LOGIN"Laura! Kamu beneran dirawat?"Suara berisik itu memotong keheningan ruangan bahkan sebelum pintu kamar rawat tertutup sempurna.Laura kedatangan tamu lagi!Silvi, mantan sahabat Karin, melangkah masuk dengan tergesa-gesa tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak berniat menanyakan kabar atau kondisi Laura yang masih pucat di atas bangsal.Wajahnya tampak tegang, dipenuhi kecemasan dan ego yang meletup-letup.Laura yang baru saja melempar kertas memo dari Moreno ke lantai, hanya bisa menatap kedatangan wanita itu dengan kening berkerut.Di atas lantai, tulisan tangan Moreno yang rapi dan puitis dalam bahasa Inggris masih terpampang jelas di atas lembaran tiket first class menuju Paris setelah acara pertunangan.“To my beautiful future wife, I know I’ve made mistakes, but my love for you is real. With this ring and this journey, I promise to leave everything behind. I love you with all that I am. Trust me, I will make you happy forever.”Cih!Laura sempat berdecih dalam hati mengingat pesan men
“Kemarahanmu tidak akan mengubah apa pun, Laura. Kamu tetap akan menjadi istriku.”Suara bariton yang berat dan penuh percaya diri itu seketika memecah kesunyian ruang perawatan.Pintu kamar baru saja tertutup rapat setelah dihentak kasar dari luar.Moreno berdiri tegak di sisi bangsal, memegang sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar hingga hampir menutupi separuh tubuh bagian atasnya.Kelopak mawar yang merekah pekat itu tampak begitu kontras dengan atmosfer rumah sakit yang pucat dan dingin.Laura memalingkan wajah ke arah jendela. Kehadiran pria itu seketika memicu detak jantungnya bertalu hebat, memanggil kembali trauma yang belum sempat mengendap sejak kemarin.Moreno meletakkan buket megah itu di atas meja nakas, dengan kasar menggeser keranjang buah milik Karin hingga hampir terjatuh.Ia mendekat, menatap Laura dengan pandangan posesif yang tidak berkurang sedikitpun. Pria itu sama sekali tidak peduli pada kilat amarah yang memancar dari tubuh ringkih sang kekasih.“A
“Sialan!”Langkah kaki Karin menghentak keras di atas lantai koridor rumah sakit, meninggalkan ruang rawat Laura dengan dada yang bergemuruh hebat.Jemarinya dengan cepat menggeser layar ponsel, mencari satu nama yang sebenarnya sudah sangat ingin ia hapus dari hidupnya.dr. Dimas!Pria gila itu. Mantan kekasihnya yang manipulatif, yang sempat Karin bersumpah tidak akan pernah sudi lagi ia ajak bicara.Namun demi Laura, kembarannya yang tidak tahu apa-apa, Karin terpaksa membuang ego dan harga dirinya.Begitu panggilan tersambung, Karin bahkan tidak memberikan kesempatan bagi pria di seberang telepon untuk menyapa.“Jauhi Laura, Dimas!” desis Karin tajam, suaranya tertahan agar tidak menarik perhatian perawat yang lalu-lalang.“Aku tau persis isi otak busukmu. Kamu mendekati Laura hanya karena dia punya wajah yang sama denganku, kan? Jangan pernah berani mempermainkan dia, dok!”Di seberang sana, terdengar kekehan kecil yang membuat bulu kuduk Karin meremang.Suara khas Dimas yang ten
“Ruangan Laura Calista, dimana?” Karin bertanya pada perawat yang berjaga di depan.“Ini, Mbak Karin!” “Makasih, ya!”Aroma obat-obatan khas rumah sakit di pagi hari tidak pernah gagal membuat Karin terjaga.Dengan jas putih koas-nya yang tersampir rapi, ia melangkah menyusuri koridor menuju ruang perawatan Laura.Tangannya menjinjing sebuah keranjang buah.Sebenarnya, Karin sudah tahu kondisi kembarannya sejak semalam dari Arlan.Arlan yang kebetulan berjaga di IGD bersama Diego, Arlan sempat menceritakan semuanya.Malam itu juga Karin ingin langsung berlari ke rumah sakit, tetapi Arlan melarangnya karena waktu sudah terlalu larut.Alhasil, pagi ini, di sela-sela jadwal visit pasiennya yang sebentar lagi menandai berakhirnya masa-masa koas di rumah sakit ini, Karin baru bisa menjenguk Laura.Tok! Tok!Namun, begitu jemarinya mendorong pintu kamar rawat Laura, langkah Karin mendadak kaku.Di dalam ruangan, tepat di samping bangsal Laura, berdiri Angelina. Mommy kandung mereka.Seketi
“Kalau perlu apapun, tinggal panggil perawat atau minta perawat hubungi aku langsung,” ucap Dokter Diego. Laura mengangguk pelan.Suara monitor jantung berbunyi ritmis di dalam ruang perawatan yang sunyi. Bau karbol yang tajam menusuk hidung, mempertegas atmosfer dingin yang menyelimuti ruangan.Laura terbaring kaku di atas bangsal, matanya menatap kosong ke langit-langit plafon rumah sakit.Di sebelahnya, Mommy dan Daddy baru saja tiba dengan napas memburu dan wajah yang pucat pasi karena cemas.Diego, dokter yang tadi menanganinya, baru saja keluar setelah memastikan kondisi fisik Laura stabil.Namun, luka psikis di dalam diri wanita itu jauh dari kata baik-baik saja.Laura memilih tenggelam dalam keheningan.Di dadanya berkecamuk rahasia besar yang teramat perih. Rasa sakit ini ada karena Moreno kembali memaksakan kehendaknya.Pria itu mengurungnya di rumah, memperlakukannya seperti tawanan dan hampir saja merenggut paksa kesuciannya.Jika saja kateter word yang terpasang di tubuhn
Diego bisa merasakan ketegangan dan rasa malu yang luar biasa dari bahasa tubuh Laura.Sebagai seorang spesialis onkologi ginekologi, ia sudah terbiasa menghadapi kecanggungan pasien.Namun, kemiripan Laura dengan Karin, ditambah posisinya yang sedang kalut memikirkan Silvi, membuat Diego harus mengerahkan seluruh kendali dirinya agar tetap berada di koridor profesionalisme yang murni.“Napas dalam, Mbak Laura ... rileks sejenak. Satu jahitan terakhir untuk mengunci pembuluh darah yang robek,” ucap Diego dengan nada suara yang sengaja dibuat datar, tenang dan klinis.Ia sengaja menggunakan intonasi seperti itu untuk memberi kesan kepada Laura bahwa apa yang sedang ia tangani saat ini hanyalah sebuah kasus medis biasa, bukan sebuah skandal.Diego menyelesaikan simpul jahitan terakhir pada mukosa kelenjar Bartholin dengan akurasi yang sangat tinggi.Setelah memastikan tidak ada lagi rembesan darah akti
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







