Mag-log in“Mau ke mana?” Setelah Renata pulang, Karin malah ikutan keluar dari ruangannya, padahal Arlan sudah dari tadi bersabar. “Lama banget dok, aku udah di jemput Kak Dion dibawah,” gerutu Karin dengan kesal. “Hahh?” Arlan terheran-heran. Kenapa Dion begitu perhatian sekali dengan adiknya setelah sampai di Jakarta padahal saat di luar negeri, satu pesan pun tidak pernah dikirim oleh Dion untuk Karin. “Aku bisa antar pulang Sayang, kenapa gak suruh dia pulang saja duluan?” tanya Arlan sambil mencengkram lengan Karin dengan kuat. Pokoknya Karin tidak boleh pulang, karena mereka belum memulai apapun. Dari semalam Arlan menunggu saat ini dan sekarang ia free tapi Karin malah meninggalkannya. “Kamu aja yang ngomong dengan dia, dok. Aku gak mau.” Karin menepis tangan Arlan, memangnya Arlan mau mendengar Dion berteriak di rumah sakit mencari keberadaan Karin dan akhirnya mempermalukan mereka berdua. Ya, itu hanya hiperbola saja. Dion tidak sekampungan itu. “Dimana Karin? Aku udah sepuluh
“Ternyata kau disini, Sayang.” Akhirnya Arlan menemukan kekasihnya ada di ruang klinis dr. Dimas. Sedari tadi ponsel Karin tidak berguna sama sekali, yang membuat Karin terkejut adalah panggilan Arlan padanya ‘Sayang’, Arlan bahkan tidak mau sembunyi-sembunyi lagi. Ia dan Karin itu pasangan normal. Apa salahnya kalau cintanya tumbuh dengan seorang koas? “dr. Arlan?” Wajah Dimas terlihat sekali tidak suka. Seharusnya Dimas bisa menjadi Direktur Utama kalau saja skandalnya dengan Luna tidak tersebar sampai membuatnya malu. “Kau masih ingin di ruangan ini atau ikut aku naik Sayang?” tanya Arlan dengan lembut dan senyum yang dibuat-buatnya. Karin terkesiap, ia berdiri dan mengekori Arlan. Karin membawa banyak laporan, Macbooknya dan diam menunduk seorang tahu kalau ia salah. Sampai di ruangan Arlan, Arlan mengunci pintunya dan mendorong Karin ke dinding. “Apa salahmu?” tanya Arlan dengan geram. “Apa?” Karin tidak melakukan apapun, bahkan ia tidak berciuman dengan Dimas. Ia hanya
“Sayang, ke atas. Aku gak ada meeting, aku juga sudah pesan makan siang untuk kita.” Arlan mengirim pesan cinta untuk Karin tapi sampai tiga puluh menit. Karin belum membalasnya. Karin menyelesaikan laporannya yang harus dikumpul siang ini ke dokter Dimas, Karin tidak mau mengumpulkannya sendiri. Jadi, ia harus cepat sampai tidak sempat lagi melihat ponsel yang ada di sakunya. Kebetulan Karin juga menonaktifkan suaranya dan tidak juga bergetar. Jadi, ia tidak tahu ada pesan atau tidak tapi Karin yakin pasti ada tetapi ia sibuk. “Sorry, Sayang. Aku lagi gak ada waktu kirim pesan,” gumam Karin sambil mengetik tugasnya, seperti tahu saja kalau Arlan sedang menunggu balasan. Karena tidak dibalas Karin, Arlan sampai turun ke bawah, mencari keberadaan kekasihnya tetapi tidak ada. “Kemana dia ini?” tanya Arlan bingung. Ditelepon juga tidak diangkat. Sedangkan Arlan harus bertemu dengan profesor setelah makan siang. Dari semalam menahan gairah, Arlan pikir bisa menyalurkan pagi ini tapi
Karin sudah ketakutan pagi ini ditagih oleh Dion tentang pacarnya semalam ternyata saat sarapan pagi, Dion dengan santai menikmati sarapan paginya tanpa menekan Karin. “Apa dia mabuk semalam dan lupa?” tanya Karin dalam hati.Baguslah kalau mabuk, Karin tidak perlu susah payah menceritakan apapun. “Jam berapa kau pulang semalam?” tanya Dion sambil melirik Karin. “Jam satu,” jawab Karin asal, ia hanya memperkirakan waktunya saja, Karin juga tidak melihat jam. Dion tersenyum sinis, seperti menunggu Karin mengatakan sesuatu tapi Karin malah memilih membisu daripada membuat masalah besar dengan Kakaknya. “Aku antar ke rumah sakit!” Karin mengepalkan tangannya, menggigit bibirnya dengan kuat, ia tak berani menatap mata Dion apalagi menolak kemurahan hatinya pagi ini. “Oke.” Karin setuju saja, asal Dion tidak membuat masalah. “Pulang aku jemput.” Kenapa Dion rajin sekali melakukan itu padanya?“Hemm,” jawab Karin sambil mengangguk pelan. Setelah sarapan pagi, Dion masih belum memba
Brakh! Pintu kamar Karin dibuka cepat dan Dion yang masuk..“Ngapain kamu? Ngapain begitu? Tadi telpon dengan siapa?” Karin terkejut bukan main, ia bergegas menutup tubuhnya dengan selimut karena Dion tidak mengetuk pintunya lagi saat masuk, Karin harus mengganti password kamarnya supaya Dion tidak sembarangan lagi. “Pacarku,” jawab Karin jujur. “Oh sudah bisa pacaran ternyata. Kamu nunjukin begini dengan pacar kamu?” Dion mendidih melihat kelakuan Karin yang nakal setelah dewasa.“Mana ponselmu, aku lihat!”Untungnya Karin sudah menghapus semua pesan, panggilan masuk dan tak terjawab bahkan panggilan keluar dari Arlan. Tidak ada sisa, bahkan fotonya pun Karin tidak simpan di galeri melainkan tempat khusus supaya Dion tidak melihatnya. Dion tidak menemukan apapun di ponsel Karin, makanya ia marah. Dion membanting ponsel Karin ke lantai, untung saja ponsel Karin tidak pecah meskipun sudah dibanting seperti itu. “Gak ada, Kak. Aku udah dewasa,” jawab kasih kesal. “Gak ada pacar-
Arlan tahu kalau dia pasti akan ditentang karena mempertahankan Karin tapi Arlan tidak bisa hidup tanpa Karin, ia sudah ketergantungan dan semakin dalam terjebak dalam hubungan ini. Percintaan mereka bukan semakin hari semakin menjauh justru semakin dekat dan tak berjarak. Bagaimana cara Arlan mengatasinya lagi, satu-satunya cara hanya bertemu untuk melepaskan birahinya. “Papa peringatkan untuk terakhir kali, jauhi Karin!” Hanya itu yang Arlan ingat sampai saat ini, Arlan melamun di depan wastafel, menatap wajahnya yang tampan, tubuhnya yang atletis. Kalau saja Arlan mau, begitu banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan perhatiannya tetapi Arlan malah memilih Karin. Arlan bukan tidak laku tetapi ia sulit mendapatkan kecocokan dan bersama dengan Karin, ia menemukan dunianya. Dunia tanpa kepura-puraan. “Gak bisa Pa, sungguh! Aku gila kalau jauh darinya, satu hari saja aku tidak melihatnya, aku langsung kacau. Aku bahkan langsung menyusul Karin ke Bali tanpa memikirkan pasien
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







