LOGIN“Kamu tidak merindukan aku, Karin?” bisik Dimas, sementara jari-jarinya yang lancang mulai membelai pipi Karin dengan kelembutan yang terasa manipulatif.Karin menepis tangan itu dengan sentakan kasar, lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong dada Dimas.“Dok, dokter jangan menantangku. Dokter gak akan suka kalau aku teriak sekencang mungkin di ruangan ini, kan? Lepaskan!"Dimas justru terkekeh sinis, wajahnya mendekat ke telinga Karin.“Teriak saja, Karin. Aku sama sekali tidak peduli. Jika kamu berteriak, aku akan menelanjangimu di sini, lalu aku tinggal bilang ke orang-orang bahwa kamulah yang datang menggodaku ke ruangan ini.”Gila!Pria di hadapannya ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.“Kamu mau apa sebenarnya dari aku?” tanya Karin dengan nada frustasi yang memuncak.“Hanya mengobrol,” jawab Dimas santai, matanya menelusuri setiap inci wajah cantik Karin yang kini memerah padam karena amarah dan ketakutan.“Ngobrol gak perlu sedekat ini, dok! Lepas! In
“Kenapa juga malam ini ada dia sih,” gumam Karin kesal sebelum masuk ke ruangan operasi.Jaga malam kali ini terasa jauh lebih mencekam dan menguras emosi bagi Karin. Ia terpaksa terlibat dalam operasi besar kasus kanker ovarium stadium lanjut yang telah bermetastasis dan menginvasi sebagian dinding usus pasien.Kasus sekompleks ini membutuhkan kolaborasi lintas divisi yang rumit, melibatkan dr. Dimas sebagai dokter subspesialis onkologi ginekologi untuk mengangkat massa tumor pada organ reproduksi, serta dr. Revan sebagai dokter umum dari tim bedah yang membantu mendampingi prosedur serta memantau stabilitas klinis jaringan di luar area ginekologi.Sebagai seorang koas di tengah meja operasi yang menegangkan itu, tugas Karin sangat menguras fisik dan mental.Ia bertanggung jawab untuk memegang retractor (alat penarik dinding perut) berjam-jam tanpa boleh goyah sedikitpun agar lapangan pandang operasi para dokter tetap jelas, melakukan suction untuk menyedot darah yang menggenang, ser
Rion yang gelap mata langsung merangsek maju, mencengkram kerah kemeja Arlan dengan kasar.Tangannya mengepal, siap melayangkan tinjuan mentah ke wajah dokter muda itu.Namun dengan sigap, Arlan menangkis pukulan tersebut dan mendorong tubuh Rion hingga terhuyung menjauh.“Pak! Pak! Saya mohon, jangan membuat keributan di lingkungan rumah sakit!” Kedua security berbadan gagah itu dengan cepat menyela di antara keduanya, menggunakan tubuh tegap mereka sebagai benteng pemisah dan menahan pergerakan Rion.“Suruh mereka keluar,” perintah Arlan kepada security, matanya tetap menghujam netra Rion.“Jika mereka menolak, langsung laporkan ke polisi atas dugaan pasal berlapis. Atau ... hubungi sekalian rekan-rekan wartawan. Katakan pada mereka. Pengacara Kondang Rion Wijaya mengamuk dan menerobos masuk ke Ruangan Direktur Rumah Sakit.”Ancaman Arlan tepat sasaran. Rion membeku, matanya menyiratkan kemurkaan yang tertahan.Dengan kasar, ia menyentak tangan security yang menyentuhnya, lalu merap
“Rin, kayaknya kamu sembunyi dulu deh! Aku tadi pas telponan sama pacarku, lihat Papi Rion di bawah. Buruan!”Suara Silvi bergetar hebat di seberang telepon. Ketakutan yang teramat sangat mencengkram dadanya, ia sangat takut Papi Rion akan menemukan Karin dan menyeretnya pulang secara paksa."Serius?” Jantung Karin serasa lolos dari tempatnya.Kepanikan yang luar biasa membuat pikirannya lumpuh seketika, sampai-sampai ia meninggalkan seluruh barang bawaannya berserakan di atas meja.“Sil, tolong nanti bawa barang-barang aku ke apartemen, ya? Aku mau lari ke ruangan dr. Arlan!”“Iya, Rin. Hati-hati!” jawab Silvi yang ikut didera panik. Dalam hati, ia berdoa setengah mati agar sahabatnya itu tidak berpapasan dengan sang ayah.Karin berlari dengan napas memburu membelah koridor menuju ruangan Direktur, ruangan milik dr. Arlan.Namun, langkahnya mendadak terkunci saat sudut matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal.Papi Rion sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. Wajahnya masam, me
Setelah berhasil melarikan diri ke sudut rumah sakit yang dirasa aman, Silvi terduduk lemas bersama Karin.Napasnya masih memburu, namun ketegangan belum berakhir. Tatapan Karin tertuju lurus pada dada Silvi, sesuatu yang sejak semalam mengusik kecurigaannya.Saat Silvi berkunjung ke apartemennya kemarin, siluet tubuh sahabatnya itu tidak seperti ini.Kini, dadanya tampak jauh lebih penuh, padat, dan menonjol secara tidak alami.“Kamu operasi payudara ya, Sil?” tanya Karin penuh selidik, matanya menyipit mencari kejujuran.Jantung Silvi mencelos. Kebingungan dan rasa panik bercampur aduk di dadanya. Bagaimana mungkin ia mengaku bahwa gumpalan implan di tubuhnya adalah keinginan Papi Rion, Papi Karin sendiri?Silvi terjebak dalam lingkaran hitam sebagai wanita simpanan dari orang tua sahabatnya.Demi menutupi aib itu, Silvi terpaksa mengarang cerita, melibatkan dr. Berta dari departemen bedah plastik.Sebenarnya, seminggu yang lalu Silvi menjalani prosedur Augmentasi Payudara (Breast A
“Kenapa seminggu gak masuk?”Suara bariton dr. Revan, spesialis bedah umum senior yang menjadi konsulennya saat ini, memecah keheningan ruang kerja.Karin berdiri kaku di dekat meja, sisa kelelahan setelah menemani dokter itu visit ke bangsal-bangsal pasien masih menggelayuti kakinya.“Sakit, Dok,” jawab Karin lirih.Lidahnya terasa kelu karena berbohong. Ia tidak mungkin menelanjangi aib keluarganya sendiri. Mengaku bahwa seminggu ini ia bersembunyi di safe house (rumah aman) karena teror Kakek dan Papinya?Tidak! Itu terlalu memalukan.“Kamu banyak ketinggalan,” lanjut dr. Revan tanpa mendongak dari berkas di mejanya.“Stase bedah ini waktunya sangat ketat. Kamu harus rajin bikin laporan kasus untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman koasmu yang lain.”Karin mengangguk pasrah.Dadanya terasa sesak oleh tekanan. Ia tahu betul konsekuensinya. Di divisi bedah, perputaran sub-stase berjalan sangat cepat dan melelahkan.Minggu ini ia harus menyelesaikan laporan kasus di divisi Beda
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







