Share

Chapter 006

Author: Chani yoh
last update publish date: 2026-07-28 11:39:00

Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.

Ia mulai lelah. Juga lapar.

Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.

Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.

“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.

Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.

Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.

“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.

Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.

Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.

Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.

Yang berbeda kali ini hanyalah cuaca yang gerah dan panas.

“Aku buatkan makan siang dulu. Kau tidak akan mati kelaparan kan selagi menungguku menyiapkan makan siang?”

Aubrey menoleh untuk memberikan anggukan, meskipun dalam hatinya dia bertanya-tanya bagaimana pria seperti Edgar bisa menyiapkan makan siang untuk mereka?

Mampukah?

Tapi jika dilihat, Edgar tinggal seorang diri, berarti dia sudah sanggup menyiapkan makanannya sendiri.

Sedikit kekaguman menyelinap di hati Aubrey.

Dia melihat Edgar menyiapkan telur, kentang, lalu seekor ayam mentah yang sudah siap masak.

Aubrey heran, darimana pria itu mendapatkan bahan makanannya dari tempat terpencil seperti ini? Kecuali dia memiliki peternakan ayam di dekat sini. Tapi tidak ada apa-apa di perbukitan ini.

Tak lama kemudian, aroma telur dan kentang panggang sudah menyeruak. Apalagi ketika aroma daging ayam panggang yang dilumuri saos lada favorite Edgar ikut bergabung. Perut Aubrey langsung berbunyi.

“Sudah siap. Ayo makan,” ajak Edgar setelah dia menyajikan semua itu di meja makannya.

Aubrey tak sanggup menahan laparnya melihat semua makanan ini. Sungguh sulit dipercaya seseorang seperti Edgar bisa memasak semua ini, sampai aromanya begitu menggugah. Dan ketika dia mencicipinya, semuanya sangat lezat.

“Wow! Ini lezat sekali! Bagaiamana kau bisa memasak seperti ini?”

“Tentu saja aku bisa! Ini mudah saja.”

“Oh ya?”

“Iya! Ini masakan yang mudah dan simpel. Jadi jangan sungkan. Ayo makan.”

Ajakan Edgar serta aroma masakan yang begitu menggoda membuat Aubrey tak sadar jika Edgar tidak menjawab pertanyaannya. 

Mereka lalu makan bersama sambil mengobrol ringan. Lambat laun Aubrey tak lagi memikirkan Oliver yang akan marah padanya. Dia menikmati makan siang ini apalagi Edgar makan dengan lahap, juga mampu berbincang ringan dengannya.

Rasa-rasanya selama pernikahannya dengan Oliver, dia belum pernah makan sambil berbincang santai seperti ini. Dengan Oliver suasana meja makan hening dan kaku. Sekalinya Oliver bicara ya seperti kemarin itu, malah mengumumkan dia akan keluar dengan wanita lain.

Percakapan macam apa itu?

Di suapan terakhirnya, Edgar bertanya, “Enak?”

“Enak. Kau cocok menjadi koki istana,” ujar Aubrey seraya memuji. "Kenapa kau tidak mencoba melamar di istana? Kalau kau menjadi koki istana, gajimu pasti fantastis dan kau akan punya kehidupan yang makmur."

Edgar tersenyum kecil seraya mengangguk. "Hidupku sekarang sudah nyaman dan makmur," sahutnya lagi. "Apalagi yang kucari?"

Mau tak mau Aubrey mengangguk menyetujui pernyataan Edgar sekalipun dia merasa bagaimana bisa nyaman dan makmur hidup seorang diri sebagai penjaga hutan?

Namun Edgar cukup unik jalan pikirannya dan Aubrey tak ingin mendebatnya.

Di tengah pikiran mereka yang sibuk sendiri, Edgar tiba-tiba bertanya, “Makanan ini ... tidak terasa yang aneh-aneh, kah?”

“Aneh-aneh? Tidak! Ini perfect!”

Edgar tiba-tiba berhenti tersenyum lalu menunjukkan raut berpikir serius seakan ada yang salah.

“Kenapa bisa begitu ya? Jangan-jangan yang kububuhkan tadi kurang. Kenapa kau tidak merasakan yang aneh-aneh? Pusing, atau sakit perut, atau tenggorokan yang panas?”

