Share

Chapter 005

Author: Chani yoh
last update publish date: 2026-07-28 11:38:51

“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.

Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.

Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.

Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.

Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.

Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.

Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.

“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.

Amy langsung paham dan membuatkannya.

Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.

Aubrey mengamati dan merasa puas.

Dia pun mengangguk.

“Coba kau caritahu apakah tuan sudah pergi? Atau dia di ruang kerja?”

Amy pun mengangguk lalu keluar kamar. Amy menjalani apa yang disuruh Aubrey.

Seraya menunggu Amy, Aubrey memikirkan nasibnya. Oliver sangat mengerikan tadi dan dia nyaris saja lewat. Benar-benar nyaris.

Andaikata Oliver tidak melepasnya di tiga detik berikutnya, dia pasti sudah lewat.

Jantungnya berpacu kencang memikirkan bagaimana dia nyaris mati di tangan suaminya sendiri.

Saat itu, Amy pun kembali. Pelayan pribadi yang berusia lima tahun lebih muda darinya itu menutup pintu dengan perlahan lalu menguncinya.

Dia mendekat dan berkata lirih, seakan dinding pun ikut mencuri dengar percakapan mereka.

“Tuan sudah pergi, Nyonya. Sepertinya Tuan pergi bekerja.”

Aubrey lega lalu langsung bangkit.

“Aku perlu keluar mencari Velvet. Jika Oliver tahu Velvet hilang, aku pasti mati kali ini,” ujar Aubrey dengan suara bergetar.

Amy terkejut. Dia tak tahu jika kuda baru tuannya itu hilang di tangan nyonyanya.

Ini hal sangat gawat.

Tapi dia tak bisa melakukan banyak hal, kecuali menuruti sang duchess.

“Kau berjaga di rumah. Jika tuan sudah kembali sebelum aku kembali, katakan padanya aku sakit dan tak ingin dijenguk.”

Amy mengangguk dengan tubuh gemetar. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu pada tuan semengerikan Oliver?

---

Aubrey menuju istal kuda dan memilih kuda lamanya yang sudah tua.

Laju kuda itu tidak kencang, tapi cukup lumayan untuk Aubrey yang sudah tidak punya nyali untuk memacu adrenalinnya lagi.

Aubrey pun terduduk di punggung kuda dengan pikiran yang melamun jauh.

Apa yang harus dia lakukan?

Haruskah dia diam saja dan menerima dengan lapang dada bagaimana Oliver merajut kembali kenangannya bersama Zeline?

Hati kecil Aubrey mengatakan dia tak bisa diam saja.

Tapi akal sehatnya mempertanyakan apa yang harus dia lakukan jika tidak diam saja?

Dia memang mendapatkan kasih sayang dari Duchess Rosalie, tapi apa gunanya kasih sayang iburnya Oliver jika Oliver terus menginjak hatinya tanpa belas kasihan.

Aubrey semakin tak menentu di dasar hatinya.

Dia marah, dia menyesal, dia ingin membalas, tapi dia juga trauma, shock, dan terpukul. Perasaan yang paling mendominasi dirinya saat ini adalah takut.

Dia takut pada Oliver. Apa yang baru saja terjadi sangatlah mengerikan.

Ngggiiiikkkk!

Langkah kuda terhenti tapi bukannya karena berhasil menemukan Velvet namun tanpa disadari Aubrey dia telah memacu kuda menuju pondok sederhana Edgar.

Di pekarangan pondok itu,

Aubrey diperhadapkan pada pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

Seperti pertemuan pertamanya, Edgar tak memakai atasan. Kulitnya yang kecoklatan terlihat mengkilat akibat peluh. Dan pria dengan lengan berotot dan dada yang kencang padat terlihat sedang mengayunkan kapak, membelah satu demi satu batang-batang kayu yang bertumpuk di kanan dan kirinya.

Postur tubuh Edgar yang tinggi dan semua terlihat kencang berotot membuat Aubrey malu untuk memandang tapi juga tak ingin kehilangan kesempatan memandangi tubuh itu.

