Share

Chapter 002

Author: Chani yoh
last update publish date: 2026-07-28 11:36:39

“Hei ... kau yang siapa, Nona?” tanya Edgar dengan suara beratnya yang terdengar sinis dan kesal.

Dia yang ditindih, tapi dia juga yang dibentak. Yang benar saja!

Padahal, punggungnya sendiri terasa lecet-lecet akibat menjadi bantalan empuk wanita ini mendarat.

Dari sudut matanya, dia sudah melihat nona ini mengibaskan gaunnya lalu berkacak pinggang menatap tajam padanya.

Ck, ck, wanita aneh. Menunggangi kuda memakai gaun!

Sedangkan suara Aubrey di depannya terdengar terkejut.

“Apa? Nona?”

Setiap pergerakan Aubrey terhenti mendengar dirinya dipanggil nona.

Ada sedikit rasa tak senang terpancar di sana. Tapi hanya sedetik, setelahnya langsung hilang, digantikan dengan keangkuhan yang pekat.

“Siapa aku, apa urusanmu?” sahutnya dengan dagu terangkat.

Edgar pun hanya mendeliknya tajam dengan hatinya yang mendengus kesal.

"Bukankah kau yang pertama kali menanyakan siapa aku? Lagipula kau yang tiba-tiba menindihku! Kalau aku mau melaporkanmu ke pengadilan, aku bisa!”

Aubrey mendengus tak percaya mendengarnya. Melaporkan ke pengadilan hanya karena dia terjatuh tak sengaja di dada pria ini?

Yang benar saja!

Lalu Edgar berkata lagi, “Kalau kau mau tahu, ada baiknya kau memperkenalkan dirimu dulu. Karena mau dilihat dari manapun, kau lah yang jatuh dan menindih tubuhku!"

Apa yang Edgar katakan sudah cukup rinci, tapi ternyata Aubrey masih juga tak senang.

Gadis itu malah memicing tajam padanya.

"Aku jatuh, tidak sengaja menindihmu karena kau ada di tempatku jatuh. Andai kau tidak berada tepat di tempat aku akan jatuh, maka aku tidak akan menindihmu!"

Edgar terperangah mendengar logika nona muda di depannya ini. Semakin dia berpikir, semakin tak habis pikir dia mencerna argumen gadis ini.

Dia pun menjawabnya kesal, "Bukan itu poinnya! Tapi ... jika aku tidak di sini, kau akan jatuh ke tanah dan bisa terluka! Kau seharusnya berterima kasih padaku!"

Aubrey semakin memelototinya karena pria itu secara tak langsung mengharapkan ucapan terima kasih darinya. Urgh!

Tiba-tiba hujan yang tadi hanya setetes dua tetes, tiba-tiba semakin menjadi.

Aubrey berteriak sambil mencari-cari tempat berteduh. “Hujan? Astaga, hujannya semakin deras. Aduuuuh, gaunku basah! Aku mau berteduh!”

Dia terlihat panik sedangkan Edgar yang mendengarkannya hanya diam di tempatnya.

Bukannya lekas mencarikan tempat berteduh, Edgar malah menonton tingkah laku Aubrey yang menurutnya sangat lucu.

Apakah nona muda ini porselen yang belum kering, yang jika terkena air dia akan meleleh? Takut sekali pada hujan ....

Edgar pun mendengus kecil.

Kemudian, setelah lumayan puas menonton tingkah lucu Aubrey, Edgar pun mengejarnya lalu menarik tangannya.

Aubrey mengikuti langkah Edgar menuju kaki bukit terdekat, hingga mereka berteduh di teras sebuah rumah sederhana. Di belakang rumah itu adalah hutan.

Aubrey mengebas gaunnya yang basah kuyup sambil bertanya-tanya dalam hatinya apakah rumah ini dimiliki seseorang. Sedangkan Edgar sudah masuk ke dalam.

Dengan langkah ragu-ragu Aubrey menyusul dan melihat Edgar sedang menyalakan perapian.

Angin menjadi semakin kencang dan hujan sudah sangat deras.

Terpaksa Aubrey ikut masuk dengan gaun yang basah kuyup. Lagipula dia gemetar kedinginan.

“Apakah ini rumahmu?” tanyanya sambil memandangi sekeliling. Yang dianggapnya rumah sederhana ternyata tidaklah kecil dan tidaklah sederhana.

