Compartilhar

Part 4

Autor: ATM Berjalan
last update Data de publicação: 2025-12-01 12:01:20

Layar ponsel retak milik Aisyah menyala redup menampilkan sebuah poster digital yang dibagikan di grup F******k pencari kerja. Mata Aisyah membelalak membaca tulisan berwarna merah mencolok di bagian bawah poster tersebut.

WALK-IN INTERVIEW. Posisi, Office Girl & Cleaning Service. Penempatan, Wijaya Tower. Batas akhir. HARI INI pukul 14.00 WIB.

Aisyah melirik jam dinding tua di kamarnya. Pukul satu siang. Dia hanya punya waktu satu jam untuk menembus kemacetan Jakarta dan menyerahkan nasibnya di sana.

"Bu, Aisyah berangkat dulu! Ada lowongan yang tutup hari ini!" teriak Aisyah sambil menyambar map cokelat yang selalu siaga di atas meja belajarnya, semenjak dia selesai dengan kuliahnya. Meskipun harus meninggalkan banyak syarat yang belum terpenuhi untuk menebus ijazah asli yang masih tertahan di universitas. Tak apa, setidaknya Aisyah lega bisa selesai dengan baik di tengah gempuran masalah hidup yang dia alami.

Bu Nur muncul dari dapur dengan wajah cemas. "Lho, Nduk. Kamu belum makan siang."

"Nanti saja di jalan, Bu. Doakan Aisyah diterima ya. Ini ikhtiar terakhir sebelum tenggat waktu dari Mas Bryan habis," pamit Aisyah cepat sambil mencium tangan ibunya yang kasar.

Tanpa menunggu jawaban, Aisyah berlari keluar rumah. Dia tidak peduli dengan panas matahari yang menyengat kulit. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang di halte busway yang memandang aneh pada gamis hitam dan cadarnya yang sedikit berdebu karena berlari.

Di dalam bus yang sesak, Aisyah meremas map lamarannya erat-erat. Jantungnya berpacu dengan waktu.

"Tolong, Pak Kiri! Kiri depan menara itu!" seru Aisyah panik ketika melihat gedung pencakar langit Wijaya Tower sudah terlihat.

Begitu turun, Aisyah setengah berlari menuju lobi gedung yang megah. Kakinya yang berbalut sepatu kets usang terasa sangat kecil saat memijak lantai marmer yang mengkilap. Dia merasa seperti semut di istana raksasa.

"Maaf, Pak Satpam. Untuk pelamar Walk-In Interview di mana ya?" tanya Aisyah dengan napas terengah pada petugas keamanan di depan pintu detektor logam.

Satpam itu menunjuk ke arah koridor sebelah kiri. "Langsung ke area HRD di lantai Ground belakang lobi, Mbak. Tapi buruan ya, loketnya lima menit lagi tutup."

"Terima kasih, Pak!"

Aisyah kembali berlari kecil. Dia harus melewati area lift utama untuk menuju koridor belakang. Kepalanya menunduk, berusaha menghindari tatapan para karyawan berdasi yang berlalu-lalang.

Bersamaan Keinan melangkah masuk dari pintu khusus sambil merapikan dasinya. Dia baru saja kembali dari makan siang yang merusak suasana hati bersama Bryan. Pikirannya masih kacau memikirkan fakta bahwa sepupunya itu membatalkan pernikahan karena alasan yang membuatnya ingin muntah.

Keinan menoleh ke samping, gerakannya terhenti.

Matanya menangkap sosok wanita berbaju hitam yang berjalan tergesa-gesa melewati pilar besar.

Deg.

Keinan terpaku. Langkah kaki itu. Cara wanita itu memeluk tasnya. Dan sorot mata yang sekilas dia lihat saat wanita itu menoleh mencari arah.

Tubuh Keinan bereaksi lebih cepat dari otaknya. Rasa dingin menjalar di punggungnya. Itu bukan sekadar orang asing. Dia hafal gestur itu. Gestur ketakutan yang sama dengan sosok yang menyelamatkannya di gang sempit sebulan lalu.

"Aisyah, kah?" gumam Keinan tanpa sadar.

Wanita itu berbelok masuk ke lorong menuju ruang HRD.

