LOGINTeman Teman maaf kemarin cuma satu bab semga hari ini bisa boom update MAkasih udah setia sama Mas Dokter ^^ Sehat selalu teman teman
“Kapan saya ketemu keluarga Pak Randy, eh Mas?” Dinda menaruh setoples ampyang dan segelas air hangat di meja kecil yang letaknya di tengah mereka. Ia menatap calon suaminya yang terdiam pascamakan malam, Randy seperti patung saja. Untuk membuat kesal pria itu, ia memanggilnya kencang, “Bapak … Pak Randy!!!”Lagi, Dinda diabaikan. Ia mendecak, dan melipat tangan di depan dada. Jika bukan karena rasa malu pada neneknya, mungkin Dinda sudah masuk ke kamar, meninggalkan pria yang berubah dadakan ini.“Katanya serius, tapi gue dicuekin gini. Kalau udah nikah kayak gini? Dih, apa omongan Pak Raymond ada benarnya, ya?” Ekor mata Dinda melirik Randy. Kata-kata ‘masih bisa dibatalkan sebelum terlambat’ menggema di kepalanya.Kedua tangannya meremas-remas kepala agar ucapan Raymong enyah, tetapi makin kuat. Namun hatinya terlau sayang jika pria seperti Randy dilepaskan.Gadis itu berdiri tepat di hadapan calon suaminya. Sebagai seorang perempuan, ia merasa perlu menuntut keseriusan, seperti ap
Satu minggu setelah restu Raymond dikantongi, Dinda dan Randy bergegas ke kampung halaman Dinda, di mana keluarga Basuki tinggal. Cuti tiga hari didapat Dinda dengan cuma-cuma, langsung disetujui oleh Dirga. Mobil yang dikendarai Randy bergerak cepat melewati ruas tol. Keduanya sudah tidak sabar menyampaikan kabar bahagia ini.Dinda juga sudah tidak terlalu canggung untuk sekadar menerima genggaman tangan Randy. Ah, lagi pula ia tidak terlalu suci-suci sekali hanya dengan sentuhan seperti ini. Toh, selama menjalin asmara dengan Dharma, sudah sering dirangkul, dan bersandar. Mungkin … ini cara mengenal pria itu.Dinda menoleh ke samping, memperhatikan satu tangan Randy yang serius memegang setir. Wajah Randy yang tampan dan dewasa ini membuat jantung Dinda bergetar hebat, matanya nyaris tidak berkedip kala kulit bersih pria itu disinari cahaya matahari.“Kamu mulai jatuh cinta sama saya? Baguslah. Bukan masalah jatuh cinta sebelum menikah,” ucap Randy tiba-tiba, membuat Dinda mengerjap
‘Mungkin ini memang takdir gue. Punya Ayah kandung Pak Raymond, Laras adik kandung gue, dan Bu Lastri ibu kandung gue yang nggak tahu mukanya kayak gimana. Jujur, ini terlalu mendadak, aneh banget, gue nggak sangka keluarga yang kasih tempat tinggal, makan, dan biayain sekolah itu orang tua angkat, lebih sakit lagi ternyata gue ini anak haram. Andai aja waktu bisa diulang … gue lebih milih nggak lahir,’ batin Dinda, kepalanya menoleh ke samping. Ia memperhatikan jalanan yang dipadati kendaraan. Lampu-lampunya mulai menyala seiring dengan langit yang merangkak gelap.Demi masa depan dan hidup yang tenang, ia setuju menerima Randy dan ajakan pria itu menemui Raymond. Mungkin … ini memang waktu yang tepat. Meskipun hatinya belum sepenuhnya menerima Randy, tetapi … baginya, dicintai lebih penting daripada mencintai. Kandasnya jalinan asmara bersama Dharma memberi Dinda pukulan berat.Air mata Dinda menetes di sisi kiri, untungnya Randy yang sedang fokus menyetir tidak melihatnya. Ia akan
Esoknya, Randy bangun lebih awal. Bukan untuk menemui Dinda atau berangkat kerja pagi-pagi. Melainkan datang ke apartemen atasannya. Namun, ia harus berpuas diri, lantaran saat ini Dirga sedang sibuk mengimunisasi Leksa dan Laksa. Dua bayi itu baru saja bangun tidur dan selesai menyusu langsung pada maminya.Dengan bantuan Laras yang memegang kaki dan tangan Leksa agar tidak banyak bergerak, Dirga gegas mengenakan sarung tangan steril. Ia menyiapkan spuit kecil berisi vaksin, lalu dengan gerakan teramat hati-hati agar tidak membuat anaknya trauma, ia menyuntikkan cairan imunisasi pada paha Leksa.Seketika, Leksa menjerit, tangisan nyaring memenuhi ruangan apartemen. Bahkan Ratih yang sedang menyiapkan sarapan sehat untu Laras melongok sambil mememlk sutil. “Duh, Leksa. Nenek kaget,” gumamnya.Sigap Laras mendekat dan mengusap pipi Leksa yang memerah. “Sakit sebentar, Sayang. Sebentar saja, ya, Nak? Mami peluk, cup cup cup,” bisiknya dengan nada keibuan.Dirga menarik jarumnya dan memel
Pagi tadi, Randy yang baru saja tiba di rumah sakit, matanya tertuju pada Dinda. Gadis itu sudah sibuk berganti shift dengan dokter sebelumnya. Ia yang ingin menghampiri pun urung. Ada banyak kata yang ingin disampaikannya tentang perbincangan semalam. Ia benaran serius. Mencari wanita untuk pendamping hidup, bukan lagi sekadar teman kencan belaka.Sudut bibir Randy tertarik ke atas kala Dinda juga berhenti sesaat untuk menatapnya, sebelum akhirnya gadis itu sadar akan tugasnya lagi. Namun Dinda sempat mengangguk kecil pada Randy.“Itu artinya kamu setuju sama saya,” gumam Randy, main tafsir sendiri.Sepanjang hari itu, Randy tidak berhasil bertemu Dinda secara pribadi karena kesibukan masing-masing. Ia harus mendampingi Dirga rapat penting dengan pemasok obat-obatan dan perlatan medis, lalu setelahnya langsung menuju kampus untuk mendampingi Dirga sebagai tamu seminar di Fakultas Kedokteran. Pekerjaan membuat pikirannya teralihkan sejenak, tetapi niatnya tetap bulat.Sore harinya, sa
Pagi harinya di rumah minimalis komplek perumahan yang agak jauh dari pusat kota, Raymond sudah terbangun. Ia memandangi kaki palsunya yang bersandar di tepi ranjang. Lalu pandangannya pun jatuh pada sisi ranjang lainnya. Istrinya sudah tidak ada, wanita itu pasti di dapur. Ketidakmampuan Raymond membayar ART membuat istrinya berhemat habis-habisan. Namun Raisa dan Rain masih bisa kuliah di luar negeri, meskipun kehidupannya morat-marit.Perlahan Raymond memakai kaki palsunya, berjalan ke dapur. Ia melihat sudah ada nasi bungkus di atas piring. Makanan yang dulu dianggapnya menjijikkan kini harus disantapnnya setiap hari, sehari dua kali.“Jadi ke rutan? Aku nggak ikut. Takut ganggu. Kamu aja sama sopir. Biar nanti dia dikasih uang rokok dan jajan. Perginya nggak lama?” runtut istri Raymond itu. Sambil menyodorkan piring.“Sebentar. Mau ketemu Rama. Aku mandi dulu, baru makan,” kata Raymond Sambil tangannnya merayap di dinding.“Ya, sudah aku maka duluan. Air hangatnya ada di ember.” I







