Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 11 Hasrat Yang Membakar dr. Arlan

Share

Bab 11 Hasrat Yang Membakar dr. Arlan

last update publish date: 2026-05-16 13:14:18

Semalaman Karin kesal bukan main, ia seperti dipermainkan oleh Residennya. Mood Karin pagi ini benar-benar hancur tetapi ia tetap harus kunjungan ke pasiennya, karena ia harus membuat laporan visit.

“Semuanya sudah baik, Bu. Nanti ketika Dokternya datang, Ibu bisa mengajukan untuk pulang,”

Haptophobia-nya mulai berkurang—ia berhasil melakukan tensi darah pada pasien tanpa gemetar—namun pikirannya terus terbayang sentuhan Arlan semalam.

Mata Karin pagi ini benar-benar mengantuk sekali, pasien m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
hhhmmmm bau bau modus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 461 Sok Kenal Sok Dekat

    “Moreno.”Pria itu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri pada Arlan dengan nada penuh percaya diri yang berbatasan dengan angkuh.“Kekasih Laura.”Karin yang berdiri di sebelah Arlan langsung merasa atmosfer di sekitar mereka menyusut.Rasa tidak nyaman merayap di tengkuknya.Berada di satu ruangan dengan orang asing selalu membuatnya jengah, apalagi orang asing ini bersama Laura, kembaran yang selama ini tidak pernah ada di hidupnya.Segala hal tentang situasi ini terasa ganjil, dipaksakan dan Karin benci perasaan tidak siap seperti ini.Namun, Arlan selalu menjadi air bagi apinya. Dengan senyum ramah yang tulus, suaminya itu menyambut uluran tangan Moreno.“Arlan. Saya seorang dokter. Senang bertemu dengan kalian.”Arlan kemudian mengarahkan mereka menuju meja bundar di sudut restoran Prancis mewah itu.Denting sendok perak, pendar cahaya lilin yang temaram dan aroma masakan mahal sama sekali tidak mampu mencairkan kekakuan yang Karin bawa.Di tengah meja, sebotol anggur merah yan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 460 Makan Malam Penuh Kejutan

    “Memangnya kita mau kemana sih, Sayang?” tanya Karin penasaran.“Rahasia!” jawab Arlan sambil menyentuh ujung hidung Karin dengan lembut. Malam ini Arlan sengaja mengajak Karin makan malam, ketegangan dari kunjungan mengejutkan wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Karin seolah menguap di balik pintu masuk sebuah restoran Prancis eksklusif.Restoran tersembunyi ini membutuhkan waktu reservasi hingga berbulan-bulan demi bisa menikmati atmosfernya yang privat dan magis.Karin melangkah anggun dalam balutan gaun malam beludru berwarna hitam pekat. Gaun tanpa lengan itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan potongan dada yang rendah namun tetap berkelas.Setiap kali ia melangkah, belahan paha yang cukup tinggi di sisi kiri gaun itu menyingkap kulit mulusnya, memberikan kesan mewah yang memikat perhatian, terutama perhatian suaminya.Mereka duduk di area paling privat, diterangi cahaya lilin temaram.Di atas meja, tersaji hidangan pembuka berupa Foie Gras yang lembut, diik

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 459 Jangan Mimpi!

    Hatinya mendadak perih luar biasa. Mengapa semua orang harus sebrengsek ini padanya?“Izinkan Mommy menebus kesalahan Mommy dua puluh dua tahun yang lalu, Sayang. Mommy janji akan jadi Ibu yang baik untuk kamu. Mommy sekarang aktif di berbagai yayasan sosial. Kita bisa mengadakan kegiatan amal bersama, membangun panti asuhan atau mendanai pengobatan anak-anak kurang mampu atas namamu,” ratap wanita itu memohon, mencoba menyentuh sisi kemanusiaan Karin.Tak berhenti di situ, wanita tua itu mencondongkan tubuhnya dengan mata berbinar penuh harap.“Mommy juga ingin mengenalkanmu pada teman-teman Mommy. Ikutlah berkumpul di acara-acara sosialita kami. Kamu bisa ikut arisan mewah, menghadiri gala dinner dan bersenang-senang dengan lingkaran pertemanan Mommy.”Mendengar penawaran itu, perut Karin justru makin mual.Kegiatan amal? Lingkaran sosialita?Segala omong kosong kelas atas itu terdengar menjijikkan dan sama sekali tidak menarik di telinganya.Hatinya yang terlanjur membatu tidak aka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 458 Dia Sama Denganku?

