LOGINAubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.
Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.
Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?
Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.
Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.
Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.
“Apa yang akan Nyonya lakukan hari ini?” Amy bertanya seraya menyerahkan secangkir teh hijau pada Aubrey serta sepiring cookies almond favorite Aubrey.
“Anda akan ke panti asuhan lagi?”
Aubrey menggeleng seraya menyesap teh hijaunya secara perlahan. Mengunjungi panti asuhan adalah agenda mingguan Aubrey selama ini. Tapi untuk minggu ini tidak. Dia fokus pada Velvet terlebih dahulu.
“Tidak. Aku akan melihat kondisi Velvet dulu. Sudah tiga hari aku tidak melihatnya. Aku rasa dia sudah sembuh. Semoga saja.”
Amy mengangguk lagi, tidak banyak tanya.
“Kau tetap di sini, memantau situasi. Kalau Tuan tiba-tiba pulang sebelum langit gelap, kau tahu apa yang harus kau katakan jika Tuan menanyaiku.”
Amy mengangguk lagi dengan skenario bahwa ‘Duchess Aubrey sakit dan tak ingin dijenguk’ sudah terhapal jelas di benaknya.
Dengan kondisi seperti itu, Aubrey pun menuju istal dan mengambil kuda tuanya lagi.
Ketika akhirnya menyusuri perbukitan hijau lagi setelah tiga hari berdiam di rumah, Aubrey merasakan kegembiraan yang luar biasa.
Bahkan saat hampir tiba di pondok Edgar, entah mengapa tiba-tiba jantung Aubrey berdetak gugup.
Kira-kira apa yang sedang Edgar lakukan? Sarapan? Mengganti perban Velvet?
Atau ... membelah kayu lagi seperti waktu itu? Biar bagaimana pun tubuh Edgar tampak begitu kencang dan liat. Otot di lengannya ... sekalipun tidak berlebihan tapi terlihat keras dan kekar.
Dan yang paling menggugah pandangan Aubrey adalah otot perutnya yang terbentuk sempurna. Baru kali ini Aubrey melihat tubuh seorang pria teramat seksi. Terpahat sempurna.
Aubrey yakin Oliver kalah kokoh dalam hal tubuh. Tidak terlihat ada otot yang mencolok di tubuh Oliver.
‘Oh, Aubrey ... Kau tidak boleh memikirkan pria lain dengan cara seperti itu!’ keluh hati kecilnya pada dirinya sendiri.
Namun ketika dia tiba di pondok Edgar dan melihat pria itu sedang memegang bilah panjang dengan ujung runcing, Aubrey melupakan semua pikirannya tadi.
“Hai, kau mau ke mana dengan benda itu?” tanyanya spontan, tak sempat berpikir.
Edgar menoleh padanya. Ada secercah keterkejutan di sana tapi secepat kilat berubah menjadi antusiasme.
Dia lalu bersandar pada bilah runcing yang dia tancapkan ke tanah, dan dengan berkacak pinggang dia menyahuti Aubrey.
“Aku mau memancing. Kau mau ikut?”
Aubrey langsung menjawab tanpa berpikir, “Mau! Eh ... kalau boleh ...”
“Tentu saja! Ayo!”
“Tung- tunggu dulu. Bagaimana Velvet? Apakah dia sudah sembuh?”
“Oh ... Si Black sudah lumayan sembuh. Tapi nanti saja melihatnya. Aku sudah tak sabar ingin memancing.”
Aubrey tercenung. Si Black?
Sejak kapan Velvet diubah namanya jadi Black?
Aubrey geram tapi antusiasme untuk memancing lebih besar.
Dia pun mengalah dulu dalam hal Velvet.
“Baiklah,” ujar Aubrey sambil menekan kegeramannya lalu memperhatikan Edgar yang melompat ke atas kudanya.
Namun ketika akan melaju, Edgar mengernyit menatap kuda Aubrey.
“Kudamu sudah kelelahan. Lebih baik pakai kudaku saja. Ayo!”
Aubrey tercenung lagi. Pikirannya melayang pada saat dia berada satu kuda dengan Edgar. Pikirannya tak bisa berhenti menghitung setiap sentuhan yang terjadi antara tubuh Edgar dan tubuhnya. Mana bisa dia mengulanginya lagi!
"Ayo!" seru Edgar lagi sehingga akhirnya Aubrey pun terpaksa menaiki kuda Edgar untuk duduk di depan pria itu.
Detik berikutnya, Edgar sudah memecut kuda dan melaju kencang.
