تسجيل الدخول“Besok akan ada rapat direksi, aku ingin lihat bagaimana kau menyelesaikan masalahmu ini dr. Dimas.” Arlan sudah ada di rumah sakit tapi malam ini ia sibuk menyiapkan untuk rapat pemegang saham. Semoga besok semuanya lancar tapi Arlan sudah tahu, sebagian dari mereka tidak setuju kalau Arlan mengundurkan diri. Karena prestasi yang Arlan dapatkan di dunia medis sudah banyak dan meskipun Arlan masih muda tapi ia memiliki banyak pengalaman. “Iya Pa, mau minum?” tanya Arlan saat melihat Papanya bergerak dan bersandar di ranjang. “Ngapain kamu?” tanya Billy dengan wajahnya yang masih marah. Tapi Billy sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik. “Besok ada rapat pemegang saham, Pa.” “Kamu ingin menjual saham milikmu?” tanya Billy dengan tegas. “Iya Pa.” “Papa tidak setuju, Arlan ini cita-citamu. Sudah lama kamu mempersiapkan diri untuk menjadi Direktur Utama dan sekarang kesempatan itu tinggal sedikit lagi. Apa masalahmu?” tanya Billy dengan mengerutkan dahinya. “Gak ada masalah Pa
Takut ketagihan? Silvi menarik sebelah sudut bibirnya. Alasan itu cocok untuk Karin dan ia. Memang ketika melakukan hubungan intim satu kali saja, itu akan membuat orang yang pernah melakukannya tidak akan lupa. “Rin, dr. Haikal itu temannya dr. Dimas, tadi dia cerita katanya dr. Arlan gak terima masalah dengan dr. Dimas makanya ia menjual sahamnya dengan dr. Diego dan mendukung dr. Diego untuk maju. Apa dr. Arlan gak sayang menjual sahamnya?” tanya Silvi. “Masalah dengan dr. Dimas?” Karin tidak tahu masalah apa sebenarnya karena Arlan tidak mau jujur. “Rin, ini cuma pikiran aku aja tapi kayak pas gitu, dr. Haikal cerita, dr. Arlan ada masalah dengan dr. Dimas, terus tiba-tiba ada foto kamu dengan dr. Arlan yang diblur. Ada kaitannya gak sih!?” Nah! Karin tidak berpikir sampai ke sana, untung saja Silvi mengingatkan. “Iya ya, kalau foto itu gak diblur, bukannya aku hancur tapi ini malah sengaja kayak mau menjatuhkan dr. Arlan aja. Apa mungkin itu ulah dr. Dimas? Kalau memang i
“Belum siap?” “Hemm, makanya semalam aku ciuman aja dulu. Supaya lebih akrab, jadi kalau mau gituan gak canggung lagi.” “Ohhh.” Karin mengangguk, ia menanggapi dengan santai karena ia juga begitu. Kalau ia masih suci pasti Karin akan ngomel tidak jelas. Tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu.“Rin, ponsel kamu bunyi, siapa yang telepon, penting mungkin. Siapa tahu dari rumah sakit?” Benar juga, jangan-jangan Arlan mau mengabari ia kondisi Kakek Billy yang tadi kritis. “dr. Arlan yang telepon Sil, aku lagi marah dengan dia, aku juga malas angkat karena gak ada lagi yang bisa kami obrolin, ia sudah pilih dr. Renata yang bisa susuin dia, aku gak ada,” jawab Karin dengan sedih. “Rin, kalau aja dr. Arlan itu bukan Om kamu, aku gak mungkin loh gini, kita pakai semua cara untuk membuat ia kembali lagi sama kamu. Tapi, dia Om kamu Karin, lupakan saja!” Kata-kata itu lagi, seperti kata pamungkas untuk membuat ia jauh dengan Arlan. Apa memang seharusnya mereka berpisah? “Sil,
“Arr, aku gak nyangka banget bisa tunangan sama kamu, padahal banyak wanita yang suka sama kamu tapi kamu tetap pilih aku, Arrr.” Renata bersandar di lengan Arlan saat Arlan sedang mengemudikan mobilnya. “Hemm,” jawab Arlan dengan senyum simpul. Arlan sedang bingung saat itu, ia tidak bisa memilih Winda karena Arlan tidak punya hati dengan Winda dan Winda seorang gadis, belum pernah menikah dan masih muda, pria lain pasti banyak yang suka dengannya. Pernikahan dadakan seperti ini apalagi ia anak dari Direktur Rumah Sakit, sepertinya tidak pantas. Makanya Arlan lebih memilih Renata. Papanya tidak senang Arlan punya hubungan dengan Karin, meskipun tahu dibelakang mereka melakukan hubungan intim. Arlan sedang memikirkan perasaan Karin, Karin tidak sekasar itu tapi tadi Karin menamparnya dengan sangat keras. Itu bentuk kekecewaan Karin pada Arlan. “Kamu bahagia gak, Arrr?” Cara bicara Renata, memang seperti itu, seperti sedang mendesah dan memancing lawan jenisnya bergairah. “Ya, sen
Setelah menjenguk Kakeknya, Karin pulang, tidak pamit lagi dengan keluarga, langsung keluar, ia juga tidak mau melihat wajah Arlan lagi. Pria itu pendusta dan sama saja seperti pria lainnya. Brengsek! Karin tidak akan lagi mau tergoda atau mengemis cinta Arlan. Ya, baguslah Arlan mendapatkan dr. Renata bersama dengan susu gantung ya yang berisi itu.Oh, ya. Pantas ingin cepat menikah, mungkin supaya susu dr. Renata yang tidak dihisap anaknya lagi itu, tidak basi dan bisa dinikmatinya sendiri. “Kamu tunggu di mobil, aku antar pulang,” ucap Arlan pada Renata. “Hemm.” Sementara Arlan melirik kemana Karin dan Silvi pergi. Karin duduk di koridor dan Silvi mengambil mobilnya di parkiran.“Aku mau bicara empat mata,” ucap Arlan. Karin menunduk dan tersenyum getir. Oh, sudah membaca pesannya pasti. Sekarang Arlan sudah ada waktu, tidak sibuk seperti tadi. “Gak ada dok, aku gak mau ngomong apapun dan mulai sekarang, kita punya batasan.” Arlan tahu ia salah, serba salah. Arlan bingung
Pengacara dan notaris mendekat ke Kakek Billy karena ada yang mau Kakek katakan. “Masalah kemarin yang saya katakan, itu apa akan jadi masalah,” ucap Kakek Billy dengan napasnya yang ngos-ngosan. Menahan jantungnya yang sakit sekali.“Menurut hukum perdata, ini sah Pak Billy, mau tetap diteruskan pembagiannya seperti itu.” Kakek Billy mengangguk, ia ingin pembagian warisan untuk Arlan lebih banyak. “Papa mau ngomong,” ucap Billy setelah Renata keluar dan hanya ada anak-anaknya saja di dalam ruangan. “Kalau terjadi apapun dengan Papa, kalian jangan bertengkar soal warisan. Papa sudah membaginya dengan sangat adil.” Billy menarik napasnya berat. Matanya berkaca-kaca saat melihat Arlan. Anak kesayangannya tapi tega sekali melakukan semua itu pada Karin. “Arlan, sini!” Arlan mendekati telinganya ke mulut Papanya. Arlan siap mendengar apapun. “Sudah saatnya Papa ngomong sama kamu, Papa dan Mama sayang sekali dengan kamu, dari kamu lahir.” Kakek Billy menangis dan merasakan sesak di
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







