Share

Status Janda Untuk Istriku
Status Janda Untuk Istriku
Author: ATM Berjalan

Prolog

Author: ATM Berjalan
last update publish date: 2025-12-01 09:07:38

Suara decit rem bus yang beradu dengan aspal panas menandai akhir perjalanan panjang itu. Terminal sore ini begitu sesak dan pengap. Debu beterbangan setiap kali roda-roda besar melindas jalanan yang berlubang, namun bagi Aisyah, kekacauan ini terasa melegakan.

Akhirnya dia pulang. Empat puluh hari menjalani Kuliah Kerja Nyata di desa terpencil tanpa sinyal dan listrik yang memadai rasanya seperti satu dekade.

Satu per satu teman kelompoknya turun dari bus. Wajah-wajah lelah itu seketika cerah begitu melihat jemputan masing-masing. Ada tawa renyah saat koper-koper besar berpindah tangan ke bagasi mobil orang tua atau pacar yang sudah menunggu.

Aisyah hanya berdiri diam di pinggir trotoar sambil memeluk tas ranselnya yang lusuh. Dia merapatkan gamis panjangnya yang sedikit berdebu, lalu memperbaiki letak cadar hitam yang menutupi separuh wajahnya. Matanya yang teduh menatap nanar pada teman-temannya yang mulai melambaikan tangan perpisahan dari balik kaca mobil ber-AC.

Hati kecilnya sedikit mencelos. Tidak ada mobil bagus yang menjemputnya. Tidak ada pacar yang membawakan tas beratnya. Ibunya harus menyelesaikan jahitan yang akan diambil nanti malam. Aisyah sadar diri, ongkos pulang harus dia atur sendiri.

Tangannya merogoh saku, menghitung sisa lembaran uang yang lecek. Kalau naik ojek pangkalan, dia harus merelakan jatah makan dua hari. Kalau jalan kaki lewat jalan raya utama, butuh waktu empat puluh lima menit sampai betisnya mungkin akan meledak.

Aisyah menoleh ke arah gang sempit di sisi timur pasar. Jalan pintas.

Lorong itu memang kumuh dan jarang dilewati orang saat sore menjelang maghrib begini. Bangunan tua bekas gudang pabrik tekstil mengapit di kanan kirinya, membuat cahaya matahari sulit masuk. Tapi lewat sana hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke rumah. Lima belas menit yang akan menyelamatkan kakinya yang sudah gemetar kelelahan.

Bismillah.

Gadis itu memantapkan hati. Dia melangkah cepat memasuki mulut gang. Udara di dalam sana terasa lembap dan berbau pesing, bercampur dengan aroma sampah basah yang menyengat. Aisyah mempercepat langkahnya, setengah berlari kecil. Suara langkah kakinya menggema pelan, dipantulkan oleh tembok-tembok kusam yang penuh coretan.

Namun langkahnya terhenti mendadak di tikungan kedua.

Di sana, tepat di depan gundukan sampah kardus, tiga orang pria bertubuh kekar sedang menghajar habis-habisan seorang pria muda yang sudah tersungkur di tanah. Suara hantaman benda tumpul terdengar mengerikan.

Bugh. Bugh.

Disusul erangan tertahan yang menyayat hati.

Darah segar mengucur dari pelipis pria malang itu, membasahi kemeja putih mahal yang kini sudah berubah warna menjadi merah dan cokelat tanah. Itu Keinan. Seorang direktur muda yang sedang menjadi pelampiasan sakit hati lawan bisnisnya, setelah dia berhasil menggenggam proyek besar.

Naluri Aisyah berteriak untuk lari, berbalik arah dan mencari bantuan. Tapi melihat salah satu preman itu mengeluarkan balok kayu dan bersiap mengayunkan ke kepala korban, mulut Aisyah bergerak lebih cepat daripada akalnya.

"Berhenti! Tolong! Ada polisi!" teriak Aisyah sekuat tenaga, berharap gertakan itu berhasil.

Hening sejenak.

Gerakan tangan preman itu terhenti di udara. Ketiga pria berwajah beringas itu menoleh serentak ke arah sumber suara. Keinan, dengan sisa kesadarannya, membuka mata yang bengkak dan menatap ngeri pada sosok kecil bercadar di ujung gang. Dia menggeleng lemah, mencoba memberi isyarat agar gadis itu lari.

“Hei, kau. Jangan di sini. Jangan ikut campur.”

Tapi terlambat.

Salah satu preman yang memiliki tato naga di lehernya menyeringai lebar. Gigi kuningnya terlihat menjijikkan saat dia membuang balok kayu di tangannya dan mulai berjalan mendekati Aisyah.

"Wah, lihat siapa yang datang. Tuan Putri nyasar rupanya," ucapnya dengan nada yang membuat bulu kuduk Aisyah meremang.

Aisyah mundur selangkah, kakinya tersandung batu kerikil. Jantungnya berdegup gila-gilaan, seakan ingin merobek rongga dadanya. Belum sempat dia berbalik untuk kabur, dua preman lainnya sudah mengepung dari sisi belakang. Jalan keluar tertutup.

