INICIAR SESIÓN“Kamu udah tobat jadi playgirl?” tanya Silvi sedikit mengejek. Karin hanya tersenyum saja, bukan tobat tapi pusing. Ternyata punya banyak kekasih itu, sulit juga dan yang menderita Karin sendiri, ia tidak bisa membagi waktu dan perasaannya.“Udah sih tobat, aku trauma. Mending gak ada atau cukup satu.” “Yaaaah, sayang dong Rin, wajah kamu cantik begini. Cowok yang ngantri banyak.” Karin tidak tertarik lagi, lebih baik ia fokus belajar daripada peduli dengan rayuan buaya darat disekitarnya.“Paling enak bercinta dengan siapa?” Silvi ragu-ragu bertanya seperti itu, mungkin saja Karin malu bicara masalah privasi ranjangnya padahal semua pria yang dekatnya sudah dicoba. Silvi hanya menebak saja. “Apaan sih, aku cuma gituan sama dr. Arlan tapi kalau ciuman memang aku cobain semua,” jawab Karin dengan enteng. “Wow, jadi belum pernah? Bohong!” “Sumpah ya, aku gak gila Sil. Aku masih mikir dan kayak ada perasaan bersalah kalau gituan dengan orang lain, aku sudah pernah bilang.” Hati Kari
“Dok, pernikahan dokter dengan dr. Arlan batal?” Saat Karin dan Silvi lewat bangsal pasien, bertemu dengan Renata dan dokter lainnya, mereka sedang bergosip. “Kata siapa?” tanya Renata dengan kesal. Ia tidak pernah setuju pernikahan ini batal, ia juga tidak mau membatalkan hotel, catering, dekorasi yang sudah dipesan untuk pernikahan mereka nanti. “Banyak yang ngomong dok, memangnya iya?” “Bohong! dr. Arlan itu sangat mencintai saya, di depan orang tuanya, dia yang minta menikah dengan saya,” jawab Renata dengan tegas. Tidak ada lagi sikap manjanya. “Makanya saya juga gak percaya dan langsung nanya dokter, ternyata cuma gosip aja.” Renata tidak peduli, Arlan tetap harus bertanggung jawab terhadap semua ini, Renata bukan minta ganti uang tapi cukup menjadi istri Arlan saja. Renata sudah berharap sekali bisa bersama dengan Arlan. Sedangkan Karin dan Silvi hanya lewat dan saling mencubit satu sama lain. Arlan sudah katakan kalau pernikahannya dengan Renata tidak akan pernah terjad
“Eumphhh, dok! Lepas!” Karin mendorong tubuh Arlan menjauh, Arlan melumat bibirnya karena rindu sekali sudah berapa hari tidak bertemu. Karin juga saat dia berada di Singapura sangat membatasi komunikasi karena marah dengannya, itu membuat Arlan kesal bukan main. “Kenapa? Kamu masih marah? Aku sudah ngomong dengan Renata masalah pembatalan pernikahan itu, aku tidak pernah setuju, masalah kerugian mental atau uang yang dia keluarkan, aku mampu membayarnya, Sayang.” Arlan tidak mau lagi mundur, ia sungguh tetap akan menjalankan misinya. “Benar kamu udah ngomong sama dia?” tanya Karin mulai melembut. “Mana mungkin aku bohong Sayang, memangnya aku mau menikah dengan wanita yang gak aku cintai?”Bisa saja, Karin tidak tahu. Semua pria itu pembohong. Kata-kata mereka tidak bisa dipercaya. “Udahlah, aku gak mau bahas itu dulu. Mami gimana dok? Ada harapan Mami sembuh? Setelah di Singapura keadaan Mami semakin membaik atau bagaimana?” Karin lebih penasaran dengan kesehatan Maminya. “Mami
Berapa hari ini, Karin tidak fokus di rumah sakit, ia masih menunggu kabar Maminya, Mami masih di rumah sakit sedangkan dr. Arlan sudah pulang hari ini. Yang menunggu di rumah sakit, hanya Papi Karin saja dan bergantian dengan Dion. “Rin, itu dr. Arlan.” Silvi menunjuk Arlan yang baru saja sampai rumah sakit dan ia mencari Renata. Karin tidak mau melihatnya, ia memang masih tidak suka dengan kabar pernikahan Arlan dan Renata apalagi semakin hari semakin heboh. Ditambah pikirannya juga sedang kacau karena sakit Maminya. Karin mudah emosi sekarang. “Biarin aja, aku lagi gak mau ngomong sama dia,” jawab Karin malas. Silvi juga diam saja, ia belum menceritakan kedekatannya dengan dr. Diego berapa hari yang lalu, kalau Silvi ceritakan pasti Karin akan marah. Diego itu mantannya. Sebagai sahabat yang baik, mana mungkin Silvi mengambil mantan kekasih sahabatnya sendiri.Sedangkan Arlan setelah sampai di rumah sakit langsung meminta Renata ke ruangannya. Arlan menunggu dengan sabar wani
Aaaaaakhhh! Rasanya ingin berteriak dalam hati, saat Diego mendekati Silvi dan menarik tangan Silvi untuk menyentuh dada bidangnya yang kotak-kotak itu. Silvi menyentuhnya dengan lembut dan tatapan Diego begitu dalam pada mata Silvi. “Kenapa?” tanya Diego saat melihat Silvi terpaku sambil melihat dada itu. Miliknya berkedut mungkin juga sudah basah sekarang. Apalagi ia sedang keputihan. Eumph! Tapi malu, Silvi tidak ingin bercinta saat penyakitan seperti ini. Bagaimana kalau Diego mengecup miliknya dan menjilatnya. Diego mual dan muntah bahkan jijik.Silvi bisa mati melihat tatapan wajah tidak suka itu nanti. “Mau coba?” bisik Diego sekali lagi. “Gak dok!” Silvi dengan yakin mendorong dada Diego menjauh. Meskipun ia sangat-sangat ingin tapi Silvi harus tetap mengontrol dirinya, ia tidak boleh kedapatan bergairah sekali menatap tubuh itu. Ah, Silvi bahkan sudah mengutuk dirinya sendiri pelacur!Ia bisa berhubungan intim dengan pria manapun, yang penting mereka suka sama suka, t
Diego menarik sudut bibirnya, wanita itu sudah menggodanya tetapi tidak bertanggung jawab. Diego bahkan sudah berpikir untuk pulang dan membawa Silvi bersama dengannya.“Apa dia hanya mengetesku?” tanya Diego dengan kesal. Sialan! Diego tidak senang diperlakukan seperti ini. Padahal ia sudah sangat baik membantu Silvi untuk menyelesaikan masalahnya. Silvi sedang menunggu taxi saat Diego melewatinya. “Belum pulang?” tanya Diego.“Susah dapat taxinya, dok. Ini lagi nunggu masih sepuluh menit lagi.” Silvi melirik ragu wajah tampan itu. “Cancel saja, ikut aku pulang!” Diego mengambil ponsel Silvi dan membatalkan pesanan Silvi dengan cepat tanpa bisa Silvi cegah lagi. “Ayo masuk mobil!” Silvi melihat ke sekitar, sudah sepi sekali. Ia masuk ke mobil mewah dr. Diego. Pria yang pernah ditipunya dengan Karin, malah pernah pacaran dengan Karin dan sekarang bersama dengannya. Oh tidak!“Ke rumahku dulu, ya. Gak jauh dari rumah sakit, aku mau mandi, sudah gerah banget,” ucap Diego dengan s
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







