LOGINDitemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.
Ia mulai lelah. Juga lapar.
Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.
Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.
“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.
Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.
Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.
“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.
Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.
Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.
Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.
Yang berbeda kali ini hanyalah cuaca yang gerah dan panas.
“Aku buatkan makan siang dulu. Kau tidak akan mati kelaparan kan selagi menungguku menyiapkan makan siang?”
Aubrey menoleh untuk memberikan anggukan, meskipun dalam hatinya dia bertanya-tanya bagaimana pria seperti Edgar bisa menyiapkan makan siang untuk mereka?
Mampukah?
Tapi jika dilihat, Edgar tinggal seorang diri, berarti dia sudah sanggup menyiapkan makanannya sendiri.
Sedikit kekaguman menyelinap di hati Aubrey.
Dia melihat Edgar menyiapkan telur, kentang, lalu seekor ayam mentah yang sudah siap masak.
Aubrey heran, darimana pria itu mendapatkan bahan makanannya dari tempat terpencil seperti ini? Kecuali dia memiliki peternakan ayam di dekat sini. Tapi tidak ada apa-apa di perbukitan ini.
Tak lama kemudian, aroma telur dan kentang panggang sudah menyeruak. Apalagi ketika aroma daging ayam panggang yang dilumuri saos lada favorite Edgar ikut bergabung. Perut Aubrey langsung berbunyi.
“Sudah siap. Ayo makan,” ajak Edgar setelah dia menyajikan semua itu di meja makannya.
Aubrey tak sanggup menahan laparnya melihat semua makanan ini. Sungguh sulit dipercaya seseorang seperti Edgar bisa memasak semua ini, sampai aromanya begitu menggugah. Dan ketika dia mencicipinya, semuanya sangat lezat.
“Wow! Ini lezat sekali! Bagaiamana kau bisa memasak seperti ini?”
“Tentu saja aku bisa! Ini mudah saja.”
“Oh ya?”
“Iya! Ini masakan yang mudah dan simpel. Jadi jangan sungkan. Ayo makan.”
Ajakan Edgar serta aroma masakan yang begitu menggoda membuat Aubrey tak sadar jika Edgar tidak menjawab pertanyaannya.
Mereka lalu makan bersama sambil mengobrol ringan. Lambat laun Aubrey tak lagi memikirkan Oliver yang akan marah padanya. Dia menikmati makan siang ini apalagi Edgar makan dengan lahap, juga mampu berbincang ringan dengannya.
Rasa-rasanya selama pernikahannya dengan Oliver, dia belum pernah makan sambil berbincang santai seperti ini. Dengan Oliver suasana meja makan hening dan kaku. Sekalinya Oliver bicara ya seperti kemarin itu, malah mengumumkan dia akan keluar dengan wanita lain.
Percakapan macam apa itu?
Di suapan terakhirnya, Edgar bertanya, “Enak?”
“Enak. Kau cocok menjadi koki istana,” ujar Aubrey seraya memuji. "Kenapa kau tidak mencoba melamar di istana? Kalau kau menjadi koki istana, gajimu pasti fantastis dan kau akan punya kehidupan yang makmur."
Edgar tersenyum kecil seraya mengangguk. "Hidupku sekarang sudah nyaman dan makmur," sahutnya lagi. "Apalagi yang kucari?"
Mau tak mau Aubrey mengangguk menyetujui pernyataan Edgar sekalipun dia merasa bagaimana bisa nyaman dan makmur hidup seorang diri sebagai penjaga hutan?
Namun Edgar cukup unik jalan pikirannya dan Aubrey tak ingin mendebatnya.
Di tengah pikiran mereka yang sibuk sendiri, Edgar tiba-tiba bertanya, “Makanan ini ... tidak terasa yang aneh-aneh, kah?”
“Aneh-aneh? Tidak! Ini perfect!”
Edgar tiba-tiba berhenti tersenyum lalu menunjukkan raut berpikir serius seakan ada yang salah.
