LOGIN“Oliver ... belum pulang, Bu.”
Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.
Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.
Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”
Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.
Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.
Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.
“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”
“Butik?”
Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.
Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.
Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey, Duchess Rosalie memberi perintah, “Siapkan kamar. Kami akan menginap di sini.”
“Baik, Bu.”
Aubrey pun memberitahu Amy. Gadis itu bergegas menjalankan perintah.
Ketika Aubrey kembali pada ibu mertuanya, wanita itu dengan geram bergumam, “Aku mau lihat jam berapa dia kembali!”
---
Aubrey semakin tak bisa tidur. Sekalipun dia sudah dalam balutan gaun tidur dan sudah berada di atas ranjangnya sendiri, tapi Oliver belum juga pulang.
Ia sudah menjamu orang tua Oliver dengan makan malam yang hangat, meskipun terasa kental kegeraman Duke Othniel dan Duchess Rosalie pada Oliver.
Tapi Aubrey tidak menjadi minyak bagi api kemarahan mereka. Dia tidak menyudutkan Oliver, tidak juga membela Oliver. Di depan orang tua Oliver, Aubrey membiarkan mereka sendiri yang membuat kesimpulan atas apa yang sedang dilakukan Oliver.
Tadinya, Aubrey masih berharap Oliver akan pulang sebelum makan malam mereka berakhir. Setidaknya kemarahan orang tuanya bisa sedikit teredam.
Tapi sampai akhir makan malam, bahkan sampai semua orang sudah berada di ruang kamar masing-masing, Oliver belum juga pulang.
Helaan napas Aubrey menjadi pertanda dia berhenti berharap.
Menarik selimut sampai ke dadanya, Aubrey pun memejamkan matanya.
Esok paginya, Aubrey bangun pagi untuk memastikan sarapan tersedia dengan pantas dan hangat.
Setelah semua tersedia, dia menyuruh Amy memanggil orang tua Oliver.
Ternyata Oliver pun sudah ada di rumah, entah jam berapa dia pulang semalam.
Aubrey menghela napas lega ketika melihat Oliver melangkah ke arah ruang makan. Tapi ketika dia menyadari tatapan membunuh Oliver tertuju begitu lekat padanya, kelegaan itu langsung menguap.
“Aubrey, selamat pagi, Sayang ...,” sapa Duchess Rosalie di belakang Oliver. Wanita itu sudah sehangat biasanya.
“Selamat pagi, Bu. Selamat pagi juga, Duke Othniel.”
Terhadap ibunya Oliver, Aubrey bisa lebih santai. Duchess Rosalie sangat menyayanginya. Dia sendiri yang meminta Aubrey memanggilnya selayaknya ibu bagi Aubrey.
Dan Aubrey menurutinya.
“Bagaimana tidur kalian?” tanyanya seraya menunggu mereka duduk.
Pelayan menarik kursi untuk kedua orang tua Oliver, lalu mereka duduk. Setelah itu barulah Oliver dan Aubrey ikut duduk mengitari meja makan lonjong berbahan kayu Black African hitam yang mengkilat, dengan ukiran rumit nan indah.
“Kami tidur nyenyak, Sayang. Tidak perlu risaukan,” sahut Duchess Rosalie seraya melirik ke arah Oliver seakan ada makna terselubung yang disematkan pada lirikannya.
Aubrey tak berani mencaritahu. Dia menyibukkan diri untuk makan, sebagaimana semua orang lain yang ada di sana.
Meja makan terasa setengah hangat. Duke Othniel tidak banyak bicara seperti biasanya. Dan kali ini Oliver pun ikut mengunci mulutnya untuk bicara.
Percakapan hanya ada antara dirinya dan Duchess Rosalie.
Semua terasa baik-baik saja saat itu. Namun begitu Duke Othniel dan Duchess Rosalie menaiki kereta mereka dan benda itu bergerak menjauhi villa mereka, bahkan sebelum menoleh pun Aubrey sudah bisa merasakan aura kemarahan yang memancar dari tubuh Oliver.
Benar saja, pria itu langsung mencekik lehernya dengan kekuatan sehingga Aubrey terdorong dan punggungnya menabrak dinding.
Cekikan itu bukan main-main. Oliver mengerahkan seluruh kekuatannya.
“Kau pikir ibuku begitu menyayangimu sehingga kau bisa bebas mengadukan semua yang kulakukan, huh?” desisnya penuh kebencian.