Seketika itu juga, Aubrey berhenti mengunyah dan menatap tajam ke arahnya. Pria itu lalu tergelak dalam tawanya lagi.

Edgar sangat menikmati lelucon konyolnya yang selalu sukses membuat Aubrey kesal. 

Dan setiap kali melihat Aubrey selalu termakan lelucon konyolnya, Edgar semakin terobsesi untuk melemparkan lelucon berikutnya di lain kesempatan. 

Selesai makan, Aubrey tertidur di kursi santai ketika Edgar menghampirinya.

Pria itu memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamati wajah Aubrey secara leluasa.

Rasanya seperti tak habis-habisnya kesukaan dalam hatinya untuk memandangi Aubrey. Wanita itu cantik sekali.

Andai Aubrey tidak sedang mencari Velvet, Edgar ingin menghabiskan waktunya seharian bersama Aubrey.

Tapi misi mencari Velvet sepertinya tidak bisa ditunda.

Aubrey tampak sangat kalut saat datang tadi pagi dan Edgar tahu semua itu karena Velvet sangat berarti.

Dia lalu membuka lebar jendela agar angin kering masuk lebih banyak sehingga Aubrey tidak kepanasan.

Setelahnya, dia menyelipkan selembar kertas di tangan Aubrey yang memberitahukan bahwa dia pergi untuk mencari Velvet.

---

Aubrey terbangun saat hari sudah menjelang sore.

Dia membuka matanya dan terkejut menyadari dirinya masih berada di pondok Edgar sedangkan hari sudah hampir sore.

Aubrey menatap sekelilingnya dan tak melihat Edgar di mana-mana.

“Ke mana dia? Ini sudah sore, aku harus pulang,” gumam Aubrey pada dirinya sendiri.

Tapi ketika dia teringat Velvet yang belum dia temukan, Aubrey ragu dan bimbang. Bagaimana jika malam ini Oliver pulang dan menanyakan Velvet?

Habislah dia ...

Aubrey tidak memperhatikan secarik kertas yang tadi ada di tangannya. Saat terbangun kertas itu jatuh dan Aubrey tidak menyadarinya.

Dia menuju pintu belakang pondok untuk mempersiapkan kudanya agar bisa pulang.

Tapi di sana, dia malah mendengar derap langkah kuda yang lebih dari satu dari kejauhan.

Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Siapa yang datang?

Dengan kaki gemetar, Aubrey bersembunyi di samping pondok.

Lalu derap kuda itu berhenti di depan pondok.

Tak lama kemudian, terdengar derap kuda yang pergi. Tapi perkiraan Aubrey hanya dua kuda yang pergi. Sedangkan jumlah semua kuda yang didengarnya ada setidaknya empat.

Berarti masih ada dua kuda lagi.

Aubrey pun mengintip lagi dan dia melihat salah satu kuda yang ada di sana adalah … Velvet!

Aubrey gegas keluar dari persembunyiannya dengan kelegaan yang luar biasa.

“Edgar ...! Kau berhasil menemukan Velvet? Di mana kau menemukannya?” Aubrey berlari menghampiri Edgar dengan kegembiaraan yang sangat nyata terlihat.

Edgar pun, saat melihat Aubrey menghampirinya dengan girang, melompat turun dari kudanya. Dia sempat tersenyum mendapati sambutan Aubrey yang begitu gembira tapi senyum itu langsung pupus.

“Aku menemukannya di pinggir sungai. Tapi ada masalah. Salah satu kakinya terluka. Kita harus mengobatinya dulu.”

Saat itulah baru Aubrey melihat bahwa salah satu kaki belakang Velvet terluka. 

“Dia tak akan sanggup jalan jauh. Aku rasa biar dia di sini dulu, akan kurawat sampai sembuh, barulah kau membawanya pulang.”

Velvet belum bisa pulang? Bagaimana dia bisa menyembunyikan ini dari Oliver?

Aubrey merasa dia sedang menggali kuburannya sendiri!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 009

    “Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 008

    Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 007

    Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 006

    Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 005

    “Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 004

    “Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status