Sepasang mata Aubrey bisa melihat rumah ini tertata rapi dengan perabotan yang lebih dari cukup untuk sekadar sebuah pondok di dalam hutan. Lantainya terbuat dari kayu Eboni yang gelap, halus, dan mengkilap. Ini jelas bukan rumah sederhana biasa.

“Iya. Selamat datang di pondokku. Silakan masuk dan silakan duduk. Hangatkan dirimu, keringkan gaunmu.”

Selesai mengatakan semua itu, Edgar bangkit lalu menoleh ke arah Aubrey.

Dia menjelajah tubuh Aubrey yagn kini tercetak jelas di gaun basahnya.

Aubrey ingin sekali menutupi tubuhnya. Tapi dia malu jika sampai kentara merasa tidak nyaman hanya karena dipandangi begitu saja.

Jadi, Aubrey membiarkan. Bersikap seakan lekuk tubuhnya tidak terlihat.

“Duduklah di sini. Aku akan membuatkanmu minuman hangat,” ujar Edgar lagi sambil menepuk sebuah kursi malas yang melengkung.

Aubrey menurutinya. Dia duduk di kursi malas bergoyang itu untuk menghangatkan dirinya.

Giginya sudah bergemeletuk tapi kini berangsur normal kembali karena kehangatan yang mulai memeluk dirinya.

Tak lama kemudian, minuman itu datang.

“Ini ...” Edgar mengangsurkan sebuah gelas dengan cairan di dalamnya masih mengepulkan asap.

“Apa ini?” tanya Aubrey sambil memandangi minuman, membauinya, lalu memicing curiga.

“Itu coklat panas. Tidak pernah minum beginian?” sindirnya.

Picingan mata Aubrey masih sama saat dia menjawab terus terang, “Aku hanya takut dibubuhi sesuatu.”

Edgar mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa aku membubuhi sesuatu di minumanmu?"

Suaranya tidak marah, tapi dia cukup tercengang akan pikiran buruk Aubrey.

"Ya, siapa yang tahu isi hati pria ...." Suara Aubrey cukup ketus karena di benaknya, pria yang disebutnya merujuk pada Oliver.

“Ya ampuuun ...," gumam Edgar lirih, tapi Aubrey masih bisa mendengarnya.

Lalu pria itu bertanya lagi, "Kau mau aku membuktikannya?”

“Bagaimana caranya? Kan bisa saja kalau gelasmu bersih, tapi gelasku yang ada sesuatunya.”

Lagi-lagi Edgar merasa jawaban itu terlalu menusuk hatinya. Dia ingin tersinggung, tapi juga ingin tertawa. Betapa rendah level kejahatannya jika hanya begini.

“Hmm. Aku sudah meminum dari gelasku. Kau melihatnya sendiri tadi. Kalau begitu, tinggal buktikan yang ada di gelasmu. Kesinikan gelasmu, aku akan meminumnya juga sebagai bukti aku tidak pernah menaruh racun di minumanmu. Setelah itu, kau bisa meminum ... bekasku.”

Mendengar itu, Aubrey semakin menyipitkan matanya memandangi Edgar.

Tentu saja hatinya berat ketika menyadari bahwa dia harus meminum bekas pria itu hanya untuk pembuktian.

Pada akhirnya, Aubrey menyahutinya, sambil mengangkat dagunya.

“Akal sehatku sudah memutuskan bahwa tidak ada untungnya buatmu jika membubuhkan sesuatu di minumanku. Lagipula, pelayanku akan mencariku jika dalam satu jam aku tidak kembali.”

Dia pun meneguk coklat panas itu perlahan dengan gaya elegan. 

Ternyata coklat ini sangat lezat. Perpaduan manis dan pahitnya sangat pas.

Aubrey sangat terpukau, tapi tiba-tiba ...

"Hei, hei, jangan minum ... Ada racun yang tumpah di sana ...," seru Edgar secara mendadak.  Sontak saja Aubrey langsung tersedak dan terbatuk-batuk parah.

Melihat itu, Edgar tergelak puas dalam tawa.

Dan Aubrey hanya bisa melotot padanya sambil meredakan batuk.

 ---

Satu jam sudah berlalu tapi hujan tidak juga reda.

Edgar melirik jam lalu melirik Aubrey yang kini melamun di kursi goyang.

Gaunnya sudah kering.