Tempat memancing cukup jauh. Rasanya seperti di ujung perbukitan ketika Edgar berhenti di dekat sebuah danau yang indah.
Aubrey terpana melihat tempat itu. Apalagi ketika dia menyaksikan tebing besar di sebagian bibir danau. Selama ini, pemandangan ini hanya dilihatnya di lukisan-lukisan.
“Ini indah sekali. Bagaimana kau mengetahui tempat ini?”
“Aku pemiliknya,” ujar Edgar lagi sambil mulai menyusuri tebing rendah lalu berhenti di tengah batu karang yang mengarah ke danau.
'Kau pemiliknya, haha yang benar saja!' cibir Aubrey dalam hati. Tapi begitu dia menoleh pada pria itu, tangan Edgar sudah terarah padanya dan Aubrey harus menggenggam tangan itu jika tidak mau terpeleset.
Setelah Aubrey berada di dekatnya, Edgar tiba-tiba membuka atasannya, membuat kedua mata Aubrey melebar. Tapi Edgar bersikap biasa saja. Dia melempar bajunya ke samping, lalu melompat ke danau.
Byurrr!!
“Tolong berikan tombakku,” pintanya pada Aubrey yang terperangah melihat tingkah Edgar.
Aubrey memberikannya.
“Kau mau ikut turun?” tanya Edgar saat dia sudah mendapatkan beberapa ikan berukuran se-telapak tangan.
Aubrey yang sedari tadi memperhatikan Edgar jadi ingin mencobanya.
“Ayo turun!” ajak Edgar lagi seraya mengulurkan tangan untuk menjadi pegangan Aubrey.
---
Aubrey masih mengangkat ujung rok gaunnya saat dia sudah berada di air yang setinggi betisnya. Dia menikmati dinginnya air danau merendam kedua kakinya.
Melihat itu, Edgar berhenti menombak ikan, lalu memercikkan air ke arah wajah Aubrey.
“Aaargh! Kenapa kau lakukan itu?” Aubrey mau marah, tapi melihat Edgar malah tertawa, semangat membalasnya pun muncul.
Aubrey membalas dan Edgar pun tak berpangku tangan begitu saja.
Terjadilah mereka saling memercikkan air dan Aubrey berlari-lari kecil di pinggir danau itu dengan tertawa lepas.
Namun tiba-tiba ...
Byuurr!
"Argh! Hummpt!"
Aubrey menginjak area danau yang dalam.
Dia jatuh terjerembap ke dalam air.
Tangannya menggapai-gapai dengan kepanikan tingkat tinggi.
Beruntung Edgar cepat tanggap dan cepat menariknya.
Dia memeluk Aubrey yang terengah menarik napasnya lalu membawa wanita itu kembali ke atas batu karang.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya seraya mendudukkan Aubrey di atas batu karang itu.
Aubrey terbatuk-batuk dan berusaha keras menstabilkan deru napasnya.
Melihat itu, Edgar menepuk-nepuk punggung Aubrey agar air yang terhirup bisa keluar.
Saat napas Aubrey akhirnya stabil, Edgar tak sanggup berhenti menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Dia melihat wajah pucat Aubrey, serta ketakutan, dan air mata yang sudah menggenang.
“Hei, hei, jangan takut. Kau sudah aman,” hibur Edgar yang jarinya menyentuh pipi Aubrey dan mengahapus jejak air matanya di sana.
“Aku pikir aku tenggelam dan mati,” ujar Aubrey lirih. Kengerian bahwa dirinya nyaris tewas masih bergelanyut kuat di benaknya. Betapa kuat air menarik tubuhnya ke bawah danau masih menyisakan kengerian yang sangat jelas.
“Selama kau bersamaku, tidak mungkin aku akan membiarkan hal seperti itu terjadi padamu,” balas Edgar lagi dengan suara yang sama lirihnya, tapi tatapannya bersuara lebih dalam dari kata-katanya.
Mendengar itu, Aubrey mulai tenang dan mengangguk pada Edgar.
Lalu entah bagaimana Edgar memulai, tapi tiba-tiba saja jemarinya sudah mengelus pipi mulus Aubrey dengan lembut dan perlahan. Elusan itu pun turun menuju dagu.
Lalu jari Edgar menahan dagu Aubrey sedangkan wajahnya datang mendekat. Bibirnya berusaha meraih bibir Aubrey.
“Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben
Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib
Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la
Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati
“Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,