Keinan tidak jadi berjalan ke lift khusus miliknya. Kakinya berputar arah, mengikuti sosok itu seperti orang yang terhipnotis. Jantungnya berdetak kencang, campuran antara rasa bersalah dan harapan.

"Pak Keinan? Bapak mau ke mana? Ruangan Bapak di atas," tegur salah satu staf yang lewat, bingung melihat bos besarnya berjalan cepat ke arah back office.

Keinan mengabaikannya. Dia terus berjalan sampai dia melihat wanita bercadar itu masuk ke dalam ruangan bertuliskan, Human Resource Department.

Keinan berhenti di depan pintu kaca. Dia melihat dari luar. Wanita itu sedang menyerahkan map cokelat pada staf admin dengan gesture memohon karena jam sudah menunjukkan lewat pukul dua.

Keinan merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan mendial nomor seseorang. Matanya tidak lepas dari punggung Aisyah yang terlihat rapuh di dalam sana.

"Halo, Pak Hadi. Kamu di mana?" tanya Keinan dingin pada Manajer HRD-nya.

"Saya di ruangan saya, Pak. Sedang rekap data pelamar hari ini. Ada perintah, Pak?" suara Pak Hadi terdengar gugup di seberang.

"Keluar sekarang. Saya di depan ruangan kamu."

"Hah? Bapak di depan ruangan saya?"

Telepon mati.

Tiga detik kemudian, pintu ruangan Manajer HRD terbuka. Pak Hadi muncul dengan wajah pucat pasi, kaget setengah mati melihat Direktur Utama berdiri tegap di lorong staf biasa.

"Pa-Pak Keinan! Astaga, ada apa Pak? Kenapa Bapak turun ke sini? Kalau Bapak butuh sesuatu tinggal panggil saya ke atas," cecar Pak Hadi panik.

Keinan tidak menjawab basa-basi itu. Dia mengangkat dagunya, menunjuk ke arah loket pendaftaran di mana Aisyah masih berdiri menunggu verifikasi berkas.

"Gadis yang pakai cadar hitam itu. Siapa namanya?" tanya Keinan datar.

Pak Hadi menyipitkan mata, melihat ke arah yang ditunjuk.

"Oh, itu pelamar terakhir, Pak. Walk-in interview untuk posisi OG. Kasihan sebenarnya, dia datang telat tapi ngotot minta diterima berkasnya. Namanya kalau tidak salah Aisyah Humaira.”

Rahang Keinan mengeras. Benar dugaan dia. Takdir memang sedang mempermainkan mereka berdua. Gadis yang dicampakkan Bryan karena dianggap kotor, kini sedang mengemis pekerjaan rendahan di perusahaan sepupunya sendiri.

"Panggil dia," perintah Keinan.

"Maksud Bapak? Suruh dia pulang? Memang penampilannya agak kurang sesuai standar seragam kita sih Pak, nanti saya tegur staf saya supaya ..."

"Bawa dia ke ruangan saya. Sekarang," potong Keinan tajam.

Pak Hadi melongo. "Ke ruangan Bapak? Di Penthouse? Tapi Pak, dia pelamar cleaning service. Apa tidak kejauhan kalau Bapak yang wawancara? Biar staf saya saja yang ..."

Keinan menatap Pak Hadi dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih.

"Saya tidak minta pendapat kamu, Hadi. Ambil berkas lamarannya, dan bawa orangnya naik ke ruangan saya dalam lima menit. Lewat lift VIP. Jangan biarkan dia menunggu antrean wawancara umum."

"Ta-tapi Pak, alasannya apa? Nanti dia bingung."

"Bilang saja dia lolos kualifikasi khusus," jawab Keinan asal.

Keinan berbalik badan, melangkah kembali menuju lift dengan perasaan yang berkecamuk. Dia sudah menemukan Aisyah. Dia sudah memegang kunci untuk menebus rasa bersalahnya.

Di belakangnya, Pak Hadi masih garuk-garuk kepala yang tidak gatal, bingung setengah mati dengan kelakuan bosnya. Namun perintah adalah perintah. Pak Hadi segera berlari kecil menghampiri meja pendaftaran.

"Mbak! Mbak yang pakai cadar!" panggil Pak Hadi lantang.

Aisyah yang baru saja hendak duduk di kursi tunggu menoleh kaget. "Saya, Pak?"