Entah ini hanya perasaannya saja atau efek kilatan api dari perapian, Edgar merasa wajah Aubrey terlihat murung dan memendam kesedihan mendalam.

Ingin Edgar bertanya, tapi hati kecilnya berkata itu bukan urusannya.

Mereka bahkan tidak bicara sama sekali selama satu jam dan belum memperkenalkan nama masing-masing. Tapi Edgar tak tahan lagi dengan keheningan di antara mereka.

“Sudah satu jam. Mana pelayanmu?” tanya Edgar seakan menyindir Aubrey.

Wanita itu menoleh untuk menatap pada Edgar yang duduk di kursi rotan tak jauh darinya. Pria itu memajukan tubuhnya saat bicara pada Aubrey.

Aubrey lalu mengangkat dagunya lagi sebelum menjawab Edgar.

“Hujan deras. Aku bukan nona muda kejam yang memaksa pelayanku mencariku di tengah hujan deras.”

“Well ... Bukankah kau tadinya berkuda? Tidakkah pelayanmu akan berpikiran buruk jika berkuda di cuaca seperti ini?”

Mendengar pertanyaan ini, Aubrey tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa mendelik kesal pada Edgar.

Karena Aubrey mengetahui dengan jelas bahwa pelayannya takkan mencarinya. Tapi bukan itu yang membuat hatinya miris.

Aubrey sangat paham kenyataan bahwa suaminya bahkan tidak mengetahui kepergiannya karena sibuk menemani pujaan hati yang tak bisa ia lupakan. 

Bahkan kalau pun tahu, Oliver pastilah takkan mau repot-repot mencarinya di hujan badai seperti ini.

Itulah yang menjadi belati tak terlihat yang menancap di hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Beritahu Aku?

    “Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Adakah Yang Harus Kau Sampaikan?

    “Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Aubrey Putriku!

    “Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Di Mana Dia?

    Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Bersama Selingkuhannya!

    Mendengar kedatangan tamu besar, Aubrey dan Margareth segera bersiap untuk menyambut.Tapi Alfred mendorong mereka.“Kalian tidak perlu ke depan! Cukup aku dan Jane!”Aubrey tak terima. “Apa? Mana bisa begitu! Kami ini keluargamu yang tercatat hukum!”“Diam! Ini masih rumahku! Masih bagus aku tidak mengusir kalian!”Baik Aubrey maupun Avery kehilangan kata-katanya. Margareth pun juga tak tahan untuk menghadapi Alfred. Dia hanya melotot dan Alfred merangkul Lady Jane untuk menuju ruang depan.“Siapa yang datang, Ave?” tanya Aubrey begitu ayah mereka sudah ke depan.Mereka duduk di teras belakang, berusaha menenangkan diri setelah tingkah laku tidak pantas Lady Jane.“Tidak tahu. Tapi ... iring-iringannya sangat banyak. Tidak pernah sebelumnya kita kedatangan tamu seperti ini.Lalu ... keretanya juga sangat bagus.”Di ruang depan, Alfred dan Lady Jane menyambut di pintu.Begitu kereta tiba tepat di halaman depan mansion, para pengawal turun duluan untuk membukakan pintu bagi tuan mereka

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Kita Kedatangan Tamu

    Di kediaman Caldwell ...Aubrey menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia terus-terusan lapar. Dan masa periode nya pun tak kunjung tiba.Masalahnya, lapar yang ia rasakan terasa menusuk-nusuk sekali. Ini jelas bukan sekadar lapar biasa. Apalagi ia selalu menuruti rasa laparnya dengan makan apapun yang dia inginkan.Tapi tetap saja, satu jam kemudian, ia sudah lapar menusuk-nusuk lagi di perutnya.Apakah ia telah berubah menjadi wanita yang rakus yang tak bisa mengontrol lagi nafsu makannya? Aubrey bergidik memikirkan itu. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.Dielusnya perut ratanya itu.Beberapa minggu terakhir ini juga dia kerap menginginkan gaun yang longgar untuk dipakai. Sekalipun gaun ketat masih muat di tubuhnya, Aubrey merasa gaun itu menyesakkan pernapasannya.Gaun longgar barulah melegakan.Tapi ada apa gerangan?Dengan kuas di tangan, ia menggambar pakaian jas pria. Tapi alih-alih merancang model baru, ia malah menggambar utuh beserta dengan pria-nya. Wajah yang nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status