LOGIN“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.
Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.
Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.
Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.
Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.
Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.
Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.
“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.
Amy langsung paham dan membuatkannya.
Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.
Aubrey mengamati dan merasa puas.
Dia pun mengangguk.
“Coba kau caritahu apakah tuan sudah pergi? Atau dia di ruang kerja?”
Amy pun mengangguk lalu keluar kamar. Amy menjalani apa yang disuruh Aubrey.
Seraya menunggu Amy, Aubrey memikirkan nasibnya. Oliver sangat mengerikan tadi dan dia nyaris saja lewat. Benar-benar nyaris.
Andaikata Oliver tidak melepasnya di tiga detik berikutnya, dia pasti sudah lewat.
Jantungnya berpacu kencang memikirkan bagaimana dia nyaris mati di tangan suaminya sendiri.
Saat itu, Amy pun kembali. Pelayan pribadi yang berusia lima tahun lebih muda darinya itu menutup pintu dengan perlahan lalu menguncinya.
Dia mendekat dan berkata lirih, seakan dinding pun ikut mencuri dengar percakapan mereka.
“Tuan sudah pergi, Nyonya. Sepertinya Tuan pergi bekerja.”
Aubrey lega lalu langsung bangkit.
“Aku perlu keluar mencari Velvet. Jika Oliver tahu Velvet hilang, aku pasti mati kali ini,” ujar Aubrey dengan suara bergetar.
Amy terkejut. Dia tak tahu jika kuda baru tuannya itu hilang di tangan nyonyanya.
Ini hal sangat gawat.
Tapi dia tak bisa melakukan banyak hal, kecuali menuruti sang duchess.
“Kau berjaga di rumah. Jika tuan sudah kembali sebelum aku kembali, katakan padanya aku sakit dan tak ingin dijenguk.”
Amy mengangguk dengan tubuh gemetar. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu pada tuan semengerikan Oliver?
---
Aubrey menuju istal kuda dan memilih kuda lamanya yang sudah tua.
Laju kuda itu tidak kencang, tapi cukup lumayan untuk Aubrey yang sudah tidak punya nyali untuk memacu adrenalinnya lagi.
Aubrey pun terduduk di punggung kuda dengan pikiran yang melamun jauh.
Apa yang harus dia lakukan?
Haruskah dia diam saja dan menerima dengan lapang dada bagaimana Oliver merajut kembali kenangannya bersama Zeline?
Hati kecil Aubrey mengatakan dia tak bisa diam saja.
Tapi akal sehatnya mempertanyakan apa yang harus dia lakukan jika tidak diam saja?
Dia memang mendapatkan kasih sayang dari Duchess Rosalie, tapi apa gunanya kasih sayang iburnya Oliver jika Oliver terus menginjak hatinya tanpa belas kasihan.
Aubrey semakin tak menentu di dasar hatinya.
Dia marah, dia menyesal, dia ingin membalas, tapi dia juga trauma, shock, dan terpukul. Perasaan yang paling mendominasi dirinya saat ini adalah takut.
Dia takut pada Oliver. Apa yang baru saja terjadi sangatlah mengerikan.
Ngggiiiikkkk!
Langkah kuda terhenti tapi bukannya karena berhasil menemukan Velvet namun tanpa disadari Aubrey dia telah memacu kuda menuju pondok sederhana Edgar.
Di pekarangan pondok itu,
Aubrey diperhadapkan pada pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Seperti pertemuan pertamanya, Edgar tak memakai atasan. Kulitnya yang kecoklatan terlihat mengkilat akibat peluh. Dan pria dengan lengan berotot dan dada yang kencang padat terlihat sedang mengayunkan kapak, membelah satu demi satu batang-batang kayu yang bertumpuk di kanan dan kirinya.
Postur tubuh Edgar yang tinggi dan semua terlihat kencang berotot membuat Aubrey malu untuk memandang tapi juga tak ingin kehilangan kesempatan memandangi tubuh itu.
Sungguh dilema ...
Brak!
Satu batang kayu besar terbelah saat Edgar mengayunkan kapak ke atasnya.
Pria itu lalu melempar batang yang terbelah dua itu ke sampignnya, lalu mengambil satu lagi batang utuh.
Namun, sebelum membelahnya lagi, kali ini Edgar mengangkat pandangan ke arah Aubrey. Tatapannya begitu dalam, tak tergoyahkan dan seakan mengikat jiwa Aubrey sangat erat.