    “Mamiku sudah meninggal,” desis Karin.Kalimat itu meluncur begitu dingin, sinis, dan tak berperasaan, memotong udara pagi yang mendadak terasa mencekik.Untuk apa ia harus beramah-tamah pada wanita yang dulu tega membuangnya?Bertahun-tahun Karin hidup dalam kesepian yang senyap, berteman dengan ruang kosong tanpa kehangatan kasih sayang.Penolakan masa lalu itu bahkan meninggalkan trauma mendalam, sebuah fobia luar biasa yang membuatnya merinding ketakutan setiap kali ada kulit orang lain yang mencoba menyentuhnya.Dan sekarang, setelah ia bersusah payah merangkak keluar dari lubang penderitaan itu dan berhasil menata hidupnya sendiri, wanita ini tiba-tiba melangkah masuk tanpa beban.Dengan santai, ia menghujani Karin dengan tumpukan barang mewah bersimbol merek ternama dunia, seolah-olah luka masa lalu dan air mata Karin bisa ditebus dengan materi setoko kosmetik dan tas perancang busana.Jangankan memaafkan, menyentuh kotak-kotak hadiah itu pun Karin enggan. Jangankan memeluk, un

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 457 Tamu Tak Di Undang

    Setelah resmi menyandang status sebagai seorang istri, hidup Karin diselimuti kebahagiaan yang meluap-luap.Meski desas-desus miring tentangnya belum sepenuhnya senyap, intensitasnya tak lagi seperti dulu.Satu perubahan besar yang cukup melegakan, sekaligus menggelitik adalah sikap para dokter di rumah sakit tempatnya bekerja.Mengetahui Karin telah melabuhkan hatinya pada Arlan, mereka yang dulu menjadi pengagum rahasia kini perlahan mundur teratur dan menjaga jarak.Namun, tetap saja ada satu pengecualian yang bebal. Dimas!Pria itu seolah kehilangan akal sehat dan entah kapan akan benar-benar belajar untuk move on.Setelah seminggu penuh didera lembur yang menguras stamina hingga merenggut malam-malam pengantin mereka, Karin akhirnya mendapatkan hak libur dua hari.Sebuah oase di tengah padatnya rutinitas. Karin sudah menyusun rencana indah di benaknya, seharian di rumah, memanjakan suaminya yang manja, menikmati keintiman yang tertunda, berbelanja dan bersantai.Sayangnya, ketena

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 456 Lebih Baik Mati Saja

    “Ini sudah benar kali, ya. Uh pusingnya,” ucap Karin sambil mengacak lembut rambut panjangnya.Karin menatap nanar mangkuk bakso di hadapannya yang mulai mendingin. Kuah berkaldu yang biasanya menggugah selera, kini sama sekali tak mampu melewati tenggorokannya yang mendadak terasa mencekik.Jemarinya yang memegang stylus pen di atas layar tablet tampak sedikit bergetar, mengaburkan deretan ketikan laporan kasus bedah yang sedang ia koreksi.Di tengah keheningan kantin rumah sakit yang berisik oleh dentang sendok, layar ponsel Karin menyala.Sebuah nomor asing berkode negara luar negeri berkedip-kedip. Karin menggeser tombol hijau, menempelkannya ke telinga tanpa curiga.“Halo, Karin?” Suara di seberang sana bergetar, sarat akan keraguan namun terdengar begitu familiar dalam frekuensi yang tak mampu Karin jelaskan.“Ya, halo ini siapa, ya?” Hening sesaat dan terdengar bunyi suara tangis.“Ini... Ibu, Nak.”Dunia Karin seolah berhenti berputar sejenak.Nama wanita yang pernah menjadi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status