LOGIN“Hujan sudah berhenti, aku akan kembali,” ujar Aubrey ketika langit telah cerah dan tetes hujan pun sudah jarang terlihat.
Edgar yang baru saja mempersiapkan roti untuk dipanggang agar bisa mereka makan bersama, bangkit dan mendekati Aubrey.
Dia ikut melihat ke luar jendela.
“Ya ... sayang sekali. Baru juga aku mau memanggang roti untukmu,” katanya dengan raut wajah tak menyesal sama sekali.
Cibiran pun muncul di wajah Aubrey untuk Edgar.
“Kalau memang niat, kau melakukannya sedari tadi,” ujarnya menyindir. "Aku terjebak di sini selama tiga jam!"
Edgar tersenyum miring sehingga ketampanannya terlihat urakan tapi maskulin. Terjebak tiga jam, meskipun tidak banyak bercerita, hubungan mereka melesat dalam hal kedekatan.
Aubrey sudah menanggalkan tata krama bangsawannya dalam menghadapi Edgar dan Edgar pun tidak lagi sesinis awal tadi. Dia mulai ramah dan menerima Aubrey seperti selayaknya seorang teman.
“Nanti kau takut aku membubuhkan sesuatu lagi.”
Kali ini Aubrey tergelak dalam tawa, meskipun hanya gelak tertahan. Tapi Edgar menyadari baru ini Aubrey tertawa.
Dan dia ternyata ... cantik sekali saat tertawa.
Edgar sampai tak berkedip dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Aubrey.
Ketika Aubrey menyadarinya, tawa itu langsung lenyap dan berganti raut angkuh kembali dengan dagu yang terangkat.
“Apa yang kau lihat?”
“Hm?” Edgar menyadari bahwa dia sudah memandangi tanpa kedip sekian lama. Dia langsung beralih, “Tidak ada. Ngomong-ngomong, kudaku ada di belakang. Aku ambilkan dulu.”
“Kudamu? Tidak perlu! Aku pulang jalan kaki saja.”
“Jalan kaki?” Edgar mengernyit heran. “Apa kau sanggup?”
“Tentu saja aku sanggup! Begini-begini, aku bukan nona manja!”
Mendengar itu, Edgar tertawa. “Ini bukan masalah manja atau tidak. Tapi ... tempat ini terpencil dan walau aku tidak tahu di mana tempatmu, aku yakin pasti jauh sekali dari sini.”
Aubrey tak ingin berdebat sehingga dia pun mempersilakan Edgar mengambil kudanya. “Baiklah, baiklah. Aku juga senang jika bisa pulang menaiki kuda!”
Sepuluh menit kemudian, Edgar kembali dengan kuda coklat jerami. Pelana sudah terpasang dan Edgar mempersilakan Aubrey menaikinya.
Dalam sekali usaha, Aubrey sudah duduk di punggung kuda.
Namun yang tak dia sadari, tiba-tiba Edgar pun ikut naik dan duduk tepat di belakangnya. Bahkan kedua lengannya melingkari pinggang Aubrey meskipun tidak memeluknya.
“Kau! Kenapa kau ikut?”
“Aku ingin mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu! Aku sendiri saja!”
“Apa? Sendiri? Tapi ... ini kudaku ...”
“Akan kukembalikan padamu besok-besok.”
“Tidak bisa! Aku membutuhkannya setiap saat.”
Aubrey yang kesal pun menoleh ke belakang hanya untuk melemparkan delikan tajam pada Edgar.
Saat itulah nyaris saja bibirnya menyenggol bibir Edgar. Aubrey sampai terkejut dan buru-buru memundurkan wajahnya.
Astaga! Sungguh tidak lucu jika tadi mereka tanpa sengaja berciuman. Apalagi Aubrey lah yang menoleh tiba-tiba, bukan Edgar. Tak terbayang betapa memalukannya!
Meski begitu, Edgar terlihat santai seperti sebelumnya. Dia biasa saja melihat wajah Aubrey nyaris menyentuh wajahnya. Bahkan Edgar sepertinya menikmatinya dengan lebih lekat. Ini membuat Aubrey tidak nyaman.
Dia mengerjap dan cepat-cepat kembali menatap ke depan. "Baiklah kalau begitu, tolong antarkan aku!" pintanya.
Lebih baik cepat diakhiri.
"Dengan senang hati ...," ujar Edgar lalu memacu kuda dan detik berikutnya mereka sudah melaju kencang.