Dengan gerak mulut yang pelit membuka lebar, Edgar menyapanya. “Kau ... tersesat lagi? Butuh tempat berteduh lagi?” tanyanya sambil menumpukan tangannya di ujung batang kapak yang menancap ke tanah.
Senyumnya miring bagaikan tokoh jahat yang pesonanya terlalu mengikat.
Aubrey terpesona sampai dia menarik napas dalam-dalam. Bagaimana bisa ada ketampanan dari pria yang tampak acak-acakan. Urakan. Sangat bertentangan dengan Oliver yang rapi dan selalu klinis. Tapi ... Edgar terasa lebih tampan dan maskulin dengan penampilannya yang asal seperti ini.
“Aku mencari Velvet.” Akhirnya Aubrey bisa menjawab setelah menemukan suaranya lagi.
Edgar mengangguk dengan bibir terlipat.
Tapi sedetik kemudian ...
“Velvet?” tanya Edgar semakin bingung.
“Kudaku yang kemarin kutunggangi.”
“Oh ...” ujar Edgar mengangguk lagi, lalu dia tergelak. “Kuda hitam itu kau namai Velvet?”
Aubrey mengangkat dagunya sambil memicing. “Iya. Memangnya kenapa?”
“Dia seharusnya kau namai Black, bukan Velvet!”
Aubrey memberinya senyum masam. Dia sendiri tak mengerti kenapa Oliver menamai kuda hitam itu dengan Velvet, spektrum warna yang berupa perpaduan antara merah dan ungu.
Yang menyebalkannya malah dirinya yang mendapat ejekan karena nama Velvet itu.
“Bulunya lembut seperti beludru,” kilah Aubrey karena Velvet juga bisa berarti beludru.
Edgar langsung membayangkan kuda kesayangannya yang bulunya juga selembut sutera. Ingin rasanya dia memamerkan kuda itu pada Aubrey, tapi melihat wajah Aubrey yang murung, dia pun mengurungkannya.
“Ya, ya, okelah. Tapi ngomong-ngomong, kau mau mencarinya ke mana? Perbukitan ini luas sekali. Lalu hutan itu juga sangat luas. Apalagi hilangnya sudah satu hari yang lalu. Bagaimana mungkin kau masih bisa mencarinya lagi?”
Aubrey terdiam, tak bisa menjawab. Ketakutannya akan menghadapi kemarahan Oliver pun kembali menggerayanginya.
Aubrey sampai tak melihat bahwa Edgar sudah meletakkan kapaknya lalu memakai bajunya.
“Haaah ... dari wajahmu aku yakin kau pasti tidak meminta kuda hitammu itu untuk menghapal rute pulang saat kau menaikinya, kan?” ujar Edgar lagi ketika sudah di atas kudanya dan berada di samping Aubrey.
“Lain kali ajari mereka rute pulang sebelum pergi jadi kalau sampai terjadi yang seperti ini lagi, mereka bisa pulang sendiri …”
Aubrey langsung menatap heran pada Edgar. “Ap- apa? Meminta seekor kuda menghapal rute pulang? Bagaimana bisa aku melakukannya?”
Mendengar sahutan Aubrey yang bernada tinggi, Edgar tiba-tiba tergelak.
“Kau menjawab pertanyaan ini! Oh ya ampuuuun ... Selama ini satu-satunya orang yang menjawab pertanyaan konyolku tadi hanya dirimu, Nona!”
Sadar telah dipermainkan, kemarahan Aubrey kembali. Tatapannya tiba-tiba menajam bagaikan segumpal awan yang tiba-tiba menyerap semua kilat dan petir tajam untuk disambarkan pada Edgar.
Dia seperti dewi api dengan mata penuh bara yang siap dia arahkan untuk membakar Edgar.
Tapi sebelum semua itu terjadi, Edgar langsung berseru, “Ayo, kutemani mencari si Velvet yang ternyata hitam itu!"
Edgar sudah mendahului Aubrey dengan kudanya sendiri sehingga Aubrey yang dipaksa mengikutinya pun mendengus kesal memandangi punggung Edgar.
“Hah! Dia kira siapa dia menertawakanku?!”
Aubrey mendengus sambil meniupi poni ikalnya yang terjatuh menutupi mata.
“Hei, jangan melamun. Nanti keburu gelap lalu kau terpaksa menginap di pondokku!” seru Edgar seraya meminta Aubrey cepat menyejajarkan kuda-kuda mereka.
“Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben
Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib
Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la
Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati
“Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,