Aubrey ingin menjawab, tapi tidak bisa. Cengkeraman Oliver di lehernya teramat menyakitinya. Bahkan napasnya sudah menipis dan dia tak bisa menarik oksigen lagi.
“Kau bukan mata-mataku, apalagi pengasuhku! Jangan pernah melampaui batasanmu lagi!” desisnya lagi dengan kemarahan menyala-nyala dalam binar matanya.
Wajah Oliver yang seperti ini sangatlah menyeramkan.
Tapi Aubrey tidak bisa berpikir lagi. Dia kehabisan napas dan tubuhnya melemas.
Wajahnya mungkin sudah merah dan menggelap.
Apakah hidupnya akan berakhir karena suaminya sendiri?
Sungguh menyedihkan.
Di saat seperti itu, dia teringat masa mudanya yang begitu menyenangkan. Bebas dan penuh tawa.
Kenapa dulu dia menerima pinangan dari Duchess Rosalie untuk menjadi istri Oliver?
Apakah karena Oliver penuh kharisma?
Apakah karena status Oliver yang sedikit lebih tinggi darinya?
Aubrey sangat menyesal karena kini semua itu tak ada artinya lagi dengan segala perlakuan yang diterimanya dari Oliver.
Pandangannya pun mengabur lalu menggelap.
Dan tiba-tiba saja cengkeraman Oliver dilepas.
Aubrey bisa menarik napas kembali.
Dia terbatuk-batuk saat merayap di lantai, menggapai-gapai oksigen agar segera memenuhi paru-parunya dengan cepat.
Rasa sakit di tenggorokannya membuat Aubrey sampai menabrak tiang topi di dekatnya.
Ketika akhirnya dia berhasil membuat napasnya teratur kembali, Aubrey melihat punggung Oliver menjauh dan semakin jauh.
Sesak masih dia rasakan saat menyadari kehidupannya di rumah mewah dengan status Duchess yang begitu dihormati ternyata tak lebih dari kehidupan menyedihkan yang harus dihadapinya seorang diri.
Seorang diri ...
“Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan
“Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.
“Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.
Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan
Mendengar kedatangan tamu besar, Aubrey dan Margareth segera bersiap untuk menyambut.Tapi Alfred mendorong mereka.“Kalian tidak perlu ke depan! Cukup aku dan Jane!”Aubrey tak terima. “Apa? Mana bisa begitu! Kami ini keluargamu yang tercatat hukum!”“Diam! Ini masih rumahku! Masih bagus aku tidak mengusir kalian!”Baik Aubrey maupun Avery kehilangan kata-katanya. Margareth pun juga tak tahan untuk menghadapi Alfred. Dia hanya melotot dan Alfred merangkul Lady Jane untuk menuju ruang depan.“Siapa yang datang, Ave?” tanya Aubrey begitu ayah mereka sudah ke depan.Mereka duduk di teras belakang, berusaha menenangkan diri setelah tingkah laku tidak pantas Lady Jane.“Tidak tahu. Tapi ... iring-iringannya sangat banyak. Tidak pernah sebelumnya kita kedatangan tamu seperti ini.Lalu ... keretanya juga sangat bagus.”Di ruang depan, Alfred dan Lady Jane menyambut di pintu.Begitu kereta tiba tepat di halaman depan mansion, para pengawal turun duluan untuk membukakan pintu bagi tuan mereka
Di kediaman Caldwell ...Aubrey menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia terus-terusan lapar. Dan masa periode nya pun tak kunjung tiba.Masalahnya, lapar yang ia rasakan terasa menusuk-nusuk sekali. Ini jelas bukan sekadar lapar biasa. Apalagi ia selalu menuruti rasa laparnya dengan makan apapun yang dia inginkan.Tapi tetap saja, satu jam kemudian, ia sudah lapar menusuk-nusuk lagi di perutnya.Apakah ia telah berubah menjadi wanita yang rakus yang tak bisa mengontrol lagi nafsu makannya? Aubrey bergidik memikirkan itu. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.Dielusnya perut ratanya itu.Beberapa minggu terakhir ini juga dia kerap menginginkan gaun yang longgar untuk dipakai. Sekalipun gaun ketat masih muat di tubuhnya, Aubrey merasa gaun itu menyesakkan pernapasannya.Gaun longgar barulah melegakan.Tapi ada apa gerangan?Dengan kuas di tangan, ia menggambar pakaian jas pria. Tapi alih-alih merancang model baru, ia malah menggambar utuh beserta dengan pria-nya. Wajah yang nam