“Kenapa bisa begitu ya? Jangan-jangan yang kububuhkan tadi kurang. Kenapa kau tidak merasakan yang aneh-aneh? Pusing, atau sakit perut, atau tenggorokan yang panas?”
Seketika itu juga, Aubrey berhenti mengunyah dan menatap tajam ke arahnya. Pria itu lalu tergelak dalam tawanya lagi.
Edgar sangat menikmati lelucon konyolnya yang selalu sukses membuat Aubrey kesal.
Dan setiap kali melihat Aubrey selalu termakan lelucon konyolnya, Edgar semakin terobsesi untuk melemparkan lelucon berikutnya di lain kesempatan.
Selesai makan, Aubrey tertidur di kursi santai ketika Edgar menghampirinya.
Pria itu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamati wajah Aubrey secara leluasa.
Rasanya seperti tak habis-habisnya kesukaan dalam hatinya untuk memandangi Aubrey. Wanita itu cantik sekali.
Andai Aubrey tidak sedang mencari Velvet, Edgar ingin menghabiskan waktunya seharian bersama Aubrey.
Tapi misi mencari Velvet sepertinya tidak bisa ditunda.
Aubrey tampak sangat kalut saat datang tadi pagi dan Edgar tahu semua itu karena Velvet sangat berarti.
Dia lalu membuka lebar jendela agar angin kering masuk lebih banyak sehingga Aubrey tidak kepanasan.
Setelahnya, dia menyelipkan selembar kertas di tangan Aubrey yang memberitahukan bahwa dia pergi untuk mencari Velvet.
---
Aubrey terbangun saat hari sudah menjelang sore.
Dia membuka matanya dan terkejut menyadari dirinya masih berada di pondok Edgar sedangkan hari sudah hampir sore.
Aubrey menatap sekelilingnya dan tak melihat Edgar di mana-mana.
“Ke mana dia? Ini sudah sore, aku harus pulang,” gumam Aubrey pada dirinya sendiri.
Tapi ketika dia teringat Velvet yang belum dia temukan, Aubrey ragu dan bimbang. Bagaimana jika malam ini Oliver pulang dan menanyakan Velvet?
Habislah dia ...
Aubrey tidak memperhatikan secarik kertas yang tadi ada di tangannya. Saat terbangun kertas itu jatuh dan Aubrey tidak menyadarinya.
Dia menuju pintu belakang pondok untuk mempersiapkan kudanya agar bisa pulang.
Tapi di sana, dia malah mendengar derap langkah kuda yang lebih dari satu dari kejauhan.
Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Siapa yang datang?
Dengan kaki gemetar, Aubrey bersembunyi di samping pondok.
Lalu derap kuda itu berhenti di depan pondok.
Tak lama kemudian, terdengar derap kuda yang pergi. Tapi perkiraan Aubrey hanya dua kuda yang pergi. Sedangkan jumlah semua kuda yang didengarnya ada setidaknya empat.
Berarti masih ada dua kuda lagi.
Aubrey pun mengintip lagi dan dia melihat salah satu kuda yang ada di sana adalah … Velvet!
Aubrey gegas keluar dari persembunyiannya dengan kelegaan yang luar biasa.
“Edgar ...! Kau berhasil menemukan Velvet? Di mana kau menemukannya?” Aubrey berlari menghampiri Edgar dengan kegembiaraan yang sangat nyata terlihat.
Edgar pun, saat melihat Aubrey menghampirinya dengan girang, melompat turun dari kudanya. Dia sempat tersenyum mendapati sambutan Aubrey yang begitu gembira tapi senyum itu langsung pupus.
“Aku menemukannya di pinggir sungai. Tapi ada masalah. Salah satu kakinya terluka. Kita harus mengobatinya dulu.”
Saat itulah baru Aubrey melihat bahwa salah satu kaki belakang Velvet terluka.
