LOGINSilvi terkejut saat mendengar suara bunyi ceklek pada pintu apartemennya.Matanya melebar sempurna ketika sosok tinggi tegap Aldi melangkah masuk dengan santai setelah berhasil membuka password pintu rumahnya.Pikiran Silvi berputar hebat.Siapa yang memberitahu kode rahasia itu kepada Aldi?Apakah pria ini menyadap semua sistem keamanan tempat tinggalnya?“Kamu ngapain?” tanya Silvi dengan nada tinggi dan penuh kepanikan, mundur beberapa langkah saat Aldi menutup pintu itu dengan pelan namun pasti, menguncinya dari dalam.“Kita harus bicara, Sayang. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Aku tulus denganmu, Silvi,” ucap Aldi dengan suara yang menuntut, tatapannya mengunci pergerakan Silvi.Silvi tidak mau mendengar sepatah kata pun dari pria itu. Rasa trauma dan muak membuat otaknya berputar mencari cara untuk lolos.Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca, berusaha keras menghubungi pihak security apartemen.Namun, Aldi jauh lebih cepat da
Hehh! “Aku gak takut sama kamu,” bisik Silvi dalam hati.Silvi melangkah dengan santai melewati mobil mewah itu, seolah benda mengkilap seharga miliaran rupiah itu hanyalah rongsokan tak berharga di pinggir jalan.Namun, Aldi yang sejak tadi mengawasi pergerakannya tidak tinggal diam. Pria itu langsung membuka pintu kemudi dan bergegas mendekat, memotong jalur jalan Silvi dengan langkah lebar.“Please, Sayang! Ini sudah tujuh bulan. Aku kangen kamu,” ucap Aldi dengan suara yang merendah, menatap Silvi dengan sorot mata memohon yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun di dunia ini.Selama tujuh bulan ini, Aldi sudah tidak terhitung lagi berapa kali memohon dan meminta maaf.Keangkuhannya sebagai konglomerat runtuh total di hadapan wanita ini.Namun, benteng pertahanan Silvi terlalu kokoh untuk ditembus. Ia sama sekali tidak berniat memberikan maaf sedikit pun.Silvi menghentikan langkahnya, menatap Aldi dengan pandangan sedingin es.“Kamu ngapain? Aku udah pernah bilang kalau aku
“Ayang... hemm, apaan sih, aku malu,” ucap Karin dengan nada manjanya yang khas saat menghubungi Arlan via telepon.Ayang?Tingkahnya benar-benar persis seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta setengah mati karena mendapat kiriman hadiah spektakuler dari sang kekasih.“Kenapa malu?” tanya Arlan di seberang sana, ikut tersenyum-senyum tidak jelas di ruang kerjanya.Beban rapat direksi yang melelahkan tadi seketika menguap mendengar suara ceria istrinya.“Memangnya cinta kamu sampai mana dengan aku?” pancing Karin.Hihihihihi….Karin langsung cekikikan tidak jelas, menutup wajahnya yang merona merah dengan satu tangan.Tingkah ajaib ibu hamil ini seketika menjadi tontonan gratis bagi para perawat dan Silvi yang berada di ruangan yang sama.Kebetulan jam pelayanan Puskesmas sudah selesai dan mereka bersiap-siap untuk pulang kerja.“Cintaku dalam, Sayang. Tapi gak bisa diukur,” jawab Arlan terdengar begitu tulus.“Aaaah, masa sih?” goda Karin lagi, sengaja memperpanj
“Hemm, Mbak Vera anaknya berapa?” tanya Karin pada salah satu perawat senior di Puskesmas ituSambil menyortir berkas pasien berikutnya, Karin mencoba membuka obrolan santai, berniat menyelidiki kehidupan rumah tangga orang lain.“Anak tiga, Dok,” jawab Perawat Vera dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.“Pasti rame banget ya rumah. Terus ... suami gimana, Mbak? Makin cinta setelah punya anak banyak, atau malah jadi cuek?” tanya Karin berpura-pura santai.Padahal, di dalam hatinya, ia sedang menanti validasi bahwa semua suami di dunia ini memang akan berubah cuek seiring berjalannya waktu.“Sialan!” batin Karin menjerit saat melihat binar bahagia di mata Perawat Vera.Sementara suaminya sendiri di rumah mendadak super cuek.Hiks!“Biasa aja, Mbak, masih kayak dulu pas awal nikah,” cerita Perawat Vera dengan wajah berseri-seri.“Tetap perhatian, sayang banget. Malah kerjaan rumah kebanyakan dia yang kerjain. Aku pulang kerja dari Puskesmas begini, sampai rumah tinggal maka
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Karin belajar memasak demi suaminya.Jujur saja, Karin sama sekali tidak bisa memasak.Namun, belakangan ini ada percikan rasa cemburu sekaligus terinspirasi yang menggelitik hatinya. Ia sering melihat para perawat di Puskesmas begitu telaten menyiapkan bekal untuk suami mereka, dan para suami itu tidak henti-hentinya memuji masakan sang istri.Karin juga ingin merasakan dipuji seperti itu!“Perasaan Arlan gak pernah lagi deh ngomong aku cinta kamu,” rutuk Karin pelan sambil membolak-balikkan roti di atas wajan anti lengket dengan cemberut.Rencananya pagi ini Karin akan membuat roti panggang selai coklat dan sandwich telur sederhana.Ya, hanya itu menu yang paling mudah dan aman untuk kapasitas kemampuannya.Namun, menu sesederhana itu saja sudah sukses membuat seisi dapur heboh.Koki dan asisten rumah tangga lainnya dibuat repot dan jantungan melihat ibu hamil tua beranak kembar itu sibuk mondar-mandir sendiri sejak subuh-subuh.“Sayang, kamu ngapa
Laura pergi ke toilet sebelum ia pulang, sementara Dimas sudah menunggunya di area parkiran galeri.Namun, saat melintasi lorong yang agak temaram, tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang menarik pergelangan tangannya dengan paksa, menyeretnya masuk ke dalam ruang tangga darurat.Tempat ini begitu sepi dan terisolasi. Jantung Laura berdegup kencang dengan irama horor saat netranya menatap lurus ke dalam manik mata Moreno yang berkilat penuh obsesi.“Kamu ngapain, Moreno?” bentak Laura, suaranya tertahan. Ia langsung mencoba berbalik untuk keluar dari tempat itu, namun kedua lengan Moreno dengan cepat mengurung pergerakannya di dinding.Begitu Laura membuka mulutnya dan ingin berteriak meminta pertolongan, Moreno malah bergerak nekat.Pria itu mencondongkan wajahnya dan membungkam mulut Laura dengan kecupannya yang rakus dan menuntut.Laura memberontak sekuat tenaga, memukul dada bidang Moreno sampai akhirnya pria itu melepaskan tautan bibir mereka dengan napas yang memburu.“Kapan ke
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







