Share

Chapter 008

Author: Chani yoh
last update publish date: 2026-08-07 00:22:51

Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.

Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.

Edgar terlihat sangat menyesal.

Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.

Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. 

Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.

Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.

Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.

Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.

Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bibirnya.

Sangat lembut. Begitu juga ketika Edgar melumat bibirnya. Lembut dan perlahan.

Seolah bibir Aubrey adalah kaca tipis yang akan pecah jika ditekan sedikit saja. Lalu jarinya mengusap bibir Aubrey sehingga wanita itu spontan mempersilahkan Edgar menjelajah lebih dalam.

Ciuman Edgar tidak terburu-buru melainkan seolah dia sedang menikmati butiran gula bubuk halus di atas kue yang lembut. Edgar berusaha keras menjaga agar kue yang dia nikmati tidak sampai hancur. Karena itulah dia menjelajah dengan perlahan dan hati-hati.

Ketika Aubrey akhirnya mulai membalas, keduanya seperti menari bersama, saling membelai, membelit, dan meliuk gemulai. 

Tangan Edgar pun meraup rahang Aubrey, menahannya, sehingga dia bisa memperdalam ciuman mereka lebih lagi.

Matahari mulai tinggi di atas langit dan Aubrey tak menyadari bahwa tubuhnya yang tadi kedinginan di balik gaun basahnya, kini mulai memanas akibat menerima ciuman Edgar yang semakin merasuk.

Perlahan Edgar mulai menindih Aubrey lalu bibirnya melepas bibir Aubrey dan mulai merayap di sepanjang rahang Aubrey, perlahan dan lembut, menuju telinganya.

Di sana dia menggoda Aubrey dengan gesekan yang lembut, memancing hasratnya, lalu turun untuk menyusuri leher Aubrey.

Sesekali Edgar menggelitik Aubrey dengan kecupan kecil yang menggigit di kulit leher yang sensitif itu.

Tubuh Aubrey pun semakin bereaksi dan desahan lirih lolos dari bibirnya.

Edgar semakin bergelora. Bibirnya semakin turun, menuju tulang selangka Aubrey.

Tangannya pun semakin berani. Dia menurunkan bagian bahu gaun Aubrey sehingga bahunya menjadi polos.

Rambut Aubrey yang sudah terbuyar dari gelungannya kini berkilauan tertimpa cahaya matahari dan semakin menambah gelora Edgar karena Aubrey tampak sangat cantik dengan kilau rambutnya yang memesona.

Kecupannya pun turun dan semakin turun, menuju dada Aubrey meski masih berbalut gaun.

Namun saat bibir itu nyaris menyentuh dadanya, dari sudut matanya Edgar melihat beberapa burung kecil berterbangan dari semak-semak yang tak seberapa jauh dari mereka.

Semak itu juga tampak sedikit bergoyang.

Pergerakan Edgar terhenti saat itu juga. Dia menatap ke arah semak-semak dan pepohonan untuk waktu yang cukup lama. 

Aubrey pun seakan tersadar akan apa yang nyaris terjadi. Dia mendorong tubuh Edgar agar menyingkir dari tubuhnya.

Namun, ketika ia bangun dan duduk, Aubrey masih bisa melihat sisa-sisa hasrat yang kental di mata Edgar.

“Kenapa menciumku!” tanya Aubrey tapi nada suaranya terdengar lebih seperti memprotes.

Edgar mengernyit. “Kau tidak mengelak,” ujarnya memberikan alasannya.

Aubrey pun terperangah. Tak menyangka Edgar menjawabnya seperti itu. Ia sampai tak mampu membalas lagi selain memberikan delikan sebal.

Edgar tidak memedulikannya. Ia bangkit dan menuju ikan hasil tangkapannya.

Dalam sekejap Aubrey merasa bersalah telah mendorong dan memarahi Edgar karena benar apa yang Edgar katakan, dia tidak mengelaknya. Seharusnya jika dia tak mau, dia menolak dari awal.

Aubrey semakin gelisah. Dan dia pun turut bertanya-tanya, kenapa dia tak mengelak tadi?

Biar bagaimana pun Edgar tidak tahu bahwa ia sudah bersuami. 

---

Edgar langsung membuat api unggun kecil. Setelah itu, dia mulai membersihkan ikan dan memanggangnya.

Edgar memberikan satu tusuk ikan pada Aubrey. Dengan duduk bersebelahan, mereka memanggang ikan bersama.

Aroma harum ikan bakar disertai dengan perut yang sudah bernyanyi membuat Aubrey mengesampingkan kejadian ciuman mereka tadi beserta segala debaran yang dia rasakan.