“Dia tak akan sanggup jalan jauh. Aku rasa biar dia di sini dulu, akan kurawat sampai sembuh, barulah kau membawanya pulang.”
Velvet belum bisa pulang? Bagaimana dia bisa menyembunyikan ini dari Oliver?
Aubrey merasa dia sedang menggali kuburannya sendiri!
“Ya! Pulang saja ke istana dan menikah dengan calon istrimu, lalu naik tahta. Aku tidak mau memikirkanmu lagi! Aku terlalu malu! Aku terlalu malu!”“Kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada yang mempermalukanmu!”Aubrey melotot lagi. “Siapa bilang tidak ada? Kau sendiri pun membuatku mempermalukan diriku sendiri!”“Bagaimana aku bisa membuatmu mempermalukan dirimu sendiri?” tanya Edgar dengan melipat tangannya di depan dada.Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran Aubrey.Sedangkan Aubrey teringat bukan saja pada apa yang mereka lakukan di kereta, di pondok, di pinggir danau, tapi juga akan impian terdalamnya yang ia beritahukan pada Edgar. Ia bahkan mengajak Edgar untuk tinggal bersama di pedesaan. Dan Edgar bahkan mengiyakannya.Sekarang setelah mengetahui jati diri Edgar yang adalah Putra Mahkota, Aubrey baru menyadari betapa konyol impiannya itu di mata Edgar.Bukankah itu mempermalukan dirinya sendiri?“Dengan kau tidak mengatakan dirimu Pangeran Edgar, aku telah mempermalukan
“Yang Mulia Pangeran,” ucap Aubrey dengan terbata-bata.Di saat ini segala yang pernah ia lakukan dan ucapkan pada Edgar bertayangan di benaknya. Semua itu memberinya rasa malu luar biasa.Segala hal bersama Edgar terasa tidak pantas saat ini setelah mengetahui jati diri Edgar sebenarnya.Aubrey langsung menundukkan pandangannnya lagi.Ia tak berani menatap Edgar lebih lama.Di saat ini, Lady Jane yang masih tak bisa menerima bahwa Aubrey telah tanpa sengaja berselingkuh dengan Yang Mulia Pangeran, langsung mencecarnya lagi.“Kau telah mempermainkan Yang Mulia Pangeran. Kau harus dihukum! Kau tidak bisa merendahkan Pangeran dengan menjadikannya selingkuhan! Kau mempermalukan Pangeran! Kau pantas dihukum!”Cara berpikir Lady Jane membuat semuanya terperanjat.Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di saat dirinya sendiri belum tentu lolos dari kemarahan Pangeran Edgar.Tapi di benak Lady Jane, dia tak mau hancur sendirian. Dia harus membawa serta Margareth dan Aubrey bersamanya.
“Apa yang kau lakukan? Kalau Yang Mulia Pangeran mengetahui bahwa Aubrey ternyata di sini kita akan habis!” Alfred mendesis tajam dalam bisiknya, berusaha sebisa mungkin bibirnya tidak terlihat bergerak.Tapi Lady Jane bersikap seakan tidak mendengar ucapan Alfred. Dia tetap menundukkan kepalanya. Dia memang takut pada perbuatannya telah membohongi Pangeran Edgar. Tapi bagi Lady Jane, tak ada jalan lain selain terus menutupi kebohongannya.Di hadapannya, Edgar merasa semakin tak senang. Dia mulai maju, selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di depan Lady Jane.Diamatinya dari atas sampai bawah.“Coba sebutkan bagaimana bisa aku dan Nona Aubrey adalah manusia rendahan?”Pertanyaan ini sangat di luar ekspektasi Lady Jane. Kenapa Pangeran mengungkit hal itu lagi?“Katakan.”Lady Jane gemetar lagi.“KATAKAN!”Seruan ini membuat Lady Jane berlutut. Dia memeluk kaki Pangeran Edgar. “Ampuni aku, Yang Mulia Pangeran. Aku tidak tahu jika yang bersama Nona Aubrey adalah Anda, Yang Mulia.