Sungguh dilema ...

Brak!

Satu batang kayu besar terbelah saat Edgar mengayunkan kapak ke atasnya.

Pria itu lalu melempar batang yang terbelah dua itu ke sampignnya, lalu mengambil satu lagi batang utuh.

Namun, sebelum membelahnya lagi, kali ini Edgar mengangkat pandangan ke arah Aubrey. Tatapannya begitu dalam, tak tergoyahkan dan seakan mengikat jiwa Aubrey sangat erat.

Dengan gerak mulut yang pelit membuka lebar, Edgar menyapanya. “Kau ... tersesat lagi? Butuh tempat berteduh lagi?” tanyanya sambil menumpukan tangannya di ujung batang kapak yang menancap ke tanah.

Senyumnya miring bagaikan tokoh jahat yang pesonanya terlalu mengikat.

Aubrey terpesona sampai dia menarik napas dalam-dalam. Bagaimana bisa ada ketampanan dari pria yang tampak acak-acakan. Urakan. Sangat bertentangan dengan Oliver yang rapi dan selalu klinis. Tapi ... Edgar terasa lebih tampan dan maskulin dengan penampilannya yang asal seperti ini. 

“Aku mencari Velvet.” Akhirnya Aubrey bisa menjawab setelah menemukan suaranya lagi. 

Edgar mengangguk dengan bibir terlipat. 

Tapi sedetik kemudian ...

“Velvet?” tanya Edgar semakin bingung.

“Kudaku yang kemarin kutunggangi.”

“Oh ...” ujar Edgar mengangguk lagi, lalu dia tergelak. “Kuda hitam itu kau namai Velvet?”

Aubrey mengangkat dagunya sambil memicing. “Iya. Memangnya kenapa?”

“Dia seharusnya kau namai Black, bukan Velvet!”

Aubrey memberinya senyum masam. Dia sendiri tak mengerti kenapa Oliver menamai kuda hitam itu dengan Velvet, spektrum warna yang berupa perpaduan antara merah dan ungu.

Yang menyebalkannya malah dirinya yang mendapat ejekan karena nama Velvet itu.

“Bulunya lembut seperti beludru,” kilah Aubrey karena Velvet juga bisa berarti beludru.

Edgar langsung membayangkan kuda kesayangannya yang bulunya juga selembut sutera. Ingin rasanya dia memamerkan kuda itu pada Aubrey, tapi melihat wajah Aubrey yang murung, dia pun mengurungkannya.

“Ya, ya, okelah. Tapi ngomong-ngomong, kau mau mencarinya ke mana? Perbukitan ini luas sekali. Lalu hutan itu juga sangat luas. Apalagi hilangnya sudah satu hari yang lalu. Bagaimana mungkin kau masih bisa mencarinya lagi?”

Aubrey terdiam, tak bisa menjawab. Ketakutannya akan menghadapi kemarahan Oliver pun kembali menggerayanginya.

Aubrey sampai tak melihat bahwa Edgar sudah meletakkan kapaknya lalu memakai bajunya. 

“Haaah ... dari wajahmu aku yakin kau pasti tidak meminta kuda hitammu itu untuk menghapal rute pulang saat kau menaikinya, kan?” ujar Edgar lagi ketika sudah di atas kudanya dan berada di samping Aubrey. 

“Lain kali ajari mereka rute pulang sebelum pergi jadi kalau sampai terjadi yang seperti ini lagi, mereka bisa pulang sendiri …”

Aubrey langsung menatap heran pada Edgar. “Ap- apa? Meminta seekor kuda menghapal rute pulang? Bagaimana bisa aku melakukannya?”

Mendengar sahutan Aubrey yang bernada tinggi, Edgar tiba-tiba tergelak.  

“Kau menjawab pertanyaan ini! Oh ya ampuuuun ... Selama ini satu-satunya orang yang menjawab pertanyaan konyolku tadi hanya dirimu, Nona!”

