Share

Chapter 003

Author: Chani yoh
last update publish date: 2026-07-28 11:37:13

“Hujan sudah berhenti, aku akan kembali,” ujar Aubrey ketika langit telah cerah dan tetes hujan pun sudah jarang terlihat.

Edgar yang baru saja mempersiapkan roti untuk dipanggang agar bisa mereka makan bersama, bangkit dan mendekati Aubrey.

Dia ikut melihat ke luar jendela.

“Ya ... sayang sekali. Baru juga aku mau memanggang roti untukmu,” katanya dengan raut wajah tak menyesal sama sekali.

Cibiran pun muncul di wajah Aubrey untuk Edgar.

“Kalau memang niat, kau melakukannya sedari tadi,” ujarnya menyindir. "Aku terjebak di sini selama tiga jam!"

Edgar tersenyum miring sehingga ketampanannya terlihat urakan tapi maskulin. Terjebak tiga jam, meskipun tidak banyak bercerita, hubungan mereka melesat dalam  hal kedekatan.

Aubrey sudah menanggalkan tata krama bangsawannya dalam menghadapi Edgar dan Edgar pun tidak lagi sesinis awal tadi. Dia mulai ramah dan menerima Aubrey seperti selayaknya seorang teman.

“Nanti kau takut aku membubuhkan sesuatu lagi.”

Kali ini Aubrey tergelak dalam tawa, meskipun hanya gelak tertahan. Tapi Edgar menyadari baru ini Aubrey tertawa.

Dan dia ternyata ... cantik sekali saat tertawa.

Edgar sampai tak berkedip dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Aubrey.

Ketika Aubrey menyadarinya, tawa itu langsung lenyap dan berganti raut angkuh kembali dengan dagu yang terangkat.

“Apa yang kau lihat?”

“Hm?” Edgar menyadari bahwa dia sudah memandangi tanpa kedip sekian lama. Dia langsung beralih, “Tidak ada. Ngomong-ngomong, kudaku ada di belakang. Aku ambilkan dulu.”

“Kudamu? Tidak perlu! Aku pulang jalan kaki saja.”

“Jalan kaki?” Edgar mengernyit heran. “Apa kau sanggup?”

“Tentu saja aku sanggup! Begini-begini, aku bukan nona manja!”

Mendengar itu, Edgar tertawa. “Ini bukan masalah manja atau tidak. Tapi ... tempat ini terpencil dan walau aku tidak tahu di mana tempatmu, aku yakin pasti jauh sekali dari sini.”

Aubrey tak ingin berdebat sehingga dia pun mempersilakan Edgar mengambil kudanya. “Baiklah, baiklah. Aku juga senang jika bisa pulang menaiki kuda!”

Sepuluh menit kemudian, Edgar kembali dengan kuda coklat jerami. Pelana sudah terpasang dan Edgar mempersilakan Aubrey menaikinya.

Dalam sekali usaha, Aubrey sudah duduk di punggung kuda.

Namun yang tak dia sadari, tiba-tiba Edgar pun ikut naik dan duduk tepat di belakangnya. Bahkan kedua lengannya melingkari pinggang Aubrey meskipun tidak memeluknya.

“Kau! Kenapa kau ikut?”

“Aku ingin mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu! Aku sendiri saja!”

“Apa? Sendiri? Tapi ... ini kudaku ...”

“Akan kukembalikan padamu besok-besok.”

“Tidak bisa! Aku membutuhkannya setiap saat.”

Aubrey yang kesal pun menoleh ke belakang hanya untuk melemparkan delikan tajam pada Edgar.

Saat itulah nyaris saja bibirnya menyenggol bibir Edgar. Aubrey sampai terkejut dan buru-buru memundurkan wajahnya.

Astaga! Sungguh tidak lucu jika tadi mereka tanpa sengaja berciuman. Apalagi Aubrey lah yang menoleh tiba-tiba, bukan Edgar. Tak terbayang betapa memalukannya!

Meski begitu, Edgar terlihat santai seperti sebelumnya. Dia biasa saja melihat wajah Aubrey nyaris menyentuh wajahnya. Bahkan Edgar sepertinya menikmatinya dengan lebih lekat. Ini membuat Aubrey tidak nyaman.

Dia mengerjap dan cepat-cepat kembali menatap ke depan. "Baiklah kalau begitu, tolong antarkan aku!" pintanya. 

Lebih baik cepat diakhiri.

"Dengan senang hati ...," ujar Edgar lalu memacu kuda dan detik berikutnya mereka sudah melaju kencang.

Udara terasa sangat segar. Edgar pun juga sudah memakai baju. Meski begitu, setiap gesekan tubuh mereka terasa seperti sesuatu yang meresahkan bagi Aubrey. Dia tak suka, tapi juga tak bisa menghindari.

Dan ketika akhirnya mereka baru mencapai pertengahan bukit Aubrey baru menyadari ternyata benar kata Edgar, jarak dari tempat Edgar ke mansion-nya sangatlah jauh.

Sepertinya kesedihannya tadi telah membuatnya merasa hanya bepergian dengan jarak dekat saja.

Ketika akhirnya bagian belakang mansion-nya sudah terlihat, Aubrey langsung meminta turun.

“Berhenti di sini saja! Aku tidak ingin penghuni rumah heboh melihatmu!” ujarnya sedikit ketus sekaligus khawatir.

“Heboh? Kenapa harus heboh? Kau tidak pernah memiliki teman pria?"

Aubrey berdecak kesal dalam hatinya atas kesimpulan asal pria di sampingnya ini.

