เข้าสู่ระบบPikiran Karin sangat kacau malam ini, bercinta adalah alasan Karin melupakan semua masalahnya. Kecupan lembut yang dilakukan Arlan di setiap tubuhnya membuat Karin mabuk kepayang. Apalagi saat Arlan mengecup area sensitifnya begitu dalam, memainkan dengan jari-jarinya. Tubuh Karin menggelinjang hebat disertai dengan desahan-desahan yang tidak tertahankan. “Eummmph ahhh dok, kok semakin enak sih,” ucap Karin sambil melepaskan kecupan Arlan dibibirmya. Ciuman Arlan hebat sekali, Karin ketagihan. “Kamu semakin suka?” tanya Arlan dengan seringainya. Tubuh Arlan ada di atas tubuh Karin, tanpa sehelai benangpun. Melakukan pemanasan yang cukup lama agar Karin puas dengan permainannya. “Iya makin suka.” Arlan menyentuh pelan di bawah sana hingga pelan-pelan miliknya masuk. “Ughhhhhh.” Karin merasakan tubuhnya sesak dan dipenuhi kenikmatan. Belum sembuh rasa sakit dan kebas, malam ini mereka bercinta lagi. Seperti pengantin baru yang tidak pernah puas. “Pelan aja dokkk ahhhh.” Jerit K
Siapa yang percaya dengan pesan yang dikirim Arlan. Karin malas membalasnya lagi, sebenarnya Karin seperti cemburu saat ini tapi Karin juga tidak peduli. Arlan juga happy dengan Winda itu. Profil media sosial Winda sekarang ganti dengan fotonya berdua yang dipotong oleh Winda. Maksudnya apa coba? Kalau orang yang tidak tahu pasti menyangka kalau Arlan itu kekasih Winda. Gosip di rumah sakit semakin heboh malam ini. Mereka menduga Arlan memang kekasih Winda dan tidak ada bantahan dari Arlan. Karin mendapat bocoran dari group koasnya, ada banyak mata-mata di group Konsulen rumah sakit itu.Ah, ternyata dokter spesialis juga suka bergosip yang tidak penting.“Aku sudah selesai praktek, kirim alamatmu sekarang!” Arlan mengirim pesan seolah mereka tidak ada masalah. “Enak banget, pacaran dengan Winda, gituan dengan aku.” Karin berdecak kesal. Karin hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Ponsel Karin berdering terus tapi Karin enggan menjawabnya. Cukup lama Karin biarkan, ponselny
“Gimana Rin? Kayaknya dr. Dimas dendam sama kamu, tugas untuk kamu kayaknya susah banget,” ucap Silvi sambil melihat judul makalah yang diberikan untuk Karin. Karin menarik napas dalam, entah apa salahnya pada dr. Dimas. Kadang pria itu senyum, kadang juga kesal dengannya. Karin harus mengikuti mood dr. Dimas. “Kamu buat dia marah?” tanya Silvi lagi. “Gak, aku ngobrol dengan dia aja jarang, dia itu kayaknya ada masalah dengan dr. Arlan tapi aku yang kena.” Aneh! Silvi tidak mengerti. Apa hubungan Karin dengan dr. Arlan sampai dr. Dimas membuatnya susah seperti ini? “Kepalaku tambah pusing,” jawab Karin. Menghadapi masalah di rumah, sekarang masalah di rumah sakit yang tidak berkesudahan. Bahkan Karin saja bingung. Apa penyakitnya sudah benar-benar sembuh untuk menyelesaikan tugasnya. “Aku gak bisa bantuin Rin, tugas aku juga banyak.” Karin mengerti, mereka sama-sama punya tugas. Satu-satunya andalan Karin adalah dr. Arlan tapi malam ini Karin sudah mulai mencari sewa aparteme
“Aku gak bisa Pa, kemarin Arlan sudah bilang kalau tidak mau dijodohkan.” Pagi ini Arlan mendapatkan telepon dari Ayahnya yang tidak lain Kakek Karin. Arlan berusaha mengangkat telepon sejauh mungkin dari kamarnya karena takut Karin mendengar obrolan mereka. “Ketemu saja dulu Arlan, kamu lihat dulu gimana wanitanya, kalau cocok baru kalian menikah.” Ayahnya masih saja terus memaksa Arlan. Arlan tahu anak dr. Anwar cantik-cantik tapi Arlan tidak memiliki minat dengan mereka. “Gak bisa Pa, Arlan sibuk. Ada operasi dan pertemuan dengan ikatan dokter hari ini,” jawab Arlan dengan tegas. “Sekali saja Arlan, ketemu berdua. Kamu itu mau pemilihan Direktur rumah sakit yang baru. Kamu mau dr. Anwar jadi tidak memihak padamu?” Sialan! Kata-kata seperti ini membuat Arlan tersadar kalau memang saat ini ia membutuhkan kepercayaan itu. “Ya sudah, oke.” Arlan mengalah, hanya ketemu. Belum tentu mereka berjodoh. Untungnya saat Arlan melihat ke belakang, kamarnya masih tertutup dan Karin masi
“Eumph.” Setiap kecupan yang dilakukan Arlan dinikmati oleh Karin dengan penuh gairah.Napas Karin memburu, mengikis jarak di antara mereka dengan tatapan mata yang sarat akan hasrat.Perlahan tapi pasti, jemarinya yang gemetar bergerak menuju dada Arlan, sesekali tangan Karin memutar lembut menyentuh dada bidang Arlan yang kekar.Tubuh ini sudah pernah mengeksplorasi setiap inci tubuhnya dengan hasrat yang membara.Satu per satu kancing kemeja Arlan dibuka dengan gerakan tergesa-gesa oleh Karin begitu pula dengan Arlan, tak sabar menyingkirkan kain yang menjadi penghalang tubuh Karin.Lidah Arlan sibuk menjelajah rongga mulut Karin sementara jemari Arlan juga gak kalah sibuk di bawah sana.Ahhhh!Desahan lembut lolos dari mulut Karin.“Sabar aja dok, Karin takut lecet.”Arlan melepaskan kecupannya di bibir Karin, mulutnya kini menyentuh rahang ke leher dan berakhir ke gunung kembar Karin. Ahhh! Karin menutup matanya dan meringis setiap kali Arlan menghisapnya dengan rakus.“Suka?”
“Sialan!”Air mata itu menetes begitu deras. Karin tidak bisa menahannya, ia berlari menuju parkiran mobil Arlan.Dengan tangan yang sedikit bergetar, Karin menarik pintu hingga tertutup dengan bunyi dentam yang terburu-buru.Pintu Mercedes-Benz itu ditutup dengan bunyi 'thunk' yang berat dan solid, mengisolasi kemewahan kabin dari hiruk-pikuk jalanan.Suara logam yang bergesekan dan bunyi debam pintu yang berat memantul di dinding lorong parkir yang sepi.Masih hening, Arlan pun hanya melihat Karin merapat ke sudut kursi penumpang tepat di sebelahnya, melipat diri sekecil mungkin. Air mata mengalir deras membasahi pipi Karin, kadang disertai tarikan napas pendek dan berat akibat dada yang terasa sesak.“Kau mau aku membawamu kemana?” tanya Arlan. Arlan melajukan mobilnya dan tidak berharap Karin membalas pertanyaannya dan benar, Karin memilih diam seribu bahasa. Menangis dalam hening dengan wajahnya yang begitu sedih. Arlan pun tidak tega melihatnya.“Kau tidak mau cerita padaku?”
Setelah visit pasien, Karin membuat laporan sebentar karena ia dan teman koas lainnya akan membicarakan kasus pasien dengan dr. Dimas. Ya, Karin tidak sendirian dan itupun tidak malam. “Jadi, seperti yang saya jelaskan tadi dok, pasien pernah mengalami satu kali keguguran dan tidak pernah operasi
Mulai Minggu ini, Karin masuk pagi lagi. Setelah malam panas itu, sejujurnya Karin menghindari Arlan. Bodoh memang! Keperawanan sudah dia berikan, ia juga tidak bisa menghindari Arlan karena Arlan Konsulennya. Kenapa ia malah bersembunyi seperti tikus? “Aku malu atau aku malas?” tanya Karin samb
Kalau bukan karena ada telepon dari rumah sakit, mereka pasti bercinta lagi. “Nanti aku pulang lagi, kau tidak mau ke apartemenku?” tanya Arlan sambil mengecup pundak Karin yang polos, permainan panas mereka seharusnya masih berlanjut. Arlan tidak ingin meninggalkan Karin sendirian di ranjang. “G
“Ahhh, dokter jangan, please!” Karin memohon sambil menarik lingerie nya ke bawah dan menggeleng pelan.Matanya benar-benar memohon agar Arlan tidak melakukan itu di rumahnya. “Apa yang kamu takutkan Sayang?” tanya Arlan sambil mengecup telapak tangan Karin. “Ini di rumahku, aku gak mau sampai Bi