Alfred terkejut dan menoleh pada Lady Jane. Aliran darahnya seakan gemetar mendengar perkataan Lady Jane.Berani sekali dia membohongi Yang Mulia Pangeran!Beruntung dia sudah menyuruh Aubrey, Avery, dan Margareth tetap di dalam. Setidaknya, Alfred berharap Pangeran Edgar dan Alfonsius tidak mengetahui bahwa Jane bukanlah istri sahnya.Tapi Alfred menyesal juga karena menyambut kedatangan Pangeran Edgar bersama Jane. Andai dia tahu tamu yang mendatangi mereka adalah Pangeran Edgar, maka ia akan keluar bersama Margareth. Atau setidaknya akan jauh lebih baik jika dia menyambut Pangeran Edgar seorang diri saja.Jane terlalu gegabah. Dia menyeret mereka ke lubang masalah!Di balik pintu, Aubrey mengepalkan tangannya.Berani sekali Lady Jane membongkar aibnya di depan Yang Mulia Pangeran! Ini benar-benar menghancurkan reputasinya lalu menginjak-injaknya.Air matanya tanpa sadar menetes.Dia benar-benar emosional.Hormonnya yang tidak stabil membuat Aubrey tak bisa menahan tetesan air matan
Mendengar kedatangan tamu besar, Aubrey dan Margareth segera bersiap untuk menyambut.Tapi Alfred mendorong mereka.“Kalian tidak perlu ke depan! Cukup aku dan Jane!”Aubrey tak terima. “Apa? Mana bisa begitu! Kami ini keluargamu yang tercatat hukum!”“Diam! Ini masih rumahku! Masih bagus aku tidak mengusir kalian!”Baik Aubrey maupun Avery kehilangan kata-katanya. Margareth pun juga tak tahan untuk menghadapi Alfred. Dia hanya melotot dan Alfred merangkul Lady Jane untuk menuju ruang depan.“Siapa yang datang, Ave?” tanya Aubrey begitu ayah mereka sudah ke depan.Mereka duduk di teras belakang, berusaha menenangkan diri setelah tingkah laku tidak pantas Lady Jane.“Tidak tahu. Tapi ... iring-iringannya sangat banyak. Tidak pernah sebelumnya kita kedatangan tamu seperti ini.Lalu ... keretanya juga sangat bagus.”Di ruang depan, Alfred dan Lady Jane menyambut di pintu.Begitu kereta tiba tepat di halaman depan mansion, para pengawal turun duluan untuk membukakan pintu bagi tuan mereka
Di kediaman Caldwell ...Aubrey menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Ia terus-terusan lapar. Dan masa periode nya pun tak kunjung tiba.Masalahnya, lapar yang ia rasakan terasa menusuk-nusuk sekali. Ini jelas bukan sekadar lapar biasa. Apalagi ia selalu menuruti rasa laparnya dengan makan apapun yang dia inginkan.Tapi tetap saja, satu jam kemudian, ia sudah lapar menusuk-nusuk lagi di perutnya.Apakah ia telah berubah menjadi wanita yang rakus yang tak bisa mengontrol lagi nafsu makannya? Aubrey bergidik memikirkan itu. Dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.Dielusnya perut ratanya itu.Beberapa minggu terakhir ini juga dia kerap menginginkan gaun yang longgar untuk dipakai. Sekalipun gaun ketat masih muat di tubuhnya, Aubrey merasa gaun itu menyesakkan pernapasannya.Gaun longgar barulah melegakan.Tapi ada apa gerangan?Dengan kuas di tangan, ia menggambar pakaian jas pria. Tapi alih-alih merancang model baru, ia malah menggambar utuh beserta dengan pria-nya. Wajah yang nam