"Iya, kamu. Sini ikut saya. Berkas kamu sekalian bawa."

"Lho, ada apa Pak? Bukannya disini,” Aisyah panik, takut langsung ditolak sebelum dicoba.

"Bukan disini. Kamu disuruh ikut saya naik ke atas."

"Ke atas? Wawancaranya bukan di sini?"

"Bukan. Kamu spesial. Direktur Utama mau ketemu kamu langsung. Ayo cepat, jangan bikin bos saya nunggu atau saya yang kena pecat!"

Aisyah bingung bukan main, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti pria gempal itu. Dia tidak tahu bahwa langkah kakinya menuju lift emas itu adalah langkah awal masuk ke dalam sangkar emas yang disiapkan Keinan untuknya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 29

    Spin offKantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis hari itu seramai biasanya. Aroma kopi espresso dari kedai waralaba ternama bercampur dengan wangi parfum mahal para mahasiswa yang berlalu-lalang. Di salah satu meja sudut yang menghadap langsung ke taman rektorat, Keisha duduk mengaduk iced caramel macchiato-nya dengan gerakan pelan dan tatapan kosong. Di depannya, setumpuk jurnal manajemen strategi terabaikan begitu saja."Lo kesambet apa sih, Kei? Dari tadi ngaduk kopi sampai es batunya cair semua. Nggak biasanya lo blank begini kalau lagi brainstorming tugas Pak Hadi."Suara cempreng Nadine, sahabat karib Keisha sejak SMA, memecah lamunan gadis itu. Nadine meletakkan nampan berisi kentang goreng dan duduk di hadapan Keisha sambil menatapnya curiga.Keisha mengerjap, melepaskan sedotannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku lagi mikirin orang, Nad."Nadine nyaris tersedak kentang gorengnya. Mata gadis berambut bob itu membelalak lebar. "Serius? Seorang Keisha Humaira, putri mahk

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 28

    Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jarum jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim. Aisyah masih mematung, menatap test pack yang tergeletak di atas meja nakas dengan pandangan kosong. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut pada Keinan, melainkan pada kenyataan bahwa Bryan masih memiliki tangan yang panjang untuk menjangkau kehidupan tenang mereka dari balik jeruji besi.Keinan meletakkan kertas itu dengan gerakan kasar, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Ia kemudian menyambar test pack tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, seolah benda itu adalah virus yang bisa menginfeksi mereka."Dia gila," desis Keinan. Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Dia benar-benar sudah gila kalau berpikir cara murahan seperti ini bisa memecah belah kita."Aisyah menoleh, menatap suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Mas... bagaimana dia bisa tahu kita di sini? Bagaimana dia bisa mengirim barang ini ke rumah kita? D

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 27

    Enam bulan berlalu sejak keruntuhan dinasti Wijaya Group mendominasi tajuk utama berita nasional. Waktu bergulir, membawa perubahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.Di sebuah gedung perkantoran menengah di kawasan Sudirman, sebuah plakat perak bertuliskan "Keinan & Partners - Business Consulting" terpasang elegan di sebelah pintu kaca. Kantor itu tidak sebesar satu lantai penuh di Wijaya Tower, hanya berukuran sedang dengan selusin karyawan pilihan. Namun, dering telepon di sana nyaris tak pernah berhenti, dan daftar tunggu klien mencapai antrean tiga bulan.Keinan Wijaya duduk di balik meja kerjanya. Tidak ada lagi jas custom seharga puluhan juta. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan yang sederhana namun pas di tubuh kokohnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, lebih hidup, dan sesekali dihiasi tawa lepas saat berdiskusi dengan timnya."Pak Keinan," sapa seorang stafnya, mengetuk pintu kaca yang terbuka. "Ada

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 26

    Fajar menyingsing di ibu kota, membawa semburat jingga yang menembus gedung-gedung pencakar langit. Bagi sebagian orang, pagi ini adalah awal dari rutinitas yang biasa. Namun bagi keluarga Wijaya, pagi ini adalah awal dari sebuah kiamat.Tepat pukul tujuh pagi, saat lobi utama Wijaya Tower baru saja dibuka untuk para karyawan, belasan mobil hitam dengan pelat merah dan sirene yang dimatikan berhenti mendadak di pelataran gedung. Puluhan petugas berseragam rompi bertuliskan KPK, didampingi aparat kepolisian bersenjata lengkap, merangsek masuk melewati pintu putar kaca.Satpam yang berjaga tak berkutik. Mereka hanya bisa ternganga melihat surat perintah penggeledahan yang disodorkan tepat di depan wajah mereka.Di saat yang sama, Bryan Adhitama baru saja tiba. Ia turun dari Porsche Panamera putihnya dengan setelan jas abu-abu custom-made yang membalut tubuhnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menutupi kantung mata akibat pesta perayaan semalam suntuk bersama kolega-kolega penjil