Udara terasa sangat segar. Edgar pun juga sudah memakai baju. Meski begitu, setiap gesekan tubuh mereka terasa seperti sesuatu yang meresahkan bagi Aubrey. Dia tak suka, tapi juga tak bisa menghindari.
Dan ketika akhirnya mereka baru mencapai pertengahan bukit Aubrey baru menyadari ternyata benar kata Edgar, jarak dari tempat Edgar ke mansion-nya sangatlah jauh.
Sepertinya kesedihannya tadi telah membuatnya merasa hanya bepergian dengan jarak dekat saja.
Ketika akhirnya bagian belakang mansion-nya sudah terlihat, Aubrey langsung meminta turun.
“Berhenti di sini saja! Aku tidak ingin penghuni rumah heboh melihatmu!” ujarnya sedikit ketus sekaligus khawatir.
“Heboh? Kenapa harus heboh? Kau tidak pernah memiliki teman pria?"
Aubrey berdecak kesal dalam hatinya atas kesimpulan asal pria di sampingnya ini.
Tapi dia malas menjelaskan. Jadilah Aubrey hanya berkata, "Ya, seperti itulah.”
Balasan dari Edgar semakin membuat Aubrey kesal. "Kasihan sekali ..."
Sontak saja Aubrey tak tahan untuk tidak memelototinya, tapi Edgar tidak menyadari itu semua.
Edgar membantunya turun dari kuda lalu menahan tali kekang kuda. Dia berniat menunggu Aubrey sampai benar-benar tiba di halaman belakang mansion-nya, barulah dia pergi dari sana.
Tapi sebelum itu, pandangan mereka kembali beradu.
“Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui namamu,” ujar Edgar seraya menatap lekat pada dua mata Aubrey yang biru keperakan.
“Namaku Aubrey,” ujarnya seraya menatap balik dengan lekat.
“Aubrey ...?” Edgar menunggu Aubrey menyebutkan nama keluarganya. Tapi wanita itu berdeham dengan dagu yang kembali diangkat.
“Cukup itu saja yang kau ketahui, oke? Bagaimana denganmu?”
Edgar pun mengedikkan bahunya, berusaha tak peduli meskipun kecewa dan penasaran.
“Namaku Edgar.”
“Edgar?” Aubrey memberinya picingan mata yang penuh kecurigaan.
“Kenapa?”
“Kau menggunakan nama Putra Mahkota ? Kalau pihak Istana mendengarnya, kau bisa dihukum!”
Aubrey mengucapkan semua itu sebagai suatu peringatan untuk Edgar. Biar bagaimana pun Oliver adalah keponakan Raja dan menempati posisi pewaris tahta di urutan ke-4, sehingga Aubrey cukup memahami seluk beluk istana.
Namun, bukannya gentar, Edgar menjawab santai.
“Namaku memang Edgar! Mungkin Pangeran Edgar lah yang meniru namaku!”
Mendengar itu, Aubrey melotot sangat lebar pada Edgar sampai-sampai wajahnya berubah lucu dan Edgar tak sanggup menahan tawa.
Tapi Aubrey amat sangat serius, dia tidak bisa bercanda jika menyangkut istana.
“Jangan bercana! Kau pikir kau siapa sampai Istana meniru namamu?”
“Ya, siapa tahu mereka mendengar namaku di suatu tempat, lalu menganggap nama Edgar sangat unik dan keren. Jadi ketika pangeran Edgar lahir, dia diberi nama Edgar.”
Aubrey kembali melotot sambil berdecak kesal. Bisa-bisanya meninggikan namanya seperti itu!
“Apa nama keluargamu kalau begitu?”
Kali ini Edgar mengangkat sebelah alisnya. Dia sudah menunggu-nunggu pertanyaan ini.
Dengan enteng Edgar menjawabnya, “Cukup Edgar saja yang perlu kau ketahui, Nona! Oke?”
Pelototan Aubrey menjadi picingan kesal lagi. Dia seperti melempar ketapel yang berbalik arah dan menyentil wajahnya. Apalagi melihat senyum kemenangan Edgar.
“Ya sudahlah kalau begitu! Sana kembali! Aku akan kembali ke villaku.”
“Baiklah, Nona Aubrey. Selamat sore. Kalau bertemu Pangeran Edgar tolong beritahu dia bahwa namanya tidak lagi satu-satunya.”
Kembali Aubrey melotot padanya untuk ke dua kalinya di tempat ini.
Edgar kembali tergelak puas sambil menaiki punggung kuda.