"Jangan mendekat!" Aisyah menjerit, suaranya bergetar hebat.

"Suaranya bagus juga. Gimana kalau kita dengar desahannya?"

Detik berikutnya adalah neraka.

Tangan-tangan kasar itu mencengkeram lengan Aisyah, menarik tubuh mungilnya hingga terhempas ke dinding beton yang dingin. Aisyah memberontak, mencakar, menendang sekuat tenaga, tapi tenaganya tidak sebanding. Gamis panjangnya ditarik paksa. Suara kain robek terdengar begitu nyaring di telinga Aisyah, lebih menyakitkan daripada pukulan fisik manapun.

Keinan melihat semuanya.

Dari posisinya yang terkapar tak berdaya di tanah, dia menyaksikan pemandangan yang akan menghantuinya seumur hidup. Gadis yang berniat menolongnya itu kini menjadi tumbal.

"J-jangan …" Keinan berusaha bangkit, mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk merangkak. Jemarinya yang penuh darah menggaruk tanah, berusaha menggapai kaki para bajingan itu, berusaha menghentikan kegilaan ini.

Tapi sebuah tendangan keras mendarat di rusuknya, membuat Keinan kembali terlempar dan memuntahkan darah. Pandangannya mulai kabur, berbayang, dan berputar. Dunia di sekelilingnya terasa melambat.

Dia melihat Aisyah dijatuhkan ke tanah. Dia melihat gadis itu menangis histeris saat pertahanannya satu per satu dilucuti. Cadar yang menutupi wajahnya tersingkap kasar, memperlihatkan wajah ketakutan yang begitu cantik namun penuh penderitaan.

Air mata Aisyah mengalir deras membasahi pipi, matanya menatap lurus ke arah Keinan. Tatapan itu bukan tatapan menyalahkan, melainkan tatapan memohon pertolongan yang amat sangat.

Tatapan keputusasaan dari seseorang yang tahu bahwa harga dirinya sedang dihancurkan di depan mata orang lain.

Tangan Keinan terulur gemetar di udara, berusaha menggapai Aisyah yang hanya berjarak beberapa meter namun terasa sejauh ribuan kilometer. Dia ingin berteriak, dia ingin membunuh mereka semua, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Maafkan saya," batin Keinan menjerit pilu.

Pemandangan terakhir yang direkam retina mata Keinan sebelum kegelapan total merenggut kesadarannya adalah wajah Aisyah yang meringis menahan sakit luar biasa, dengan air mata yang terus meleleh jatuh ke tanah yang kotor.

Lalu semuanya menjadi gelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 29

    Spin offKantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis hari itu seramai biasanya. Aroma kopi espresso dari kedai waralaba ternama bercampur dengan wangi parfum mahal para mahasiswa yang berlalu-lalang. Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke taman rektorat, Keisha duduk mengaduk iced caramel macchiato-nya dengan gerakan pelan dan tatapan kosong. Di depannya, setumpuk jurnal manajemen strategi terabaikan begitu saja."Lo kesambet apa sih, Kei? Dari tadi ngaduk kopi sampai es batunya cair semua. Nggak biasanya lo blank begini kalau lagi brainstorming tugas Pak Hadi."Suara cempreng Nadine, sahabat karib Keisha sejak SMA, memecah lamunan gadis itu. Nadine meletakkan nampan berisi kentang goreng dan duduk di hadapan Keisha sambil menatapnya curiga.Keisha mengerjap, melepaskan sedotannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku lagi mikirin orang, Nad."Nadine nyaris tersedak kentang gorengnya. Mata gadis berambut bob itu membelalak lebar. "Serius? Seorang Keisha Humaira, putri mahk

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 28

    Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jarum jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Aisyah masih mematung, menatap test pack yang tergeletak di atas meja nakas dengan pandangan kosong. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut pada Keinan, melainkan pada kenyataan bahwa Bryan masih memiliki tangan yang panjang untuk menjangkau kehidupan tenang mereka dari balik jeruji besi.Keinan meletakkan kertas itu dengan gerakan kasar, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Ia kemudian menyambar test pack tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, seolah benda itu adalah virus yang bisa menginfeksi mereka."Dia gila," desis Keinan. Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Dia benar-benar sudah gila kalau berpikir cara murahan seperti ini bisa memecah belah kita."Aisyah menoleh, menatap suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Mas... bagaimana dia bisa tahu kita di sini? Bagaimana dia bisa mengirim barang ini ke rumah kita? D

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 27

    Enam bulan berlalu sejak keruntuhan dinasti Wijaya Group mendominasi tajuk utama berita nasional. Waktu bergulir, membawa perubahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.Di sebuah gedung perkantoran menengah di kawasan Sudirman, sebuah plakat perak bertuliskan "Keinan & Partners - Business Consulting" terpasang elegan di sebelah pintu kaca. Kantor itu tidak sebesar satu lantai penuh di Wijaya Tower, hanya berukuran sedang dengan selusin karyawan pilihan. Namun, dering telepon di sana nyaris tak pernah berhenti, dan daftar tunggu klien mencapai antrean tiga bulan.Keinan Wijaya duduk di balik meja kerjanya. Tidak ada lagi jas custom seharga puluhan juta. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan yang sederhana namun pas di tubuh kokohnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, lebih hidup, dan sesekali dihiasi tawa lepas saat berdiskusi dengan timnya."Pak Keinan," sapa seorang stafnya, mengetuk pintu kaca yang terbuka. "Ada

