เข้าสู่ระบบ“Ini kau yang menginginkannya Karin,” bisik Arlan membalik keadaan, Karin di bawah tubuhnya, Arlan menghentakkan keras miliknya sampai Karin mendesah hebat, Arlan menutup mulut Karin agar tidak ada yang mendengar kegiatan mereka di dalam kamar. “Eumphhh ahhhh ya Sayang, lebih dalam lagi Om,” bisik Karin meracau tidak jelas, Karin menyukai saat Arlan seperti ini, ia tidak ingin percintaan ini cepat selesai meskipun semua orang mencari keberadaan mereka. “Akhhh, sempit sekali Sayang.” Karin memang tidak pernah gagal membuatnya puas. “Ohhh yess baby, eumph!” Arlan menggendongnya sambil melumat bibirnya dengan rakus, Karin menyeringai dalam posisi ini, Dimas begitu sombong mengatakan kalau ia bisa memuaskan Karin, ia tidak tahu kalau Arlan dan dirinya sudah melakukan semua gaya bercinta. Arlan meletakkan kembali tubuh Karin, melebarkan kakinya dan menghisapnya dengan rakus sebelum akhirnya menekannya lagi. Tubuhnya berkeringat, rambutnya basah tapi mereka belum ingin berhenti sampai a
Menyesal! Sepertinya Karin menyesal mengatakan ia tidak perawan lagi pada Dimas. Kenapa ia bisa spontan sekali mengatakan semua itu, di antara mereka sudah tidak ada lagi rahasia. Bagaimana kalau Dimas menuntut ingin bercinta? “Sudah sampai Honey,” ucap Dimas. Tidak terasa mereka akhirnya sampai di rumah utama keluarganya dan ramai sekali. “Mau ikut masuk?” Karin hanya basa-basi saja, berharap Dimas pengertian dan pulang. Memangnya Dimas mau berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya. “Nanti saja, aku mau ke rumah sakit tadi ada pasien IGD yang harus dioperasi malam ini juga.” Ya ampun, doa Karin akhirnya terjawab. Karin memang tidak ingin Dimas ada di rumah Kakeknya. Karin tidak ingin menjelaskan siapa Dimas dengan keluarga besarnya. “Hati-hati ya, Honey. Nanti telepon kalau sudah sampai rumah sakit.” “Oke, Honey.” Dimas mengecup kening Karin dan setelah itu bibir Karin. “Bye!” Karin melambaikan tangannya. Ia bergegas lari ke dalam rumah karena melihat ada mobil dr. Arlan.
Mereka berpisah, Silvi ikut Haikal sedangkan Karin masih dengan Dimas. “Kita mampir apartemenku sebentar ya, Honey. Kebetulan aku ada hadiah untuk Kakek, temani aku ambil hadiahnya.”Karin mengangguk saja, lagipula apartemen tidak jauh dari Restoran ini. “Turun dulu, Honey!” Padahal Karin ingin menunggu di mobil tapi Dimas malah memaksa ikut masuk. Untuk apa? Jangan-jangan Dimas ingin melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu. “Oke.”Karin ikut masuk ke apartemennya Dimas dan sampai apartemen yang Karin duga ternyata benar, Dimas mengajaknya duduk di sofa.“Aku kangen banget sama kamu Honey,” ucap Dimas memandangi wajah Karin dengan lekat dan mendaratkan kecupan panas di bibir Karin. Cukup lama Dimas melumat bibir Karin sampai Karin kepanasan dan bergairah. Karin sadar kalau ia merasakan sensasi yang berbeda saat berciuman dengan Dimas tapi pikirannya saat mencium Dimas, itu adalah bibir Arlan, makanya Karin sangat semangat. “Kamu ingin aku mengisimu?” tanya Dimas deng
Tunangan? Karin melamun di restoran Jepang, ia tidak fokus pada makanan mewah yang dipesan oleh Dimas, justru Karin sedang memikirkan Arlan. Mana mungkin secepat itu Arlan melupakannya. Apa sesuka itu Arlan dengan dr. Renata? Tidak ada juga obrolan keluarga untuk merayakan hari pertunangan dr. Arlan dan dr. Renata. Mana mungkin Karin tidak tahu kalau Pamannya sendiri akan menikah. Dimas pasti bohong, tapi untuk apa Dimas bohong dan membahas pertunangan Arlan dengan wanita lain? Seolah sengaja sekali supaya Karin tahu dan terluka. “Rencananya kapan ingin resmi bertunangan dengan Silvi, dok?” tanya Dimas pada Haikal, Haikal sudah datang lebih dulu membuat Silvi yang cerewet jadi diam. Meskipun sudah dilamar, Silvi bingung harus dekat seperti apa dengan Dosennya. “Kalau acara tunangannya kalau bisa bulan depan tapi kalau menikah, setelah Silvi selesai koas saja.” Hahh? Silvi terkejut bukan main. Memangnya Haikal semua yang mengatur tanpa bertanya dulu keinginan Silvi. “Ternyata d
Karin tidak puas sekali, ia harus mengutuk kelakuan Arlan dan marah didepannya karena sudah mencampakkannya saja seperti ini, setelah habis manisnya, sepahnya dibuang. “Tuh, dr. Dimas.” Dimas bertemu lagi dengan Papi Rion, wajah Papi Rion tidak suka tapi karena Dimas kekasih Karin, ia berusaha menerima Dimas. “Pi, kayaknya Mami gak mau pulang, Karin pergi dulu ya dengan dr. Dimas. Makan malam aja,” ucap Karin langsung pamit sebelum Dimas menuju ke arahnya. Sedangkan Karin lupa mengajak Silvi, Silvi bengong sendirian bersama dengan Papi Rion. Karin serius meninggalnya sendirian dengan predator? Tidak takut sahabatnya yang cuma satu-satunya ini dibungkus. “Rinnnnnnnn!” Silvi teriak tapi tangannya keduluan dipegang oleh dr. Dimas. “Sama Papi aja pulangnya, jadi sahabat pengertian, Karin sedang pacaran.” Hahh? Pengertian? Silvi menelan salivanya dan menatap Papi Rion dengan wajahnya yang aneh. “Oh itu anu Pi, Silvi sudah janji dengan dr. Haikal.” Tetap saja Silvi ditarik dan ak
“Kamu dimana?” tanya Dimas. Berulang kali Dimas menghubungi Karin tapi Karin tidak menjawab, jangan-jangan Karin pergi dengan Arlan. “Sama Papi aku, jemput Mami. Kenapa?” Karin sudah jujur, memang ia sedang melakukan itu tapi Dimas tidak percaya, ini hari libur. Karin dan Arlan juga sedang tidak bersama. Lalu, kenapa?Kenapa Karin tidak menghubunginya? Tidak pernah menganggapnya ada. “Apa aku gak pernah penting untuk hidup kamu Karin?” tanya Dimas. Mungkin ini sudah batas kesabaran Dimas pada Karin. Seharusnya Karin berterimakasih karena Dimas tidak membongkar aibnya dan masih menutupi semua itu. Tapi, wanita ini malah tidak pernah melihatnya.“dok, kamu kenapa sih? Kenapa telepon ngomong begini? Kalau memang Karin gak bisa buat dokter bahagia, dokter bisa kok kembali dengan dr. Luna. Karin gak masalah.” Dimas diam, membuat Karin bingung. Padahal Dimas sedang marah saat ini. Ingin sekali ia berteriak pada Karin dan meluapkan amarahnya pada Karin seperti saat ia marah dengan mant
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