Sadar telah dipermainkan, kemarahan Aubrey kembali. Tatapannya tiba-tiba menajam bagaikan segumpal awan yang tiba-tiba menyerap semua kilat dan petir tajam untuk disambarkan pada Edgar.

Dia seperti dewi api dengan mata penuh bara yang siap dia arahkan untuk membakar Edgar.

Tapi sebelum semua itu terjadi, Edgar langsung berseru, “Ayo, kutemani mencari si Velvet yang ternyata hitam itu!"

Edgar sudah mendahului Aubrey dengan kudanya sendiri sehingga Aubrey yang dipaksa mengikutinya pun mendengus kesal memandangi punggung Edgar.

“Hah! Dia kira siapa dia menertawakanku?!”

Aubrey mendengus sambil meniupi poni ikalnya yang terjatuh menutupi mata.

“Hei, jangan melamun. Nanti keburu gelap lalu kau terpaksa menginap di pondokku!” seru Edgar seraya meminta Aubrey cepat menyejajarkan kuda-kuda mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Chani yoh
heheheh betul kak.. mksih ya mampirnya se effort ini .........
goodnovel comment avatar
Maufy Izha
Mantap thorrr, Edgar ini kayaknya putra mahkota ya?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Beritahu Aku?

    “Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Adakah Yang Harus Kau Sampaikan?

    “Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Aubrey Putriku!

    “Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Di Mana Dia?

    Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Bersama Selingkuhannya!

    Mendengar kedatangan tamu besar, Aubrey dan Margareth segera bersiap untuk menyambut.Tapi Alfred mendorong mereka.“Kalian tidak perlu ke depan! Cukup aku dan Jane!”Aubrey tak terima. “Apa? Mana bisa begitu! Kami ini keluargamu yang tercatat hukum!”“Diam! Ini masih rumahku! Masih bagus aku tidak mengusir kalian!”Baik Aubrey maupun Avery kehilangan kata-katanya. Margareth pun juga tak tahan untuk menghadapi Alfred. Dia hanya melotot dan Alfred merangkul Lady Jane untuk menuju ruang depan.“Siapa yang datang, Ave?” tanya Aubrey begitu ayah mereka sudah ke depan.Mereka duduk di teras belakang, berusaha menenangkan diri setelah tingkah laku tidak pantas Lady Jane.“Tidak tahu. Tapi ... iring-iringannya sangat banyak. Tidak pernah sebelumnya kita kedatangan tamu seperti ini.Lalu ... keretanya juga sangat bagus.”Di ruang depan, Alfred dan Lady Jane menyambut di pintu.Begitu kereta tiba tepat di halaman depan mansion, para pengawal turun duluan untuk membukakan pintu bagi tuan mereka

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Kita Kedatangan Tamu

    Di kediaman Caldwell ...Aubrey menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia terus-terusan lapar. Dan masa periode nya pun tak kunjung tiba.Masalahnya, lapar yang ia rasakan terasa menusuk-nusuk sekali. Ini jelas bukan sekadar lapar biasa. Apalagi ia selalu menuruti rasa laparnya dengan makan apapun yang dia inginkan.Tapi tetap saja, satu jam kemudian, ia sudah lapar menusuk-nusuk lagi di perutnya.Apakah ia telah berubah menjadi wanita yang rakus yang tak bisa mengontrol lagi nafsu makannya? Aubrey bergidik memikirkan itu. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.Dielusnya perut ratanya itu.Beberapa minggu terakhir ini juga dia kerap menginginkan gaun yang longgar untuk dipakai. Sekalipun gaun ketat masih muat di tubuhnya, Aubrey merasa gaun itu menyesakkan pernapasannya.Gaun longgar barulah melegakan.Tapi ada apa gerangan?Dengan kuas di tangan, ia menggambar pakaian jas pria. Tapi alih-alih merancang model baru, ia malah menggambar utuh beserta dengan pria-nya. Wajah yang nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status