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 26

    Fajar menyingsing di ibu kota, membawa semburat jingga yang menembus gedung-gedung pencakar langit. Bagi sebagian orang, pagi ini adalah awal dari rutinitas yang biasa. Namun bagi keluarga Wijaya, pagi ini adalah awal dari sebuah kiamat.Tepat pukul tujuh pagi, saat lobi utama Wijaya Tower baru saja dibuka untuk para karyawan, belasan mobil hitam dengan pelat merah dan sirene yang dimatikan berhenti mendadak di pelataran gedung. Puluhan petugas berseragam rompi bertuliskan KPK, didampingi aparat kepolisian bersenjata lengkap, merangsek masuk melewati pintu putar kaca.Satpam yang berjaga tak berkutik. Mereka hanya bisa ternganga melihat surat perintah penggeledahan yang disodorkan tepat di depan wajah mereka.Di saat yang sama, Bryan Adhitama baru saja tiba. Ia turun dari Porsche Panamera putihnya dengan setelan jas abu-abu custom-made yang membalut tubuhnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menutupi kantung mata akibat pesta perayaan semalam suntuk bersama kolega-kolega penjil

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 25

    Suara kokok ayam dari pekarangan tetangga dan deru mesin motor yang bersahut-sahutan di gang sempit menjadi alarm alami yang membangunkan Keinan. Ia membuka mata perlahan. Tidak ada langit-langit gipsum berukir mewah atau lampu kristal chandelier yang menyambut pandangannya. Hanya ada asbes yang sedikit bernoda kecokelatan akibat rembesan air hujan lampau.Keinan meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tidur di atas kasur kapuk tipis beralaskan tikar memang jauh berbeda dengan kasur ortopedi seharga ratusan juta miliknya dulu. Namun, ajaibnya, ia merasa tidurnya semalam adalah tidur yang paling nyenyak selama sepuluh tahun terakhir hidupnya. Tidak ada beban target miliaran yang menghantuinya, tidak ada intrik keluarga yang harus ia waspadai saat menutup mata.Ia menoleh ke samping. Sisi kasur di sebelahnya kosong. Guling pembatas mereka sudah dirapikan, tersandar di dinding. Keinan tersenyum tipis, menghirup aroma sabun mandi bayi yang tertinggal di bantal Aisyah. Aroma itu terasa

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 24

    Angin malam berhembus masuk melewati celah pintu yang terbuka, membawa hawa dingin sisa hujan. Namun, Keinan tidak merasakan dingin itu. Darahnya berdesir hangat, jantungnya berdebar kencang menatap sosok mungil di hadapannya.Aisyah berdiri di sana, menembus batas dunia mewah yang dulu memisahkan mereka, menyusulnya ke dasar jurang kemiskinan ini.Dengan tangan gemetar, Keinan perlahan melepaskan cengkeraman Aisyah dari pergelangan tangannya. Ia mundur selangkah, menyembunyikan tangannya di balik punggung, merasa sangat kotor dan tidak pantas disentuh oleh wanita itu."Kamu... dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Keinan parau, menghindari tatapan mata Aisyah yang menuntut."Tidak sulit mencari tahu ke mana perginya seorang mantan CEO kalau kita bertanya pada Pak Jono. Beliau sangat mengkhawatirkan Bapaknya," jawab Aisyah. Suaranya masih bergetar. "Kenapa Mas Keinan bohong? Kenapa bilang ke Bali? Kenapa bilang menceraikan saya lewat surat?"Mendengar panggilan 'Mas Keinan'—bukan 'Tu

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 18

    Malam semakin larut di apartemen mewah itu. Hujan di luar sudah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah terbangun karena rasa haus yang mendera. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, mengenakan piyama panjang longgar d

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 16

    Sinar matahari pagi hari Minggu menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar tamu kediaman Wijaya. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Keinan yang tertidur gelisah. Dia mengerjap, bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat kurang tidur.Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke s

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 15

    Akhir pekan tiba. Sesuai ultimatum Oma Larasati, Keinan dan Aisyah harus menginap di kediaman utama keluarga Wijaya di Menteng. Ini adalah ujian sandiwara terbesar mereka.Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan Sabtu sore, keheningan terasa begitu tebal. Aisyah duduk di kursi penumpang

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 14

    Perjalanan menuju Restoran Seribu Rasa di kawasan Menteng terasa lebih panjang dan menyesakkan dari biasanya. Keinan duduk di kursi penumpang belakang Toyota Alphard hitam miliknya, melipat tangan di dada dengan aura mendung. Sementara itu, Aisyah memilih duduk di depan, di samping Pak Jono, sopir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status