Compartir

Part 9

Autor: ATM Berjalan
last update Última actualización: 2025-12-27 11:32:37

Matahari pagi menyelinap malu-malu di antara celah ventilasi rumah sederhana di pinggiran Jakarta itu. Namun, suasana di dalam rumah Bu Nur sudah riuh rendah sejak subuh. Aroma melati yang dicampur dengan wangi masakan khas hajatan, opor ayam dan rendang menguar memenuhi udara, bercampur dengan gelak tawa para tetangga yang sibuk membantu di dapur dadakan di halaman samping.

Aisyah duduk diam di depan cermin rias di kamarnya yang sempit. Seorang perias pengantin lokal, Bu Yati tetangga sebelah, sedang memoleskan bedak di wajahnya yang pucat. Tidak ada make-up artist mahal, tidak ada gaun rancangan desainer ternama. Aisyah hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah neneknya yang sudah dijahit ulang agar pas di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik sogan dan kerudung putih yang menutup dada. Cadar putih polos yang senada sudah siap di atas meja.

"Masya Allah, cantiknya Neng Aisyah. Pangling Ibu lihatnya," puji Bu Yati sambil menyematkan untaian melati di sisi kepala Aisyah
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 18

    Malam semakin larut di apartemen mewah itu. Hujan di luar sudah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah terbangun karena rasa haus yang mendera. Dia keluar dari kamarnya dengan langkah pelan, mengenakan piyama panjang longgar dan jilbab instan rumahannya. Suasana apartemen gelap, hanya lampu temaram di lorong yang menyala. Saat melewati ruang tengah menuju dapur, langkah Aisyah terhenti. Dia mendengar suara erangan tertahan dari arah sofa panjang di depan televisi. Aisyah menyipitkan mata. Di sana, Keinan terbaring meringkuk dengan posisi yang tidak nyaman. Laptopnya menyala menampilkan screensaver, tergeletak miring di karpet seolah jatuh dari pangkuan. "Tuan?" panggil Aisyah ragu. Tidak ada jawaban, hanya suara gigilan napas yang terdengar berat. Aisyah mendekat perlahan. Hatinya berperang antara rasa peduli dan rasa enggan. Namun, sisi kemanusiaannya menang. Dia menyalakan lampu meja kecil di samping sofa.

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 17

    Mobil Alphard hitam itu melaju kencang meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya. Di balik kemudi, Keinan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Keheningan di dalam kabin terasa begitu mencekam, lebih dingin daripada AC yang menyembur di angka terendah. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar sisa dari sarapan neraka tadi. Kata-kata Bryan di meja makan masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak yang menyakitkan. "Mantan gue itu barang rusak... Jijik banget kan? Untung ketahuan sebelum akad..." Aisyah memejamkan mata di balik cadarnya. Air mata panas kembali meleleh. Dia ada di sana. Dia duduk tepat di depan Bryan. Dan pria itu dengan entengnya menceritakan aibnya sebagai lelucon pagi, tanpa tahu bahwa objek penderitaannya sedang mendengarkan setiap katanya. "Aisyah..." suara Keinan memecah keheningan. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Keinan. Dia merasa gag

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 16

    Sinar matahari pagi hari Minggu menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar tamu kediaman Wijaya. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Keinan yang tertidur gelisah. Dia mengerjap, bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat kurang tidur.Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke sofa di ujung ruangan. Kosong. Bantal dan selimut sudah terlipat rapi, seolah tidak pernah dipakai tidur.Keinan menyibakkan selimutnya dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan. Aisyah berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Gadis itu sudah rapi dengan gamis berwarna mocca dan cadar senada. Dia sedang menatap kosong ke arah taman belakang rumah yang luas."Aisyah?" panggil Keinan dengan suara serak khas bangun tidur.Bahu Aisyah menegang, tapi dia tidak menoleh."Sudah jam tujuh, Tuan. Oma meminta kita turun sarapan jam tujuh lima belas," jawab Aisyah. Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa nada. Seperti mesin penjawab otomatis.Keinan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Rasa

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 15

    Akhir pekan tiba. Sesuai ultimatum Oma Larasati, Keinan dan Aisyah harus menginap di kediaman utama keluarga Wijaya di Menteng. Ini adalah ujian sandiwara terbesar mereka.Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan Sabtu sore, keheningan terasa begitu tebal. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memandang kosong ke luar jendela. Sejak insiden di kantor, saat Keinan cemburu buta pada arsitek bernama Rian. Aisyah membangun tembok es yang kokoh. Dia melayani Keinan dengan sempurna, tapi tanpa jiwa."Ingat, Aisyah," suara Keinan memecah kesunyian. "Di rumah Oma, kita adalah pasangan bahagia yang sedang dimabuk asmara. Jangan pasang wajah kaku seperti itu. Kalau Oma curiga, tamat riwayat kita.""Saya mengerti, Tuan. Saya akan bekerja profesional sesuai kontrak," jawab Aisyah datar tanpa menoleh.Keinan mencengkeram setir lebih erat. Kata "Tuan" dan "Kontrak" itu benar-benar mengganggunya.Mobil memasuki gerbang besi raksasa bercat hitam dengan ornamen emas. Rumah utama keluarga W

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 14

    Perjalanan menuju Restoran Seribu Rasa di kawasan Menteng terasa lebih panjang dan menyesakkan dari biasanya. Keinan duduk di kursi penumpang belakang Toyota Alphard hitam miliknya, melipat tangan di dada dengan aura mendung. Sementara itu, Aisyah memilih duduk di depan, di samping Pak Jono, sopir kantor, menciptakan jarak fisik yang tegas di antara mereka.Kaca pemisah kabin memang tidak dinaikkan, namun Keinan bisa merasakan tembok tebal yang dibangun istrinya. Sepanjang jalan, Aisyah tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Dia justru asyik mengobrol ringan dengan Pak Jono."Lewat Cikini saja, Pak. Jam segini biasanya macetnya lebih terurai daripada Thamrin," saran Aisyah dengan suara lembut."Siap, Mbak Aisyah. Wah, Mbak Aisyah hafal jalan tikus Jakarta juga ya," puji Pak Jono sambil memutar kemudi."Dulu waktu kuliah saya sering naik ojek online, Pak. Jadi hafal rute-rute kecil buat menghindari macet," jawab Aisyah diiringi tawa kecil yang renyah.Keinan termenung menatap punggung

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 13

    Jarum jam di dinding ruang rapat utama Wijaya Tower seolah bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa, namun setiap detiknya menghantam mental Aisyah. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu panas, sepanas lahar gunung berapi yang siap meletus."Mbak Aisyah, ini sudah keterlaluan," suara berat Pak Gunawan, salah satu investor utama untuk proyek properti di Bali, memecah keheningan yang tegang. Pria paruh baya itu mengetuk-ngetukkan jam tangan Rolex emasnya ke meja kaca dengan ritme yang mengintimidasi. "Jadwal rapat jam sembilan teng. Ini sudah hampir jam sepuluh. Waktu saya uang, Mbak. Kalau Pak Keinan tidak serius dengan proyek ini, bilang saja. Saya bisa tarik dana saya sekarang juga."Aisyah berdiri di ujung meja, tangannya saling meremas di balik punggung, namun ia tetap tenang dan terkendali, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik gamis kerja."Mohon maaf sekali lagi, Pak Gunawan dan Bapak-Bapak sekalian," u

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status