semakin kencang dan hujan sudah sangat deras.
Terpaksa Aubrey ikut masuk dengan gaun yang basah kuyup. Lagipula dia gemetar kedinginan.
“Apakah ini rumahmu?” tanyanya sambil memandangi sekeliling. Yang dianggapnya rumah sederhana ternyata tidaklah kecil dan tidaklah sederhana.
Sepasang mata Aubrey bisa melihat rumah ini tertata rapi dengan perabotan yang lebih dari cukup untuk sekadar sebuah pondok di dalam hutan. Lantainya terbuat dari kayu Eboni yang gelap, halus, dan mengkilap. Ini jelas bukan rumah sederhana biasa.
“Iya. Selamat datang di pondokku. Silakan masuk dan silakan duduk. Hangatkan dirimu, keringkan gaunmu.”
Selesai mengatakan semua itu, Edgar bangkit lalu menoleh ke arah Aubrey.
Dia menjelajah tubuh Aubrey yagn kini tercetak jelas di gaun basahnya.
Aubrey ingin sekali menutupi tubuhnya. Tapi dia malu jika sampai kentara merasa tidak nyaman hanya karena dipandangi begitu saja.
Jadi, Aubrey membiarkan. Bersikap seakan lekuk tubuhnya tidak terlihat.
“Duduklah di sini. Aku akan membuatkanmu minuman hangat,” ujar Edgar lagi sambil menepuk sebuah kursi malas yang melengkung.
Aubrey menurutinya. Dia duduk di kursi malas bergoyang itu untuk menghangatkan dirinya.
Giginya sudah bergemeletuk tapi kini berangsur normal kembali karena kehangatan yang mulai memeluk dirinya.
Tak lama kemudian, minuman itu datang.
“Ini ...” Edgar mengangsurkan sebuah gelas dengan cairan di dalamnya masih mengepulkan asap.
“Apa ini?” tanya Aubrey sambil memandangi minuman, membauinya, lalu memicing curiga.
“Itu coklat panas. Tidak pernah minum beginian?” sindirnya.
Picingan mata Aubrey masih sama saat dia menjawab terus terang, “Aku hanya takut dibubuhi sesuatu.”
Edgar mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa aku membubuhi sesuatu di minumanmu?"
Suaranya tidak marah, tapi dia cukup tercengang akan pikiran buruk Aubrey.
"Ya, siapa yang tahu isi hati pria ...." Suara Aubrey cukup ketus karena di benaknya, pria yang disebutnya merujuk pada Oliver.
“Ya ampuuun ...," gumam Edgar lirih, tapi Aubrey masih bisa mendengarnya.
Lalu pria itu bertanya lagi, "Kau mau aku membuktikannya?”
“Bagaimana caranya? Kan bisa saja kalau gelasmu bersih, tapi gelasku yang ada sesuatunya.”
Lagi-lagi Edgar merasa jawaban itu terlalu menusuk hatinya. Dia ingin tersinggung, tapi juga ingin tertawa. Betapa rendah level kejahatannya jika hanya begini.
“Hmm. Aku sudah meminum dari gelasku. Kau melihatnya sendiri tadi. Kalau begitu, tinggal buktikan yang ada di gelasmu. Kesinikan gelasmu, aku akan meminumnya juga sebagai bukti aku tidak pernah menaruh racun di minumanmu. Setelah itu, kau bisa meminum ... bekasku.”
Mendengar itu, Aubrey semakin menyipitkan matanya memandangi Edgar.
Tentu saja hatinya berat ketika menyadari bahwa dia harus meminum bekas pria itu hanya untuk pembuktian.
Pada akhirnya, Aubrey menyahutinya, sambil mengangkat dagunya.
“Akal sehatku sudah memutuskan bahwa tidak ada untungnya buatmu jika membubuhkan sesuatu di minumanku. Lagipula, pelayanku akan mencariku jika dalam satu jam aku tidak kembali.”
Dia pun meneguk coklat panas itu perlahan dengan gaya elegan.
Ternyata coklat ini sangat lezat. Perpaduan manis dan pahitnya sangat pas.
Aubrey sangat terpukau, tapi tiba-tiba ...
"Hei, hei, jangan minum ... Ada racun yang tumpah di sana ...," seru Edgar secara mendadak. Sontak saja Aubrey langsung tersedak dan terbatuk-batuk parah.
Melihat itu, Edgar tergelak puas dalam tawa.
Dan Aubrey hanya bisa melotot padanya sambil meredakan batuk.
---
Satu jam sudah berlalu tapi hujan tidak juga reda.
Edgar melirik jam lalu melirik Aubrey yang kini melamun di kursi goyang.
Gaunnya sudah kering.
Entah ini hanya perasaannya saja atau efek kilatan api dari perapian, Edgar merasa wajah Aubrey terlihat murung dan memendam kesedihan mendalam.
Ingin Edgar bertanya, tapi hati kecilnya berkata itu bukan urusannya.
Mereka bahkan tidak bicara sama sekali selama satu jam dan belum memperkenalkan nama masing-masing. Tapi Edgar tak tahan lagi dengan keheningan di antara mereka.
“Sudah satu jam. Mana pelayanmu?” tanya Edgar seakan menyindir Aubrey.
Wanita itu menoleh untuk menatap pada Edgar yang duduk di kursi rotan tak jauh darinya. Pria itu memajukan tubuhnya saat bicara pada Aubrey.
Aubrey lalu mengangkat dagunya lagi sebelum menjawab Edgar.
“Hujan deras. Aku bukan nona muda kejam yang memaksa pelayanku mencariku di tengah hujan deras.”
“Well ... Bukankah kau tadinya berkuda? Tidakkah pelayanmu akan berpikiran buruk jika berkuda di cuaca seperti ini?”
Mendengar pertanyaan ini, Aubrey tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mendelik kesal pada Edgar.
Karena Aubrey mengetahui dengan jelas bahwa pelayannya takkan mencarinya. Tapi bukan itu yang membuat hatinya miris.
Aubrey sangat paham kenyataan bahwa suaminya bahkan tidak mengetahui kepergiannya karena sibuk menemani pujaan hati yang tak bisa ia lupakan.
Bahkan kalau pun tahu, Oliver pastilah takkan mau repot-repot mencarinya di hujan badai seperti ini.
Itulah yang menjadi belati tak terlihat yang menancap di hatinya.
“Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben
Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib
Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la
Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati
“Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,