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 25

    Suara kokok ayam dari pekarangan tetangga dan deru mesin motor yang bersahut-sahutan di gang sempit menjadi alarm alami yang membangunkan Keinan. Ia membuka mata perlahan. Tidak ada langit-langit gipsum berukir mewah atau lampu kristal chandelier yang menyambut pandangannya. Hanya ada asbes yang sedikit bernoda kecokelatan akibat rembesan air hujan lampau.Keinan meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Tidur di atas kasur kapuk tipis beralaskan tikar memang jauh berbeda dengan kasur ortopedi seharga ratusan juta miliknya dulu. Namun, ajaibnya, ia merasa tidurnya semalam adalah tidur yang paling nyenyak selama sepuluh tahun terakhir hidupnya. Tidak ada beban target miliaran yang menghantuinya, tidak ada intrik keluarga yang harus ia waspadai saat menutup mata.Ia menoleh ke samping. Sisi kasur di sebelahnya kosong. Guling pembatas mereka sudah dirapikan, tersandar di dinding. Keinan tersenyum tipis, menghirup aroma sabun mandi bayi yang tertinggal di bantal Aisyah. Aroma itu terasa

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 24

    Angin malam berhembus masuk melewati celah pintu yang terbuka, membawa hawa dingin sisa hujan. Namun, Keinan tidak merasakan dingin itu. Darahnya berdesir hangat, jantungnya berdebar kencang menatap sosok mungil di hadapannya.Aisyah berdiri di sana, menembus batas dunia mewah yang dulu memisahkan mereka, menyusulnya ke dasar jurang kemiskinan ini.Dengan tangan gemetar, Keinan perlahan melepaskan cengkeraman Aisyah dari pergelangan tangannya. Ia mundur selangkah, menyembunyikan tangannya di balik punggung, merasa sangat kotor dan tidak pantas disentuh oleh wanita itu."Kamu... dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Keinan parau, menghindari tatapan mata Aisyah yang menuntut."Tidak sulit mencari tahu ke mana perginya seorang mantan CEO kalau kita bertanya pada Pak Jono. Beliau sangat mengkhawatirkan Bapaknya," jawab Aisyah. Suaranya masih bergetar. "Kenapa Mas Keinan bohong? Kenapa bilang ke Bali? Kenapa bilang menceraikan saya lewat surat?"Mendengar panggilan 'Mas Keinan'—bukan 'Tu

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 9

    Matahari pagi menyelinap malu-malu di antara celah ventilasi rumah sederhana di pinggiran Jakarta itu. Namun, suasana di dalam rumah Bu Nur sudah riuh rendah sejak subuh. Aroma melati yang dicampur dengan wangi masakan khas hajatan, opor ayam dan rendang menguar memenuhi udara, bercampur dengan gel

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 8

    Ruang makan kediaman utama keluarga Wijaya malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal pendingin ruangan sudah disetel pada suhu normal dan sup jamur truffle yang tersaji di atas meja marmer panjang itu masih mengepulkan uap hangat. Namun kebekuan itu datang dari atmosfer yang tercipta di

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 6

    Lampu kristal gantung yang menjuntai di langit-langit Sky Lounge memantulkan cahaya keemasan yang mewah, menciptakan ilusi kehangatan di tengah dinginnya ruangan berpendingin udara itu. Denting halus garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti musik latar yang ironis

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 5

    "Aisyah Humaira," gumam Keinan membaca nama yang tertera di sana tanpa menatap orangnya. "Lulusan Sarjana Ekonomi dengan predikat Cumlaude. IPK 3.8. Prestasi akademik nyaris sempurna."Keinan meletakkan kertas itu ke meja, lalu menatap tajam tepat ke manik mata Aisyah."Pertanyaan saya sederhana. K

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status