Tapi saat dia hendak memacu kuda, Aubrey menanyakannya lagi, “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengan tinggal di dekat hutan sana?”
“Aku penjaga hutan.”
Edgar lalu menempelkan jarinya di kening dan memberi hormat pada Aubrey. Setelah itu, Edgar benar-benar memecut kuda dan melaju pergi dari sana.
Aubrey memandangi Edgar dan kudanya yang semakin menjauh.
Sembari kembali ke villa Oliver, Aubrey mendengus lagi. “Dia benar-benar mengira aku nona muda! Sungguh bodoh!”
---
Oliver tidak kunjung pulang bahkan saat gelap mulai bersiap di ujung langit.
Aubrey berdiri di depan jendela tinggi di kamarnya, menatap ke arah pekarangan luas di bawahnya. Hatinya berharap akan melihat kereta Oliver memasuki pekarangan.
Tapi apa yang dinantinya tak kunjung muncul.
Malahan kereta keluarga Osbourne yang muncul. Aubrey bergegas mengenakan mantel resminya untuk menyambut orang tua Oliver.
“Nyonya ...” Amy, pelayan pribadinya, datang hendak memberitahu kedatangan orang tua Oliver.
“Aku tahu,” jawab Aubrey sambil berjalan mendahului Amy menuju ruang tengah.
Aubrey masuk dan langsung memberi hormat.
“Duke Othniel, Duchess Rosalie, salam hormat.”
Orang tua Oliver mengangguk.
Meski begitu, Aubrey bisa merasakan ketegangan dari mereka berdua.
Biasanya mereka datang dengan senyum lembut. Terutama Duchess Rosalie.
Tapi kali ini, mereka terlihat tegang.
Wajah Duchess Rosalie tampak kaku saat menghampiri Aubrey. Tatapannya lekat tertuju padanya, seakan menyelidiki.
Di hadapan Aubrey, setelah menghela napas dalam, dia bertanya dengan tatapan yang begitu lekat.
“Mana Oliver?”
Aubrey benar-benar kesal. Kenapa pertanyaan itu lagi yang ditanyakan Edgar. Apa juga maksudnya.Lalu, dia merasakan kekesalan yang luar biasa terhadap Edgar. Sepertinya hormon kehamilan membuat perasaannya menjadi berapi-api pada Edgar. Dan karena itu ia tidak bisa memahami pertanyaan Edgar yang tidak langsung pada intinya.Aubrey menggeleng. “Kalau kau yang perlu memberitahu sesuatu padaku, katakan saja, tidak perlu bertanya padaku.”Edgar pun menghela napasnya. Sepertinya memang dia harus bicara banyak, memberitahukan semuanya.Tapi di saat itu, Hale tiba-tiba menginterupsi dan masuk.Ia mendekat pada Edgar dan berbisik tepat di telinga sang pangeran.Aubrey tak pernah sanggup menatap mata Hale lagi karena pasti akan teringat segala tingkah lakunya bersama Edgar yang diketahui Hale.Namun, setelah bisikan dari Hale, Edgar tiba-tiba mengambil minum dan mengelap bibirnya.“Terima kasih ramah tamah kalian. Tapi aku harus segera kembali ke istana.”Edgar langsung bangkit dan pergi.Aubr
Aubrey tak mengerti kenapa dia harus kesal dengan Edgar.Bukankah Edgar mendatanginya, mencarinya, ini sudah merupakan hal yang bagus. Seharusnya seperti itu.Tapi ia sudah terlanjur marah pada Edgar. Mengingat semua hal memalukan yang pernah ia lakukan untuk Edgar dan hal-hal itu diketahui orang lain. Itu sangat membuatnya kesal.Dan rasa kesal ini begitu menusuk hatinya sehingga sesampainya di kamar, ia langsung menangis. Selain karena kesal dan marah, ia juga menyesal karena sekarang ia kehilangan kesempatan emas untuk menanyakan pada Edgar bagaimana perasaannya yang sebenarnya setelah mengetahui status dirinya.Dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka?Dia pergi meninggalkan Edgar begitu saja tanpa bertanya, apakah hubungan mereka masih bisa berlanjut.Aubrey semakin bingung dan akhirnya menangis terisak-isak sampai tertidur.Sedangkan Edgar menemui Margareth untuk berpamitan pulang.“Pangeran, tinggallah satu malam di sini. Hari sudah sangat malam. Kasihan yang lain, mereka pasti
“Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan
“Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.
“Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.
Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan







