ANMELDEN“Jawab saja dr. Luna. Anak yang keguguran itu. Itu anak siapa?”Sampai dipertanyaan ini, Luna ragu-ragu mengatakannya karena tatapan Dimas yang seolah ingin membunuhnya. “dr. Dimas.” “BOHONG, aku tidak terima difitnah seperti ini, kau bersama dengan pria lain berapa hari yang lalu. Kau memposting di akun media sosial pribadimu, aku punya buktinya. Untuk apa kau bicara omong kosong seperti ini dr. Luna?” tanya Dimas dengan tegas. Luna gemetar, ia bingung dicecar pertanyaan seperti itu. Ia tidak pernah test DNA. “Lakukan saja test,” jawab Luna dengan begitu pelan. Sialan! Dimas jelas takut kalau sampai ketahuan. “Baiklah aku mundur, aku bukan takut melakukan test DNA, aku tidak mengakui anak itu. Lalu, kenapa aku harus test?” Banyak sekali alasan dr. Dimas untuk menghindar. Diam-diam Arlan menyembunyikan senyumnya. Akhirnya pria ini mengalah juga. Arlan bukan tidak tahu, ia pasti sedang ketakutan. Dimas sangat menjaga nama baiknya. Kalau test sudah keluar, ia tidak bisa lagi b
“Itu bukan anakku.”Dimas bersumpah kalau gosip itu bukan untuknya dan anak yang digugurkan juga bukan anaknya. “Aku gak percaya dok, kayaknya hubungan kita harus dipikirkan lagi, maaf!” Karin melepaskan tangan Dimas dan pergi dari pandangan matanya. Dengan kata lain Karin sudah minta putus dan ini yang kesekian kalinya. Tidak ada lagi ancaman mengakhiri hidup karena Karin tidak akan peduli lagi.Akhirnya ia bebas, dari Arlan dan dari Dimas. Seperti ini lebih baik, ia bisa fokus kuliah. Lebih baik lagi penyakit aneh itu kambuh. Supaya Karin punya alasan untuk berhenti dari kedokteran meskipun sangat disayangkan karena tinggal sedikit lagi. Tapi, itu semua hanya khayalan. Faktanya Karin perlahan sudah sembuh. “Puas?” tanya Silvi. “Hemm, puas banget.” Karin cengeng sekali akhir-akhir ini, ia menangis terus. Padahal Karin tidak suka menangis, ia lelah dengan tangisan. Karin menghapus air matanya dengan tisu. “Ya sudahlah, daripada kamu jadi korban dr. Luna. Dia tu nekat loh mesk
“Besok akan ada rapat direksi, aku ingin lihat bagaimana kau menyelesaikan masalahmu ini dr. Dimas.” Arlan sudah ada di rumah sakit tapi malam ini ia sibuk menyiapkan untuk rapat pemegang saham. Semoga besok semuanya lancar tapi Arlan sudah tahu, sebagian dari mereka tidak setuju kalau Arlan mengundurkan diri. Karena prestasi yang Arlan dapatkan di dunia medis sudah banyak dan meskipun Arlan masih muda tapi ia memiliki banyak pengalaman. “Iya Pa, mau minum?” tanya Arlan saat melihat Papanya bergerak dan bersandar di ranjang. “Ngapain kamu?” tanya Billy dengan wajahnya yang masih marah. Tapi Billy sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik. “Besok ada rapat pemegang saham, Pa.” “Kamu ingin menjual saham milikmu?” tanya Billy dengan tegas. “Iya Pa.” “Papa tidak setuju, Arlan ini cita-citamu. Sudah lama kamu mempersiapkan diri untuk menjadi Direktur Utama dan sekarang kesempatan itu tinggal sedikit lagi. Apa masalahmu?” tanya Billy dengan mengerutkan dahinya. “Gak ada masalah Pa
Takut ketagihan? Silvi menarik sebelah sudut bibirnya. Alasan itu cocok untuk Karin dan ia. Memang ketika melakukan hubungan intim satu kali saja, itu akan membuat orang yang pernah melakukannya tidak akan lupa. “Rin, dr. Haikal itu temannya dr. Dimas, tadi dia cerita katanya dr. Arlan gak terima masalah dengan dr. Dimas makanya ia menjual sahamnya dengan dr. Diego dan mendukung dr. Diego untuk maju. Apa dr. Arlan gak sayang menjual sahamnya?” tanya Silvi. “Masalah dengan dr. Dimas?” Karin tidak tahu masalah apa sebenarnya karena Arlan tidak mau jujur. “Rin, ini cuma pikiran aku aja tapi kayak pas gitu, dr. Haikal cerita, dr. Arlan ada masalah dengan dr. Dimas, terus tiba-tiba ada foto kamu dengan dr. Arlan yang diblur. Ada kaitannya gak sih!?” Nah! Karin tidak berpikir sampai ke sana, untung saja Silvi mengingatkan. “Iya ya, kalau foto itu gak diblur, bukannya aku hancur tapi ini malah sengaja kayak mau menjatuhkan dr. Arlan aja. Apa mungkin itu ulah dr. Dimas? Kalau memang i
“Belum siap?” “Hemm, makanya semalam aku ciuman aja dulu. Supaya lebih akrab, jadi kalau mau gituan gak canggung lagi.” “Ohhh.” Karin mengangguk, ia menanggapi dengan santai karena ia juga begitu. Kalau ia masih suci pasti Karin akan ngomel tidak jelas. Tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu.“Rin, ponsel kamu bunyi, siapa yang telepon, penting mungkin. Siapa tahu dari rumah sakit?” Benar juga, jangan-jangan Arlan mau mengabari ia kondisi Kakek Billy yang tadi kritis. “dr. Arlan yang telepon Sil, aku lagi marah dengan dia, aku juga malas angkat karena gak ada lagi yang bisa kami obrolin, ia sudah pilih dr. Renata yang bisa susuin dia, aku gak ada,” jawab Karin dengan sedih. “Rin, kalau aja dr. Arlan itu bukan Om kamu, aku gak mungkin loh gini, kita pakai semua cara untuk membuat ia kembali lagi sama kamu. Tapi, dia Om kamu Karin, lupakan saja!” Kata-kata itu lagi, seperti kata pamungkas untuk membuat ia jauh dengan Arlan. Apa memang seharusnya mereka berpisah? “Sil,
“Arr, aku gak nyangka banget bisa tunangan sama kamu, padahal banyak wanita yang suka sama kamu tapi kamu tetap pilih aku, Arrr.” Renata bersandar di lengan Arlan saat Arlan sedang mengemudikan mobilnya. “Hemm,” jawab Arlan dengan senyum simpul. Arlan sedang bingung saat itu, ia tidak bisa memilih Winda karena Arlan tidak punya hati dengan Winda dan Winda seorang gadis, belum pernah menikah dan masih muda, pria lain pasti banyak yang suka dengannya. Pernikahan dadakan seperti ini apalagi ia anak dari Direktur Rumah Sakit, sepertinya tidak pantas. Makanya Arlan lebih memilih Renata. Papanya tidak senang Arlan punya hubungan dengan Karin, meskipun tahu dibelakang mereka melakukan hubungan intim. Arlan sedang memikirkan perasaan Karin, Karin tidak sekasar itu tapi tadi Karin menamparnya dengan sangat keras. Itu bentuk kekecewaan Karin pada Arlan. “Kamu bahagia gak, Arrr?” Cara bicara Renata, memang seperti itu, seperti sedang mendesah dan memancing lawan jenisnya bergairah. “Ya, sen
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