Tapi dia malas menjelaskan. Jadilah Aubrey hanya berkata, "Ya, seperti itulah.” 

Balasan dari Edgar semakin membuat Aubrey kesal. "Kasihan sekali ..."

Sontak saja Aubrey tak tahan untuk tidak memelototinya, tapi Edgar tidak menyadari itu semua.

Edgar membantunya turun dari kuda lalu menahan tali kekang kuda. Dia berniat menunggu Aubrey sampai benar-benar tiba di halaman belakang mansion-nya, barulah dia pergi dari sana.

Tapi sebelum itu, pandangan mereka kembali beradu.

“Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui namamu,” ujar Edgar seraya menatap lekat pada dua mata Aubrey yang biru keperakan.

“Namaku Aubrey,” ujarnya seraya menatap balik dengan lekat.

“Aubrey ...?” Edgar menunggu Aubrey menyebutkan nama keluarganya. Tapi wanita itu berdeham dengan dagu yang kembali diangkat.

“Cukup itu saja yang kau ketahui, oke? Bagaimana denganmu?”

Edgar pun mengedikkan bahunya, berusaha tak peduli meskipun kecewa dan penasaran.

“Namaku Edgar.”

“Edgar?” Aubrey memberinya picingan mata yang penuh kecurigaan.

“Kenapa?”

“Kau menggunakan nama Putra Mahkota ? Kalau pihak Istana mendengarnya, kau bisa dihukum!”

Aubrey mengucapkan semua itu sebagai suatu peringatan untuk Edgar. Biar bagaimana pun Oliver adalah keponakan Raja dan menempati posisi pewaris tahta di urutan ke-4, sehingga Aubrey cukup memahami seluk beluk istana.

Namun, bukannya gentar, Edgar menjawab santai.

“Namaku memang Edgar! Mungkin Pangeran Edgar lah yang meniru namaku!”

Mendengar itu, Aubrey melotot sangat lebar pada Edgar sampai-sampai wajahnya berubah lucu dan Edgar tak sanggup menahan tawa.

Tapi Aubrey amat sangat serius, dia tidak bisa bercanda jika menyangkut istana.

“Jangan bercana! Kau pikir kau siapa sampai Istana meniru namamu?”

“Ya, siapa tahu mereka mendengar namaku di suatu tempat, lalu menganggap nama Edgar sangat unik dan keren. Jadi ketika pangeran Edgar lahir, dia diberi nama Edgar.”

Aubrey kembali melotot sambil berdecak kesal. Bisa-bisanya meninggikan namanya seperti itu!

“Apa nama keluargamu kalau begitu?”

Kali ini Edgar mengangkat sebelah alisnya. Dia sudah menunggu-nunggu pertanyaan ini.

Dengan enteng Edgar menjawabnya, “Cukup Edgar saja yang perlu kau ketahui, Nona! Oke?”

Pelototan Aubrey menjadi picingan kesal lagi. Dia seperti melempar ketapel yang berbalik arah dan menyentil wajahnya. Apalagi melihat senyum kemenangan Edgar.

“Ya sudahlah kalau begitu! Sana kembali! Aku akan kembali ke villaku.”

“Baiklah, Nona Aubrey. Selamat sore. Kalau bertemu Pangeran Edgar tolong beritahu dia bahwa namanya tidak lagi satu-satunya.”

Kembali Aubrey melotot padanya untuk ke dua kalinya di tempat ini.

Edgar kembali tergelak puas sambil menaiki punggung kuda.

Tapi saat dia hendak memacu kuda, Aubrey menanyakannya lagi, “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengan tinggal di dekat hutan sana?”

“Aku penjaga hutan.”

Edgar lalu menempelkan jarinya di kening dan memberi hormat pada Aubrey. Setelah itu, Edgar benar-benar memecut kuda dan melaju pergi dari sana.

Aubrey memandangi Edgar dan kudanya yang semakin menjauh.

Sembari kembali ke villa Oliver, Aubrey mendengus lagi. “Dia benar-benar mengira aku nona muda! Sungguh bodoh!”

---

Oliver tidak kunjung pulang bahkan saat gelap mulai bersiap di ujung langit.

Aubrey berdiri di depan jendela tinggi di kamarnya, menatap ke arah pekarangan luas di bawahnya. Hatinya berharap akan melihat kereta Oliver memasuki pekarangan.

Tapi apa yang dinantinya tak kunjung muncul.

Malahan kereta keluarga Osbourne yang muncul. Aubrey bergegas mengenakan mantel resminya untuk menyambut orang tua Oliver.

“Nyonya ...” Amy, pelayan pribadinya, datang hendak memberitahu kedatangan orang tua Oliver.

“Aku tahu,” jawab Aubrey sambil berjalan mendahului Amy menuju ruang tengah.

Aubrey masuk dan langsung memberi hormat.

“Duke Othniel, Duchess Rosalie, salam hormat.”

Orang tua Oliver mengangguk.

Meski begitu, Aubrey bisa merasakan ketegangan dari mereka berdua.

Biasanya mereka datang dengan senyum lembut. Terutama Duchess Rosalie.

Tapi kali ini, mereka terlihat tegang.

Wajah Duchess Rosalie tampak kaku saat menghampiri Aubrey. Tatapannya lekat tertuju padanya, seakan menyelidiki.

Di hadapan Aubrey, setelah menghela napas dalam, dia bertanya dengan tatapan yang begitu lekat.

“Mana Oliver?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 009

    “Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 008

    Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 007

    Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 006

    Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 005

    “Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 004

    “Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status