Mag-log inNapas Silvi tertahan sejenak. Ia melihat sosok Moreno sedang duduk santai di sudut luar kafe sembari memegang cangkir kopi, dengan sepasang mata yang mengunci fokusnya menatap tajam ke arah Laura dari sana.“Gilaaa!!!!” pekik Silvi dalam hati, merinding melihat tingkat kepedulian yang sudah melampaui batas kewarasan itu.“Itu mantan pacar kamu, kan?” tanya Silvi pelan, menunjuk tipis dengan dagunya ke arah seberang jalan.Laura mengangguk lemas, bahunya merosot turun.Wajah cantiknya langsung diliputi awan mendung. Laura sudah benar-benar kehabisan cara dan bingung bagaimana lagi cara mengusir pria keras kepala itu.Moreno bahkan sanggup membawa laptopnya dan bekerja seharian penuh di kafe seberang, hanya demi memantau setiap gerak-gerik Laura dari pagi hingga galeri tutup.Kehadiran konstan pria itulah yang selalu memicu salah paham dan membuat ia bersama Dokter Dimas bertengkar hebat akhir-akhir ini.“Kamu stres gak sih kalau dia mulai menggila gitu?” tanya Silvi lagi, ikut merasaka
“Rin, kamu gak ada di rumah, ya?” tanya Silvi melalui sambungan telepon saat kakinya melangkah di halaman rumah sahabatnya yang tampak sepi.Hari ini Silvi memutuskan datang ke rumah Karin setelah menghabiskan malam penuh paksaan dan keintiman yang menguras emosi bersama Aldi.Setidaknya, ada satu hal yang ia syukuri, Aldi tidak menawannya lagi setelah itu dan membiarkannya pergi pagi-pagi sekali.Silvi butuh tempat untuk bernapas, namun rumah pelariannya justru kosong.“Iya, aku lagi ngidam makan gudeg, tapi harus di Jogjanya langsung!” sahut Karin riang di seberang sana.Silvi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban itu. Sifat manja Karin semenjak hamil tua memang makin menjadi-jadi.Setiap kali ngidam makanan khas daerah, Karin pasti menuntut untuk mencari ke kota asalnya langsung, sekalian menjadikannya alasan untuk jalan-jalan berdua dengan sang suami.“Hemm, aku juga mau ke Jogja. Kok gak ngajak sih?” gerutu Silvi, mencoba mengalihkan sesak di dadanya dengan obrolan bi
Silvi terkejut saat mendengar suara bunyi ceklek pada pintu apartemennya.Matanya melebar sempurna ketika sosok tinggi tegap Aldi melangkah masuk dengan santai setelah berhasil membuka password pintu rumahnya.Pikiran Silvi berputar hebat.Siapa yang memberitahu kode rahasia itu kepada Aldi?Apakah pria ini menyadap semua sistem keamanan tempat tinggalnya?“Kamu ngapain?” tanya Silvi dengan nada tinggi dan penuh kepanikan, mundur beberapa langkah saat Aldi menutup pintu itu dengan pelan namun pasti, menguncinya dari dalam.“Kita harus bicara, Sayang. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Aku tulus denganmu, Silvi,” ucap Aldi dengan suara yang menuntut, tatapannya mengunci pergerakan Silvi.Silvi tidak mau mendengar sepatah kata pun dari pria itu. Rasa trauma dan muak membuat otaknya berputar mencari cara untuk lolos.Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca, berusaha keras menghubungi pihak security apartemen.Namun, Aldi jauh lebih cepat da
Hehh! “Aku gak takut sama kamu,” bisik Silvi dalam hati.Silvi melangkah dengan santai melewati mobil mewah itu, seolah benda mengkilap seharga miliaran rupiah itu hanyalah rongsokan tak berharga di pinggir jalan.Namun, Aldi yang sejak tadi mengawasi pergerakannya tidak tinggal diam. Pria itu langsung membuka pintu kemudi dan bergegas mendekat, memotong jalur jalan Silvi dengan langkah lebar.“Please, Sayang! Ini sudah tujuh bulan. Aku kangen kamu,” ucap Aldi dengan suara yang merendah, menatap Silvi dengan sorot mata memohon yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun di dunia ini.Selama tujuh bulan ini, Aldi sudah tidak terhitung lagi berapa kali memohon dan meminta maaf.Keangkuhannya sebagai konglomerat runtuh total di hadapan wanita ini.Namun, benteng pertahanan Silvi terlalu kokoh untuk ditembus. Ia sama sekali tidak berniat memberikan maaf sedikit pun.Silvi menghentikan langkahnya, menatap Aldi dengan pandangan sedingin es.“Kamu ngapain? Aku udah pernah bilang kalau aku
“Ayang... hemm, apaan sih, aku malu,” ucap Karin dengan nada manjanya yang khas saat menghubungi Arlan via telepon.Ayang?Tingkahnya benar-benar persis seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta setengah mati karena mendapat kiriman hadiah spektakuler dari sang kekasih.“Kenapa malu?” tanya Arlan di seberang sana, ikut tersenyum-senyum tidak jelas di ruang kerjanya.Beban rapat direksi yang melelahkan tadi seketika menguap mendengar suara ceria istrinya.“Memangnya cinta kamu sampai mana dengan aku?” pancing Karin.Hihihihihi….Karin langsung cekikikan tidak jelas, menutup wajahnya yang merona merah dengan satu tangan.Tingkah ajaib ibu hamil ini seketika menjadi tontonan gratis bagi para perawat dan Silvi yang berada di ruangan yang sama.Kebetulan jam pelayanan Puskesmas sudah selesai dan mereka bersiap-siap untuk pulang kerja.“Cintaku dalam, Sayang. Tapi gak bisa diukur,” jawab Arlan terdengar begitu tulus.“Aaaah, masa sih?” goda Karin lagi, sengaja memperpanj
“Hemm, Mbak Vera anaknya berapa?” tanya Karin pada salah satu perawat senior di Puskesmas ituSambil menyortir berkas pasien berikutnya, Karin mencoba membuka obrolan santai, berniat menyelidiki kehidupan rumah tangga orang lain.“Anak tiga, Dok,” jawab Perawat Vera dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.“Pasti rame banget ya rumah. Terus ... suami gimana, Mbak? Makin cinta setelah punya anak banyak, atau malah jadi cuek?” tanya Karin berpura-pura santai.Padahal, di dalam hatinya, ia sedang menanti validasi bahwa semua suami di dunia ini memang akan berubah cuek seiring berjalannya waktu.“Sialan!” batin Karin menjerit saat melihat binar bahagia di mata Perawat Vera.Sementara suaminya sendiri di rumah mendadak super cuek.Hiks!“Biasa aja, Mbak, masih kayak dulu pas awal nikah,” cerita Perawat Vera dengan wajah berseri-seri.“Tetap perhatian, sayang banget. Malah kerjaan rumah kebanyakan dia yang kerjain. Aku pulang kerja dari Puskesmas begini, sampai rumah tinggal maka
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