Beruntung Edgar mulai membicarakan suara air dan kicau burung di sekitar mereka. Lalu tentang danau indah ini. Tapi tidak tentang ciuman mereka.

Itu membuat Aubrey merasa lega. Dia tak siap dimusuhi Edgar.

Selesai makan, mereka kembali ke pondok Edgar. Pria itu memberikan Velvet pada Aubrey.

Namun satu hal yang dirasakan Aubrey berbeda dalam diri Edgar adalah pria itu tidak lagi bercanda konyol dengannya. Dia menyebut Velvet dengan Velvet, tidak lagi Black.

“Velvet masih belum sanggup berlari cepat dan dalam jarak tempuh yang jauh,” ujar Edgar saat itu sembari berpikir keras.

“Tidak adakah cara lain?” Aubrey nyaris putus asa. Dia takkan sanggup jika harus was-was beberapa hari lagi hanya karena Velvet belum kembali ke istalnya.

Oliver memang jarang di rumah berapa hari ini tapi bukan berarti dia akan seperti ini terus menerus.

Velvet tetap harus kembali secepatnya.

“Ya, kalau kau memaksa, kita bisa membawanya dengan jalan perlahan.”

Aubrey pun setuju dan itulah yang terjadi bagaimana Velvet akhirnya dibawa pulang. Mereka menghabiskan waktu dua kali lebih lama dari seharusnya karena Velvet harus berjalan perlahan.

Setibanya di belakang villa, Edgar menyerahkan Velvet pada Aubrey lalu dia berpamitan.

“Pastikan lukanya kering total.”

“Tentu,” sahut Aubrey kaku, teringat adegan di pinggir danau.

Edgar mengangguk dan berkata lagi, “Baiklah, aku harus pulang ke pondokku. Dan aku harap kita masih berjumpa lagi ...”

Tatapannya lekat menatap sepasang mata Aubrey. Tampak rasa bersalah di matanya, tapi tidak ada penyesalan di sana.

Entah mengapa ketika mendengar kata ‘berjumpa lagi’ Aubrey merasakan kelegaan luar biasa. Ia juga mengharapkan hal yang sama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 009

    “Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 008

    Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 007

    Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 006

    Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 005

    “Anda tidak apa-apa, Nyonya?” Amy yang sudah berada di sampingnya berbisik pelan.Dia masih takut jika ternyata Oliver masih berada di sana.Seraya memeluk Aubrey dan membantunya berdiri, Amy ikut menangis melihat kondisi majikan yang sudah dia layani dari semasa muda.Aubrey tak henti menangis saat itu sehingga Amy pun memeluknya.Saat itu, Aubrey menyadari dia masih memiliki Amy. Walaupun status mereka berbeda, tapi Amy begitu setia.Amy sudah bagaikan teman yang ada di setiap musim hidupnya.Setelah tangisnya reda, Amy membuatkannya minuman hangat lalu mengobati lukanya.“Bisa buatkan renda tipis untuk kupakai di leher ini? Agar tidak terlihat bekas cekikan di sini,” ujar Aubrey ketika melihat lebam dan goresan merah di lehernya lewat cermin.Amy langsung paham dan membuatkannya.Setelah jadi, dia memakaikannya di leher Aubrey. Renda putih tipis itu tampak seperti kalung cantik di leher Aubrey. Sungguh sangat ironi jika dibandingkan dengan apa yang ada di baliknya.Aubrey mengamati

  • Skandal Sang Duchess Yang Diabaikan   Chapter 004

    “Oliver ... belum pulang, Bu.”Duchess Rosalie seperti mematung ketika mendengarnya.Dia melirik jarum jam lalu menatap Aubrey lagi.Suara pelannya terdengar dingin dan menusuk saat berkata lagi, “Aku mendengar tentang kembalinya putri pelayan itu. Apakah ketidakberadaan Oliver di rumah ini ada hubungannya dengan putri pelayan itu?”Aubrey bisa melihat kegeraman dan ketakutan yang bercampur jadi satu di mata ibu mertuanya itu.Padahal harusnya semua emosi itu dia yang merasakannya.Rasa haru menyeruak dalam diri Aubrey. Dia mengedip pelan, menahan air matanya, lalu dengan tegar menjawab jujur.“Iya. Oliver bilang, Zeline memintanya menemani melihat lokasi untuk membangun butik.”“Butik?”Keterkejutan ibu mertuanya lebih dari yang diperkirakan Aubrey. Bahkan percikan sakit hati di mata Duchess Rosalie terasa lebih nyata dari perasaannya.Aubrey tak sanggup berkata-kata. Dia hanya mengangguk sebagai konfirmasi.Duchess Rosalie menatap suaminya. Lalu ketika dia berbalik lagi pada Aubrey,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status